anak

Ayah Kerja Dulu, Ya

7

Sudah beberapa hari berlalu dan ternyata benar, yang paling menyebalkan dari kembali bekerja setelah libur cukup panjang bukan tentang bagaimana menghadapi rutinitas hidup yang membosankan. Untuk urusan itu aku sejauh ini, seperti bagaimana biasanya, bisa mengatasinya. Tapi yang sulit adalah ketika aku, seperti sekarang ini, merasa amat sangat kehilangan atas kebiasaan sesaat yang kulakukan ketika

Yang Kedua

1

Matahari masih malu-malu dan sembunyi ketika seorang lelaki menjejakan kakinya di tanah ibukota untuk mengakhiri perjalanan seperempat harinya. Bersamanya pemburu waktu berlalu-lalang dengan nafas-nafas menderu. Tak ada sapa di antara mereka, bahkan ketika uap-uap panas dari air mendidih para penyaji kopi di tengah pasar yang bingar itu memanggil, mereka tak peduli belaka. Suara lantang kumandang

Anak & Telepon Genggam

1

Telepon genggam bagaikan dua sisi mata pisau yang memiliki sifat berlawanan. Di satu sisi, ia memberikan banyak sekali kemudahan untuk penggunananya. Banyak hal yang dulu harus dilakukan melalui berbagai medium, sekarang bisa diwakili oleh satu perangkat saja. Di sisi lain, ia juga hadir sebagai medium yang adiktif, memberikan efek ketergantungan yang luar biasa, menyita hampir

Anak Ayah

25

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup lama memerhatikan anak kecil itu yang, sedari kami masuk ke dalam mobil, terus memelukku erat. Ia mencoba menggodanya dengan beberapa lelucon yang biasa manusia dewasa haturkan kepada anak kecil. Percuma, untuk membuatnya berbicara, memang membutuhkan waktu atau kau harus menemukan bahasan yang ia

Si Jagoan

21

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana. Dua jam sebelum pergantian hari menuju akhir pekan. Aku baru saja tiba di terminal ibukota provinsi. Untuk mencapai rumah, jika menggunakan akses kendaraan seperti biasa, masih membutuhkan waktu enam sampai sembilan puluh menit lebih kurang. Meski sebenarnya cepat saja jika pemilik angkutan tidak