Saya dan Petisi yang Sedang Ramai

Dulu. Dulu sekali. Saya sempat mempertanyakan dampak dari petisi-petisi yang dibuat di salah satu media penyedia petisi daring. Maksud saya, apakah dari ratusan atau ribuan petisi yang dibuat itu menghasilkan sesuatu seperti apa yang diharapkan oleh si pembuat petisi. Beberapa waktu berikutnya berlalu. Hari ini saya mendapatkan jawabannya. Ya. Banyak dari petisi itu yang memberikan hasil. Salah satu contohnya yang menghebohkan, yang beberapa hari terakhir berseliweran di linimasa semua sosial media, tentang permohonan penghapusan iklan sebuah market place yang dibintangi Blackpink, vokal grup wanita asal Korea Selatan. Lebih dari 100.000 orang menandatanganinya, yang berarti setuju, bahwa iklan tersebut harus dihapuskan. Dan demikian pula lah yang terjadi kemudian. Komisi penyiaran ‘memerintahkan’ seluruh media televisi menurunkan iklan tersebut. Lucu.

Lebih kurangnya, petisi tersebut membahas tentang kekhawatiran seorang ibu, atau saya sebut wanita saja di sini, yang khawatir akan perkembangan generasi penerus yang, melalui iklan tersebut, disodori penampilan yang (dianggap) tidak senonoh. Petisi tersebut diawali dengan kalimat: Sekelompok perempuan dengan baju pas-pasan. Nilai bawah sadar seperti apa yang hendak ditanamkan pada anak-anak dengan iklan yang seronok dan mengumbar aurat ini? Baju yang dikenakan bahkan tidak menutupi paha. Gerakan dan ekspresi pun provokatif. Sungguh jauh dari cerminan nilai Pancasila yang beradab.

Ibu tersebut menuliskannya dengan kata ‘seronok’. Kurang tepat, karena seronok itu sendiri, menurut KBBI, berarti: a menyenangkan hati; sedap dilihat (didengar dan sebagainya).

Lebih lanjut lagi, ia menulis begini: Di mana letak perlindungan KPI pada generasi penerus bangsa? Kami paham bahwa konsep watershed sulit diaplikasikan dalam jam siar di Indonesia sehingga tidak ada pembatasan kapan jam acara khusus anak, kapan acara khusus dewasa. Namun, setidaknya KPI bisa mengatur jenis iklan yang ditayangkan pada program anak-anak.

Tiga-empat hari setelahnya keputusan dari KPI muncul. Petisi disetujui. Iklan yang sebelum ditayangkan itu diseleksi terlebih dahulu oleh lembaga sensor, akhirnya dipaksa turun.

Sumber gambar: Shopee

Saya paham betul. Baik petisi atau pun hasil yang diambil menimbulkan pro dan kontra dari segenap masyarakat yang peduli. Anda memiliki hak yang sama untuk bersikap. Saya sendiri menyikapinya dengan tawa bahak. Lucu. Kenapa? Karena saya melihat ada inkonsistensi nalar dari petisi atau pun keputusan tersebut. Saya akan membagi bahasan ini ke dalam dua kategori. Subjek dan objek.

Subjeknya adalah iklan tidak senonoh yang dapat menggangu tumbuh kembang generasi penerus, khususnya anak kecil. Sebagai catatan, menurut ibu tersebut, iklan yang dimaksud kerap tayang di sela-sela tontonan anak. Apa pesan yang hendak dijajalkan pada jiwa-jiwa yang masih putih itu? Bahwa mengangkat baju tinggi-tinggi dengan lirikan menggoda akan membawa mereka mendunia? Bahwa objektifikasi tubuh perempuan sah saja? Lanjut Si Ibu dalam petisinya. Kurang puitis apalagi Si Ibu dalam menuliskannya. Jika keadaannya lebih baik, boleh jadi Ibu tersebut juga akan membuka jasa penulisan caption seperti yang sedang dilakukan salah satu artis twitter. Dan objektifikasi tubuh perempuan? Mungkin Ibu itu tidak tahu, atau lupa, bahwa beberapa waktu sebelumnya ada pria yang diagung-agungkan sedemikian rupa hanya karena memamerkan bagian dada.

Jika narasi yang digunakan untuk membuat petisi itu adalah tentang moral, tentang bagaimana televisi dapat memberikan dampak negatif untuk tumbuh kembang anak, seharusnya yang dijadikan objek bukanlah Blackpink di iklan market place tersebut atau paling tidak jangan jadikan Blackpink sebagai satu-satunya objek yang dijustifikasi dapat merusak moral dengan penampilannya. Diakui atau tidak sulit sekali menemukan konten yang bermanfaat di televisi dewasa ini. Kekerasan, ujaran kebencian, sensualitas kerap muncul di hampir semua acara televisi. Dalam banyak sekali bentuk.

Siaran anak-anak? Jika Ibu itu jeli, atau mungkin ada juga Anda yang memperhatikan, di tayangan anak-anak sekalipun pengaruh buruk itu diperlihatkan dengan sedemikian jelas. Apa yang ingin Anda jadikan contoh? Serial Upin Ipin yang begitu menggemaskan? Baik. Apa kita bisa menjamin bahwa anak kecil yang menonton Upin Ipin tidak akan mengikuti perangai Kak Ros yang kerap ‘menyelesaikan masalah’ dengan amarah? Bahkan satu dua episode diperlihatkan pula Upin dan Ipin, yang nakal, dihukum secara fisik oleh Kak Ros.  Jangan lupakan Mail yang kikir dan perhitungan atau Ehsan yang sombong. Paling menyebalkan ketika Upin-Ipin, di banyak sekali Episode, muncul Ultraman. Seperti yang kita ketahui, Ultraman adalah pahlawan yang menyelamatkan bumi dari serangan monster-monster jahat. Terlihat baik sebagai pembela kebenaran. Tapi jangan lupa, proses penyelamatan itu dilakukan dengan tendangan dan pukulan. Ada jaminan bahwa anak kecil tidak akan mencontoh gerakan-gerakan itu? Boboboi? Sebelas dua belas lah. Itu saja? Tidak. Sebut judul siaran anak yang Anda ketahui. Saya dengan senang hati menjabarkan apa saja yang berbahaya di dalamnya. Itu baru siaran anak. Kartun. Jika menambah acara lain. Katakanlah talk show, ajang pencarian bakat yang dipaksakan dan sinetron yang mayoritas berisi sampah moral maka tulisan ini akan menjadi sepanjang dan setebal buku yang penuh dengan umpatan, dan tentu saja tulisan ini akan menjadi konten yang tidak menyenangkan.

Jadi jika narasi yang digunakan adalah perbaikan moral, harusnya ada banyak sekali petisi yang dibuat, disepakati juga disetujui oleh khalayak, dan tentu saja mendapat keputusan hasil yang sama dari komisi penyiaran ketimbang sebuah iklan yang berdurasi singkat yang muncul sesekali di layar kaca. Apa KPI berani melakukan itu? Apa kita, masyarakat, berani menerima keputusan itu? Jika iya, boleh jadi layar televisi nantinya hanya berisi garis banyak putih hitam.

Berikutnya, sebagai objek. Petisi tersebut menunjuk Blackpink sebagai objek yang bertanggung jawab terhadap kemungkinan amoral yang terjadi di masa depan. Alasannya? Berpakaian terbuka, pas-pasan jika meniru kalimat ibu tersebut. Dengan gerakan meliuk-liuk yang, dikhawatirkan (mungkin?) menimbulkan birahi bagi anak kecil yang menonton. Nyatanya? Saya sekali melihat iklan tersebut di aplikasi penyedia video. Dan saya pikir citra yang mereka tampilkan biasa aja, deh. Tidak telanjang, tidak terlalu terbuka dibandingkan dengan apa yang ditampilkan selebritas negeri ini di layar kaca entah itu di sinetron, acara-acara palsu yang diatur sedemikian rupa, ajang pencarian bakat palsu atau di tayangan-tayangan infotainment yang unfaedah. Blackpink, berpenampilan normal atau mungkin lebih sopan dibandingkan dengan yang lain yang saya sebutkan. Jadi apabila subjek utamanya bernarasi tentang moral, seharusnya bukan Blackpink yang dijadikan objek sasaran utama. Atau paling tidak, bukan satu-satunya. Karena yang lebih brengsek dan lebih bejat jauh lebih banyak.

Tapi, jika Blackpink dijadikan objek atas dasar ketidaksukaan terhadap personanya. Ya, lain cerita.

Akan jauh lebih bijak jika kita bisa memberikan edukasi yang baik kepada, yang disebut oleh ibu tersebut, generasi penerus bangsa ketimbang menyalahkan orang dan hal-hal lain yang kurang relevan. Mengkambinghitamkan pihak luar terhadap perusakan moral membuat kita seolah ingin bersenyembunyi dari kegagalan menjadi contoh dan teladan bagi anak-anak kita. Matikan televisi dapat menjadi langkah awal yang baik jika tayangannya dianggap merusak. Atau jika dirasa sulit dampingi dan berikan alternatif pandangan dan ilmu dari setiap masalah yang muncul dan terlihat di layar kaca. Dilanjutkan dengan mengurangi ucap kasar dan benci serta stigma negatif di depan Si Penerus Bangsa. Jangan lupa juga dogma-dogma yang kerap muncul atas dasar ketidaksukaan belaka karena boleh jadi yang merusak moral anak-anak kita adalah kita sendiri yang kurang peka dan peduli atas sesuatu yang hakiki.

Catatan:

Pertama, yang harus Anda ketahui, saya bukan penggemar Blackpink. Bahkan saya termasuk di antara orang-orang yang anti-seni-korea terutama musik dan serial dramanya. Yang kedua, saya seorang Ayah yang belum bisa menjauhkan anak dari jangkauan televisi. Dampak negatif televisi, sedikit banyak telah saya rasakan. Anak saya yang baru berusia tiga setengah tahun sedang memiliki hobi tonjok-tonjokan. Bernada bicara dan memiliki kosakata ‘aneh’ yang sebelumnya tidak pernah (secara sadar) kami ajarkan. Sebuah hadiah yang ia dapatkan dari menonton tv. Dan untuk diketahui juga, meski ia menonton tv, acara yang boleh dikonsumsi amat sangat kami batasi. Tebak apa saja yang pernah dan masih ia tonton? Hanya di antara Upin-Ipin, Boboboi, Adit Sopo Jarwo, Shaun The Sheep dan dua tiga judul kartun lain yang saya tidak hafal.

Ketiga, tentang petisi tadi, saya akan berada di pihak Si Ibu jika beliau fokus kepada subjeknya saja, dan bersedia dengan semangat yang sama membuat petisi lain untuk semua hal-hal yang berindikasi merusak moral dari televisi. Sekali lagi, saya akan berada di pihak Si Ibu, ikut berkontribusi dalam setiap petisi yang ia buat ia bagikan ia kampanyekan dengan semangat yang sama selama narasi utamanya: pemberantasan hal-hal buruk dari televisi.

Keempat, saya juga kurang pas dan mengutuk reaksi orang-orang yang kontra yang melayangkan kalimat-kalimat negatif penuh kebencian kepada Si Ibu. Jika berbicara tentang moral, Anda (yang merespon dengan kalimat kasar) menjadi tidak berbeda dengan orang yang Anda anggap tidak bermoral. Ya, mungkin, menjadi bodoh berjamaah itu sekarang dianggap menyenangkan.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

3 Comments

  1. Kalau sy menilai sih ini hanya latah, dari para istri yg tkt kalah saing dg BlackPink, mengatasnamakan anak, krn justru anaknya sndiri lbh berkiblat pada sosok lain, krn emang ada istri2 yg gk bs jd ibu sepenuhnya. Liat sj, ada anak yg dsuntik, malah triaknya lagi BlackPink, mana tangisan anak yg mencari kata ‘mama’ , ‘ibu’?
    Emak2 picik, yg hny tw arti seronok sependek rok mini. Itulah cerminan otak mrk yg sulit berpikir positif.

  2. Saya ikut senang mengetahui petisi tersebut disetujui KPI. Semoga ke depannya ada petisi-petisi serupa yang juga berhasil. (Beda pendapat boleh kan ya..).
    Tapi saya pribadi sudah menjual TV di rumah sejak beberapa tahun yang lalu, sebagai salah satu langkah preventif dari bahaya TV untuk anak. Dan, pengurang sumber naik darah dan ngomel-ngomel pada anak. Hehehe.

  3. Ada satu kesamaan Kang Andi dengan saya. Sama-sama tidak suka Blakcpink. Juga sama-sama tidak suka Musik dan serial Dramanya. Buat saya, bukan soal iklannya. Melainkan, kenapa harus pake Blackpink coba. Hehe…

    Salam kenal dari orang desa Kang…

Tinggalkan Balasan ke Diah Kusumastuti Batalkan balasan

Yang lainnya dari Esai

Telur & Makanan Palsu

Saya tersenyum kecut ketika melihat pemberitaan di media, baik cetak maupun digital,…

Sepatu Lokal

Ketika saya sedikit lebih muda, saya tidak memiliki minat yang berlebih terhadap…

Pada Sebuah Kereta

Hilir mudik para penumpang tampak tidak terlalu padat di Stasiun Barcelona Sants…

Go to Top