21 Juni 2014

Tahun Ketiga

18

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini ketika aku berada di tengah-tengahnya. Suara klakson saling bersahutan berelaborasi menjadi sebuah simfoni yang merdu, namun tetap saja menjemukan. Sinar matahari di luar sana sudah sedemikian terik. Kekhawatiran terlambat untuk segala aktivitas mulai terlihat melalui wajah-wajah cemas anak manusia di dalam bus kota.

Dua Puluh Satu Juni

47

Butiran embun menetes terburu-buru menggenapi tanah yang dari semalam sudah basah. Hanya sebentar sebelum kemilau asa dari ufuk timur datang untuk menghilangkan sisa-sisa hujan semalam, sedikit demi sedikit menghangatkan sejuta keinginan. Aku menatap bumi melalui kaca yang terbingkai dari dalam kotak besi yang bergerak perlahan, menegangkan.  Aku tidak bisa tidak tersenyum setiap kali mengingat kata bijak itu. Pagi adalah sebuah