Tag archive

Cerita

Proses 2.0

oleh

Jika kelak saya memiliki karir yang baik dalam dunia kepenulisan. Saya akan menandai tahun dua ribu enam belas sebagai awal mula saya belajar menulis. Lalu apa yang terjadi dengan tulisan-tulisan saya sebelum itu? Jika Anda pernah membacanya lalu ingin meludahi tulisan-tulisan lama saya. Mari, saya akan dengan senang menemani Anda. Apakah berarti saya tidak menghargai tulisan saya sendiri? Bukan. Justru sebaliknya, saya ketika itu benar-benar tidak pernah menghargai apa yang namanya belajar. Proses. Oleh karena itu saya jauh sekali dari pantas untuk disebut sebagai penulis. Namun, apabila Anda sekarang ini, pada tulisan-tulisan saya yang baru, masih ingin meludahinya. Sebentar dulu, biarkan saya menjelaskan sesuatu. Lanjutkan Membaca …

Surat Dari Si Penyihir Malas

oleh

Pukul 10 malam. Laju  kapal membelah kegelapan sunyi di antara kota San Fernando dan Tigre. Buih air yang tercipta dari laju lambat kapal bertuliskan Nueva Cristina bergantian mengisi suara dengan binatang malam tepi sungai. Ada yang berbeda malam itu jika dibandingkan dengan malam yang lain. Tak terlihat penumpang yang biasanya merupakan pasangan duduk berhadapan di atas meja kecil dengan penerangan lilin di tengah dua pasang bola mata yang berhadapan. Malam itu pun laju kapal jauh lebih lambat dari yang biasanya terlihat. Mungkin hanya semburat bayangan lampu kapal di air yang terlihat normal seperti biasanya. Lily dan Ricardo, yang merupakan pasangan yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan tersaji di atas kapal, tak terlihat sibuk seperti biasanya. Mereka tak hilir mudik membawakan hidangan special ataupun botol anggur dari tahun 1980 buatan Prancis ke meja kecil di bagian atas kapal. Tak ada pasangan malam itu. Tak ada dua insan yang sengaja memesan tempat demi sebuah makan malam romantis di atas Barco Nueva Cristina. Lanjutkan Membaca …

Dari Tepian Mahakam

oleh

Seorang lelaki yang baru genap berusia dua puluh tahun melakukan perjalanan udara untuk pertama kalinya. Berpindah dari pulau terpadat menuju pulau terbesar yang ada di negerinya. Ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu karena bagaimanapun yang ia lakukan saat ini adalah sebagian saja dari rencana masa kecilnya.

Pada hari itu paripurna sudah ia menjadi asing untuk banyak orang di sekitarnya. Termuda diantara banyak usia dan boleh jadi terbodoh diantara para profesional yang ada. Namun, sekali lagi ia enggan untuk ragu, enggan pula untuk kelu. Dengan modal seadanya ia bersiap untuk bernafas dan berkeringat dalam entah beberapa lama kemudian untuk bertahan hidup di tanah yang baru ia pijak. Di tepian sungai Mahakam, ibukota Kalimantan Timur, Samarinda. Lanjutkan Membaca …

Keputusan Sepihak

oleh

Sering saya membayangkan apa yang para orang tua rasakan ketika anak yang begitu dicintainya memutuskan untuk pergi dari rumah untuk alasan dan keadaan apapun, seperti misal kuliah di luar kota, mendapatkan pekerjaan di luar pulau, menikah dan berpindah rumah dan atau yang paling mengerikan, benar-benar meninggalkan rumah tanpa alasan apapun atau apa biasa kita menyebutnya, minggat?? Kabur?? Terserahlah.

Saya membayangkan itu semua ketika sedang mengalami hubungan jarak jauh dengan gadis yang akhirnya menjadi istri saya sekarang ini. Ketika itu, astaga, berjauhan dengan orang yang baru dikenal dan dicinta beberapa waktu saja rasanya sudah tidak enak. Bagaimana para orang tua yang hatinya diacak-acak rasa rindu akibat berjauhan dengan anak yang dicintainya bahkan semenjak anak itu belum mengenal cinta.

Dan, pada akhirnya waktu akan memberikan jawaban. Rasanya sakit sekali melebihi rindu ketika menjalani sebuah hubungan dengan jarak yang paling jauh sekalipun. Dan hujan melengkapi semuanya. Lanjutkan Membaca …

Cerita Tentang Senja

oleh

Selamat sore, maaf jika aku salah, karena mungkin saja saat membaca tulisan ini kalian sedang sarapan, atau sedang beristirahat sambil memilih menu makan siang misalnya, atau boleh jadi saat ini kalian baru saja selesai mematikan lampu kamar dan kemudian melakukan rutinitas manusia modern kebanyakan : bermain seluler sebelum tidur.  Tapi, aku sungguh menulis cerita ini ketika sore hari, seharusnya dalam beberapa menit kedepan aku menghentikan semua aktivitasku di kantor lalu seperti biasanya pulang ketika bel berbunyi, sama sekali tidak boleh terlambat. Aku sangat menikmati ketika menjadi saksi bumi berotasi, maksudku -kalian boleh jadi tidak sadar bukankah disetiap sorenya saat perjalanan pulang kita merasakan pergantian waktu dari sore ke malam ?? terang ke gelap ?? Ah, di surga pasti Léon Foucault sedang tersenyum. Dan bagian terbaiknya adalah pada interval waktu yang sedemikian sempit antara sore dengan malam, jika beruntung kita akan dipertemukan dengan senja, menurutku bias lembayung, dan hitam dan putih di langit yang seharusnya biru adalah salah satu lukisan terbaik dari Tuhan dan demi melihat itu semua aku harus selalu pulang tepat waktu, seperti kataku tadi, tidak boleh terlambat sama sekali.

Benar, ini cerita dari senja, sebentar saja, dan tentu saja dari senja yang sama dengan apa yang kalian lihat biasanya. Bagaimana senja itu bermula ?? jika nantinya kalian menanyakan hal itu, aku tidak tahu, cari sajalah sendiri nanti atau tanyakan pada kawanmu yang boleh jadi lebih pandai dalam urusan ini. Yang akan aku ceritakan sekarang adalah tentang bagaimana aku begitu menyukai senja, rela menengadah lamat-lamat ke ujung langit demi menjadi saksi datang perginya senja yang teramat cepat, merenung lalu tersenyum. Aku sering melakukannya, teramat sering malah, maka jangan jadi membenciku jika aku merasa harus memberitahu kalian cerita yang kudapat dari senja.

Lanjutkan Membaca …

Go to Top