Scroll to top

Cerpen

andhikamppp
Posted by andhikamppp
21 July 2019

Setelah Pembukaan Kedua

“Iya. Sudah pembukaan, Pak. Tapi baru pembukaan satu”. Perawat berusaha menjelaskan kondisi istri yang kini terbaring di ranjang instalasi gawat darurat. Beberapa menit yang lalu aku menerobos masuk pintu rumah sakit meminta pelayanan terbaik untuk istriku yang sejak sore tadi merasakan nyeri luar biasa di perutnya. Kami bersepakat, melalui panggilan telfon, sesampainya aku di rumah kami langsung pergi untuk melakukan kontrol lanjutan demi memastikan adik di dalam perut baik-baik saja. Dan itu yang kulakukan kemudian, bahkan ketika aku belum benar-benar sampai masuk ke dalam rumah.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
14 June 2019

Ayah Kerja Dulu, Ya

Sudah beberapa hari berlalu dan ternyata benar, yang paling menyebalkan dari kembali bekerja setelah libur cukup panjang bukan tentang bagaimana menghadapi rutinitas hidup yang membosankan. Untuk urusan itu aku sejauh ini, seperti bagaimana biasanya, bisa mengatasinya. Tapi yang sulit adalah ketika aku, seperti sekarang ini, merasa amat sangat kehilangan atas kebiasaan sesaat yang kulakukan ketika dalam masa-masa liburan: menghabiskan waktu bercanda bertiga dengan Si Jagoan juga bunda dengan perutnya yang semakin besar.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
5 June 2019

Tak Bisa Berdoa

Jam dinding berdetak menawarkan bunyi syahdu di tengah malam yang temaram. Dari kejauhan, sayup-sayup asma Tuhan menggema bersahutan. Di antara banyaknya makhluk Tuhan yang terjaga, di atas sajadah yang tak terlalu panjang seorang insan baru saja menggenapi malamnya yang terlambat. Ia menolehkan kanan-kirinya sebagai salam untuk dunia. Ia merapikan duduknya kemudian. Tangannya terangkat perlahan, menengadah, demi ritual yang jarang ia lakukan. Nafasnya terhela. Bersamaan dengan itu, segala yang pernah ia lakukan berkelebat bersama takut yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Nafasnya semakin terhela pelan.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
13 April 2018

Panggilan Video

“Permisi!”

Malam yang teduh. Bintang entah disembunyikan oleh siapa. Awan atau gelap. Tidak jelas. Menyisakan langit di atas sendirian. Bulan yang pemalas juga belum datang. Tanpa lampu, sulit untuk menebak suara siapa yang muncul tiba-tiba dari luar pagar.

Aku bangkit dari dudukku di teras rumah. “Sebentar, ya, ada tamu,” sahutku ke anak kecil di dalam layar telepon genggam.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
6 March 2018

Liburan Nanti

Sudah ngajuin cuti?”

Bulan ketiga di tahun ini. Sudah waktunya mempersiapkan segala sesuatu untuk menepikan sejenak rutinitas demi membagi waktu untuk Si Kecil yang akan berulang tahun di bulan depan. Setidaknya, itulah yang biasa kami lakukan di tiga tahun terakhir ini.

“Sudah. Kamu, sudah?” pertanyaan itu kembali padaku. Aku menggeleng, menunggu momen yang pas, kataku kemudian. Rencananya memang di minggu-minggu ini aku baru berencana mengajukan cuti. Birokrasi pengajuan cuti di tempatku bekerja memang tidak terlalu sulit. Namun, mengingat kekosongan beberapa posisi di divisi tempatku bertugas, aku harus memutar otak untuk alasan cuti yang masuk akal.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
17 October 2017

Cinta Seorang Hina

Tak pernah ada yang dapat mengalahkan gempitanya pasar yang bertransaksi. Suara ibu menawar yang lantang hanya dapat dikalahkan oleh suara ibu yang lain yang menolak tawaran. Sebuah negosiasi yang disepakati dengan tanda jadi. Abang-abang yang menjaja barang tak sudi kalah dalam riuh rendah. Ia mencoba menarik hati ibu lain yang masih menimbang-nimbang hendak makan apa nanti malam. Sekali dua mereka saling bercerita, menjadi mitra terbaik bagi para ibu untuk mengumbar dosa melalui kata. Aku memperhatikannya, dengan satu buah gitar tua di tangan, yang terbengkalai tanpa guna. Aku berbalik arah, langkahku gontai, tak sanggup mengalahkan keramaian pasar. Di belakang, para pedagang tertawa girang, sudah banyak uang yang mereka bisa bawa pulang.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
6 October 2017

Ruang Hati

Bagaimana jika kita memulainya dengan satu cerita lucu. Waktu aku, dengan wajah yang memerah, meminta kamu untuk menutup mata sebentar. Aku melangkah, mendekat, mengitari tubuhmu yang berdiri kaku, setengah putaran. Kamu bertanya, untuk apa, dan aku diam. Aku di belakangmu saat itu, tepat. Dengan satu perhiasan perak yang, malu-malu, aku pakaikan pada kain yang menutup hampir seluruh kepalamu. Matamu terbuka, dan kita berdua tersipu malu. Mata kita berbicara, tanpa suara, cukup lama. Sampai akhirnya, satu kecupan kudapatkan di kening, sebentar, namun dengan arti yang sebegitu dalam.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
15 September 2017

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup lama memerhatikan anak kecil itu yang, sedari kami masuk ke dalam mobil, terus memelukku erat. Ia mencoba menggodanya dengan beberapa lelucon yang biasa manusia dewasa haturkan kepada anak kecil. Percuma, untuk membuatnya berbicara, memang membutuhkan waktu atau kau harus menemukan bahasan yang ia sukai atau kau hanya akan didiamkan serupa batu belaka. “Dede mau kemana? Pulang ke rumah, ya?” pengemudi itu gigih mencari perhatian. Satu detik, dua detik, ia diam, lima detik, dan masih diam. “Mau pulang ke rumah, De?” kali ini aku yang bertanya. Ia merespon dengan satu tatapan galak, sampai satu detik kemudian ia menjawab “Kan, ihh, mu ke umah mamah”.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
27 July 2017

Surat Yang Terlambat Kukirim

Tarikan nafas dalam atas sebatang rokok dengan huruf berwarna merah dan hitam di muka bungkus nya, menjadi hal pertama yang menyentuh bibir ku. Sebotol whisky yang tak penuh sisa semalam di sisi kanan seperti sedang bersiap jika aku butuh tameng dari hembusan kejam angin Samudera Adriatic. Waktu di awal Juli ketika belum di mulai nya aktivitas rutin mengenai sepakbola begitu ku nikmati terutama di usia ku yang tak lagi muda. Aku tak perlu lagi sesibuk di masa lalu untuk menelpon atau menerima panggilan telepon dari banyak agen yang bahkan tak satu pun ku ingat nama nya yang dengan mulut manis nya menjajakan pemain atau mencoba merekrut pemain asuhan ku. Bulan ke tujuh selalu menjadi waktu dimana ular setan penghasut Hawa di Taman Eden hadir lagi dalam balutan setelan perlente demi keuntungan pribadi maupun keuntungan klub pembeli di kemudian hari.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
28 March 2017

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang begitu memesona. Di suatu bukit yang ribut terlihat seekor anjing liar kecil yang melangkah gontai, dengan kepala tertunduk berjalan dengan ekor menyentuh tanah, tak ada semangat barang sedikitpun. Seolah segala beban dalam kehidupan anjing sedang ia pegang.  Pada waktu yang berkelebat Si Anjing kecil kini tertelungkup di sebuah batu besar, “huh,” menghembuskan nafasnya pelan, matanya nanar memandang ke jauh entah. Pada waktu yang bersamaan, diiringi matahari yang undur diri, Ibu Si Anjing kecil datang menenangkan seperti bagaimana biasa yang dilakukan oleh ibu dalam kategori dunia manapun, “Oi, kenapa mukamu begitu menyebalkan untuk dipandang?”

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
26 January 2017

Kotaku di Waktu itu

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda yang amat terbatas sedang melaju adu cepat. Suara gelas bekas air mineral kemasan yang disimpan di antara ban dan batangnya terdengar begitu khas. Orang-orang yang kami lewati di sepanjang perjalanan hanya bisa menggeleng, menertawakan keseruan yang kami buat. “Yeah, aku menang,” Aris pemilik sepeda berwarna ungu sampai duluan “lambat sekali kalian” ia menambahkan setelah dua orang temannya sampai, satu setengah menit kemudian. “Kau curang, kan perjanjiannya tidak boleh lewat jalan pintas!” Irpan protes kepada Aris. Yang dijawab hanya dengan ‘hehe’ dan satu garukan pada kepalanya yang tidak gatal. “Sudahlah, tidak ada hadiahnya bukan? Ngapain berantem, sih. Apa kita langsung turun aja, nih?” sambil tersenyum, aku, anak kecil terakhir yang tiba memberikan sebuah gagasan.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
25 January 2017

Surat Dari Si Penyihir Malas

Pukul 10 malam. Laju  kapal membelah kegelapan sunyi di antara kota San Fernando dan Tigre. Buih air yang tercipta dari laju lambat kapal bertuliskan Nueva Cristina bergantian mengisi suara dengan binatang malam tepi sungai. Ada yang berbeda malam itu jika dibandingkan dengan malam yang lain. Tak terlihat penumpang yang biasanya merupakan pasangan duduk berhadapan di atas meja kecil dengan penerangan lilin di tengah dua pasang bola mata yang berhadapan. Malam itu pun laju kapal jauh lebih lambat dari yang biasanya terlihat. Mungkin hanya semburat bayangan lampu kapal di air yang terlihat normal seperti biasanya. Lily dan Ricardo, yang merupakan pasangan yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan tersaji di atas kapal, tak terlihat sibuk seperti biasanya. Mereka tak hilir mudik membawakan hidangan special ataupun botol anggur dari tahun 1980 buatan Prancis ke meja kecil di bagian atas kapal. Tak ada pasangan malam itu. Tak ada dua insan yang sengaja memesan tempat demi sebuah makan malam romantis di atas Barco Nueva Cristina.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
31 December 2016

Cerita Akhir Tahun

“Mau minum teh manis hangat, bageur?”. Senja yang sudah hilang sedari tadi tidak serta membuat langit menjadi gelap. Lihatlah, dari jendela kamar rumah sakit terlihat langit masih terang memesona akibat hiruk pikuk manusia, dengan kembang api yang mereka nyalakan bergantian, menyambut malam pergantian tahun. Ia, wanita yang kutawari segelas teh hangat itu, mengangguk manja, “jangan terlalu panas ya, Ayah”. Aku tersenyum, tanganku terampil menuangkan air kedalam gelas sebelum memasukan satu buah teh celup beraroma khas, juga dengan satu-dua sendok gula. Lalu kemudian aku sodorkan, gelas itu, kepada pemiliknya. Ia yang sedang terbaring segera meminumnya perlahan. “Ayah” ia mengucap kata pelan. “Maaf” dengan rona kesedihan kata itu diucapkan sedemikian pelan.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
13 December 2016

Kupu-Kupu Malam

Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang dengan lampunya yang mulai padam. Ia, wanita itu, hanya menatap nanar ke sekelilingnya yang gelap. Sudah lewat tengah malam dan tak ada satupun batang hidung yang tampak sepanjang tamasya di sudut stasiun kota. Bahkan ketika hujan perlahan-lahan menderas, ia masih tetap setia pada posisinya, tidak bergerak walau selangkah. Sesekali dari mulutnya terucap sepatah dua patah kata halus yang merayu dan memanja. Namun kemudian kepalanya menunduk, menyembunyikan sesuatu yang mulai keluar dari matanya yang bulat. Tangisan itu, yang kini tersamar oleh butiran air hujan.

Read More
Pram Ichanx
Posted by Pram Ichanx
6 December 2016

Castro & Che

Sesosok pria bertelanjang dada berdiri tak jauh dari sebuah taman luas yang bermandikan cahaya matahari pagi. Pria itu sepertinya bangun terlalu pagi, entah apa yang membuatnya rela terjaga lebih cepat dari biasanya. Sepertinya ada yang sedang ditunggu kedatangannya oleh pria itu, entah wanita lain yang dicinta, entah sanak keluarga atau sekedar teman lama. Tak jauh dari tempat pria itu tadi berdiri di dekat taman indah yang terbentang, ia kemudian mendaratkan tubuhnya di atas sebuah kursi kayu sederhana yang tertata rapi dengan meja kecil di teras rumahnya yang megah namun bergaya klasik. Pelayan tanpa di minta segera meletakan beberapa botol beer merk Hatuey di meja kecil di hadapan sang majikan yang kemudian langsung di bukanya dan di teguk sedikit sebelum mengeluarkan cerutu merk Montecristo dari saku celananya. Dari dalam rumah, alunan Hasta Siempre menemani si penunggu rumah melewati pagi yang nampaknya akan lain dari pagi pagi sebelumnya.

Read More
andhikamppp
Posted by andhikamppp
29 August 2016

Anak Kecil Itu

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya fajar yang hangat. Satu dua orang berjalan cepat dengan telapak kaki dibiarkan telanjang menginjak bumi yang belum panas. Satu dua lainnya berlari lambat demi keringat dan banyak harapan gumpalan lemak di dalam perut segera enyah. Sepagi itu pula, saat para ayam pejantan sudah kembali masuk kandang setelah lelah berkokok panjang membangunkan manusia dari lelapnya tidur malam tadi, di rumah berluas beberapa bata saja ada seorang anak kecil dengan bau asam keringat yang menyenangkan sedang tertawa, terbahak sebegitu riang. Barisan gigi yang tumbuh belum sempurna diperlihatkannya dengan sengaja. Menggemaskan sekali. Ia berlari kesana-kemari sebelum terjatuh karena tak siap. Menangis sekejap sebelum kembali berlari. Lalu menari. Sembari mengulang tawa dengan begitu memesona.

Read More