Review

Membuka Tawa Dengan Komedi Tunggal

Menyukai komedi adalah salah satu cara saya untuk mencari penghiburan diri. Menonton atau mendengar komedi biasa saya lakukan ketika saya sedang berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Tapi tidak semua komedi bisa saya konsumsi begitu saja. Saya memiliki standar yang berlebihan untuk masalah ini dan secara kebetulan saya tumbuh dalam narasi komedi yang digaungkan oleh pegiat komedi legendaris negeri ini: Warkop DKI. Berbeda dari para pelaku komedi kebanyakan, trio Warkop menyuguhkan komedi cerdas. Tidak semua lawakan yang mereka suguhkan bisa diterima begitu saja. Perlu ruang tambahan di dalam otak untuk mencerna komedi yang mereka haturkan. Ribet. Tapi   saya suka. Dewasa ini sedikit banyak saya menemukan pola yang sama di galeri stand-up comedy. Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca ...

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

WISGR Alternatif Untuk PC Games Action Adventures

oleh

Belakangan ini banyak hal yang terjadi di Indonesia yang mendapat perhatian dunia internasional. Yang menyenangkan, perhatian yang datang tidak melulu karena hal negative seperti apa yang terjadi di masa lalu. Seperti misalnya, penyanyi dan musisi asal Indonesia yang mendapatkan atensi di kancah musik internasional, lakon film yang diputar dan mendapat penghargaan di berbagai festival film mancanegara. Yang terbaru, masih dari industri hiburan, ada Guklabs-Games Developer asal Jakarta yang menarik perhatian dunia lewat WISGR game yang akan segera mereka rilis. Lanjutkan Membaca …

Aroma Karsa & Saya yang Dibuat Kerdil

oleh

Saya memang menyukai dunia baca. Tak terlalu lama semenjak saya mampu mengeja alfa beta. Namun, ketika itu, yang saya baca adalah cerita bergambar. Selain buku cetak pelajaran di sekolah, saya merasa tak sudi untuk berlama-lama menyelam di barisan kata yang panjang. Dewi Lestari, bersama karya-karyanya mengubah itu semua. Akar, bagian kedua dari Supernova, adalah barisan kata panjang pertama yang saya baca utuh. Tanpa Jeda. Dan saya jatuh cinta. Dengan semua yang ada di dalamnya, saya begitu tergila-gila. Imajinasi saya meliar. Dan saya berada dalam sensasi yang luar biasa. Sensasi yang tidak pernah saya dapatkan ketika saya membaca cerita yang disempitkan oleh gambar. Maaf, Son Goku. Saya memiliki idola lain dalam sosok Bodhi. Lanjutkan Membaca …

Telur & Makanan Palsu

oleh

Saya tersenyum kecut ketika melihat pemberitaan di media, baik cetak maupun digital, terkait isu telur palsu. Alasan-alasan yang dikemukakan, bagaimana kemudian (yang dianggap) telur palsu itu didemonstrasikan. Untuk memperkuat isu tersebut beredar pula sebuah video yang berjudul: ‘inilah pembuatan telur palsu’ dengan tambahan caption yang berlebihan. Padahal, isi dari video tersebut adalah proses pembuatan mainan yang berbentuk… telur. Yang paling konyol, banyak banget orang yang termakan isu sampah tersebut. Astaga, saya menjadi sangat yakin bahwasanya lulus ujian nasional sama sekali tidak mencerminkan isi otak. PR menteri pendidikan menjadi semakin berat. Lanjutkan Membaca …

Sepatu Lokal

oleh

Ketika saya sedikit lebih muda, saya tidak memiliki minat yang berlebih terhadap sepatu kulit. Alasannya sederhana, saya belagu dengan selalu menggunakan sepatu gaya dengan merk-merk ternama. Dan untuk sepatu kulit, merk-merk ternama itu memberikan harga yang luar biasa gila. Tambahkan sedikit, saya bisa memiliki sepatu main yang lebih cocok dengan cara saya berpenampilan. Sedangkan, untuk membeli sepatu kulit merk-merk lokal. Kualitas, ketahanan, model. Aduh, saya tidak pernah benar-benar percaya, sih, sama merk lokal. Dan untuk urusan ini saya rasa, dan saya cukup yakin, saya tidak sendirian. Lanjutkan Membaca …

Liburan Nanti

oleh

Sudah ngajuin cuti?”

Bulan ketiga di tahun ini. Sudah waktunya mempersiapkan segala sesuatu untuk menepikan sejenak rutinitas demi membagi waktu untuk Si Kecil yang akan berulang tahun di bulan depan. Setidaknya, itulah yang biasa kami lakukan di tiga tahun terakhir ini.

“Sudah. Kamu, sudah?” pertanyaan itu kembali padaku. Aku menggeleng, menunggu momen yang pas, kataku kemudian. Rencananya memang di minggu-minggu ini aku baru berencana mengajukan cuti. Birokrasi pengajuan cuti di tempatku bekerja memang tidak terlalu sulit. Namun, mengingat kekosongan beberapa posisi di divisi tempatku bertugas, aku harus memutar otak untuk alasan cuti yang masuk akal. Lanjutkan Membaca …

Go to Top