Blog

Manusia Setengah Kampret

Di sosial media belakangan ini muncul istilah baru untuk membagi manusia ke dalam dua kelompok tertentu. Cebong dan Kampret. Saya tahu, meskipun sempat kebingungan di awal, mengapa istilah itu muncul. Dan tentu istilah dan panggilan tersebut bukanlah panggilan sayang. Mereka, yang pertama kali membuat istilah itu, mengamati perilaku kelompoknya yang berseberangan, membandingkannya dengan binatang, memilah mana yang buruk dan, tentu saja, yang bisa dijadikan objek cela. Saya tidak mau dan tidak pernah mau terlibat aktif di dua kelompok itu. Tapi, tiba-tiba kok ya saya tergelitik untuk menebak-nebak sendiri. Kalau melihat pola dan perilaku, saya ada di mana, sih? Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca ...

Pembimbing Utama

oleh

Saya yang sedang mencoba mempelajari kembali Bahasa Indonesia sempat menjadi menyebalkan ketika, dalam beberapa kasus tertentu, selalu mencoba memperbaiki bahasa orang-orang di lingkaran saya, terutama bidang tulis di situasi formal, agar sesuai dengan kaidah kebahasaan. Setidaknya dengan informasi yang saya ketahui belaka. Saya cukup sebal ketika menerima surel resmi dari rekan kerja –atau malah pihak luar dengan tanda baca yang berantakan atau menggunakan kata-kata yang biasa digunakan dalam percakapan non-formal. Lama-lama saya, yang masih bodoh, mulai memaklumi dua hal tadi. Pikir saya tidak semua orang, kan, mau atau peduli dengan kaidah kebahasaan. Jika saya sedang tidak berusaha kembali belajar, tampaknya, saya pun akan peduli setan dengan namanya kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Ribet, gan!

Tapi dibanding dua hal tadi ada satu yang lebih menyebalkan: penggunaan huruf kapital berlebihan! Lanjutkan Membaca …

Liburan Akhir Tahun

oleh

Beberapa waktu yang lalu, sebelum saya pergi meninggalkan kota asal untuk bekerja di kota rantau, saya sempat berbisik pada Si Jagoan, “Dek, nanti ayah jemput, ya. Terus kita jalan-jalan, deh”. Ia tersenyum sebagai tanda sepakat dan tentu saja dengan harapan yang besar untuk Ayah menepati janji. Sore tadi, dua minggu setelahnya, saya melakukan panggilan video kepadanya, bertatap muka jarak jauh, untuk sekadar melepas rindu. Panggilan tersambung setelah nada tunggu ketiga. Neneknya yang menerima untuk kemudian beliau teruskan kepada Si Jagoan. Ia berlari ke arah yang berlawanan, menjauhi telfon genggam. “Gak mau” katanya kepada nenek. “Marah, Yah,” kata Nenek, “Ayah janji jemput, kan? Dia nagih, tuh”. Lanjutkan Membaca …

Mobil, Tiang & Benjol

oleh

Sudah satu minggu semenjak nusantara dihebohkan oleh berita kecelakaan lalu lintas yang melibatkan salah satu seorang pejabat tinggi negeri. Berita kemudian berkembang dengan pelbagai bumbu yang mewarnainya. Beberapa orang melihat anomali dalam kasus kecelakaan tersebut. Setelah foto-foto dari TKP diperlihatkan kepada publik, berbagai analisis muncul. Sebagian menganalisis berdasarkan sudut pandang keilmuan tentang kecepatan, tumbukan yang terjadi antara benda yang statis dan dinamis. Sebagian lagi menganalisis dengan logika seadanya.  Asal sekadar cukup untuk memadu padankan hubungan antara mobil, tiang dan benjol. Lanjutkan Membaca …

Kurang Piknik

oleh

Frasa ‘kurang piknik’ kerap digunakan untuk menandai orang-orang yang dianggap memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap suatu hal atau bahasan tertentu. Biasanya orang-orang yang dilabeli ‘kurang piknik’ itu ia yang mudah tersinggung, marah-marah tidak jelas atau baper –jika boleh meminjam bahasa kekinian-  ketika dalam suatu forum diskusi, di manapun itu, membahas hal yang boleh jadi tidak ia suka dan tidak ia sepakati. Malah dalam kasus yang lebih parah orang-orang ‘kurang piknik’ itu kerap muncul di waktu tak terduka. Ia hanya melihat, atau mendengar, namum merasa terlibat. Seolah dunia terlalu senggang dan cukup banyak waktu untuk membicarakan dirinya belaka. Lanjutkan Membaca …

Sepatu

oleh

Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita daring, yang merekam sepak terjang perjalanan Sang Gubernur Ibukota dan, tentu saja, wakilnya semenjak pertama kali mereka menjabat sampai hari ini dan sampai kapan entah. Sebagian berita sempat saya baca utuh, untuk kemudian saya tertawa bahak (atau malah kesal bukan main) sebagian yang lain hanya saya baca judulnya saja untuk kemudian menggeleng heran. Dari banyak hal satu yang paling saya ingat adalah tentang keengganan Sang Wakil menggunakan sepatu pantopel sebagai alas kaki untuk ia berangkat kerja. Untuk kali ini saya ingin mengangkat tangan lima jari tinggi-tinggi kemudian berujar: “Bang, tos donk kita!Lanjutkan Membaca …

Go to Top