Akhir (Separuh) Perjalanan

Aku menatap kosong ke tengah taman yang lenggang. Di sana, di tengah taman itu, terdapat sebuah bangku tempat kami biasa bercengkerama, dalam rentang waktu satu-dua tahun terakhir satu persatu bangku telah kehilangan pemiliknya. Gelas-gelas yang biasanya berputar jauh, kini kembali lebih cepat. Akumulasi asap yang terkepul sudah menjadi sedemikian bias. Aku tersenyum. Rasa-rasanya baru kemarin taman ini ramai dengan tawa penghidupan. Sekarang semuanya berbeda. Aku bangkit berdiri. Menengok ke arah sana sekali lagi. Giliranku kali ini.

Bukan tanpa alasan, dalam waktu berbilang bulan kebelakang, aku menarik diri dari keramaian. Terbiasa untuk tidak beristirahat siang terlalu lama, menghindari ingar bingar demi sebuah rasa tenang. Sendirian. Demi menyiapkan diri untuk kemungkinan langkah yang kuambil kemudian.

Tidak mudah meninggalkan tempat di mana kita tumbuh dan berkembang dengan segala rasa nyaman, dengan segala persaudaraan, dengan segala pengalaman dan dengan segala warna untuk setiap nafas yang dihembuskan. Terlebih lagi ketika tempat itu telah memakan habis waktu dari separuh besar hidup yang kurencanakan.

Bukan tempat yang indah memang. Namun dari beberapa pilihan yang disodorkan, aku mendatanginya dengan penuh pengharapan. Tentu demi sebagian rencana yang kutoreh bersama kumpulan teman di masa muda.

Untuk semua yang terjadi, tidak selamanya aku bersepakat. Di sana, seringkali aku berbeda pendapat, berdebat sampai kemudian bermufakat. Bejat. Tapi karena itu juga pola pikirku terbentuk sedemikian khidmat hingga akhirnya membawaku naik tingkat.

Di tempat itu, dan karena itu, aku bertransformasi dari sebentuk bocah tengik yang menyebalkan menjadi seorang tua yang mendapatkan banyak sekali pengajaran. Maksudku tentu saja tentang bagaimana aku mengubah banyak sekali pandangan tentang kehidupan. Pengalaman, ilmu pengetahuan, suka, duka, tangis, tawa, pahit, manis dan segala apa yang terjadi di sana, disadari atau tidak, membawaku ke langkah yang lebih jauh untuk menuju ke kedewasaan. Namun untuk usia –dan juga gaya, mohon maaf. Aku masih sama belaka. Aku dan tubuhku menolak untuk menua.

Tempat itu, bagaimanapun juga, adalah tempat yang telah membantuku mewujudkan separuh mimpi dan cita-cita.

Namun yang terlambat kusadari. Untuk semua yang kudapat, untuk semua rasa nyaman yang membuatku terlena nikmat malah akan mengurungku ke dalam sekat-sekat yang lebat. Aku harus pergi dan berbuat sebelum nantinya terlambat.

Beruntung kesempatan itu datang. Kesempatan yang akan membawaku ke ambang dilema untuk membuat salah satu keputusan mahasulit. Kesempatan yang juga akan berdampak banyak pada penghidupan di masa depan. Kesempatan yang mengubah garis-garis perjalanan. Untuk urusan itu, kulibatkan Tuhan di dalam semoga yang kuhaturkan, juga dengan banyak sekali pertimbangan.

Keputusan itu dibuat. Sebelum langkah semakin menjauh. Aku memutuskan untuk berhenti, mengakhiri separuh perjalanan.

Aku bangkit berdiri. Menengok ke arah sana sekali lagi. Giliranku kali ini. Meninggalkan bangku terakhir untuk membuatnya mati sunyi.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

2 Comments

write your comment / request below

Yang lainnya dari Blog

Undangan di Kota Jauh

“Mas, datang?” di satu kerumunan seorang teman memberikan undangan pernikahan. Yang bertanya…

Demi Bola

Saya sedang merasa puas luar biasa. Pasalnya, sudah lama sekali, sejauh yang…

Aktualisasi Diri

Beberapa waktu lalu, di lini masa twitter sempat ramai beredar cuitan yang…

Terang Bulan Juli

Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya…

Memilih Jarak

“Kamu yakin bersedia bergabung di perusahaan ini?” tanya seorang ahli ketika saya…

Go to Top