Tag archive

anak

Si Jagoan

oleh

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana. Dua jam sebelum pergantian hari menuju akhir pekan. Aku baru saja tiba di terminal ibukota provinsi. Untuk mencapai rumah, jika menggunakan akses kendaraan seperti biasa, masih membutuhkan waktu enam sampai sembilan puluh menit lebih kurang. Meski sebenarnya cepat saja jika pemilik angkutan tidak bebal menunggu penumpang penuh. “Yah, jek, aja” ia kembali mengulang perkataanya. Menggunakan ojek, maksud dari perkataan itu, memang dapat memangkas waktu hampir setengahnya. Aku menimbang-nimbang, lalu mengangguk, tersenyum, “iya, dek, Ayah naik ojek, ya.” Lanjutkan Membaca …

Disparitas dan Isi Kepala Suami Idaman

oleh

Hal yang paling mengusik hari-hari manusia adalah berpikir. Ketika hendak bepergian, kita berpikir tentang tujuan, rute, transportasi, dan biaya. Atau ketika ingin makan pun kita juga memikirkan soal jenis makanan, rasa, porsi, dan biaya. Bahkan hal sederhana seperti ngupil juga berangkat dari pertimbangan waktu, tempat, dan metode pencukilan upil itu sendiri. Berpikir itu sendiri merupakan aktivitas yang menyatukan ide-ide menjadi keputusan. Kita menyatukan ide “lampu merah” dan ide “berhenti” menjadi keputusan untuk menghentikan laju kendaraan saat lampu merah menyala. Nilai proposisi di sini hanya dua, benar atau salah. Keputusan berhenti saat lampu merah menyala adalah benar. Sedangkan menerabas lampu merah adalah salah. Nah, jadi tidak mungkin muncul pilihan ketiga, seperti berhenti sekaligus menerabas lampu merah. Lanjutkan Membaca …

Kotaku di Waktu itu

oleh

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda yang amat terbatas sedang melaju adu cepat. Suara gelas bekas air mineral kemasan yang disimpan di antara ban dan batangnya terdengar begitu khas. Orang-orang yang kami lewati di sepanjang perjalanan hanya bisa menggeleng, menertawakan keseruan yang kami buat. “Yeah, aku menang,” Aris pemilik sepeda berwarna ungu sampai duluan “lambat sekali kalian” ia menambahkan setelah dua orang temannya sampai, satu setengah menit kemudian. “Kau curang, kan perjanjiannya tidak boleh lewat jalan pintas!” Irpan protes kepada Aris. Yang dijawab hanya dengan ‘hehe’ dan satu garukan pada kepalanya yang tidak gatal. “Sudahlah, tidak ada hadiahnya bukan? Ngapain berantem, sih. Apa kita langsung turun aja, nih?” sambil tersenyum, aku, anak kecil terakhir yang tiba memberikan sebuah gagasan. Lanjutkan Membaca …

Anak Kecil Itu

oleh

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya fajar yang hangat. Satu dua orang berjalan cepat dengan telapak kaki dibiarkan telanjang menginjak bumi yang belum panas. Satu dua lainnya berlari lambat demi keringat dan banyak harapan gumpalan lemak di dalam perut segera enyah. Sepagi itu pula, saat para ayam pejantan sudah kembali masuk kandang setelah lelah berkokok panjang membangunkan manusia dari lelapnya tidur malam tadi, di rumah berluas beberapa bata saja ada seorang anak kecil dengan bau asam keringat yang menyenangkan sedang tertawa, terbahak sebegitu riang. Barisan gigi yang tumbuh belum sempurna diperlihatkannya dengan sengaja. Menggemaskan sekali. Ia berlari kesana-kemari sebelum terjatuh karena tak siap. Menangis sekejap sebelum kembali berlari. Lalu menari. Sembari mengulang tawa dengan begitu memesona. Lanjutkan Membaca …

Keputusan Sepihak

oleh

Sering saya membayangkan apa yang para orang tua rasakan ketika anak yang begitu dicintainya memutuskan untuk pergi dari rumah untuk alasan dan keadaan apapun, seperti misal kuliah di luar kota, mendapatkan pekerjaan di luar pulau, menikah dan berpindah rumah dan atau yang paling mengerikan, benar-benar meninggalkan rumah tanpa alasan apapun atau apa biasa kita menyebutnya, minggat?? Kabur?? Terserahlah.

Saya membayangkan itu semua ketika sedang mengalami hubungan jarak jauh dengan gadis yang akhirnya menjadi istri saya sekarang ini. Ketika itu, astaga, berjauhan dengan orang yang baru dikenal dan dicinta beberapa waktu saja rasanya sudah tidak enak. Bagaimana para orang tua yang hatinya diacak-acak rasa rindu akibat berjauhan dengan anak yang dicintainya bahkan semenjak anak itu belum mengenal cinta.

Dan, pada akhirnya waktu akan memberikan jawaban. Rasanya sakit sekali melebihi rindu ketika menjalani sebuah hubungan dengan jarak yang paling jauh sekalipun. Dan hujan melengkapi semuanya. Lanjutkan Membaca …

Go to Top