Membuka Tawa Dengan Komedi Tunggal

Menyukai komedi adalah salah satu cara saya untuk mencari penghiburan diri. Menonton atau mendengar komedi biasa saya lakukan ketika saya sedang berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Tapi tidak semua komedi bisa saya konsumsi begitu saja. Saya memiliki standar yang berlebihan untuk masalah ini dan secara kebetulan saya tumbuh dalam narasi komedi yang digaungkan oleh pegiat komedi legendaris negeri ini: Warkop DKI. Berbeda dari para pelaku komedi kebanyakan, trio Warkop menyuguhkan komedi cerdas. Tidak semua lawakan yang mereka suguhkan bisa diterima begitu saja. Perlu ruang tambahan di dalam otak untuk mencerna komedi yang mereka haturkan. Ribet. Tapi   saya suka. Dewasa ini sedikit banyak saya menemukan pola yang sama di galeri stand-up comedy.

Saya mengikuti stand-up Comedy lebih kurang sejak enam atau tujuh tahun yang silam. Sudah banyak sekali materi-materi yang saya tonton atau saya dengar dari banyak sekali pelaku stand-up comedy negeri ini. Beberapa di antaranya saya anggap sebagai angin lalu. Seleranya beda, mungkin. Tapi beberapa yang lain saya perhatikan terus. Dan untuk menyaksikan langsung beberapa di antaranya bahkan saya masukkan ke dalam daftar tunggu: hal yang harus saya lakukan sebelum saya mati.

Di waktu kemudian yang senggang saya selalu coba alokasikan waktu untuk menonton atau mendengar komedi yang disuguhkan oleh orang-orang yang saya masukkan ke dalam daftar. Beberapa di antaranya: Pandji Pragiwaksono, Cak Lontong, Dodhit Mulyanto, Ridwan Remin, Ryan Adriandhy. Nama-nama tersebut sering kali saya saya khatamkan penampilannya baik di ajang pencarian bakat komedi yang mereka ikuti, acara-acara stand-up comedy di televisi, podcast atau penampilan penampilan yang ditayangkan di layanan video streaming. Menyaksikan penampilan mereka adalah jaminan kepuasan batin saya akan hasrat komedi terpenuhi.

Saya yang ketika di awal kemunculan stand-up comedy Indonesia sedang merantau di ujung barat pulau Jawa tidak memiliki akses yang cukup untuk terlibat banyak di kegiatan stand-up comedy Indonesia, sebagai penonton tentu saja. Ketika itu, sejauh yang saya ingat, publikasi stand-up comedy terbatas hanya di café-café kekinian. Dan di kota tersebut, hampir tidak ada kegiatan yang berhubungan dengan stand-up comedy. Bahkan setelah saya berpindah kota sekalipun. Oleh karena alasan itu dan kemudahan menonton melalui perantara video, praktis, setelah waktu yang lama baru sekali-dua saya sempat menyaksikan langsung aksi para pelaku stand-up comedy.

Beruntung, minggu lalu saya mendapatkan kesempatan luar biasa untuk menyaksikan langsung para pelaku stand-up comedy. Yang lebih menyenangkan lagi, beberapa nama yang saya sebutkan di atas ada di acara yang saya datangi tersebut.

Pandji Pragiwaksono sebagai host BukaTawa. Photo oleh: BukaTawa

BukaTawa, nama acara tersebut. Sebuah pagelaran stand-up comedy hasil kolaborasi antara Bukalapak dengan Comika.id. Bertempat di Balai Kartini, Jakarta Selatan. BukaTawa diselenggarakan selama tiga hari berturutan sejak tanggal 19 sampai dengan 21 April 2019. Ia menggandeng 15 pelaku stand-up comedy papan atas negeri ini. Diantaranya: Ridwan Remin, Gilang Bhaskara, Sakdiyah, Babe Cabiita, Adjis Doaibu, Marshel Widianto, Uus, Rigen, Awwe, Ryan Adriandhy, Wawan Cikuk, Rahmet, Kukuh, Popon Kerok, serta Sammy Notaslimboy. Oh, iya ditambah juga Pandji Pragiwaksono selaku host acara ini.

Di awal acara, Bayu Syerli, selaku Vice President of Marketing Bukalapak mengatakan, “Bukalapak selalu berusaha untuk menyuguhkan konten-konten positif dan menghibur melalui berbagai media, mulai dari video, talkshow BukaTalks, dan masih banyak lagi. Kami melihat bahwa Stand-Up Comedy ini merupakan sebuah sarana komunikasi lain yang cukup efektif karena memiliki gaya komunikasi tersendiri melalui hiburan. Kami berharap BukaTawa dapat menjadi sebuah sarana komunikasi yang positif, membangun, dan tentunya menghibur yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia.”

Saya mendapat kesempatan untuk hadir di hari pertama penyelenggaraan. Melihat apa yang disiapkan oleh Bukalapak, baik dari bentuk promosi, dekorasi panggung yang elegan, serta jajaran pelaku stand-Up comedy seperti yang sudah disebutkan di atas saya pikir apa yang diucapkan mas Bayu bukan sekadar isapan jempol belaka. Saya pulang dengan muka merah yang bahagia. Salah satu daftar yang harus saya lakukan selama saya masih hidup sudah saya lakukan secara paripurna.

Saya sudah sebutkan di atas, kan, kalau saya memiliki kebiasaan rutin menonton atau mendengar sajian stand-Up comedy melalui layanan digital. Entah dalam bentuk audio atau pun video. Nah, yang saya takutkan ketika datang ke acara ini adalah materi yang dibawakan para pelaku adalah materi yang sudah dibawakan sebelumnya. Untungnya, dan berterima kasihlah saya pada semesta, lebih dari 80% materi yang ditampilkan adalah materi yang baru dan segar. Menyentil banyak sekali isu-isu sosial yang ada di sekitar. Seperti misalnya, kebiasaan pengguna transportasi online, kesetaraan gender, hukum dan perundang-undangan dan tentu saja, yang paling heboh belakangan, pesta demokrasi negeri ini.

Dibahasnya isu-isu hangat dengan narasi yang padat membuah hasrat komedi saya bermasturbasi. Luar biasa.

Kemalasan saya sajalah yang membuat saya terlambat menyampaikan ini semua ke khalayak. Seharusnya, kamu yang membaca ini, hadir juga di acara BukaTawa kemarin. Paling enggak, bisa menjadi obat dari situasi negeri ini yang belakangan menyebalkan sekali.

Sebagai permintaan maaf, saya merasa perlu untuk memberitahukan kamu sekalian bahwa BukaTawa, meskipun penyelenggaraannya sudah lewat, masih bisa kamu saksikan di awal Mei nanti. Iya, rencananya BukaTawa akan menjadi salah satu program unggulan di BukaNonton, salah satu fitur terbaru di aplikasi Bukalapak.

Cara akses BukaNonton di aplikasi Bukalapak versi terbaru.

Tapi untuk dapat mengakses BukaTawa di BukaNonton kamu harus menjadi pembeli prioritas terlebih dahulu. Dan di awal Mei nanti, tepatnya di tanggal 5 Mei 2019B BukaTawa akan resmi diluncurkan. Cocok, kok, untuk menjadi teman ngabuburit ketika kamu berpuasa.

Silakan, coba. Ketika kamu tertawa, enggak usah Berterima kasih sama saya, ya. Informasi ini, saya buat untuk berbagi kebahagiaan belaka.

Tabik,

Dari Kiri: Babe Cabita, Ridwan Remis, Sakdiyah, Adjis, Gibhas. Pengisi Acara BukaTawa Hari-1

Catatan:

  • Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia Stand-up Comedy berarti komedi tunggal –bukan komedi berdiri.
  • Comica adalah istilah yang biasa digunakan untuk para pelaku stand-up comedy. Kenapa saya tidak menggunakan istilah tersebut di dalam tulisan ini ya itu hanya karena selera saja.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

write your comment / request below

Yang lainnya dari Review

Teman Baru

Sedikit nasihat: Jika nanti suatu saat kamu mulai menyadari ada yang sesuatu…

Ke Arah Bandara

Lebih dari separuh perjalanan dinas luar kota –atau malah luar pulau yang…

Maret Mantap

Apa yang paling menyebalkan setiap kali habis berbelanja? Ketika melihat harga yang…

Go to Top