Tulisanmu Jelek

oleh

Saya yang arogan sudah amat sangat terbiasa menerima pujian ketika ada seseorang yang datang berkunjung membaca tulisan saya. “Tulisannya bagus. Ceritanya mengalir”, “Kok bisa sih nulis kaya gini. Ingin bisa!”, “Baru mampir sudah suka sama tulisannya”, adalah beberapa contoh ‘pujian’ yang biasa saya dapatkan. Ya, meskipun yang terakhir disebutkan adalah sebuah draf busuk yang mungkin juga ada di blog-blog kamu semua. Yang lain sisanya? Ya, banyak. Bahkan saya cenderung bosan dengan puja-puji yang datang di hampir setiap tulisan yang saya buat. Tidak usah kamu bayangkan, berat, biar saya saya. Tapi jika mau, kamu harus menjadi saya untuk merasakannya. Ya, menjadi searogan saya.

Arogan | Sumber: Giphy.com

Banyak cara untuk menyenangkan orang lain. Salah satunya adalah dengan sebuah pujian. Paling sederhana dan murah. Cukup bermodal kerendahan hati dan sedikit rasa ikhlas (atau tidak peduli) maka kamu bisa menyenangkan orang lain.

Dan pujian-pujian yang saya terima untuk hampir semua tulisan saya. Ya, saya anggap sebagai sebuah bentuk cara orang untuk membuat saya senang. Untuk jerih payah saya menulis tengah malam ketika anak dan istri saya sudah tidur pulas. Atau bentuk apresiasi untuk saya yang berani menulis di sela-sela jam kerja. Saya korupsi waktu loh itu, kok ya saya dipuji? Ya sudah. Terima kasih. Tapi untuk isi tulisan itu sendiri, barangkali, situ juga enggak peduli-peduli amat, kan?

Mungkin ada satu dua di antara kamu yang pernah memuji tulisan saya dengan tulus, tidak termasuk ke dalam golongan orang yang berpura-pura. Maaf jika saya sudah berburuk sangka. Terima kasih untuk pujiannya. Tapi percayalah. Saya bosan. Jauh di atas segalanya itu malah membuat saya semakin arogan. Dan itu berbahaya. Malah kadang membuat saya menjadi suka menghinakan tulisan orang lain yang, saya anggap, biasa saja. Di satu waktu saya membaca satu dua tulisan biasa, saya ingin mengumpat: mundur, tulisanmu jeleee!

Dan pengumuman: tidak semua tulisan saya bagus!

Maaf. Saya koreksi.

Banyak sekali dari tulisan saya yang tidak bagus. Ya, ini lebih mewakili. Jika kamu ingin bilang semua tulisan saya tidak bagus. Ya silakan. Asal tulisanmu tidak jelek.

Arogan | Sumber: Giphy.com

Mari menganalisa kenapa ada orang yang (mau) memuji tulisan jelek saya? Ah, sederhana ternyata: Diksi. Pilihan kata.

Saya pernah hidup di masa suram ketika menjadikan Raditya Dika sebagai panutan dalam menulis. Jadinya saya mencoba melucu dan bernasihat di semua tulisan. Seolah ‘lucu’ dan ada ‘pesan yang bermoral’ adalah sebuah syarat utama untuk saya boleh mempublikasikan sebuah tulisan di blog ini. Sayangnya, selera humor saya yang rendah dan riwayat hidup yang amoral malah membuat tulisan saya menjadi sampah belaka. Hidup tidak harus selalu lucu, saya pikir, maka saya memutuskan untuk tidak lagi mengekor gaya tulis Raditya Dika.

Lalu apa?

Diksi. Saya pikir tidak perlu lucu untuk memilih sebuah diksi dalam tulisan. Saya bisa. Berbekal kemampuan saya beromong-kosong. Gampanglah.

Begitulah yang terjadi dalam satu-dua tahun terakhir, saya memfokusan gaya tulis saya dengan ‘tulisan yang berdiksi’ dengan cara yang keterlaluan. Malah kadang saya terlalu banyak membuang-buang waktu produktif dalam menulis untuk sekadar mengobrak-abrik kata dan kalimat. Demi diksi. Seringnya hal ini jugalah yang membuat saya malas untuk melanjutkan tulisan saya hanya karena diksi yang buruk. Bodoh.

Hasilnya? Ya tulisan-tulisan yang kamu baca dan kamu puji-puji itu. Bagus? Enggak. Lalu kenapa ada orang yang (mau) memuji tulisan yang enggak bagus itu?

Pertama, karena diksi. ‘Tulisan berdiksi’ bukanlah pilihan yang banyak diambil oleh orang-orang. Saya yang nekat seolah menjadi berbeda. Dan biasanya, orang-orang yang berani beda cenderung mendapat tempat yang lebih terang untuk diingat. Ditambah kamu enggak bisa-bisa amat masalah diksi. Ya, jadinya saya dipuji. Betul, enggak?

Kedua, ya karena itu tadi, ingin membuat saya senang. Terima kasih sebelumnya. Meski sebetulnya kamu enggak ngerti-ngerti amat dengan isi tulisan yang saya buat. Tapi kamu tetap memuji saya untuk membuat saya senang. Tapi saya bosan. Saya bahkan mulai mengurangi intensitas berbagi tautan tulisan terjadwal setiap minggunya di salah satu komunitas menulis hanya karena saya mulai merasa ada yang salah dengan pola berkomentar yang ada di tulisan saya.

Memutuskan menulis dengan diksi yang berbeda berarti menyepakati sepihak bahwa tulisan yang kamu buat akan menjadi tulisan yang agak sulit dimengerti oleh pembaca umum. Paling buruk, di atas segalanya, kebiasaan saya yang suka menulis panjang. Untuk kamu ketahui, di tulisan ini, sampai titik ini, kamu telah membaca tujuh ratus tiga puluh sembilan kata yang percuma. Sampai selesai nanti? Entahlah. Mungkin seribu. Mungkin lebih. Dan di dunia digital, tulisan panjang, ditambah diksi yang njilimet adalah sebuah mimpi buruk. Kamu bohong ketika kamu bilang kamu betah main di sini. Di sini adalah mimpi buruk dunia digital.

Saya sadar itu. Meski mungkin isi tulisan saya menyenangkan tapi gaya saya menulis tidak. Gaya menulis seperti itu sering mengaburkan isi dari tulisan itu sendiri. Hanya orang-orang yang memiliki selera dan atau gaya yang sama yang sudi membuang-buang waktu untuk mencerna lebih banyak isi tulisan melalui gaya tulis seperti itu.

Contohnya, sering saya saya menulis ini dan kamu berkomentar itu. Dengan pujian pula. Saya sedih

Lihat-Baca-Bingung-Muji | Sumber: Giphy.com

Saya butuh kritik

Dalam menulis saya memiliki prinsip yang, saya pikir, cukup kuat. Saya akan menulis apa yang ingin saya tulis. Masa bodoh dengan penilaian orang. Saya bahkan sering merasa tidak peduli untuk menulis hal yang hanya dimengerti satu orang belaka. Rahasia, ada beberapa tulisan saya yang memang hanya saya tujukan untuk satu orang dan saya tidak peduli jika yang lain tidak mengerti.

Kebiasaan yang kadang dinilai sebagai suatu kelebihan, dalam satu waktu, bisa juga dianggap sebagai sebuah kekurangan. Dan saya sadar betul. Diksi, ratusan kata yang banyak, dan paragraf yang bertumpuk menjadi aspek yang paling menyebalkan dari setiap tulisan saya. Untuk hal yang terakhir, paragraf panjang itu, saya pernah dicaci maki dan terima kasih. Sekarang sedikit demi sedikit sudah mulai saya kurangi.

Saya bahkan sering kesal ketika membaca ulang tulisan saya. Kesal yang jika dibuat kalimat mungkin berbunyi: “untuk apa kamu membuat tulisan seperti ini? Ini hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang saja, bodoh!” Atau tidak ada sama sekali. Gaya tulis saya betul-betul gaya yang tersegmentasi. Selera menentukan segalanya.

Saya tidak merasa prinsip yang saya anut itu salah. Tapi ketika saya memutuskan mempublikasikan tulisan saya di dunia digital, tentu harus ada aspek lain yang saya pikirkan. Kamu. Pembaca tulisan ini. Dalam banyak hal, saya perlu melakukan penyesuaian.

Dan tentu, oleh karenanya, saya juga membutuhkan bantuan (lagi) dari kamu. Kritik. Jangan segan untuk mengkritik saya. Saya bukan diktator yang akan menghakimi kamu hanya karena kamu tidak suka dengan tulisan saya. Saya juga bukan anggota DPR yang akan memidanakan kamu hanya karena kamu mengkritik saya. Tidak. Sebaliknya saya membutuhkan itu. Untuk kamu, yang masih (dengan lugu) bersedia membaca tulisan saya, percayalah, saya ingin belajar lebih baik lagi.

Kemarin, dalam rentang waktu satu minggu, saya mendapatkan dua kritikan terkait gaya tulis saya. Katanya: “Coba tulis yang ringan, dengan bahasa sederhana”, “Jangan terlalu kaku sama bahasa baku”, “Tulisannya gak enak amat dibacanya”, “Inter jelek ah, kalahan mulu”. Saya orgasme. Saya puas. Sakit sih. Tapi saya puas. Artinya masih ada yang mau peduli dengan saya. Dan terima kasih. Kritikan-kritikan tersebut akan saya jadikan sebagai bahan evaluasi untuk menuju proses 2.1. Meski mengubah kebiasaan itu sulit, tapi tidak ada salahnya saya coba.

Sekarang, giliran kamu. Saya tunggu. Dan tidak perlu khawatir, untuk mengkritik saya tulisanmu tidak perlu bagus. Bagus dan enggak itu perkara yang relatif. Banyak batasan-batasan yang bias untuk menentukan bagus enggaknya. Jadi, silakan. Apapun. Saya akan menerima semua kritik dan memilah mana yang bisa saya perbaiki lebih dulu. Tidak peduli siapa kamu. Bahkan saya tidak peduli seberapa jeleknya selera dan tulisan kamu.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

14 Comments

  1. Anjay bahasannya wkwkwk. Tapi bener lho, i know it. Antara hasrat dan kepatutan. Kita jelas maunya belajar, salah satunya dari penunjukan kesalahan kita, kayak lagi bimbingan skripsi toh, terkadang menurut kita udah bagus, tapi menurut pembimbing kaga, lalu terjadii lagii corettt ulang. But, faktanya terkadang sedikit yang mau bener-bener meluruskan, mungkin kita tau kenapa. Saya sebagai newbie sebetulnya bingung juga mau gimana, tapi setidaknya “Antara Hasrat dan Kepatutan”. Syelalluuu~~

  2. Aku juga sering merasa sudah bagus, sering terlena pujian entah itu pujian beneran atau sekedar penghiburan aku yang terlalu bahagia waktu share link ku ke medsos. Pengen di kritik cuma kadang ga siap sama isi kritikannya. Hahaha.. Tapi serius sih, tulisan mas andhika cukup berat kalo buat aku mah.. Bahasanya di buat ringan aja gitu mas..

  3. Menurut saya, sebenarnya masalah pemilihan diksi dalam seBuah tulisan adalah masalah selera saja bang..

    Namun selera dalam hal.ini ada dua, selera pribadi atau selera pasar. Nah, masalahnya terkadang tuh pemilihan diksi berdasar selera pribadi biasanya tidak sesuai dgn selera pasar.

    Saya setuju apa yg bang dika tulis di atas, pada akhirnya pemilihan diksi akan membuat tulisan tersegmentasi pada satu titik. Titik itu.bisa mau mengikuti pasar atau mengikuti selera diri sendiri. Dan ini yg sering menjadikan dilema , antara realitas dan idealisme sering kali beradu pendapat.

    Dalam atau sisi, kita butuh uang dari tulisan tsb, dan otomatis diksi pun harus mengikuti pasar biar jadi banyak pengunjung, namun di satu sisi itu tidak memuaskan keinginan diri sendiri karena ingin menulis sesuai diksi selera pribadi yg berbeda dgn pasar. Pada fase inilah seringkali dilema terjadi..

    Kalau menurut saya, mau tidak mau harus belajar dalam mengkombinasikan antara diksi yang sesuai antara selera pasar dan pribadi. Dan itu butuh usaha ekstra untuk melakukannya, salah satu langkah utamanya adalah menurunkan ego dalam menulis.agar nantinya tulisan dipahami oleh pembaca awam…

    Terpenting dan yang paling penting adalah mampu mengkombinasikan dalam.menulis saja bang..

    Ya setidaknya inter pun harus mampu memiliki kombinasi.variasi taktik yg berbeda,tidak terpaku dengan 4-2-3-1 sesekali berilah pendamping buat Icardi di depan.. Misal 4-3-3 dengan perisic di kiri dan candreva di kanan, icardi di tengah…

    ^^

  4. Hehhehehee….iya iya iya, tapi memang tulisan mas Andika bagus mas, hahaa…Males sih bilangnya, tapi aku memang suka :D, pemilihan katanya pas.

    Tapi karena mas Andika maunya dikritik, oklah, “tulisanmu jelek”

    hahahhaaa

  5. Sebenarnya kita harus berhati-hati terhadap pujian karena itu, membuat kita terlena. Tp, kalau untuk tulisan Mas Dika, bukan kapasitas saya untuk mengkritik tulisan Mas Dika jelek, karena kemampuan saya masih di bawah Mas Dika dalam hal penulisan.

  6. Pas baca yang tulisan hanya dibaca segelintir orang itu memang niatnya tulisan narget banyak pembaca atau sekadar nulis aja? Soalnya kan pasti nanti beda.

    Saya kira diksi bang Dhika memang sudah alami, ternyata memikirkan sedemikian rupa jadi saya pikir ciri khas sih. Palingan sih selama baca di blog ini, semuanya rasanya sama, tulisaanya seakan ada perasaan ketika dibaca. Mungkin bisa membuat tema lain dengan gaya bahasa apa adanya biar nggak jenuh.

  7. Mas Dhikanya nyaman gak nulis gaya dg gaya itu? Diksi yg em, beda

    Kalau aku sih nyaman dg tulisan biasa, bahasa sederhana yg byk dimengerti orang. Kadang sih pakai diksi lain tapi itu pas buat fiksi. Aku orgnya malas mikir sih. Jadi ya sesuaiin aja sama yg aku bisa

    Model eufemisme itu kurang cocok diaku

  8. Kembali ke gaya penulisan juga sih. Terkadang saya menulis penuh diksi untuk kebutuhan tertentu, semisal majalah atau koran yang editornya serem beudh… seneng juga sih, sekalian belajar Bahasa Indonesia lagi dan buka kamus. Tapi untuk blog, saya nulisnya yang sederhana aja supaya pembaca ngga mengernyitkan kening hehehhe

  9. Selera sih Mas Dhika, ini masalah selera menurutku. Aku yang memang suka membaca tulisan rapi (paraghraf, bahasa, diksi, makna, dll) ya enggak bisa bohong kalau memang suka dengan tulisan Mas Dhika.

    Kritik? Mungkin Mas Dhika harus lebih sering nulis dan berbagi biar aku bisa lebih kenyang menikmati sajian diksi yang lezat di sini.

  10. Saya masih menilai tulisan sy biasa aja. Apalagi yg ditulis dlm keadaan dikejar deadline hahaha

    Tp msh terus belajar.
    Tp ga mau jg menjudge tulisan org lain

  11. Semua kekurangan yang tak terlihat oleh kami (pembaca) pasti mas sendiri yg tahu. Itu mah memang sudah ketentuan alam demikian. Akan tetapi sperti kami para pembaca pasti atau mugkin standar tulisan yg pernah kami baca di blog teman2 blogger lainnya di bawah standar tulisan a mas. Maka a kami berani dan pede blang tulisan mas dgn pujian. Bagus ..

write your comment / request below

Yang lainnya dari Blog

Panggilan Video

“Permisi!” Malam yang teduh. Bintang entah disembunyikan oleh siapa. Awan atau gelap.

Berhenti Menyukai Dilan

Di masa-masa sekolah waktu itu saya, oleh teman-teman, diperkenalkan kepada suatu band

Pasir Hisap

Populasi adalah sekumpulan individu dengan ciri-ciri sama (satu spesies yang sama) yang

Bangku Kosong

“Loh, sendirian aja, Mas?” seorang pramusaji, sembari memberikan daftar menu, bertanya dengan
Go to Top