Main-Main(an)

oleh

Saya pernah terjebak beberapa kali di lingkaran setan bernama koleksi. Jika dihitung sudah ada beberapa jenis barang yang saya cari setengah mati, menghabiskan waktu dan materi, untuk kemudian membiarkan barang-barang itu tersimpan rapi dalam lemari. Paling tidak, ada sepatu futsal, sepatu main, buku dan jersey sepakbola yang sedang dan pernah singgah dalam album koleksi. Nama yang disebutkan terakhir adalah yang paling merepotkan, yang dalam prosesny paling menyita waktu, tenaga dan uang. Pernah saya jaga dengan segenap cinta menjadikan saya serupa inang. Kini, setelah beberapa tahun, mereka itu sedang saya coba lepaskan pelan-pelan satu demi satu. Demi nama baru di album koleksi: Mainan.

Saya pernah menyumpahi diri sendiri untuk tidak membeli mainan. Bahkan untuk mendekatinya sekalipun. Apa pasal? Karena mainan, dengan banyaknya variasi, merek, jenis, tipe, ukuran, bentuk, keluaran dan lainnya, dapat memberikan efek adiktif yang berkali lipat ketimbang koleksi saya sebelumnya. Ditambah dengan mengoleksi mainan, yang harganya relatif lebih tinggi dari harga jersey, hanya akan membuat ekonomi saya yang biasa saja menjadi miskin dan merana. Lagi, tanpa sepengetahuan dan seizin ulama saya mengeluarkan fatwa untuk diri pribadi: mengoleksi mainan itu haram!

Jika di akhirat nanti saya dimintai pertanggungjawaban, saya akan menyalahkan proyek ambisius Marvel dengan film-film superheronya, Instagram dengan suguhan visualnya dan tentu saja diri saya sendiri yang mudah sekali tergoda.

Bukan tanpa alasan saya menyalahkan instagram. Dari sana lah awal semua bermula. Entah bagaimana caranya, di suatu ketika sebuah foto dari akun @agamdadam muncul di tab explore. Foto itu menampilkan salah satu karakter fiksi favorit saya sepanjang masa: Spider-Man. Dalam bentuk yang lucu dan menggemaskan. Saya follow? Tidak. Setidaknya bukan di saat itu. Namun, di kesempatan selanjutnya beberapa foto yang lain muncul. Mainan-mainan Spider-Man itu tampak semakin menggemaskan. Ia seolah menyapa. “Ayo, Mas. Ambil akuh, Mas. Sejak itu, saya ikuti akun tersebut.

Berbuat dosa adalah salah satu bentuk canda umat kepada Tuhan. Melanggar sumpah adalah salah satu di antaranya. Dan untuk kesekian kalinya, saya kembali melakukannya: melanggar sumpah yang saya buat sendiri. TIdak hanya memerhatikan. Kini satu dua mainan mulai masuk ke lemari. Sialan. Kenapa berdosa itu sedemikian menyenangkan, sih?

Saya melihat celah yang berbeda dari perjalanan koleksi kali ini. Jika sebelumnya usaha dan upaya itu dilakukan hanya ketika proses pencarian dan disimpan di lemari belaka ketika sudah didapatkan. Di mainan, kali ini, polanya sedikit berbeda. Di mainan, usaha dan upaya yang berat (tapi menyenangkan) justru ketika barang sudah didapatkan. Mainan tidak melulu menjadi barang antik yang disimpan cantik di dalam bilik. Lebih dari itu, ia hadir dalam banyak sekali kreasi dan gaya. Jika jersey dan sepatu hanya cocok untuk disombongkan sesekali, satu mainan bisa diperlihatkan berkali-kali dalam nuansa fotografi. Di situ, usaha dan upaya yang saya sebutkan tadi diuji. Sisanya, biarkan otak yang bekerja banyak.

Menjadi sejalan dengan minat yang pernah saya taruh beberapa tahun lalu: belajar fotografi. Ketika itu, saya memulainya dengan membeli sebuah kamera dengan tambahan beberapa lensa. Mainan itu mengembalikan saya kepada suatu ambisi ilmu yang ingin saya capai namun belum pernah saya mulai. Sayangnya, setelah itu, Sang Kamera hanya berdiam santai di dalam lemari sebelum akhirnya menjadi bangkai.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Maksud saya, kamera dan gambar menjadi pembeda antara mainan dengan koleksi saya sebelumnya. Lewat gambar, ia dibuat begitu hidup. Kamu bisa lihat deretan galeri tepat di atas paragraf ini. Satu karakter yang sama, oleh orang yang berbeda, dapat menyampaikan banyak sekali pesan yang tidak sama. Dengan beberapa sentuhan, ia mampu mengejewantahkan banyak sekali pesan.

Itu baru sedikit saja. Baru dari satu jenis mainan dan yang saya mendapat izin untuk mempublikasikannya di sini. Lainnya? Di instagram masih banyak sekali. Ambil contoh tagar #eggattack saja. Karakter-karakter yang sama, atau paling tidak serupa, muncul dengan banyak sekali gaya. Yang lebih umum tagar #fotomainan #toysphotography atau apa pun yang lain cari lah sendiri. Itu baru dari tagar. Untuk pemilik akun? Selain nama-nama yang sudah saya sebutkan atau pun di keterangan gambar yang saja sajikan di atas masih ada beberapa nama lain di linimasa saya yang amat menggoda.

Dari tanah yang sama, coba sesekali tengok akun @ragasukmaa, @dickyabais, @fachro, @tyo_nugroh0 atau yang sempat menjadi fenomenal @HRjoe_Photography. Sedikit menjauh ke utara ada akun @hot.kenobi dan @matsumo_toys yang bisa kamu lihat. Itu pun jika kamu kuat. Tapi jika kamu termasuk orang yang latah dan lemah, sebaiknya jangan sesekali membuka akun atau tagar tersebut. Nantinya seperti saya. Saya yang gampang sekali tergoda hal begituan jadi ingin sekali menjadi salah satu penyumbang gambar di tagar-tagar foto mainan.

Saya yang belum memiliki konsep, pengetahuan atau segala yang dibutuhkan di dunia foto-foto mainan agak sedikit kebingungan bagaimana harus memulai. Walhasil, isi tas kecil yang dulu hanya sebatas korek, rokok dan dompet sekarang berganti rupa. Mainan yang satu-dua itu saya bawa kemana-mana. Ada satu saja spot foto yang menarik, saya berhenti dulu, mengatur pose untuk mereka saya foto. Di beberapa tempat, saya mungkin dianggap gila oleh sebagian orang, “ngapain, sih?” kata mereka yang melihat. Media ambil gambar yang saya gunakan pun baru sebatas kamera telepon genggam yang saya dapatkan dengan penuh pertimbangan.

Yang saya bawa kemana-mana.

Dengan tulisan ini juga, saya meminta izin dan maaf untuk lingkaran pertemanan saya di media sosial. Jika kelak linimasa saya dihujani dengan foto-foto mainan, ya, maaf. Itu yang sedang asyik saya lakukan. Sampai kapan? Entah. Mungkin sampai bosan atau sampai saya ada di batas-batas kelaparan. Tergantung mana yang duluan. Dan mohon maaf juga jika hasilnya masih menggenaskan. Masih mentah dan sampah.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

7 Comments

  1. heuheu… untung aja gak doyan main-main(an). dan kayaknya jangan coba-coba buat foto-foto mainan kayak gitu deh, bener-bener bikin ketagihan biasanya.

    tapi gak apa-apa banyak-banyak mainan, kalo udah bosen, nanti juga bisa buat anaknya 😀

  2. Saya punya 4 action figure One Piece (enggak bisa gerak), Iron Man (bisa gerak, tapi terbatas), dan beberapa lego. Setelah baca tulisan ini, sumpah saya baru inget punya mainan itu. Anjir, ke mana itu sekarang~ Semoga aja masih di lemari. Waktu itu kalo enggak salah udah pengin banget dijual. Udah saya bungkus. Kayaknya itu alasan dimasukin ke lemari. Karena sempet ngerasa udah males foto-foto mainan gitu, terus uang hasil jualnya ganti jadi beli buku aja biar lebih berfaedah. Tapi tentu ada kenangan yang bikin enggak tega buat menjualnya. Mainan itu pernah menjejakkan kakinya ke tempat-tempat wisata. Uang pas beli mainan itu juga soalnya hasil menang suatu lomba atau kuis dari menulis. :’)

write your comment / request below

Yang lainnya dari Blog

Anak & Telepon Genggam

Telepon genggam bagaikan dua sisi mata pisau yang memiliki sifat berlawanan. Di

Maaf

Hari pertama setelah libur cukup panjang. Aromanya masih terasa. Malas untuk beraktivitas

Membagi Fokus

Hari ini, jika melihat tanggalan yang tertera pada setiap tulisan, tepat dua

Panggilan Video

“Permisi!” Malam yang teduh. Bintang entah disembunyikan oleh siapa. Awan atau gelap.
Go to Top