Yang Kedua

oleh

Matahari masih malu-malu dan sembunyi ketika seorang lelaki menjejakan kakinya di tanah ibukota untuk mengakhiri perjalanan seperempat harinya. Bersamanya pemburu waktu berlalu-lalang dengan nafas-nafas menderu. Tak ada sapa di antara mereka, bahkan ketika uap-uap panas dari air mendidih para penyaji kopi di tengah pasar yang bingar itu memanggil, mereka tak peduli belaka. Suara lantang kumandang azan dari sebuah langgar kecil tiga kali dua tak jauh dari sana menjadi pembeda. Seolah bersepakat, semua deru cepat nafas itu melambat bersatu dalam lantunan ayat yang khidmat. Si Lelaki kini berada dalam barisan, menunggu giliran air yang berkucuran. Seperti orang lain kebanyakan, dalam tunggunya, lelaki itu membuka beberapa pesan. Memilah mana yang harus dibaca dan mana yang harus diabaikan. Matanya tertuju pada satu pesan, dari wanita yang ia pernah bersumpah demi Tuhan untuk selalu menjaganya. Gilirannya datang dan kini ia enggan, orang tua berkacamata di belakangnya ia persilakan duluan. Pesan ini, terlalu penting untuk dilewatkan. Pesan yang seharga dengan seluruh kehidupan.

***

Nyatanya mulut manusia tidak akan puas berhenti di pertanyaan ‘kapan kamu nikah’. Di waktu yang panjang setelah itu, setelah yang ditanya menikah dan hidup berbahagia, akan banyak sekali pertanyaan susulan yang mungkin lebih menyakitkan. Paling tidak, di beberapa pertemuan keluarga, saya kerap mendapatkan beberapa pertanyaan yang seolah sudah disiapkan sedemikian rupa. Narasi ‘diam lebih baik daripada emas’ seolah menjadi sampah belaka.

Misalnya untuk pertanyaan: ‘Kamu kerja, istri kamu juga kerja, kok masih betah aja pake roda dua?’. Jika kondisinya sedang baik-baik saja dan saya sedang berada dalam suasana hati yang tenang dan menyenangkan, saya hanya akan menjawabnya dengan senyuman belaka. Namun di lain waktu, jika dirasa perlu, saya akan mengeluarkan segala arogansi yang saya miliki untuk menjawabnya. “Meskipun cuma punya roda dua, Paling enggak saya mampu punya rumah dua. Untuk saya dan orangtua. Kamu? Gimana?” ucap si lelaki dalam satu tarikan nafas yang ganas.

Kalimat itu biasanya cukup ampuh untuk membungkam mulut busuk si penanya. Dan saya cukup yakin, untuk urusan rumah, si penanya tidak lebih baik dari saya. Karena orang yang punya waktu luang dan tenaga memikirkan sangkut paut kerja berdua dengan roda dua biasanya orang yang tidak cukup kaya atau berpura-pura kaya atau ingin kaya tapi tak bisa. Yang betul-betul kaya biasanya jauh lebih bijaksana

Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang rasanya tidak perlu jika hanya sekadar digunakan untuk berbasa-basi. Maksudnya, selain mulut dan otak, Tuhan juga menciptakan hati dan perasaan untuk manusia.  Jika dirasa otak dan mulut kurang pintar untuk bekerjasama, setidaknya gunakanlah hati sebagai satu-satunya harapan yang tersisa.  Mungkin itu satu-satunya yang bisa menjadi pembeda antara manusia dengan kera.

Terutama untuk kalimat: ‘Enak betul hidupmu. Punya anak dititipkan ke orangtua. Dan kamu bahagia terusan-terusan bulan madu berdua’. Belum cukup? Tambahkan satu lagi: “tunggu apalagi, kapan anak kedua nanti kalian keburu tua?”

Menitipkan anak ke orangtua? Betul, saya melakukannya. Tapi untuk bulan madu berdua? Kiasan kata yang digunakan seolah hidup berdua hanya tentang bersenang-senang belaka? Tidak. Saya tidak melakukannya. Selain nonton film ke bioskop, praktis tidak ada kegiatan bersenang-senang yang saya dan istri lakukan di luar rumah tanpa anak. Karena, meskipun berjauhan, sebagai orangtua kami tetap percaya bahwa bahagia itu harus bersama-sama. Bertiga. Percayalah, saya dan orangtua lain yang menitipkan anak di kakek-neneknya tentu melewati banyak sekali pertimbangan sebelum akhirnya membuat sebuah keputusan yang sepihak.

Jika tidak dalam posisi yang saling memahami, menjawab pertanyaan tentang ‘keputusan menitipkan anak ke orangtua’ hanya melahirkan narasi argumentatif yang hanya bisa dihentikan dengan sikap yang bijaksana. Selain itu? Masing-masing pihak, baik penanya pun yang ditanya memiliki pandangan yang berbeda.

Dan pertanyaan tentang anak? Demi segala yang ada di dunia. Saya akan menaruh kalimat itu ke dalam daftar terakhir pertanyaan yang mungkin saya tanyakan. Maksudnya, urusan itu adalah urusan antara kita dengan Tuhan. Tanpa seizin-Nya. Sebanyak apapun keringat yang kita keluarkan, sebanyak apapun uang yang kita hamburkan tidak akan membawa kita kepada sebuah jawaban: kapan punya anak.

Tapi baiklah, untuk anak kedua saya memang sengaja untuk menundanya. Kenapa? Ya karena anak pertama saya terpaksa saya titipkan. Untuk sekadar bertemu dengannya saja saya memiliki jeda. Oleh karena itu saya merasa ia harus mendapatkan haknya untuk disayangi dan diperhatikan dengan penuh. Karena hampir dua tahun ini kami berjauhan, ya tentu saja ia memiliki hak istimewa untuk dimanja lebih lama. Kapan? Ya paling tidak sampai kami, sebagai anak dan orangtua, memiliki ikatan emosional yang benar-benar kuat dan paling penting sampai ia paham arti ‘adik’ di kehidupannya.  

Berita baiknya, meski dipisahkan oleh jarak nyatanya tidak membuat kami kaku dalam bergerak dan bertindak. Hubungan dan ikatanan antara ayah-anak-bunda tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kami boleh jadi jarang berjumpa, tapi kami masih tahu bagaimana caranya untuk bahagia. Dan anak kedua? Biarkan tetap menjadi hak tunggal Tuhan untuk menjawabnya. Dan kami bertiga akan dengan senang hati menerimanya.

***

Detik-detik bergerak tetap tiga puluh kali dan lelaki itu masih berdiri dua tiga langkah dari barisan. Ajakan-ajakan sopan menyentuhnya untuk segera bergegas. “Ayo, Nak” kata orangtua berkacamata tadi. Tapi Si Lelaki masih saja diam belaka. Fokus dan pikirnya ia serahkan sepenuhnya kepada pesan itu. Pesan tanpa kata, hanya sebuah citra lembar putih dengan dua garis merah di tengahnya. Demi Tuhan, ia tahu betul maksud darinya. Di dalam langgar, para penghamba Tuhan bersepakat dalam doa. Mengucap amin dalam irama yang sama. Ayat-ayat berikutnya dibacakan, untuk Si Lelaki, yang samar-samar mendengar, lantunan ayah berikutnya membunuh semua suara di sekitar, kata ayat itu: ‘Fabiaayi aalaa’i Rabbikumaa Tukadzibaan’. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Bersamaan dengan itu, pesan berikutnya muncul. Sebuah kalimat singkat: ‘Sudah siap untuk yang kedua?’ dengan tambahan titik dua bintang dibelakangnya. Dalam tegapnya ia menunduk, tubuhnya bergetar hebat, sebelum semuanya ia tumpahkan dalam tangis. Tangis yang memberikan ia senyuman dan haturan syukur yang ia ucapkan tepat di depan rumah Tuhan.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

1 Comment

write your comment / request below

Yang lainnya dari Blog

Buang Buang Waktu

Sebetulnya menghabiskan dua pertiga waktu di luar rumah di hampir setiap harinya

Bertemu Ikan

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi yang menyenangkan dengan pengemudi ojek

Main-Main(an)

Saya pernah terjebak beberapa kali di lingkaran setan bernama koleksi. Jika dihitung

Anak & Telepon Genggam

Telepon genggam bagaikan dua sisi mata pisau yang memiliki sifat berlawanan. Di
Go to Top