Review

Ke Arah Bandara

Lebih dari separuh perjalanan dinas luar kota –atau malah luar pulau yang saya lakukan adalah perjalanan yang tidak direncanakan. Kalau pun masuk dalam rencana kegiatan, biasanya baru direncanakan satu-dua hari sebelum keberangkatan. Apa yang menyebalkan? Seperti umumnya di sebuah perusahaan, kebijakan di tempat saya bekerja mengenai permintaan biaya perjalanan dinas harus dilakukan selambat-lambatnya tiga hari sebelum kegiatan. Artinya, di hampir setiap perjalanan saya harus menalangi terlebih dahulu biaya keberangkatan. Kalau berangkat di awal-awal bulan, sih, ya enggak terlalu masalah, ya. Tapi kalau perjalanan dinas dan proses talang-menalangi itu terjadi di akhir bulan, ya, pusing juga, jendral. Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca ...

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

Sepatu Lokal

oleh

Ketika saya sedikit lebih muda, saya tidak memiliki minat yang berlebih terhadap sepatu kulit. Alasannya sederhana, saya belagu dengan selalu menggunakan sepatu gaya dengan merk-merk ternama. Dan untuk sepatu kulit, merk-merk ternama itu memberikan harga yang luar biasa gila. Tambahkan sedikit, saya bisa memiliki sepatu main yang lebih cocok dengan cara saya berpenampilan. Sedangkan, untuk membeli sepatu kulit merk-merk lokal. Kualitas, ketahanan, model. Aduh, saya tidak pernah benar-benar percaya, sih, sama merk lokal. Dan untuk urusan ini saya rasa, dan saya cukup yakin, saya tidak sendirian. Lanjutkan Membaca …

Liburan Nanti

oleh

Sudah ngajuin cuti?”

Bulan ketiga di tahun ini. Sudah waktunya mempersiapkan segala sesuatu untuk menepikan sejenak rutinitas demi membagi waktu untuk Si Kecil yang akan berulang tahun di bulan depan. Setidaknya, itulah yang biasa kami lakukan di tiga tahun terakhir ini.

“Sudah. Kamu, sudah?” pertanyaan itu kembali padaku. Aku menggeleng, menunggu momen yang pas, kataku kemudian. Rencananya memang di minggu-minggu ini aku baru berencana mengajukan cuti. Birokrasi pengajuan cuti di tempatku bekerja memang tidak terlalu sulit. Namun, mengingat kekosongan beberapa posisi di divisi tempatku bertugas, aku harus memutar otak untuk alasan cuti yang masuk akal. Lanjutkan Membaca …

Tulisanmu Jelek

oleh

Saya yang arogan sudah amat sangat terbiasa menerima pujian ketika ada seseorang yang datang berkunjung membaca tulisan saya. “Tulisannya bagus. Ceritanya mengalir”, “Kok bisa sih nulis kaya gini. Ingin bisa!”, “Baru mampir sudah suka sama tulisannya”, adalah beberapa contoh ‘pujian’ yang biasa saya dapatkan. Ya, meskipun yang terakhir disebutkan adalah sebuah draf busuk yang mungkin juga ada di blog-blog kamu semua. Yang lain sisanya? Ya, banyak. Bahkan saya cenderung bosan dengan puja-puji yang datang di hampir setiap tulisan yang saya buat. Tidak usah kamu bayangkan, berat, biar saya saya. Tapi jika mau, kamu harus menjadi saya untuk merasakannya. Ya, menjadi searogan saya. Lanjutkan Membaca …

Pada Sebuah Kereta

oleh

Hilir mudik para penumpang tampak tidak terlalu padat di Stasiun Barcelona Sants ketika aku tiba. Entah karena ini bukan akhir pekan atau memang aku tiba di waktu dimana banyak orang sedang menyantap makan siang atau mungkin siesta sebelum kembali beraktivitas. Belum tepat pukul 1 siang ketika aku memutuskan mendaratkan tubuhku di deretan bangku kosong berwarna gelap seraya menunggu kereta ku datang. Penutup kepala yang terdapat pada bagian belakang jaket segera kuturunkan. Situasi di sekitar, aku rasa, cukup kondusif untuk aku bisa menunggu dengan tenang tanpa dikenali. Bukan soal aku yang ogah dan malas melayani penggemar, namun hari ini aku hanya ingin menjadi manusia biasa yang kadang perlu waktu menjalani kesendirian dan kesunyian. Terutama mengingat kemana aku akan pergi hari ini. Lanjutkan Membaca …

Berhenti Menyukai Dilan

oleh

Di masa-masa sekolah waktu itu saya, oleh teman-teman, diperkenalkan kepada suatu band asal Bandung yang kerap membawakan lagu dengan lirik yang jenaka. Kopral Jono dan Cita-citaku adalah salah satu yang saya ingat. Lagam yang sederhana dengan kunci-kunci yang mudah membuat kami seringkali membawakan lagu-lagu tersebut di hampir setiap waktu kami berkumpul. The Panasdalam adalah nama band tersebut. Setelah lulus sekolah dan merantau, saya tak pernah lagi mendengarkan The Panasdalam. Sampai twitter muncul, saya dipertemukan kembali dengan salah satu personelnya. Pidi Baiq. Sang Imam Besar. Lanjutkan Membaca …

Go to Top