Bertemu Ikan

oleh

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi yang menyenangkan dengan pengemudi ojek online yang saya tumpangi. ‘Sudah pernah ngajak anak ke sana, Mas?’ katanya merujuk ke salah satu wahana bermain dalam ruang yang kebetulan berada di gedung yang sama dengan tempat saya bekerja. ‘Belum, Mas’ saya menggeleng pelan, menjawab, meski saya tahu ia tidak bisa melihatnya. Kemudian, di perjalanan kurang dari sepuluh menit itu, ia menceritakan pengalamannya bermain di wahana tersebut, bersama anak-anaknya. Wajahnya tak terlihat, namun saya amat yakin ia bercerita dengan wajah yang berseri. Ada kebahagiaan yang tak terbayar dalam ceritanya. ‘Sesekali sampeyan harus ajak anaknya. Ikan di sana lucu-lucu’ tutupnya sesaat setelah saya mengembalikan helm yang saya pakai.

Fenomena Baby Shark tahun lalu membuat anak saya memiliki minat yang berlebihan untuk ikan. Padahal selain kolam di dekat rumah, ia tidak pernah melihat bagaimana luasnya dunia ikan. Di umurnya saat ini ia sudah cukup piawai untuk membedakan mana paus mana hiu dan mana, favoritnya, lumba-lumba.

Diskusi dengan pengemudi ojek online tadi mengingatkan saya kepada sebuah janji untuk memperlihatkan kepadanya dunia ikan yang luas. Laut? Saya pernah mengajaknya ke laut –ke pantai lebih tepatnya tapi rasanya laut dengan pantainya bukan alternatif yang baik untuk melihat dunia ikan. Alternatif lain? Di wahana buatan manusia yang memang menyuguhkan ikan sebagai sajian utamanya. Seperti di awal cerita tulisan ini, di gedung tempat saya bekerja alternatif tersebut memang tersedia. Saya pernah berjanji mengajaknya kemari. Tapi, silakan katakan saya egois, rasa-rasanya bosan jika saya tetap harus ‘datang’ ke kantor di akhir pecan bahkan ketika tujuan untuk berlibur.

Permasalahan berikutnya muncul: biaya. Klise sebenarnya, tapi tetap saja tidak bisa tidak saya perhitungkan. Setelah saya hitung-hitung kasar, total angka yang harus saya keluarkan cukup lumayan. Bukan harga tiket masuknya, tapi bagaimana perintilanperintilan lainnya bisa jauh lebih tinggi ketimbang tiket masuk ke dunia ikan tersebut. Membuang banyak lembaran merah rupiah hanya untuk melihat ikan doank kok ya sayang aja gitu. Demi anak? Tentu saja saya akan melakukan apa saja. Maksudnya, dengan total pengeluaran tersebut, jika saya bisa memberikan variasi asupan untuk anak saya, kenapa hanya ikan saja, kan?

Terpujilah wahai Anda yang menemukan pola berlangganan. Beberapa hari berikutnya setelah diskusi dengan pengemudi ojek online tadi, saya mendapatkan notifikasi surel baru dari hasil berlangganan informasi dari Tokopedia, salah satu marketplace tempat saya berbelanja. Isi surel tersebut terkait tentang tiket Dufan annual pass murah. Betul, tidak ada korelasinya dengan dunia ikan, hal yang sedang saya cari itu. Tapi kalau kamu juga berlangganan informasi surel dari Si Toko Hijau tersebut pasti kamu tahu pola mereka dalam mengirimkan informasi. Selain informasi utama yang dikirimkan, dalam surel tersebut terdapat beberapa opsi lain. Perhatian saya tertuju kepada kalimat: Events terbaru 2019 cari di Tokopedia. Kalimat yang disisipkan tautan tersebut membawa saya ke laman di mana terdapat informasi tiket wahana di utara Ibukota yang bisa mengenalkan dunia ikan kepada Si Jagoan Kecil.

Murah? Tentu saja. Tanpa bermaksud kasar untuk membandingkan, tanpa promo sekalipun wahana ikan di gedung tempat saya bekerja masih jauh lebih mahal ketimbang wahana ikan di utara ibukota. Ditambah promo? Tentu saja saya mendapat angka yang lebih menyenangkan. Setelah saya total, memang harga akhir –dengan segala tetek bengeknya memang tidak terlalu jauh dari hitungan awal. Tapi paling tidak dengan kisaran angka yang relatif dekat, dengan wahana-wahana lain yang berdekatan, saya bisa memberikan variasi asupan hiburan untuk Si Jagoan Kecil. Tidak melulu tentang ikan.

Tapi sedikit terlambat, sih, informasinya. Sekarang ini, sampai beberapa waktu kedepan, sulit untuk saya merencanakan liburan. Banyak hal yang harus dipersiapkan lahir dan batin untuk menyambut ‘teman’ yang sekarang ini masih bersembunyi. Mengutip kalimat yang biasa disampaikan Si Jagoan: “Yah, kok dedenya beyum kiatan sih di perut Bunda?”

Gambar diambil dan diubah seperlunya dari freepik.com

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

write your comment / request below

Yang lainnya dari Blog

Setelah 17 April

Halo, teman! Bisa minta waktunya sebentar? Barangkali ini bisa menjadi alternatif bacaan

Buang Buang Waktu

Sebetulnya menghabiskan dua pertiga waktu di luar rumah di hampir setiap harinya

Yang Kedua

Matahari masih malu-malu dan sembunyi ketika seorang lelaki menjejakan kakinya di tanah

Main-Main(an)

Saya pernah terjebak beberapa kali di lingkaran setan bernama koleksi. Jika dihitung
Go to Top