Blog/Review

Berhenti Menyukai Dilan

Di masa-masa sekolah waktu itu saya, oleh teman-teman, diperkenalkan kepada suatu band asal Bandung yang kerap membawakan lagu dengan lirik yang jenaka. Kopral Jono dan Cita-citaku adalah salah satu yang saya ingat. Lagam yang sederhana dengan kunci-kunci yang mudah membuat kami seringkali membawakan lagu-lagu tersebut di hampir setiap waktu kami berkumpul. The Panasdalam adalah nama band tersebut. Setelah lulus sekolah dan merantau, saya tak pernah lagi mendengarkan The Panasdalam. Sampai twitter muncul, saya dipertemukan kembali dengan salah satu personelnya. Pidi Baiq. Sang Imam Besar. Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca ...

Di Bawah Normal

oleh

Saya akan dengan tegas menjawab: Indomie adalah salah satu hal terbaik yang pernah ditemukan oleh manusia. Dengan doa setulus hati, saya akan mendoakan penciptanya untuk mendapatkan tempat terbaik di kehidupan yang nanti. Bagaimana tidak, Indomie hadir dengan membawa manfaat yang teramat untuk umat. Ia menabrak batas-batas budaya, kesukuan dan juga bahkan agama. Ia sama sekali tak memedulikan status sosial penikmatnya, tak merasa perlu bertanya ‘siapa kamu, dari mana asalmu’ dan paling utama: ia akan selalu ada dan berlipat ganda. Dan separuh doa yang sama saya haturkan juga kepada manusia kurang kerjaan yang mengolah cabai atau cengek atau apa lah itu menjadi sebuah padanan yang menghasilkan rasa yang menawan: pedas. Campurkan keduanya, indomie dan pedas, maka sebagian surga dunia ada di genggaman kita. Lanjutkan Membaca …

Tahun Ketiga

oleh

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini ketika aku berada di tengah-tengahnya. Suara klakson saling bersahutan berelaborasi menjadi sebuah simfoni yang merdu, namun tetap saja menjemukan. Sinar matahari di luar sana sudah sedemikian terik. Kekhawatiran terlambat untuk segala aktivitas mulai terlihat melalui wajah-wajah cemas anak manusia di dalam bus kota. Ya, aku berada di antaranya. Dalam kondisi seperti ini apa yang bisa kulakukan selain diam, melamun menunggu bosan. Aku melihat arloji di tangan kiriku. Jam delapan lewat dua puluh dua menit, dalam lamunan itu pikiranku berkelebat ke waktu beberapa tahun yang silam.

Waktu yang sama, tiga tahun yang lalu. Lanjutkan Membaca …

Si Jagoan

oleh

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana. Dua jam sebelum pergantian hari menuju akhir pekan. Aku baru saja tiba di terminal ibukota provinsi. Untuk mencapai rumah, jika menggunakan akses kendaraan seperti biasa, masih membutuhkan waktu enam sampai sembilan puluh menit lebih kurang. Meski sebenarnya cepat saja jika pemilik angkutan tidak bebal menunggu penumpang penuh. “Yah, jek, aja” ia kembali mengulang perkataanya. Menggunakan ojek, maksud dari perkataan itu, memang dapat memangkas waktu hampir setengahnya. Aku menimbang-nimbang, lalu mengangguk, tersenyum, “iya, dek, Ayah naik ojek, ya.” Lanjutkan Membaca …

Sido Muncul dan Kesempatan (Mudik) yang Ia tawarkan

oleh

Di setiap penghujung bulan Ramadan, negeri ini memiliki satu warisan budaya yang unik: mudik. Sebuah aktivitas pulang ke tempat asal, kampung halaman, yang dilakukan di penghujung Ramadan, Umumnya dilakukan oleh mereka penganut agama Islam demi merayakan hari kemenangan bersama sanak keluarga tercinta. Kenapa saya sebut ia sebagai warisan budaya? Karena sepanjang yang pernah saya baca, hanya di negeri ini ‘mudik’ dilakukan sedemikian khidmat dalam skala yang masif. Di negeri lain? Ada, namun tidak menjadi suatu ‘keharusan’. Ramadan dan Ied menjadi substansi yang lebih penting dipikirkan ketimbang perjalanan pulang itu sendiri.

Apakah kemudian ini menjadi suatu budaya yang salah? Lanjutkan Membaca …

Tidur (Terlalu Lama) Saat Bulan Puasa

oleh

Banyak pameo yang beredar di tengah masyarakat, bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Perkataan ini juga mendorong banyak sekali dari kita yang memilih untuk tidur di bulan Ramadhan dengan dalih: “ingin beribadah”. Salah? Tidak juga. Untuk porsi yang pas, tidur memang memiliki manfaat yang luar biasa besar. Namun, bagaimana jika tidur itu dilakukan secara berlebihan? Dari selepas sahur sampai menjelang azan magrib, misalnya? Lanjutkan Membaca …

Go to Top