Scroll to top

Ayah

andhikamppp
Posted by andhikamppp
16 November 2019

Pulang

Akhirnya! Setelah beberapa waktu terakhir terpaksa mengurung diri di rumah, keluar hanya ke tempat-tempat yang jaraknya hanya sepelemparan batu belaka. Untuk pertama kalinya, semenjak si kecil lahir, kami berani untuk bergerak ratusan kilometer demi memenuhi undangan di kota jauh. Kami memutuskan untuk menyewa mobil. Untungnya mencari sewa mobil di jakarta lepas kunci tidak terlalu sulit. Sedikit berlebihan dalam persiapan. Memastikan kondisi si kecil baik dengan istirahat yang harus cukup. Dan: kakek-nenek, kami datang.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
14 June 2019

Ayah Kerja Dulu, Ya

Sudah beberapa hari berlalu dan ternyata benar, yang paling menyebalkan dari kembali bekerja setelah libur cukup panjang bukan tentang bagaimana menghadapi rutinitas hidup yang membosankan. Untuk urusan itu aku sejauh ini, seperti bagaimana biasanya, bisa mengatasinya. Tapi yang sulit adalah ketika aku, seperti sekarang ini, merasa amat sangat kehilangan atas kebiasaan sesaat yang kulakukan ketika dalam masa-masa liburan: menghabiskan waktu bercanda bertiga dengan Si Jagoan juga bunda dengan perutnya yang semakin besar.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
11 January 2019

Yang Kedua

Matahari masih malu-malu dan sembunyi ketika seorang lelaki menjejakan kakinya di tanah ibukota untuk mengakhiri perjalanan seperempat harinya. Bersamanya pemburu waktu berlalu-lalang dengan nafas-nafas menderu. Tak ada sapa di antara mereka, bahkan ketika uap-uap panas dari air mendidih para penyaji kopi di tengah pasar yang bingar itu memanggil, mereka tak peduli belaka. Suara lantang kumandang azan dari sebuah langgar kecil tiga kali dua tak jauh dari sana menjadi pembeda. Seolah bersepakat, semua deru cepat nafas itu melambat bersatu dalam lantunan ayat yang khidmat. Si Lelaki kini berada dalam barisan, menunggu giliran air yang berkucuran. Seperti orang lain kebanyakan, dalam tunggunya, lelaki itu membuka beberapa pesan. Memilah mana yang harus dibaca dan mana yang harus diabaikan. Matanya tertuju pada satu pesan, dari wanita yang ia pernah bersumpah demi Tuhan untuk selalu menjaganya. Gilirannya datang dan kini ia enggan, orang tua berkacamata di belakangnya ia persilakan duluan. Pesan ini, terlalu penting untuk dilewatkan. Pesan yang seharga dengan seluruh kehidupan.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
6 December 2018

Main Sepeda

Beberapa waktu terakhir ayah saya menghujani percakapan di layanan pesan singkat dengan segala hal yang berbau sepeda. Entah itu berupa gambar, kalimat, cuplikan video atau catatan suara. Terganggu? Tidak sama sekali. Saya malah merasa senang, di usia senjanya, ayah masih getol beraktivitas di luar. Sekali waktu ia bercerita tentang perjalanannya ke pusat kota, hampir tiga puluh kilometer jauhnya dari rumah, bersama dengan gengong aki-aki di rumah. Di waktu yang lain dengan bangga ia menunjukan tiket funbike yang diselenggarakan di salah satu gelanggang olahraga terbesar di kota bahkan beliau memaksa ibu untuk ikut menemaninya bersepeda. Biar sehat dan enggak cepat lupa, katanya. Saya yang berada ratusan kilometer jauhnya hanya bisa melamun rindu. Rindu kepada ayah yang tetap jenaka, ibu yang terpaksa dan tentu yang ada bersama mereka: sepeda.  

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
6 February 2018

Berhenti Menyukai Dilan

Di masa-masa sekolah waktu itu saya, oleh teman-teman, diperkenalkan kepada suatu band asal Bandung yang kerap membawakan lagu dengan lirik yang jenaka. Kopral Jono dan Cita-citaku adalah salah satu yang saya ingat. Lagam yang sederhana dengan kunci-kunci yang mudah membuat kami seringkali membawakan lagu-lagu tersebut di hampir setiap waktu kami berkumpul. The Panasdalam adalah nama band tersebut. Setelah lulus sekolah dan merantau, saya tak pernah lagi mendengarkan The Panasdalam. Sampai twitter muncul, saya dipertemukan kembali dengan salah satu personelnya. Pidi Baiq. Sang Imam Besar.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
15 September 2017

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup lama memerhatikan anak kecil itu yang, sedari kami masuk ke dalam mobil, terus memelukku erat. Ia mencoba menggodanya dengan beberapa lelucon yang biasa manusia dewasa haturkan kepada anak kecil. Percuma, untuk membuatnya berbicara, memang membutuhkan waktu atau kau harus menemukan bahasan yang ia sukai atau kau hanya akan didiamkan serupa batu belaka. “Dede mau kemana? Pulang ke rumah, ya?” pengemudi itu gigih mencari perhatian. Satu detik, dua detik, ia diam, lima detik, dan masih diam. “Mau pulang ke rumah, De?” kali ini aku yang bertanya. Ia merespon dengan satu tatapan galak, sampai satu detik kemudian ia menjawab “Kan, ihh, mu ke umah mamah”.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
18 April 2017

Cuti

Dalam rentang waktu satu minggu terakhir saya mengambil cuti dari tempat saya bekerja. Dalam rentang waktu tersebut saya juga menyengajakan diri keluar, untuk sementara waktu, dari dunia daring. Media sosial, grup-grup aplikasi percakapan, bahkan surel kantor, yang biasanya harus saya tanggapi, kini terpaksa saya abaikan. Tentu saja ada pengecualian yang saya lakukan untuk beberapa hal yang amat sangat mendesak. Pada periode waktu tersebut, saya melakukan beberapa hal yang tidak biasanya saya lakukan. Seperti misalnya menyalakan televisi di pagi hari. Ini menarik, karenanya saya jadi mengetahui Arsya, anak kedua dari Mas Anang dan istri, telah lahir dengan begitu menggemaskan. Ia, diberitakan, sedang diajak jalan-jalan keliling kota Jember menggunakan becak. Tentu saja dipangku oleh kedua orangtuanya. Tidak terasa, padahal seperti baru kemarin saja media memberitakan dengan berlebihan proses kelahiran Arsyi, anak pertama Mas Anang dan Mbak Ashanty.

Read More
Disparitas
Posted by Disparitas
10 February 2017

Disparitas dan Isi Kepala Suami Idaman

Hal yang paling mengusik hari-hari manusia adalah berpikir. Ketika hendak bepergian, kita berpikir tentang tujuan, rute, transportasi, dan biaya. Atau ketika ingin makan pun kita juga memikirkan soal jenis makanan, rasa, porsi, dan biaya. Bahkan hal sederhana seperti ngupil juga berangkat dari pertimbangan waktu, tempat, dan metode pencukilan upil itu sendiri. Berpikir itu sendiri merupakan aktivitas yang menyatukan ide-ide menjadi keputusan. Kita menyatukan ide “lampu merah” dan ide “berhenti” menjadi keputusan untuk menghentikan laju kendaraan saat lampu merah menyala. Nilai proposisi di sini hanya dua, benar atau salah. Keputusan berhenti saat lampu merah menyala adalah benar. Sedangkan menerabas lampu merah adalah salah. Nah, jadi tidak mungkin muncul pilihan ketiga, seperti berhenti sekaligus menerabas lampu merah.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
29 August 2016

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya fajar yang hangat. Satu dua orang berjalan cepat dengan telapak kaki dibiarkan telanjang menginjak bumi yang belum panas. Satu dua lainnya berlari lambat demi keringat dan banyak harapan gumpalan lemak di dalam perut segera enyah. Sepagi itu pula, saat para ayam pejantan sudah kembali masuk kandang setelah lelah berkokok panjang membangunkan manusia dari lelapnya tidur malam tadi, di rumah berluas beberapa bata saja ada seorang anak kecil dengan bau asam keringat yang menyenangkan sedang tertawa, terbahak sebegitu riang. Barisan gigi yang tumbuh belum sempurna diperlihatkannya dengan sengaja. Menggemaskan sekali. Ia berlari kesana-kemari sebelum terjatuh karena tak siap. Menangis sekejap sebelum kembali berlari. Lalu menari. Sembari mengulang tawa dengan begitu memesona.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
25 May 2016

Cerita tentang Wibi

Cerita ini dimulai saat matahari mulai tenggelam dan senja datang membawakan banyak sekali cerita. Sunyinya taman kota membuat suara ayunan yang berisik menjadi jelas setiap kali ia berdenyit. Satu persatu orang mulai pergi meninggalkan tempat itu, semakin sepi saja, menyisakan anak kecil yang termangu duduk sendiri di ayunan yang nyaris tak bergerak tepat di tengah taman kota. Ia mulai terisak di saat air matanya belum sempat jatuh. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada itu. Tangis yang tak dibarengi oleh air mata. "Ayah" ia berucap pelan, memanggil sosok yang amat ia rindukan. Matahari sudah hilang sempurna. Langit menjadi gelap, plang Taman kanak-kanak Tadika Puri di seberang taman kota sudah tidak terlihat. Sudah lebih dari tiga jam ia menunggu disana, untuk anak seusianya ini sudah berlebihan. Tapi bagaimanalah, paman tak bisa menjemput tepat waktu, dipaksa kerja lembur.

Dari langit hujan datang beriringan, tak terlalu banyak namun cukup membuat anak itu basah kuyup. Ia tak peduli, karena di tengah taman kota, paman akan mudah menemukannya dan ia percaya paman akan segera datang. Benar saja, sebelum adzan Isya berkumandang paman datang tergesa-gesa, memeluknya erat merasa berdosa membiarkan anak sekecil itu menunggu lama di tengah hujan. "Maafkan paman datang terlambat, Wibi".

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
26 January 2016

Pergi Ke Pasar

Saya percaya anda tidak akan membicarakan hal yang kurang baik jika saya bercerita tentang apa yang biasa terjadi di rumah. Tentang bagaimana saya yang hampir tidak pernah sama sekali membantu istri untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Membiarkan istri bangun lebih awal demi menyiapkan satu cangkir teh manis beserta kudapan yang bisa mengganjal perut ketika saya harus meninggalkan rumah selepas dua rakaat pertama setiap harinya. Dan juga ketika ia selalu memastikan makanan penutup hari di waktu malam selalu hangat setiap saya kembali ke rumah di waktu empat rakaat terakhir. Ah, padahal kami sama-sama bekerja di luar rumah. Tetapi pastilah tenaga yang ia keluarkan berlipat jauh dibandingkan saya.

Tetapi jikapun anggapan buruk itu ada, biar sajalah. Dan semoga saja satu cerita berikutnya bisa meyakinkan anda semua -dan anda harus percaya bagaimanapun akan ada saatnya seorang laki-laki akan menunjukan rasa tanggung jawab kepada keluarganya, ya meski dalam kasus ini porsinya teramat kecil.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
7 July 2015

Sabar Ya Nak

Darimana saya harus memulai ?? Ah , iya. Ini cerita di suatu malam, antara kami –saya dengan istri yang saling bertatapan lama sekali. Kami berniat untuk berbicara banyak tentang satu dua hal yang boleh jadi teramat penting. Tapi malam itu, selain suara pendingin ruangan yang mulai rusak tak ada sedikitpun suara di kamar kami yang kecil itu. Ini cerita di suatu malam, antara kami yang bercerita banyak tanpa bicara, yang cuma bisa saling menatap, khidmat. Dipisahkan malaikat kecil yang tersenyum dalam tidurnya. Aduhai, sungguh menggemaskan.

Semua diam tadi sebetulnya tentang anak kecil itu. Anak kecil yang mulai pagi setelah malam itu ditinggalkan kedua orang tuanya , setidaknya sembilan jam di hampir setiap hari.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
4 June 2015

Bunda Jangan Berisik

Bunda, apa bunda ingat beberapa hari silam saat aku menangis marah –sedemikian parah. Seharian itu bunda melakukan banyak hal agar aku tenang, lalu diam. Bunda menimang aku dengan manja, memakaikan pakaian terbaik untukku, membersihkan kotoranku agar aku tetap nyaman, menyusui aku sehingga tetap bertenaga yang malah membuat aku bisa menangis lebih hebat. Hingga akhirnya bunda, kau kelelahan lalu tertidur karena lelah. Bunda tahu?? Bahkan saat tidur pun bunda tetap terlihat begitu cantik. Tak lama aku pun menyusul bunda, menyusul tidur.

Lewat tengah malam pintu kamar terbuka sungguh pelan, ayah pulang, sengaja meminimalkan suara agar aku dan bunda tidak bangun. Percuma ayah, aku hapal betul suara langkah kaki ayah yang sering tergesa-gesa dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat aku terbangun. Tapi lihat, bunda masih lelap, sungguh lelah nampaknya bunda hari itu, sampai bunda melewatkan kebiasaan mencium tangan ayah setiap kali ayah pulang. Demi melihat bunda tertidur saat itu, ayah tersenyum, entah kenapa begitu penuh penghargaan. Selepas mengganti pakaian kerjanya ayah lalu mencium kening bunda, aku mendapat bagian yang sama. Dan aku tersenyum, sungguh itu adalah momen terbaik setiap ayah pulang di akhir pekan.

Hari itu, ayah tak langsung tidur seperti biasanya. Melihat aku yang belum lagi tidur setelah terbangun tadi, ayah berbisik mengajakku bercanda. Satu dua gerakan kemudian ayah berhenti, raut wajah ayah berubah sendu. Semenjak aku lahir beberapa bulan lalu, baru kali itu wajah ayah terlihat tidak menyenangkan. Belum sempat aku menangis –aku ingin bertanya kenapa wajah ayah berubah muram ayah lalu bercerita banyak sekali, masih sambil berbisik malah sekarang suara ayah hampir tidak terdengar. Aku tahu, ayah tak ingin membuat bunda terbangun.

Aku khidmat mendengar bisikan cerita dari ayah. Dan kali ini aku benar-benar ingin menangis kencang, dari cerita ayah aku jadi tahu, setelah dewasa nanti aku tak boleh seperti ayah.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
15 September 2013

Titip Rindu Buat Babeh

"Di matamu masih tersimpan, selaksa peristiwa. Benturan dan hempasan terpahat di keningmu. Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras, namun kau tetap tabah. Meski nafasmu kadang tersengal, memikul beban yang makin sarat. Kau tetap setia"

Di atas adalah salah penggalan lirik dari salah satu lagi terbaik dari Ebiet G Ade, lagu yang dipersembahkan untuk ayah. Buat gue Ayah adalah orang paling hebat, terlepas dari sosok Nabi Muhammad SAW , ayah adalah Lelaki nomor satu di Dunia. Adalah wajar bila seorang anak sangat mengagumi Ayahnya, tapi gue berusaha melewati batas batas wajar tersebut, gue dengan berani berjanji, kalo Ayah adalah sosok yang paling tepat untuk gue jadiin model hidup.

Bahkan saat gue kecil, saat ditanya tentang cita cita , gue menjawab dengan tegas kalo cita cita gue adalah  :

1. Pengen jadi Spiderman.

2. Pengen kaya Papah.

Dan percayalah, dewasa ini, gue pikir akan lebih mudah buat gue untuk jadi Spiderman, dibandingkan gue bisa jadi seperti sosok Babeh (Panggilan gue buat beliau).

Read More