Blog

Undangan di Kota Jauh

“Mas, datang?” di satu kerumunan seorang teman memberikan undangan pernikahan. Yang bertanya tentu saja bukan si empunya hajat tapi teman lain yang juga menerima lembar undangan yang sama. Pikiran saya sedang kosong perlu satu-dua pertanyaan tambahan sampai akhirnya saya mengangguk kecil. “Iya, mudah-mudahan waktunya pas, ya” jawab saya. Ketika kerumunan itu mulai mereda saya menghempas diri di atas kursi. Menggaruk kepala yang tidak gatal. Diskusi-diskusi beberapa waktu terakhir berkelebat di dalam kepala. Aduh.

Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Posted on

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat… Lanjutkan Membaca ...

Posted on

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya… Lanjutkan Membaca ...

Posted on

Menyesal (Belum) Kuliah

Kita hidup pada masa dimana eksistensi di dunia kerja tak melulu soal kompetensi. Anda akan menemukan banyak sekali contoh dimana seseorang yang… Lanjutkan Membaca ...

Maret Mantap

Apa yang paling menyebalkan setiap kali habis berbelanja? Ketika melihat harga yang lebih murah dari apa yang sudah kita bayarkan sebelumnya. Saya ingat waktu itu istri pernah ‘manyun’ parah, padahal ia baru saja dibelikan barang yang sudah cukup lama ia inginkan. Baru kemudian saya paham ‘manyun’ itu muncul karena tak lama setelah barang itu dibeli, ia melihat barang yang sama persis dengan harga yang lebih murah puluhan ribu rupiah. Dulu saya tertawakan perilaku seperti itu tapi karma datang begitu cepat. Sekarang saya yang sedang terjebak dengan perilaku seperti itu. Kepikiran, euy. Gondok dan sialan. Lanjutkan Membaca …

Buang Buang Waktu

Sebetulnya menghabiskan dua pertiga waktu di luar rumah di hampir setiap harinya tidak pernah saya cita-citakan sebelumnya. Apalagi, bagian yang paling menyebalkan, hampir separuh dari dua pertiga waktu itu saya habiskan hanya untuk duduk manis di dalam bis sembari melihat matahari terbit ketika pergi dan untuk menemani matahari terbenam ketika saya pulang. Jika sedang dalam kondisi hati yang buruk, saya kerap menggerutu dengan keadaan yang sekarang ini tidak memberikan saya banyak pilihan. Yang sedikit membuat saya lega, di semua proses ini, dalam satu jalur yang sama banyak orang mengalami hal sama dan tampaknya tidak menganggap hal ini sebagai beban. Paling tidak sekarang ini saya tidak sendirian. Lanjutkan Membaca …

Bertemu Ikan

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi yang menyenangkan dengan pengemudi ojek online yang saya tumpangi. ‘Sudah pernah ngajak anak ke sana, Mas?’ katanya merujuk ke salah satu wahana bermain dalam ruang yang kebetulan berada di gedung yang sama dengan tempat saya bekerja. ‘Belum, Mas’ saya menggeleng pelan, menjawab, meski saya tahu ia tidak bisa melihatnya. Kemudian, di perjalanan kurang dari sepuluh menit itu, ia menceritakan pengalamannya bermain di wahana tersebut, bersama anak-anaknya. Wajahnya tak terlihat, namun saya amat yakin ia bercerita dengan wajah yang berseri. Ada kebahagiaan yang tak terbayar dalam ceritanya. ‘Sesekali sampeyan harus ajak anaknya. Ikan di sana lucu-lucu’ tutupnya sesaat setelah saya mengembalikan helm yang saya pakai. Lanjutkan Membaca …

Yang Kedua

Matahari masih malu-malu dan sembunyi ketika seorang lelaki menjejakan kakinya di tanah ibukota untuk mengakhiri perjalanan seperempat harinya. Bersamanya pemburu waktu berlalu-lalang dengan nafas-nafas menderu. Tak ada sapa di antara mereka, bahkan ketika uap-uap panas dari air mendidih para penyaji kopi di tengah pasar yang bingar itu memanggil, mereka tak peduli belaka. Suara lantang kumandang azan dari sebuah langgar kecil tiga kali dua tak jauh dari sana menjadi pembeda. Seolah bersepakat, semua deru cepat nafas itu melambat bersatu dalam lantunan ayat yang khidmat. Si Lelaki kini berada dalam barisan, menunggu giliran air yang berkucuran. Seperti orang lain kebanyakan, dalam tunggunya, lelaki itu membuka beberapa pesan. Memilah mana yang harus dibaca dan mana yang harus diabaikan. Matanya tertuju pada satu pesan, dari wanita yang ia pernah bersumpah demi Tuhan untuk selalu menjaganya. Gilirannya datang dan kini ia enggan, orang tua berkacamata di belakangnya ia persilakan duluan. Pesan ini, terlalu penting untuk dilewatkan. Pesan yang seharga dengan seluruh kehidupan.

Lanjutkan Membaca …

Saya dan Petisi yang Sedang Ramai

Dulu. Dulu sekali. Saya sempat mempertanyakan dampak dari petisi-petisi yang dibuat di salah satu media penyedia petisi daring. Maksud saya, apakah dari ratusan atau ribuan petisi yang dibuat itu menghasilkan sesuatu seperti apa yang diharapkan oleh si pembuat petisi. Beberapa waktu berikutnya berlalu. Hari ini saya mendapatkan jawabannya. Ya. Banyak dari petisi itu yang memberikan hasil. Salah satu contohnya yang menghebohkan, yang beberapa hari terakhir berseliweran di linimasa semua sosial media, tentang permohonan penghapusan iklan sebuah market place yang dibintangi Blackpink, vokal grup wanita asal Korea Selatan. Lebih dari 100.000 orang menandatanganinya, yang berarti setuju, bahwa iklan tersebut harus dihapuskan. Dan demikian pula lah yang terjadi kemudian. Komisi penyiaran ‘memerintahkan’ seluruh media televisi menurunkan iklan tersebut. Lucu.

Lanjutkan Membaca …

Go to Top