Cinta Seorang Hina

oleh

Tak pernah ada yang dapat mengalahkan gempitanya pasar yang bertransaksi. Suara ibu menawar yang lantang hanya dapat dikalahkan oleh suara ibu yang lain yang menolak tawaran. Sebuah negosiasi yang disepakati dengan tanda jadi. Abang-abang yang menjaja barang tak sudi kalah dalam riuh rendah. Ia mencoba menarik hati ibu lain yang masih menimbang-nimbang hendak makan apa nanti malam. Sekali dua mereka saling bercerita, menjadi mitra terbaik bagi para ibu untuk mengumbar dosa melalui kata. Aku memperhatikannya, dengan satu buah gitar tua di tangan, yang terbengkalai tanpa guna. Aku berbalik arah, langkahku gontai, tak sanggup mengalahkan keramaian pasar. Di belakang, para pedagang tertawa girang, sudah banyak uang yang mereka bisa bawa pulang.

“Sudah makan?”

Aku yang sedang melamun dibuat kaget oleh suara Juki, temanku mencari uang. Ketika di tempat sembarang aku menyanyikan satu-dua lagu terpaksa, dengan iringan gitar tentu saja, Juki di dekatku dengan setia menabuh gendang. Memadukan dua bentuk suara yang berbeda menjadi sebuah harmoni sumbang. Paling tidak, dari situlah kami mencari uang.

Aku menggeleng. “Enggak ada yang mau dengar aku nyanyi di pasar. Bukan ide yang bagus buat pengamen macam kita cari uang di sana”. Aku memperlihatkan plastik bekas kemasan permen yang dilipat. Dengan itulah aku biasanya menghampiri orang yang sudi menderma setelah, tentu saja, mendengar aku dan Juki bernyanyi. Itu biasa aku lakukan setelah Juki berpidato asal tentang belas kasihan, tentang pembelaan bahwasanya mengamen jauh lebih baik ketimbang mencuri atau omong kosong lain yang kiranya dapat membuat orang-orang di sekitar merogoh sakunya, mengambil satu-dua lembar recehan sebagai tiket usiran biar kami lekas pergi.

Aku melompat, duduk di atas bata pembatas. Mengambil gitar, kupetik dengan nada dasar yang kukuasai dan melantun begitu saja Miss You dari 4Tune.

“Tahik, masih aja” Juki mengejek. Teman oleh Tuhan memang diciptakan untuk menguatkan. Meskipun terkadang proses penguatan itu hadir dalam bentuk ejekan.

Aku mengangkat bahu, mengabaikannya, melanjutkan lagu yang kumainkan. Beberapa bait dalam reffrain kunyanyikan dengan pengkhayatan berlipat ganda. Kau dengar lagu ini, Allena?

***

“Halo, Bang. Maaf ganggu, nih, aku mau tanya-tanya sebentar, boleh?” di suatu sore di halte bus antarkota, seorang gadis dengan balutan blue jeans ketat dipadupadankan dengan kaus putih bergambar Doraemon datang mendekat. Jaket almamater yang menutupi bagian atas badannya menunjukan dari mana ia berasal. Rambutnya diikat ke belakang, wajahnya yang tidak dipoles riasan semakin memperlihatkan kecantikannya yang sederhana, namun luar biasa.

“Bang, halo” ia mengibaskan sebelah tangannya, memastikan lawan bicaranya ada.

“Eh, iya. Maaf” aku mematikan batangan kretek yang sedang kuhisap, berdiri. “Gimana?” tanyaku.

Menurut ceritanya, ia adalah seorang mahasiswi asal ibukota yang sedang melakukan penelitian untuk tugas akhir. ‘Kehidupan seniman jalanan’ menjadi tajuk yang ia pilih. Kemudian ia menjelaskan banyak hal. Tentang konsep, metoda penelitian dan apalah entah yang tidak aku paham. “Tidak masalah,” kujawab ketika ia meminta izin untuk bertemu kembali besok lusa. “Kamu bisa mencariku di sini setiap sore. Aku tidak akan jauh. Maksudku, pengamen punya daerah kekuasaan sendiri, kan?” aku tertawa, mengajaknya sedikit bercanda. Ia mengangguk, percakapan sore itu selesai setelah dua tiga kalimat perpisahan, dengan sedikit janji jumpa esok lusa.

Dan ia membayar janjinya: datang membawa banyak sekali pertanyaan. Ia bertanya serupa pramuacara kuis-kuis berhadiah rupiah, mengizinkan aku untuk menunda jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang, menurutku, sulit. “Pas,” kataku “silakan pertanyaan berikutnya”. Ia mengangguk, dan kami tertawa bersama.

Dua atau tiga hari dalam sepekan, mendekatkan kami lebih dari sekadar pewawancara dengan narasumbernya. Kami tidak lagi duduk terpaku di pelataran halte. Sesekali, kami beranjak ke warung es kelapa di ujung jalan, atau bakso, atau sate, atau apapun lah yang kiranya dapat mengisi kekosongan yang kadang muncul di antara kami. Terkadang ia datang membawa teman, aku mengajak Juki juga setiap waktu itu. Dua tiga hari dalam sepekan itu tak lagi hanya sekadar penelitian. Lebih dari itu, kami membicarakan banyak hal. Tidak terlalu intim, namun cukup untuk kami saling mengenal satu sama lain.

 “Bisa bawain lagu ini?” ia menyodorkan earphone yang tersambung dengan ipod miliknya.

“Tidak terlalu sulit,” aku mengambil nada, menyesuaikan dengan irama lagu yang sedang kudengar.  “Kamu yang nyanyi, ya” aku memintanya setelah memastikan nada yang kuambil sesuai.

“Enggak, ah. Kamu aja”

“Loh, kenapa? Aku enggak tahu lagunya, kan”

“Aku enggak mau diketawain sama kamu cuma karena suaraku jelek,” ia merobek salah satu halaman pada bukunya, barisan bait lirik dari lagu yang sedang kami dengarkan, “Ini. Nyanyiin buat aku, ya”.

Sumber gambar: freepik.com dengan beberapa modifikasi

“Tolol!” Juki berkata kasar.

Malam hari dengan segelas kopi hitam pekat di pelataran teras kamar kos yang kami sewa. Nyamuk-nyamuk menari ketika aku bercerita tentang Allea kepada Juki. Tentang apa yang biasa ia tanyakan di masa-masa penelitian, atau bahasan lain di luar itu. Tentang lagu kesukaannya, tentang bagian-bagian lirik yang ia minta aku menyanyikannya berulang-ulang, tentang ia yang setelah sekian lama tak lagi berkunjung datang, tentang aku merindukan masa-masa itu. Dan tentang aku, yang tampaknya, berhasil ia buat jatuh hati.

“Enggak ada apa-apa di antara kalian berdua, dan enggak akan ada apa-apa. Dengan kalian dekat, ngobrol panjang lebar inilah, itulah, bukan berarti bakal ada apa-apa di antara kalian!” Juki bersemangat untuk menarikku kembali ke dalam realitas.

“Ngaca! Lihat kamu siapa!? Dia siapa!?” Juki memelototi aku dari atas sampai bawah, utuh. “Hidup enggak semudah dan semenyenangkan kaya cerita di teve-teve sialan itu. ‘Kisah Cinta Pengamen dekil dengan Mahasiswi Ibukota’, alah, tahik kucing” kedua telapak tangan Juki membentang saling menjauh, membentuk tabir imaji, kemudian sebelah tangannya berkibas, dengan tambahan ‘puh’ diujung kalimatnya. Aku tersinggung.

“Kamu enggak tahu aja, kalau kita berdua udah ngobrol kaya apa, Juk. Apa aja yang kita obrolin. Ah, iya. Dia pernah bilang kalau dia nyaman banget dekat sama aku. Maksudku, enggak cuma sekali dua dia bilang kaya gitu.” Aku tetap gigih berusaha menjauhi realitas yang Juki gambarkan, bersikukuh dengan perasaanku yang tampak nanar. Ada sedikit keraguan dalam kalimatku. Namun, layaknya para pejatuh cinta, batas-batas logika memang kerap dipersetankan, bukan?

“Masa iya gak ada sedikitpun ‘apa-apa’, sih, dari dia buat aku?” aku melanjutkan dengan suara yang hanya dapat didengar oleh kedua telingaku sendiri.

“Jadi gini, Jagoan” Juki mengeluarkan satu batang kretek dari bungkusnya, menyalakannya. Dengan asap yang masih mengepul, ia berbicara dengan nada yang lebih serius.

“Penulis cerita di teve-teve itu bebas saja menuliskan kisah cinta tidak masuk akal antara pengamen dan orang atas. Boleh jadi itu untuk menarik minat penonton, memberikan rasa iba dan simpati. Kenyatannya? Cinta tidak bisa dibentuk dari rasa iba, kan? Apa jadinya jika sebuah hubungan didasari oleh belas kasihan. Allena? Ia bahkan belum tahap untuk mengasihanimu. Menyukai kamu? Apalagi. Dia bilang kamu bisa bikin dia nyaman? Iya, itu kata yang harus dia ucapkan agar kamu juga merasa nyaman. Biar kamu menjawab semua hal yang ia butuhkan untuk penelitian. Pernah dia datang buat bahas selain penelitian? Enggak, kan? Kamu sadar itu. Dan kamu tidak bodoh. Hanya, untuk urusan ini kamu malas untuk jadi pintar”.

Juki benar-benar serius dengan perkataannya. Ia menjelaskan semuanya hanya dengan satu-dua tarikan nafas. Kalimatnya mengalir begitu saja tanpa sedikitpun makian. Rokoknya? Ia biarkan terbakar tanpa sekalipun ia hisap.

“Lagu-lagu yang dia minta kamu nyanyikan pun hanya salah satu caranya untuk membuatmu merasa penting. Kemudian meninggikan dia, dengan cara bernyanyi karena hanya itu yang kamu bisa kasih ke dia, kan? Kemudian menyanjungnya, membiarkan momen-momen yang sulit kamu lupakan terjadi. Kemudian dia pergi meninggalkan kamu dengan ikatan yang kosong. Rasa yang kamu anggap ada, padahal enggak. Yah, hal yang biasa dilakukan sama perempuan yang merasa dirinya cantik. Maksudku, aku enggak tahu kalau Allena merasa dirinya cantik, ya”.

“Aku enggak paham apa yang kamu omongin,” aku menggaruk kepala yang tidak gatal, “maksudnya gimana, sih?”

“Intinya,” dengan rokok yang ia kembali ia hisap, “Kita hidup di zaman pengotak-kotakan berdasarkan status, kehidupan sosial, derajat, pendidikan dan tahik kucing lainnya. Jangan coba rusak sistem yang sudah susah payah dibuat sama manusia. Percuma. Banyak aturan yang gak bisa kita tembus. Biarkan si kaya mencintai si kaya yang lain, si pintar dengan pintar yang lain. Biarkan mereka hidup dengan dogma yang mereka buat sendiri. Untuk banyak dari mereka, kita boleh jadi dianggap hina. Tapi kita juga boleh kok jatuh cinta. Asalkan, ya kita ikuti sistem brengsek itu, kita mencintai orang di kelas yang sama. Sampai sini, kamu paham?”

Aku mengangguk. Lebih kumengerti dibanding sebelumnya. Meski lebih cenderung malas untuk mendengar Juki berfilsafat lebih banyak.

“Kamu tahu banyak tentang hal seperti ini, Juk. Kamu pernah jatuh cinta?” yang ditanya tidak menjawab, asik bersenandung dan menghabiskan kreteknya yang masih tersisa.

“Juk…” aku memanggilnya. Ia jawab dengan kepala yang menengadah, sebentar.

“Terima kasih. Tapi, dipikir-pikir. Aku masih merindukan Allena”

“Anjing…”

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

23 Comments

  1. Kok dsink aku malah fokus ke tokoh juki ya mas, dari omongannya seolah dia ngerti bahasa bangku sekolahan atau minimal pengamat politik. Mengkotak-kotakan status,dogma, si kaya dan si pintar . Ini juki beneran pengame ?

  2. Hmm,katanya mantaffff tapi dibagian awal ceritany saja. Namun ketika masuk ke dialog, ane langsung keluar dgn sndiriny akibat kata2 kasar. Karena kata kasar itu mengingatkan aku pada masa laluku saat tnggal bersama paman.

  3. benar, cinta itu tidak selalu seindah film-film FTV hehe, menyekitkan tapi fakta

    ngomong-ngomong mas, ini blognya mas dika banyak ya? perasaan kemarin pernah baca tulisan penulisnya mas dika tapi blognya bukan ini deh

  4. Para pejatuh cinta seperti ‘aku’ ini, ketika patah hati akan merasakan proses denial yang lama. Logikanya mandeg, berbanding terbalik dengan perasaan yang berkuasa.

    Good job cerpennya Kakak 😊

  5. Pejatuh cinta seperti ‘aku’ ini akan mengalami proses denial yang lama. Logika mandeg, berbanding terbalik dengan perasaan yang berkuasa.

    Good job cerpennya Kakak 😀

  6. Ga tau kenapa berasa kaya ditonjok abis baca kutipan “Hidup enggak semudah dan semenyenangkan kaya cerita di teve-teve sialan itu.” Soalnya memang ada benernya juga sih. Hidup itu emang ga sesempurna itu hehehe

  7. Pantesan saja Juki pandai berfilsafat tentang cinta yang terkotak-kotakkan. Dia masuk ke perangkap itu juga. wkwkwk

    Ya kali aja jodoh…. kan bisa kawin lari jika restu ortu tidak didapat (Komentar yang buruk. wkwkwk)

    Btw, makin ringan cara penyampaiannya. aku suka.. aku suka…. Tinggal bungkus jadi buku nih

  8. Juki ini pengamen yang cerdas, aau orang cerdas yang menyamar jadi pengamen? 😀

    Iya, nih, dialog aku-kamu terlalu kaku jika digunakan sebagai percakapan antar pengamen.

    Btw, aku menikmati penyampaian cerpen ini. Enggak se-nyastra cerpen-cerpen yang lalu
    Hihihi

  9. Kak Uchaaaa….. kenalan dong ama cewe pake jeans ketat pake baju doraeman ama kecantikan yang terpancar sederhana. Kayanya klo dijadikan gandengan makan malam minggu bakalan seru nih.

    Suh geregetan ngebayanginnya. Kira kira suka makan apanya si dia?

  10. Emang begitu ya kehidupan para penggamen jalanan, bahasa mereka itu loh kadang bikin kupingku berdenging.. Semacam anj* ng, to* ol aku sering dengar kalau pas melintas di terminal bus blok *. Berarti setting cerpen ini udah pas banget, mengadaptasi yang memang sering terjadi di lapangan sehari harinya.

  11. Obrolan yang sering saya dengar dari sesama pengamen. Kata-kata kasar, keras dan cuek. Tapi yang namanya cinta, gak memandang pengkotak-kotakkan, deh! Banyak juga dari kalangan atas yang berjodoh dengan kalangan bawah atau kalangan menengah. Karena faktanya gak hanya kayak di FTV aja. Ada yang benar-benar terjadi, pernikahan beda kalangan. Jadi..jangan menyerah !!

  12. Aku pikir juga setuju dengan Juki, sebagaian besar memang realitas seperti itu. Tapi kalau pengamennya adalah Allena dan mahsiswanya adalah..

    Mungkin saja.

    Sebentar! bukannya “Tidak ada yg tidak mungkin, yah?”

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Ruang Hati

Bagaimana jika kita memulainya dengan satu cerita lucu. Waktu aku, dengan wajah

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang

Kotaku di Waktu itu

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda
Go to Top