Tag archive

Bunda

Cuti

oleh

Dalam rentang waktu satu minggu terakhir saya mengambil cuti dari tempat saya bekerja. Dalam rentang waktu tersebut saya juga menyengajakan diri keluar, untuk sementara waktu, dari dunia daring. Media sosial, grup-grup aplikasi percakapan, bahkan surel kantor, yang biasanya harus saya tanggapi, kini terpaksa saya abaikan. Tentu saja ada pengecualian yang saya lakukan untuk beberapa hal yang amat sangat mendesak. Pada periode waktu tersebut, saya melakukan beberapa hal yang tidak biasanya saya lakukan. Seperti misalnya menyalakan televisi di pagi hari. Ini menarik, karenanya saya jadi mengetahui Arsya, anak kedua dari Mas Anang dan istri, telah lahir dengan begitu menggemaskan. Ia, diberitakan, sedang diajak jalan-jalan keliling kota Jember menggunakan becak. Tentu saja dipangku oleh kedua orangtuanya. Tidak terasa, padahal seperti baru kemarin saja media memberitakan dengan berlebihan proses kelahiran Arsyi, anak pertama Mas Anang dan Mbak Ashanty. Lanjutkan Membaca …

Anak Kecil Itu

oleh

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya fajar yang hangat. Satu dua orang berjalan cepat dengan telapak kaki dibiarkan telanjang menginjak bumi yang belum panas. Satu dua lainnya berlari lambat demi keringat dan banyak harapan gumpalan lemak di dalam perut segera enyah. Sepagi itu pula, saat para ayam pejantan sudah kembali masuk kandang setelah lelah berkokok panjang membangunkan manusia dari lelapnya tidur malam tadi, di rumah berluas beberapa bata saja ada seorang anak kecil dengan bau asam keringat yang menyenangkan sedang tertawa, terbahak sebegitu riang. Barisan gigi yang tumbuh belum sempurna diperlihatkannya dengan sengaja. Menggemaskan sekali. Ia berlari kesana-kemari sebelum terjatuh karena tak siap. Menangis sekejap sebelum kembali berlari. Lalu menari. Sembari mengulang tawa dengan begitu memesona. Lanjutkan Membaca …

Sabar Ya Nak

oleh

Darimana saya harus memulai ?? Ah , iya. Ini cerita di suatu malam, antara kami –saya dengan istri yang saling bertatapan lama sekali. Kami berniat untuk berbicara banyak tentang satu dua hal yang boleh jadi teramat penting. Tapi malam itu, selain suara pendingin ruangan yang mulai rusak tak ada sedikitpun suara di kamar kami yang kecil itu. Ini cerita di suatu malam, antara kami yang bercerita banyak tanpa bicara, yang cuma bisa saling menatap, khidmat. Dipisahkan malaikat kecil yang tersenyum dalam tidurnya. Aduhai, sungguh menggemaskan.

Semua diam tadi sebetulnya tentang anak kecil itu. Anak kecil yang mulai pagi setelah malam itu ditinggalkan kedua orang tuanya , setidaknya sembilan jam di hampir setiap hari. Lanjutkan Membaca …

Bunda Jangan Berisik

oleh

Bunda, apa bunda ingat beberapa hari silam saat aku menangis marah –sedemikian parah. Seharian itu bunda melakukan banyak hal agar aku tenang, lalu diam. Bunda menimang aku dengan manja, memakaikan pakaian terbaik untukku, membersihkan kotoranku agar aku tetap nyaman, menyusui aku sehingga tetap bertenaga yang malah membuat aku bisa menangis lebih hebat. Hingga akhirnya bunda, kau kelelahan lalu tertidur karena lelah. Bunda tahu?? Bahkan saat tidur pun bunda tetap terlihat begitu cantik. Tak lama aku pun menyusul bunda, menyusul tidur.

Lewat tengah malam pintu kamar terbuka sungguh pelan, ayah pulang, sengaja meminimalkan suara agar aku dan bunda tidak bangun. Percuma ayah, aku hapal betul suara langkah kaki ayah yang sering tergesa-gesa dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat aku terbangun. Tapi lihat, bunda masih lelap, sungguh lelah nampaknya bunda hari itu, sampai bunda melewatkan kebiasaan mencium tangan ayah setiap kali ayah pulang. Demi melihat bunda tertidur saat itu, ayah tersenyum, entah kenapa begitu penuh penghargaan. Selepas mengganti pakaian kerjanya ayah lalu mencium kening bunda, aku mendapat bagian yang sama. Dan aku tersenyum, sungguh itu adalah momen terbaik setiap ayah pulang di akhir pekan.

Hari itu, ayah tak langsung tidur seperti biasanya. Melihat aku yang belum lagi tidur setelah terbangun tadi, ayah berbisik mengajakku bercanda. Satu dua gerakan kemudian ayah berhenti, raut wajah ayah berubah sendu. Semenjak aku lahir beberapa bulan lalu, baru kali itu wajah ayah terlihat tidak menyenangkan. Belum sempat aku menangis –aku ingin bertanya kenapa wajah ayah berubah muram ayah lalu bercerita banyak sekali, masih sambil berbisik malah sekarang suara ayah hampir tidak terdengar. Aku tahu, ayah tak ingin membuat bunda terbangun.

Aku khidmat mendengar bisikan cerita dari ayah. Dan kali ini aku benar-benar ingin menangis kencang, dari cerita ayah aku jadi tahu, setelah dewasa nanti aku tak boleh seperti ayah. Lanjutkan Membaca …

Di Luar Hujan Sebentar Lagi Aku Pulang

oleh

Padahal kita sering bersapa rindu, teramat malah, tapi bolehlah sesekali aku menulis segalanya tentang kamu disini, Istriku.

Terakhir aku menulisimu, kita belum tidur di ranjang yang sama, lebih dari itu kita bahkan belum sempat mengikat janji. Yang aku ingat, saat itu kita masih lucu berbalut baju putih abu, saat dimana nilai merah adalah hal sederhana yang membuat mood rusak sempurna, seketika. Saat pikiran kita hanya disibukan dengan kalimat “tugas apa besok?” bukan “makan apa besok?” seperti yang kita bahas sekarang setiap sebelum tidur, itu ketika kau kehabisan jatah memainkan permainan di selulermu.

Ah, tapi surat itu pun aku tulis karena tugas bahasa, bukan suka apalagi cinta.

Sebelum aku lanjutkan, tolong kau jangan bertanya isi surat saat itu, tentu saja aku lupa

Eh, satu lagi, saat kali ini aku menulisimu surat, pun, bukan karena cinta atau karena rindu. Setiap hari kita bertemu, kalaupun aku rindu, malam nanti aku cukup mematikan lampu, seperti sering hari kita lakukan. Jadi, aku menulis ini karena kebetulan saja saat sedang diam tadi aku melihat di linimasa tentang sebuah tantangan menulis surat cinta dalam waktu tertentu, 30 hari kalau tidak salah. Menurutku itu menarik, dan kebetulan di luar sedang hujan lebat, jadi aku coba menulisimu surat. Sebetulnya untuk mengikuti tantangan itu, bisa saja aku menulisi orang lain, tapi ayolah, malam ini aku tidak mau tidur di ruang tamu.

Jadi, mari kita mulai … Lanjutkan Membaca …

Go to Top