Blog

Anak & Telepon Genggam

Telepon genggam bagaikan dua sisi mata pisau yang memiliki sifat berlawanan. Di satu sisi, ia memberikan banyak sekali kemudahan untuk penggunananya. Banyak hal yang dulu harus dilakukan melalui berbagai medium, sekarang bisa diwakili oleh satu perangkat saja. Di sisi lain, ia juga hadir sebagai medium yang adiktif, memberikan efek ketergantungan yang luar biasa, menyita hampir dari separuh waktu umat manusia. Negatifnya, hampir semua dari kita, seringkali lebih memilih asik dengan telepon genggam ketimbang dengan kehidupan sosial di sekitar sehingga melahirkan sebuah frasa baru: ‘generasi menunduk’. Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca ...

Pada Sebuah Kereta

oleh

Hilir mudik para penumpang tampak tidak terlalu padat di Stasiun Barcelona Sants ketika aku tiba. Entah karena ini bukan akhir pekan atau memang aku tiba di waktu dimana banyak orang sedang menyantap makan siang atau mungkin siesta sebelum kembali beraktivitas. Belum tepat pukul 1 siang ketika aku memutuskan mendaratkan tubuhku di deretan bangku kosong berwarna gelap seraya menunggu kereta ku datang. Penutup kepala yang terdapat pada bagian belakang jaket segera kuturunkan. Situasi di sekitar, aku rasa, cukup kondusif untuk aku bisa menunggu dengan tenang tanpa dikenali. Bukan soal aku yang ogah dan malas melayani penggemar, namun hari ini aku hanya ingin menjadi manusia biasa yang kadang perlu waktu menjalani kesendirian dan kesunyian. Terutama mengingat kemana aku akan pergi hari ini. Lanjutkan Membaca …

Berhenti Menyukai Dilan

oleh

Di masa-masa sekolah waktu itu saya, oleh teman-teman, diperkenalkan kepada suatu band asal Bandung yang kerap membawakan lagu dengan lirik yang jenaka. Kopral Jono dan Cita-citaku adalah salah satu yang saya ingat. Lagam yang sederhana dengan kunci-kunci yang mudah membuat kami seringkali membawakan lagu-lagu tersebut di hampir setiap waktu kami berkumpul. The Panasdalam adalah nama band tersebut. Setelah lulus sekolah dan merantau, saya tak pernah lagi mendengarkan The Panasdalam. Sampai twitter muncul, saya dipertemukan kembali dengan salah satu personelnya. Pidi Baiq. Sang Imam Besar. Lanjutkan Membaca …

Pasir Hisap

oleh

Populasi adalah sekumpulan individu dengan ciri-ciri sama (satu spesies yang sama) yang hidup dalam tempat dan waktu yang sama. Kemudian ia tumbuh bersama-sama bersama satu atau dua atau lebih kumpulan itu melakukan hubungan timbal balik dengan habitat atau lingkungannya sehingga timbul suatu kesatuan ekologi yang dinamakan ekosistem. Saya ingin membahasnya lebih jauh. Tetapi biologi, sudut keilmuan yang membahas tentang rangkaian individu-populasi-komunitas-ekosistem, adalah salah satu mata pelajaran yang paling saya benci. Saya mendapatkan remedial di hampir setiap ulangan. Jadi saya akan mencoba membahasnya dari sudut pandang keilmuan yang lain. Yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari sebagai individu, sebagai manusia. Dari sudut pandang sosial. Lanjutkan Membaca …

Bangku Kosong

oleh

“Loh, sendirian aja, Mas?” seorang pramusaji, sembari memberikan daftar menu, bertanya dengan dahi yang berkerenyit. Aku menatap ke seberang meja. Di sana tak ada lagi dia yang biasanya diam berpangku dagu seolah segala kata, rindu dan apalah entah dapat diejawantahkan dengan diam belaka.”Iya, Mbak” aku tersenyum sembarang, memesan kentang goreng dan frozen hot chocolate tanpa merasa perlu melihat menu, “dan berikut-berikutnya juga sendirian” lanjutku pelan. Ia tersenyum, dengan tulus, membacakan kembali pesananku sebagai prosedur pelayanan dan memastikannya tidak salah. Aku mengacungkan jempol sebagai tanda kesepakatan. Setelah ia pergi, aku membuka laptop. Menutup mata sekejap, menghela nafas. Dan kemudian sebuah cerita kutulis. Lanjutkan Membaca …

Menutup Tahun

oleh

Tepat satu tahun yang lalu, saya ingat betul sedang melakukan hal yang sama persis dengan apa yang saya lakukan malam ini. Menulis. Yang membedakan adalah ketika itu saya menulis di dalam bangsal rumah sakit demi menemani ia yang terpaksa sakit. Menjadi cerita akhir tahun yang tidak menyenangkan. Dan sekarang saya di kamar Selebihnya sama: di tengah ruangan yang gelap, beberapa waktu setelah tengah malam, ia terbaring lelap dan sepi dan membiarkan tangan saya menari di atas tuts keyboard guna membuat rangkaian kalimat untuk tulisan penutup di tahun yang sebentar lagi berganti. Lanjutkan Membaca …

Go to Top