Blog

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini ketika aku berada di tengah-tengahnya. Suara klakson saling bersahutan berelaborasi menjadi sebuah simfoni yang merdu, namun tetap saja menjemukan. Sinar matahari di luar sana sudah sedemikian terik. Kekhawatiran terlambat untuk segala aktivitas mulai terlihat melalui wajah-wajah cemas anak manusia di dalam bus kota. Ya, aku berada di antaranya. Dalam kondisi seperti ini apa yang bisa kulakukan selain diam, melamun menunggu bosan. Aku melihat arloji di tangan kiriku. Jam delapan lewat dua puluh dua menit, dalam lamunan itu pikiranku berkelebat ke waktu beberapa tahun yang silam.

Waktu yang sama, tiga tahun yang lalu. Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

Kupu-Kupu Malam

Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang dengan lampunya yang mulai padam. Ia, wanita itu, hanya menatap … Lanjutkan Membaca ...

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca ...

Si Anjing yang Memaafkan

oleh

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang begitu memesona. Di suatu bukit yang ribut terlihat seekor anjing liar kecil yang melangkah gontai, dengan kepala tertunduk berjalan dengan ekor menyentuh tanah, tak ada semangat barang sedikitpun. Seolah segala beban dalam kehidupan anjing sedang ia pegang.  Pada waktu yang berkelebat Si Anjing kecil kini tertelungkup di sebuah batu besar, “huh,” menghembuskan nafasnya pelan, matanya nanar memandang ke jauh entah. Pada waktu yang bersamaan, diiringi matahari yang undur diri, Ibu Si Anjing kecil datang menenangkan seperti bagaimana biasa yang dilakukan oleh ibu dalam kategori dunia manapun, “Oi, kenapa mukamu begitu menyebalkan untuk dipandang?” Lanjutkan Membaca …

Hooq dan Cerita yang Dibawanya

oleh

“Bro, ayo siap-siap. Tenggo, kan?” aku melihat jarum panjang pada jam tangan yang kukenakan, menepuk dahi, lalu menjawab pertanyaan temanku tadi dengan sebuah tatapan heran. Astaga, ini baru jam empat lewat lima puluh lima menit, dan kau sudah siap untuk pulang? Aku memerhatikan kembali layar monitor, memeriksa beberapa file yang masih terbuka. Sepuluh menit waktu yang aku habiskan untuk  memastikan semua pekerjaan hari ini benar-benar telah selesai. Sempurna, tak ada hutang pekerjaan untuk besok pagi. Aku mengangguk, “sip, sudah selesai. Kau tak keberatan menunggu tiga sampai lima menit, kan?” kali ini giliran aku yang bertanya. Sigit, teman yang aku tanya mengerenyitkan dahinya, “Oi, kau mengunduh film lagi, kah?” Aku tertawa, mengibaskan tangan pelan. Temanku yang satu ini tahu betul kebiasaanku. Kebiasaan yang sebenarnya jauh dari kata terpuji. Lanjutkan Membaca …

… With Sugar Daddy

oleh

Siang hari, 8 Maret 2017. Langkah ku tepat di belakang asisten rumah tangga yang tadi membukakan pintu lalu kemudian mempersilahkanku masuk. Aku terus mengekor langkah sang asisten rumah tangga tersebut hingga ke sebuah ruang yang di dominasi rak buku berwarna coklat tua dengan deretan buku yang tergolong banyak. Sesaat setelah menyiapkan dua buah kursi yang dipisahkan dengan sebuah meja yang berbentuk artistik, sang asisten rumah tangga itu meninggalkanku menunggu dengannyaman orang yang memang ingin ku temui hari ini. Seseorang yang memiliki hunian mewah nan asri di Forte dei Marmi ini, jelas bukan sosok yang biasa biasa saja. Sudah sejak lama sebenarnya aku menginginkan untuk bertemu dengan pemilik rumah ini dan melakukan wawancara dengan beliau, namun baru hari ini lah aku berkesempatan menemuinya secara pribadi dan sudah mendapat izin langsung darinya untuk melakukan wawancara secara ekslusif. Lanjutkan Membaca …

Goodbye, Mojok

oleh

Bangsat betul hari ini. Sudah terlambat datang kantor kesekian kalinya akibat jalanan yang tidak bersahabat ditambah pula dengan ulah Puthut EA melalui laman facebooknya yang menjelaskan bahwa Mojokdotco, salah satu situs gacoan anak kekinian, akan segera purnakarya. Saya bingung tapi tidak sendirian. Maka kemudian yang terjadi adalah, di twitter, para fans dan haters merespon maklumat Puthut itu tadi dengan cara yang memesona: #goodbyemojok menjadi trending topic di seantero nusantara. Isinya? Sebagian besar menyayangkan keputusan Sang Kepala Suku yang, bagaimanapun, membuat kita-kita ini kekurangan bacaan yang apalah-apalah. Sulit sekali menemukan media yang mampu mengawinkan batu akik dengan pledoi kaum tuna asmara, selain Mojok siapa lagi yang bisa? Sebagian besar lainnya bersimpuh dalam sujudnya dengan penuh rasa syukur akhirnya, setelah menunggu sekian lama, situs antek kuminis ini akan segera dibumi hanguskan tanpa perlu mereka, para haters itu, bersusah payah membuat demo sesuai tanggalan cantik. Kebingungan saya tadi, kini menjadi lamunan yang berkelebat. Lanjutkan Membaca …

Dragon Ball Xenoverse

oleh

Dragon Ball (DB) adalah teman bagi Anda yang lahir dan tumbuh kembang di awal tahun 90-an. Ia begitu populer. Jika ingin mengetahui seperti apa kira-kira anak 90an menyukai DB. Mungkin Anda bisa melihat upaya fans Aliando atau Prily membuat trending topic twitter setiap harinya. Ya, popularitas dan dampak yang dibuat oleh DB saat itu bahkan sudah melebihi batas nalar. Saya termasuk diantara banyak anak yang berusaha ingin bisa terbang atau mengeluarkan gelombang tenaga dalam, Kamehameha, seperti yang biasa dilakukan oleh Goku setiap kali bertarung. Rambut berdiri ala Vegeta? Sudah sering saya coba. Hanya rambut kuning Saiya super sajalah yang alfa saya lakukan. Itupun demi alasan masa depan saya di sekolah. Dan sekarang ini, dalam waktu satu-dua minggu terakhir saya sedang bernostalgia dengan mereka. Melakukan reka ulang cerita masa kecil saya dalam bentuk video game: Dragon Ball Xenoverse. Lanjutkan Membaca …

Go to Top