Teman Baru

Sedikit nasihat: Jika nanti suatu saat kamu mulai menyadari ada yang sesuatu yang berbeda di hubungan yang sedang kamu jalani, segeralah bertindak. Cari tahu dan lakukan sesuatu. Jangan terlalu lama diam. Jangan biarkan sedikit perbedaan itu menjalar menjadi sebuah masalah besar yang kamu tidak tahu apa dan bagaimana sampai akhirya ia rusak sempurna dan hilang saat kamu belum benar-benar siap merasakan kehilangan. Jika itu terjadi kemudian terimalah sakit hati yang menyebalkan.

Oh tentu. Nasihat itu muncul berdasarkan kejadian yang saya alami. Tak elok tampaknya kalau saya asal berbicara seperti itu tanpa ‘pengalaman’ yang menyertainya. Dalam kasus saya ‘hubungan’ itu didefinisikan antara saya dengan laptop yang setia menemani saya dalam suka duka bertahun-tahun lamanya. Sampai akhirnya dia rusak tak berguna dan saya kehilangan teramat dalam.

Gejalanya memang sudah terlihat lebih kurang satu tahun belakangan. Awalnya, ia seringkali mati tanpa permisi menyisakan layar hitam kosong tanpa sudi menjelaskan apa-apa. Saya yang sudah terlanjur mencintainya teramat sangat mulai merasa gelisah. Saya mencari tahu ke banyak tempat, ke banyak orang, ke banyak hal, bagaimana memperlakukan pasangan laptop yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda ketidaknyamanan. Berhasil! Ia kembali seperti sediakala. Menampilkan kembali tamasya indah yang penuh warna.  Saya kembali tertawa bahagia. Luar biasa.

Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Kejadian itu kembali berulang, bahkan lebih buruk. Meski saya bawa ke ruang perawatan sekalipun, ia tetap tidak seutuhnya kembali seperti semula. Penyakitnya menjadi siklus yang menyesakkan. Saya kembali dirundung duka. Sialan.

Di dalam kehidupan ‘perbarangan’ dan segala semesta yang ada di dalamnya, memperbaiki tidak selalu membuatnya kembali seperti waktu pertama beli. Ya, lebih kurang serupa maaf dalam kehidupan manusia. Memaafkan bukan berarti melupakan, kan? Ketika ada satu kejadian yang sama kesalahan dan kerusakan itu akan kembali menyeruak sampai akhirnya kita (atau saya dalam urusan ini) tidak bisa berbuat banyak. Saya berdiskusi dengan seluruh anggota keluarga. Akhirnya, dengan berat hati, saya harus ikhlas melepaskannya. Saya keluarkan ia dari ruang perawatan, untuk dirawat secara mandiri di rumah dengan segenap kasih dan sayang yang tersisa sampai nanti ia benar-benar tiada.

Sampai pada akhirnya di awal bulan lalu (lebih cepat dua bulan dari perkiraan), pada suatu malam yang ribut, ia benar-benar pergi. Menyisakan segala kenangan yang selama lebih kurang 7 tahun kami bersama. Selamat jalan teman, semoga kau tenang di alam sana.

Selayaknya laki-laki brengsek di luar sana. Ketika seseorang yang dicintainya pergi tak membuat ia merasa sepi sampai harus mencoba mati. Enggak. Sama sekali enggak. Ketika saya memutuskan untuk ikhlas, di saat itu juga saya membuat daftar banyak sekali alternatif pengganti. Ya paling enggak, saya enggak harus pusing mencari ketika ia benar-benar mati sama sekali.

Saya membuat kelompok berdasarkan spesifikasi yang cocok dengan kebutuhan saya sehari-hari. Selain itu peta pencarian saya kerucutkan hanya di pabrikan yang sama dengan yang saya gunakan sebelumnya. Alasannya sederhana, dengan apa yang ia berikan, saya puas luar biasa. Ia tangguh dan tahan lama.

Akhirnya muncul satu nama: ASUS F570ZD

Berminggu-minggu saya membaca, menonton dan bahkan berkunjung ke beberapa toko untuk melihat performa dan tampilan nyata dari nama yang sudah saya putuskan. Cocok. Spesifikasinya (kamu bisa lihat di sini) sesuai dengan kebutuhan, desain menawan, layarnya –dibanding milik saya sebelumnya jelas lebaran. Yang paling menawan dan bikin penasaran bagaimana ia, dengan isengnya, menggabungkan dua kubu yang kerap bermusuhan, AMD vs NVidia, di dalam satu kemasan. Tekad saya bulat. Dia inilah yang nantinya akan saya pinang.

Kamu pernah dengar cerita tentang pingitan? Belum? Kurang lebih begini, ketika seseorang memutuskan untuk menikah, di waktu tertentu, ia harus ‘diisolasi’ dari dunia luar untuk banyak sekali tujuan. Salah satunya, agar kelak ia tidak mengubah pilihan manten yang telah ia tentukan.

Pingitan ini tampaknya harus diaplikasikan di hal-hal lain selain pernikahan. Membeli barang salah satunya. Minggu-minggu saya terbuang percuma, banyak sekali kuota yang saya habiskan untuk menonton video, ongkos transportasi online dan terutama ketegasan yang harus saya pertanyakan karena untuk kedua kalinya, setelah apa yang terjadi ketika saya mengganti telfon genggam tahun lalu,  saya tidak membeli apa yang telah saya pilih, yang telah saya tekadkan sebelumnya. Bahkan saya menggantinya, lagi-lagi, dengan apa-apa yang tidak sempat saya pikirkan sebelumnya.

Untuk urusan ini, setelah mengkalkulasi agar tetap bisa makan nasi, yang akhirnya saya beli adalah: ASUS TUF FX505DY.

Ketidaktegasan saya dalam memilih lantaran beberapa hal. Spesifikasi sedikit lebih baik (kamu bisa lihat di sini), ia juga masuk ke dalam kelas ‘gaming’ namun harga tidak berselisih terlalu jauh dengan pilihan sebelumnya. Dengan memilih ini saya kehilangan kesempatan mencoba perpaduan kubu yang bersebrangan. Tapi sebagai gantinya saya mendapatkan hal lain dalam bentuk ketahanan. Katanya, varian yang ini sudah melalui test uji ketahanan militer, paling tidak bisa mengurangi risiko keisengan Si Jagoan yang mulai berimprovisasi dengan banyak sekali aksi dan pertanyaan. Untuk alasan terakhir jadi alasan yang tidak pernah sama sekali saya pikirkan. Oh, iya. Bonus tasnya juga lumayan.

Hampir satu bulan berjalan, setelah merilis dua-tiga tulisan, juga membuat beberapa desain dan berjam-jam yang banyak untuk mencoba beberapa permainan. Kesimpulan sementara: memuaskan. Tinggal bagaimana nantinya saya memikirkan untuk membayar tagihan cicilan di banyak bulan kemudian.

Jadi, wahai codename FX505DY, mari kita bekerja sama sampai, paling tidak, anak saya menua. Bisa?

  

Epilog:

Awalnya saya berencana membeli laptop itu di bulan Agustus, setelah menyelesaikan beberapa urusan. Karena satu dan lain hal, terpaksa harus dieksekusi duluan. Saat saya beli, varian TUF  Gaming hanya ada 2 pilihan saja. Pakai AMD atau Intel dengan Nvidianya. Sekarang, satu bulan setelah pembelian, di pasaran sudah muncul varian yang menggabungkan kedua kubu tersebut. Satu hal yang bikin saya penasaran dengan pilihan sebelumnya.

Ya, sudahlah.

Oh, iya. Tulisan ini curhatan. Kalau sempat nanti saya buat juga ulasan lengkapnya, ya. Dadah.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

1 Comment

write your comment / request below

Yang lainnya dari Blog

Undangan di Kota Jauh

“Mas, datang?” di satu kerumunan seorang teman memberikan undangan pernikahan. Yang bertanya…

Demi Bola

Saya sedang merasa puas luar biasa. Pasalnya, sudah lama sekali, sejauh yang…

Aktualisasi Diri

Beberapa waktu lalu, di lini masa twitter sempat ramai beredar cuitan yang…

Terang Bulan Juli

Tak ada yang lebih tabah, dari hujan bulan Juni. Dirahasiakannya rintik rindunya…

Memilih Jarak

“Kamu yakin bersedia bergabung di perusahaan ini?” tanya seorang ahli ketika saya…

Go to Top