Blog

Bertemu Ikan

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi yang menyenangkan dengan pengemudi ojek online yang saya tumpangi. ‘Sudah pernah ngajak anak ke sana, Mas?’ katanya merujuk ke salah satu wahana bermain dalam ruang yang kebetulan berada di gedung yang sama dengan tempat saya bekerja. ‘Belum, Mas’ saya menggeleng pelan, menjawab, meski saya tahu ia tidak bisa melihatnya. Kemudian, di perjalanan kurang dari sepuluh menit itu, ia menceritakan pengalamannya bermain di wahana tersebut, bersama anak-anaknya. Wajahnya tak terlihat, namun saya amat yakin ia bercerita dengan wajah yang berseri. Ada kebahagiaan yang tak terbayar dalam ceritanya. ‘Sesekali sampeyan harus ajak anaknya. Ikan di sana lucu-lucu’ tutupnya sesaat setelah saya mengembalikan helm yang saya pakai. Lanjutkan Membaca …

Most Commented

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya … Lanjutkan Membaca ...

Satu Tahun Yang Lalu

“Sudah pembukaan empat, Pak” perawat berusaha menjelaskan setelah berulang kali aku menanyakan kondisi istri yang saat ini sedang terbaring di unit gawat … Lanjutkan Membaca ...

Pake Duit Lu Aja Dulu Nanti Gue Ganti

oleh

Hari ini teman saya mendapatkan puncak perhatian yang luar biasa di akun twitternya. Melalui sebuah cuitan, ia mendapatkan impresi dan perhatian lebih dari lima ribu orang. Untuknya, hal ini menjadi pencapaian yang luar biasa menyenangkan. Di cuitan tersebut ia menyinggung tentang budaya cashless society plus ragam uang digital yang beredar di pasaran. Biasa? Betul, sebetulnya cuitan tersebut cuitan yang amat biasa yang rasa-rasanya tidak layak untuk diperhatikan. Sampai ia menutupnya dengan satu kalimat pamungkas: ‘Pake duit lu dulu ntar gue ganti’ sebagai salah satu jenis pembayaran yang sah. Kalimat itulah yang menjadi pembeda. Yang membuat cuitan tersebut pantas untuk diperhatikan. Sebuah kalimat yang amat sangat dekat di kehidupan kita. Lanjutkan Membaca …

Main-Main(an)

oleh

Saya pernah terjebak beberapa kali di lingkaran setan bernama koleksi. Jika dihitung sudah ada beberapa jenis barang yang saya cari setengah mati, menghabiskan waktu dan materi, untuk kemudian membiarkan barang-barang itu tersimpan rapi dalam lemari. Paling tidak, ada sepatu futsal, sepatu main, buku dan jersey sepakbola yang sedang dan pernah singgah dalam album koleksi. Nama yang disebutkan terakhir adalah yang paling merepotkan, yang dalam prosesny paling menyita waktu, tenaga dan uang. Pernah saya jaga dengan segenap cinta menjadikan saya serupa inang. Kini, setelah beberapa tahun, mereka itu sedang saya coba lepaskan pelan-pelan satu demi satu. Demi nama baru di album koleksi: Mainan. Lanjutkan Membaca …

Dari Bus Untuk Kita

oleh

Asian Games baru saja usai beberapa waktu yang lalu. Indonesia, sebagai tuan rumah, mendapat sorotan positif dari hampir seluruh penjuru dunia. Utamanya bagaimana upacara pembukaan Asian Games dipertunjukkan. Selain itu segala aspek pendukung baik dari akses, insfrastruktur bahkan lingkungan mendapat nilai baik dari hampir seluruh kontestan yang hadir. Dan menurut saya Indonesia memang layak mendapatkan apresiasi. Jauh sebelum Asian Games dimulai, banyak sekali hal yang dilakukan negeri ini untuk menyambut pesta olahraga terbesar se-Asia tersebut. Mulai dari infrastruktur yang dibenahi, perbaikan kondisi lingkungan dengan salah satunya penghijauan dan pembersihan sungai. Yang utama, yang saya rasakan langsung manfaatnya, dengan dilakukannya pengaturan lalu lintas: ganjil genap. Lanjutkan Membaca …

Huawei Nova 3i: Hasil Sebuah Pertimbangan

oleh

Untuk urusan gadget dan telepon genggam, saya pernah berada di fase hedon di mana saya merasa perlu untuk berganti perangkat dalam setiap hitungan bulan hanya demi menjaga predikat kekinian. Harga? Urusan belakangan. Saat bujang, saya koaya roaya. Jika pun saat itu saya kehabisan uang, saya tidak terlalu peduli. Tidak banyak yang harus saya pikirkan. Namun, setelah menikah, terlebih setelah memiliki anak, banyak sekali hal yang saya pertimbangkan jika harus mengganti telepon genggam. Di usia pernikahan yang menginjak usia 4. Baru dua kali saya berganti perangkat. Yang terakhir, baru saya dapatkan dua minggu yang lalu. Lanjutkan Membaca …

Anak & Telepon Genggam

oleh

Telepon genggam bagaikan dua sisi mata pisau yang memiliki sifat berlawanan. Di satu sisi, ia memberikan banyak sekali kemudahan untuk penggunananya. Banyak hal yang dulu harus dilakukan melalui berbagai medium, sekarang bisa diwakili oleh satu perangkat saja. Di sisi lain, ia juga hadir sebagai medium yang adiktif, memberikan efek ketergantungan yang luar biasa, menyita hampir dari separuh waktu umat manusia. Negatifnya, hampir semua dari kita, seringkali lebih memilih asik dengan telepon genggam ketimbang dengan kehidupan sosial di sekitar sehingga melahirkan sebuah frasa baru: ‘generasi menunduk’. Lanjutkan Membaca …

Go to Top