Tag archive

Cerpen

Cinta Seorang Hina

oleh

Tak pernah ada yang dapat mengalahkan gempitanya pasar yang bertransaksi. Suara ibu menawar yang lantang hanya dapat dikalahkan oleh suara ibu yang lain yang menolak tawaran. Sebuah negosiasi yang disepakati dengan tanda jadi. Abang-abang yang menjaja barang tak sudi kalah dalam riuh rendah. Ia mencoba menarik hati ibu lain yang masih menimbang-nimbang hendak makan apa nanti malam. Sekali dua mereka saling bercerita, menjadi mitra terbaik bagi para ibu untuk mengumbar dosa melalui kata. Aku memperhatikannya, dengan satu buah gitar tua di tangan, yang terbengkalai tanpa guna. Aku berbalik arah, langkahku gontai, tak sanggup mengalahkan keramaian pasar. Di belakang, para pedagang tertawa girang, sudah banyak uang yang mereka bisa bawa pulang. Lanjutkan Membaca …

Agama Apa Yang Pantas Bagi Pohon-pohon?

oleh

Jika ada satu hal yang harus saya syukuri atas apapun yang telah saya lakukan di hari pergantian tahun kemarin adalah : saya memutuskan untuk memulai tahun ini dengan membaca ‘Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon?’ buah tangan Eko Triono. Sungguh karya yang begitu memesona. Sebelum Anda memutuskan untuk membacanya, sebaiknya Anda membaca terlebih dahulu bagian belakang cetak buku. Ada sebuah pesan yang mengatakan bahwa “Eko Triono tidak membiarkan pembacanya tenang, Ia bersengaja meninggalkan kegelisahan melalui tulisannya. Kisah-kisah dalam buku ini sebaiknya dinikmati secara utuh. Lalu tak apa jika kemudian kamu melamun”. Sebuah pesan yang tidak bisa diabaikan. Dan bersama buku ini, saya menemukan lamunan yang menyenangkan. Lanjutkan Membaca …

Anak Kecil Itu

oleh

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya fajar yang hangat. Satu dua orang berjalan cepat dengan telapak kaki dibiarkan telanjang menginjak bumi yang belum panas. Satu dua lainnya berlari lambat demi keringat dan banyak harapan gumpalan lemak di dalam perut segera enyah. Sepagi itu pula, saat para ayam pejantan sudah kembali masuk kandang setelah lelah berkokok panjang membangunkan manusia dari lelapnya tidur malam tadi, di rumah berluas beberapa bata saja ada seorang anak kecil dengan bau asam keringat yang menyenangkan sedang tertawa, terbahak sebegitu riang. Barisan gigi yang tumbuh belum sempurna diperlihatkannya dengan sengaja. Menggemaskan sekali. Ia berlari kesana-kemari sebelum terjatuh karena tak siap. Menangis sekejap sebelum kembali berlari. Lalu menari. Sembari mengulang tawa dengan begitu memesona. Lanjutkan Membaca …

Sepakbola Dari Ujung Teras

oleh

Senja di penghujung November, adalah rutinitas kami duduk di teras menghabiskan waktu dengan secangkir kopi untukku, dan segelas susu atau teh manis untuk dia – tentu saja, anak sekecil itu belum aku izinkan untuk terkontaminasi kafein kopi. Tak lama ibunya datang menyuguhkan pisang goreng kesukaan Daffa, nama anak itu, lengkap sudah amunisi kami untuk membunuh waktu, setidaknya sampai matahari benar benar tenggelam nanti. “Ini obrolan lelaki, Bunda” Daffa dengan sopan tapi tegas menolak permintaan ibunya untuk ikut bergabung.

“Kali ini tentang apa, nak??” aku mengeluarkan kalimat pembuka, yang selalu sama setiap Minggunya, rasa-rasanya anak ini memiliki banyak pertanyaan berbeda tiap minggunya, pernah Daffa menanyakan dampak kenaikan BBM yang dinaikan pemerintah beberapa waktu lalu, lain waktu tentang penyebab pemanasan global, cara membuat film kartun, mukzizat para Nabi, sejarah demokrasi, rasi bintang, zodiak, dan aku sampai terkejut saat Daffa bertanya “Ayah, Sasha Grey itu siapa??”. Aku terkejut karena dua hal : 1. Dengan siapa dia bergaul 2. Jangan jangan folder komputer lupa aku sembunyikan.

“Piala Dunia Ayah, di sekolah sedang ramai membicarakan itu” kalimat Daffa membuyarkan lamunanku tentang kemungkinan pertanyaan aneh lainnya. “Hahaha Ayah pikir tentang apa, lihat tadi kau bahkan mengusir ibu masuk” Aku tertawa lega topik kali ini tidak terlalu sulit nampaknya. Aku lancar menjelaskan tentang sejarah Piala Dunia, dimana pertama kali diselenggarakan, siapa juaranya, tim yang paling banyak meraih gelar juara, Daffa mantap mendengarkan sesekali dia mencatat agar tidak lupa. “Diego Si-me- … , siapa Ayah ??” Daffa kesulitan mengucapkan nama pemain tengah timnas Argentina di era 90-an akhir. “Diego Simeone nak, kau tahu David Beckham ?? Pelatih Inggris saat ini , 23 tahun yang lalu, di Piala Dunia Perancis gara gara provokasi Simeone itulah Beckham mendapat kartu merah, kau tahu ?? itu pertandingan sepakbola pertama yang Ayah tonton, nak” anak kecil itu menulis SIMEONE di kertas yang ia pegang. “Sejak pertama Ayah menonton sepakbola, sampai sekarang Inggris yang mereka sebut Tanah Kelahiran Sepakbola belum lagi menjadi Juara, rasa rasanya di Qatar tahun depan pun mereka tak mampu berbuat banyak, nah, kau mau bertaruh nak siapa juara Piala Dunia di Qatar tahun depan??” Daffa menggelengkan kepalanya, enggan.

“Kenapa Indonesia tak pernah ikut Piala Dunia, yah??”

Ada jeda beberapa saat setelah pertanyaan itu, aku gunakan beberapa detik waktu untuk meminum kopi yang mulai dingin, aku membutuhkan waktu beberapa detik lagi untuk bisa menjawab pertanyaan itu.

“Negeri ini tak mengizinkan kita untuk bermimpi, nak”

Ada jeda waktu yang lebih panjang untuk kami diam, wajah Daffa yang tampak bingung dengan jawabanku tadi menghiasi teras rumah kami, di sabtu senja di penghujung November. Lanjutkan Membaca …

Go to Top