Memilih Jarak

“Kamu yakin bersedia bergabung di perusahaan ini?” tanya seorang ahli ketika saya berkesempatan untuk hadir di sesi wawancara panggilan kerja beberapa waktu yang lalu. Pertanyaan yang sama hadir di kesempatan berikutnya saat penawaran dan kontrak kerjasama diajukan. Dua kali pertanyaan itu ditekankan karena saya memiliki catatan yang panjang bekerja di satu perusahaan. Sepuluh tahun tentu bukan waktu yang sebentar untuk saya bisa begitu saja mengiyakan sebuah tawaran. Namun di dua kesempatan itu saya, dengan banyak sekali hal dan tetek bengek lain yang sudah dipertimbangkan, menjawabnya dengan mantap: “Ya, tentu, saya bersedia”.

Sudah hampir satu tahun terakhir ini saya giat mencari pekerjaan baru. Selain karena saya sudah terlalu lama bersembunyi di zona nyaman di tempat saya bekerja sebelumnya, saya merasa lelah berlama-lama membuang waktu akibat jarak tempuh yang membuat saya terpaksa menua di jalan. Saya menyaring daftar pencarian pekerjaan ke dua hal utama: lokasi kerja di ibukota dengan kenaikan gaji yang signifikan atau kenaikan gaji yang biasa dengan lokasi kerja sepelemparan batu belaka.

Untuk sebagian orang yang telah bekerja cukup lama, yang boleh dikatakan berbanding lurus dengan ilmu dan pengalaman yang dimiliki, ditambah dengan jabatan kerja tertentu, seharusnya tidak terlalu sulit untuk mencari kerja di tempat lain. Ya, paling tidak, untuk bidang yang sama. Tapi untuk saya pribadi, meski memiliki dua kriteria tentang waktu dan posisi, nyatanya melamar kerja tidak semudah kelihatannya.

Beberapa kali saya mendapat panggilan telfon dari perusahaan tempat saya melamar. Bukan untuk panggilan wawancara. Tapi sekadar mengkonfirmasi latar belakang pendidikan yang saya miliki. Ketika saya menjawab, dengan jujur tentu saja, panggilan itu diakhiri dengan permintaan maaf. Ya, saya memang belum selesai kuliah. Tidak masalah sebetulnya. Tapi posisi-posisi yang saya tandai memang mengharuskan kepemilikan gelar dalam prasyarat administrasi. Kompetensi? Itu urusan nanti.

Saya gagal berulang kali.

Apartemen di daerah Jakarta Pusat. Sumber gambar: Traveloka.com

Teman-teman, yang kepada mereka saya bercerita, berusaha menghibur. Sudahlah, katanya. Tahan saja dulu di sini sampai kamu lulus nanti. Memang demikian yang akan terjadi jika saya tidak berbuat sesuatu atau berbuat tapi tidak menghasilkan sesuatu. Tapi, seperti yang dijelaskan sebelumnya, saya sudah merasa lelah dengan kondisi selama di perjalanan. Membayangkan apa yang bisa saya lakukan di waktu-waktu yang terbuang di jalan menjadi alasan lain.

“Ngekos aja” kata mereka kemudian. Bahkan dengan hati yang lapang mereka dengan sengaja menyodorkan alternatif apartemen di daerah Jakarta Pusat. Menghemat waktu? Jelas. Tapi tawaran itu jelas membawa masalah lain untuk saya. Biaya. Karena dengan saya menggandakan tempat tinggal –rumah, indekos atau apartemen artinya saya mesti menyisihkan banyak sekali lembaran-lembara cuan yang jika saya lakukan bisa merusak segala rencana pelunasan cicilan. Tawaran itu saya tolak. Saya dengan amat sangat terpaksa harus tetap berteman dengan jalan bersama segala cerita di tengah kemacetan sembari tetap mencari pekerjaan.

Sebetulnya, sih, ada juga beberapa perusahaan dengan lokasi yang bersahabat yang datang memberikan tawaran. Mereka bahkan tak mencantumkan gelar dalam persyaratan untuk masuk seleksi. Tapi sayangnya posisi dan kompensasi yang dibisikkan membuat saya harus berpikir ulang ribuan kali. Untuk kali kesekian saya tetap berusaha mencari pekerjaan, lagi.

Dalam proses pencarian itu saya amat yakin saya telah berusaha sekuat tenaga. Paling tidak satu kali seminggu saya mencari-cari informasi di media sosial pencari kerja. Juga hampir saban hari saya menjawab apa yang diberitakan oleh Lina.

Yang saya lupa, usaha giat itu tidak disertai dengan doa. Saya memang kurang pandai dalam melafal doa. Dan ketika saya memulainya, dengan coba-coba tanpa sengaja, ternyata Tuhan menjawabnya dengan luar biasa.

Sudah saya sebutkan, kan, kalau saya menyaring daftar pencarian pekerjaan ke dua hal utama: lokasi kerja di ibukota dengan kenaikan gaji yang signifikan atau kenaikan gaji yang biasa dengan lokasi kerja sepelemparan batu belaka. Tuhan memberikan saya jawaban, untuk usaha yang saya lakukan dan doa yang saya susulkan, dengan menggabungkan apa yang saya pinta. Kesempatan itu datang di lokasi yang dekat dengan kenaikan gaji yang, ya, lumayan. Saya yakin, Tuhan tidak sedang bercanda.

“Kamu yakin bersedia bergabung di perusahaan itu?” pertanyaan dari tempat saya bekerja ketika keputusan akhir disampaikan.

“Ya, tentu, saya bersedia”.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

write your comment / request below

Yang lainnya dari Blog

Demi Bola

Saya sedang merasa puas luar biasa. Pasalnya, sudah lama sekali, sejauh yang…

Aktualisasi Diri

Beberapa waktu lalu, di lini masa twitter sempat ramai beredar cuitan yang…

Terang Bulan Juli

Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya…

Setelah Pembukaan Kedua

“Iya. Sudah pembukaan, Pak. Tapi baru pembukaan satu”. Perawat berusaha menjelaskan kondisi…

Go to Top