Cerpen

Cinta Seorang Hina

Tak pernah ada yang dapat mengalahkan gempitanya pasar yang bertransaksi. Suara ibu menawar yang lantang hanya dapat dikalahkan oleh suara ibu yang lain yang menolak tawaran. Sebuah negosiasi yang disepakati dengan tanda jadi. Abang-abang yang menjaja barang tak sudi kalah dalam riuh rendah. Ia mencoba menarik hati ibu lain yang masih menimbang-nimbang hendak makan apa nanti malam. Sekali dua mereka saling bercerita, menjadi mitra terbaik bagi para ibu untuk mengumbar dosa melalui kata. Aku memperhatikannya, dengan satu buah gitar tua di tangan, yang terbengkalai tanpa guna. Aku berbalik arah, langkahku gontai, tak sanggup mengalahkan keramaian pasar. Di belakang, para pedagang tertawa girang, sudah banyak uang yang mereka bisa bawa pulang. Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca ...

Kupu-Kupu Malam

Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang dengan lampunya yang mulai padam. Ia, wanita itu, hanya menatap … Lanjutkan Membaca ...

Tahun Ketiga

oleh

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini ketika aku berada di tengah-tengahnya. Suara klakson saling bersahutan berelaborasi menjadi sebuah simfoni yang merdu, namun tetap saja menjemukan. Sinar matahari di luar sana sudah sedemikian terik. Kekhawatiran terlambat untuk segala aktivitas mulai terlihat melalui wajah-wajah cemas anak manusia di dalam bus kota. Ya, aku berada di antaranya. Dalam kondisi seperti ini apa yang bisa kulakukan selain diam, melamun menunggu bosan. Aku melihat arloji di tangan kiriku. Jam delapan lewat dua puluh dua menit, dalam lamunan itu pikiranku berkelebat ke waktu beberapa tahun yang silam.

Waktu yang sama, tiga tahun yang lalu. Lanjutkan Membaca …

Si Jagoan

oleh

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana. Dua jam sebelum pergantian hari menuju akhir pekan. Aku baru saja tiba di terminal ibukota provinsi. Untuk mencapai rumah, jika menggunakan akses kendaraan seperti biasa, masih membutuhkan waktu enam sampai sembilan puluh menit lebih kurang. Meski sebenarnya cepat saja jika pemilik angkutan tidak bebal menunggu penumpang penuh. “Yah, jek, aja” ia kembali mengulang perkataanya. Menggunakan ojek, maksud dari perkataan itu, memang dapat memangkas waktu hampir setengahnya. Aku menimbang-nimbang, lalu mengangguk, tersenyum, “iya, dek, Ayah naik ojek, ya.” Lanjutkan Membaca …

Sido Muncul dan Kesempatan (Mudik) yang Ia tawarkan

oleh

Di setiap penghujung bulan Ramadan, negeri ini memiliki satu warisan budaya yang unik: mudik. Sebuah aktivitas pulang ke tempat asal, kampung halaman, yang dilakukan di penghujung Ramadan, Umumnya dilakukan oleh mereka penganut agama Islam demi merayakan hari kemenangan bersama sanak keluarga tercinta. Kenapa saya sebut ia sebagai warisan budaya? Karena sepanjang yang pernah saya baca, hanya di negeri ini ‘mudik’ dilakukan sedemikian khidmat dalam skala yang masif. Di negeri lain? Ada, namun tidak menjadi suatu ‘keharusan’. Ramadan dan Ied menjadi substansi yang lebih penting dipikirkan ketimbang perjalanan pulang itu sendiri.

Apakah kemudian ini menjadi suatu budaya yang salah? Lanjutkan Membaca …

Tidur (Terlalu Lama) Saat Bulan Puasa

oleh

Banyak pameo yang beredar di tengah masyarakat, bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Perkataan ini juga mendorong banyak sekali dari kita yang memilih untuk tidur di bulan Ramadhan dengan dalih: “ingin beribadah”. Salah? Tidak juga. Untuk porsi yang pas, tidur memang memiliki manfaat yang luar biasa besar. Namun, bagaimana jika tidur itu dilakukan secara berlebihan? Dari selepas sahur sampai menjelang azan magrib, misalnya? Lanjutkan Membaca …

UC News: Alternatif Baca dan Tulis

oleh

Dalam aktivitas dunia tulis digital, khususnya pada dunia blogging, kerap kali yang menjadi penghambat salah satunya adalah kategori tulis yang kita pilih. Maksudnya, ketika kita memiliki ide tulisan tentang cerita perjalanan yang telah kita alami selama liburan. Namun, kita terlanjur mengkhususkan blog kita sendiri untuk kategori tertentu belaka. Fashion blog, misalnya. Harus dikemanakan ide tulisan tadi? Sayang sekali rasanya jika kita harus membuang ide tulisan hanya karena ide tulisan tersebut tidak sesuai dengan kategori blog yang kita miliki. Sedangkan, seperti yang sudah kita semua rasakan, ide susah sekali untuk hadir ketika kita sedang membutuhkannya. Lanjutkan Membaca …

Go to Top