(Untuk) Sampai ke Tujuan

5 mins read
6

Mari temani saya sebentar. Kita sedikit berbicara tentang harapan, cita-cita dan mimpi besar lainnya. Dua tiga minggu yang lalu mimpi-mimpi dan harapan itu dikonversi oleh khalayak menjadi sebuah resolusi. Hal yang lazim dilakukan oleh hampir semua umat manusia di dunia. Yang diucapkan kali ini kembali terucap di tahun berikutnya. Lalu untuk kemudian dilakukan berulang kali di tahun yang banyak kemudian. Pertanyaannya. Apakah segala hal yang tidak tercapai itu adalah benar tentang mimpi yang kita inginkan? Atau malah kita mendapat apa-apa yang tidak pernah kita pikirkan?

Jika boleh membuat sebuah analogi untuk kasus di kehidupan sehari-hari maka segala mimpi dan cita-cita itu akan saya ubah ke dalam bentuk yang sederhana. Misalnya: tujuan wisata. Sebutlah bermain di Batu Malang. Untuk bisa bermain di sana saya seharusnya memiliki beberapa hal. Paling tidak harus ada target waktu keberangkatan dan dengan menggunakan apa saya ke sana. Yang disebutkan terakhir menjadi poin paling penting. Karena dengan itulah saya akan memulai ‘perjalanan’ untuk sampai ke tujuan. Dengan diam saja saya tidak akan pernah kemana-mana.

Sialnya, saya sedang berada pada fase di mana saya terlalu banyak tidak memiliki ide untuk ‘mulai’ bergerak.

Ke Batu? Bagaimana saya bisa sampai ke sana? Naik pesawat? Naik bus? Menyewa mobil? Atau naik Kereta api? Terlalu banyak pilihan yang saya pikirkan yang malah membuat saya bingung dan malas untuk melakukan apa-apa. Akhirnya saya diam dan berharap ada yang sekonyong-konyong datang sambil mengatakan: “Mas, mau ke Batu? Pakai kereta? Ini tiket kereta Jayabaya bisa dibeli disini” sambil memberikan potongan brosur. Tidak. Hidup tidak sesederhana itu. Teori motivasi dari para pembicara ulung di luar sana mengatakan: “Mimpi besar tidak akan menghampiri Anda, Anda yang harus keluar mencarinya”. Maka kita garis bawahi kembali mimpi dan tujuan adalah tentang bagaimana kita mulai ‘bergerak’ untuk sampai ke sana.

Maka mulailah saya berbuat sesuatu. Saya membuat kembali daftar baik buruk jika nantinya saya harus memilih pesawat, mobil, bus atau kereta sebagai sarana untuk saya sampai tujuan.

Pesawat, misalnya, membutuhkan biaya yang besar tapi menjadi alternatif yang paling cepat untuk bisa sampai ke tujuan. Itu menjadi nilai tambah yang luar biasa. Siapa, sih, yang tidak ingin cepat sampai? Tapi jika lihat dari sisi lain dengan cepat sampai, kita akan kehilangan hal-hal yang menyenangkan di perjalanan yang sedikit banyak akan menambah warna dan pengalaman ketika nanti kita sampai ke tujuan. Yang sedikit banyak akan memberikan sudut pandang yang berbeda jika nantinya ‘perjalanan’ itu akan kembali kita ceritakan.

Kereta? Mungkin menjadi pilihan paling murah. Dengan waktu tempuh sedikit lebih lama. Tapi, ya, sama saja, kan? Selain duduk manis praktis hampir tidak ada ‘cerita’ lain di sepanjang perjalanan. Karena sama halnya dengan sebelumnya. Pilihan ini hanya bergerak lurus langsung ke tujuan.

Mobil? Mungkin menjadi pilihan dengan kebutuhan biaya yang paling besar. Tapi, hei, dengan menggunakan mobil kita memiliki banyak sekali kesempatan untuk mencicipi tempat-tempat lain, mendapat banyak sekali pencapaian dan menemukan hal-hal yang baru sebelum akhirnya sampai ke tujuan dan untuk dengan bangga kita ceritakan ketika nanti menyelesaikan maha rencana yang sudah kita buat. Menyenangkan, bukan? Tapi itu juga berarti kita perlu membuat perencanaan yang luar biasa untuk menghadapi banyak sekali kemungkinan yang tidak terduga. Atau, DUAR! kita kehabisan sumber daya. Uang, waktu, tenaga, dan segalanya yang lainnya sebelum kita benar-benar sampai ke tujuan. Dan kita balik arah. Gagal.

Namun ada satu yang sama pentingnya ketika kita menggagas mimpi-mimpi besar: dengan siapa kita akan melangkah menuju ‘tempat’ yang kita tuju.

Ia, atau mereka, siapapun yang kita harap ada untuk bergerak dan melangkah bersama, bagaimanapun akan menambah goresan-goresan naskah di akhir kisah nanti. Untuk tertawa, berbahagia atau menangis karena duka. Apapun. Demi satu tujuan yang sama.

Kita selesai berimajinasi.

Saatnya kembali ke dunia nyata. Untuk saya menyelesaikan langkah yang sudah saya buat demi mencapai tujuan yang sudah dicanangkan sedari tengah tahun lalu. Memilih di antara ‘pesawat, ‘kereta’ atau ‘mobil’. Membuat batasan-batasan kepentingan. Memisahkan mana-mana yang lebih pantas didahulukan.

Saya luar biasa siap.

Tapi.

Kini.

Saya.

Benar-benar butuh teman.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

6 Comments

  1. Dalam perjalanan hidup saya hingga hari ini, banyak mimpi yang tidak tercapai. Sebagian besar memang mimpi yang tidak benar – benar saya seriusi. Hanya ada satu mimpi yang sebetulnya bagian dari visi misi hidup saya, tapi tampaknya harus kandas karena di tengah jalan saya mengubah peta perjalanan. Tapi, takapa. Saya pun belajar banyak hal dari perjalanan saya saat ini meski kadang tebersit iri melihat kawan2 seperjuangan bisa meraih gelar master di luar negeri. Harapan itu masih ada,mungkin kelak ada jalan untuk meraih mimpi lama itu. Wallahualam..

  2. Terasa ada warna yang berbeda saat membaca tulisan kak Andhika kali ini.
    Mengapa ada kesan kak Andhika yang sedang sedih dan jenuh yaa…?
    Semoga aku salah.

    Selalu suka sudut pandang kak Andhika terhadap suatu masalah.
    Memang benar adanya kalau perempuan lebih suka menggunakan otak kanan. Karena bagaimanapun, jika menuliskan mimpi, lupa dengan “cara menggapainya” sekalian. Lebih suka mengalir apa adanya.
    Rejeki, kalo kata orang mah…

  3. Bener sih. Menulis resolusi tidak cukup hanya dengan menuliskan tujuan, tapi juga harus menuliskan dan melakukan langkah2 yang untuk mendapatkannya. Misal mau ke Malang, tulis: nabung sekian, beli tiket tanggal sekian, ajak teman seperjananan (kalau ada).

  4. membaca bagian menggunakan kereta, pesawat, atau mobil jadi mengingatkanku mengenai kebebasan, dulu definisi kebebasan menurutku adalah mengambil semuanya yang ada, kalau sekarang adalah bebas memilih satu yang menjadi fokus. hem, bagaimana kalau memulai dulu kak, biar nanti nemu temannya di tengah perjalanan? :3

Tinggalkan Balasan ke marfa Batalkan balasan

%d blogger menyukai ini: