Sebelum Nonton

oleh

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya tidak bisa menulis. Beberapa diantaranya adalah tentang sesuatu hal yang saya sukai dan atau sesuatu yang saya prioritaskan. Meski akhirnya sama, membuat ide-ide yang ada di kepala tertunda untuk saya tuangkan ke dalam tulisan. Atau malah, yang lebih parah, tidak pernah ditulis sama sekali. Namun pada tulisan tersebut ada satu hal lain yang lupa saya sebutkan: menonton film. Ia memberikan pengaruh yang sama besarnya terhadap kemungkinan saya untuk tidak menulis.

Sebetulnya hubungan antara kebiasaan menonton film dengan kebiasaan menulis akan menghasilkan sesuatu yang kontradiktif. Di satu sisi, waktu yang saya habiskan untuk menonton film akan sangat memengaruhi waktu saya untuk menulis. Tentu saja, saya tidak bisa menulis sambil menonton film, bukan? Juga sebaliknya, saya tidak bisa menonton film sambil menulis. Saya yang telah membuat sebuah komitmen pribadi, tentang bagaimana saya harus membagi waktu, tidak bisa mengambil terlalu banyak waktu yang lain untuk kesenangan yang saya dapat dari sebuah kebiasaan pribadi. Pada waktu-waktu tersebut saya harus memilih antara menulis atau menonton film atau hal-hal lain yang diantaranya sudah saya sebutkan pada tulisan sebelumnya.

Dan di sisi yang lain, kebiasaan menonton film pun dapat memberikan ide baru untuk saya tuangkan ke dalam tulisan. Terlebih ketika saya menemukan film dengan kualitas cerita yang baik. Sejauh ini sudah ada beberapa tulisan saya yang terinspirasi dari sebuah film. Dan bahkan ada beberapa film yang sempat saya ulas dalam bentuk tulisan. Seperti misalnya: Zootopia, Sabtu Bersama Bapak, dan film serial 13 Reasons Why. Data menunjukan ulasan tersebut memberikan hasil yang cukup baik untuk perjalanan blog ini. Setidaknya tulisan tersebut menyedot cukup banyak orang untuk berkunjung ke blog saya yang seringkali sepi ini.

Sampai di sini kemudian saya jadi tidak terlalu mempermasalahkan jika waktu saya menulis terpakai untuk menonton film. Bahkan, melihat data yang dihasilkan, rasa-rasanya saya merasa perlu dan ingin untuk mengulas lebih banyak film dalam bentuk tulisan. Karena, toh, kemungkinan mendatangkan pembaca lebih banyak, kan?

Tapi permasalahan baru muncul bersamaan dengan keinginan tersebut. Jika nantinya saya lebih banyak menulis tentang film, akan jadi seperti apa blog ini? Blog khusus film? Saya tidak pernah memiliki cita-cita untuk menentukan satu kategori khusus untuk blog ini. Menulis lebih banyak tentang hal lain ketimbang tulisan tentang film? Astaga, membuat satu tulisan setiap satu minggu saja sudah menjadi prestasi yang luar biasa untuk saya pribadi. Membuat blog baru dengan kategori film?

Demi alasan membuat blog utama tetap seperti sediakala yang tidak memiliki kategori khusus, Saya sempat memikirkan kemungkinan terakhir untuk menuangkan tulisan-tulisan tentang film di sebuah media yang baru, dalam hal ini: blog baru. Tapi amat bodoh tampaknya jika saya memiliki dua blog untuk kemudian saya biarkan sepi, tanpa pernah diisi apalagi dibagi. Maka keputusan untuk memiliki blog khusus yang berisi tentang film harus saya tun… tunggu sebentar.

Ada beberapa orang teman yang memiliki kebiasaan sama, menonton film dan menulis, yang juga memiliki keresahan yang sama tentang blog dengan kategori khusus dan keinginan untuk menulis ulasan film. Dalam sebuah percakapan yang tidak disengaja akhirnya saya dan beberapa orang teman itu memutuskan untuk melakukan kemungkinan terakhir yang disebutkan tadi: membuat satu blog khusus film, bersama-sama.

Seperti biasa di setiap kali hal baru dibuat, dan ada, yang pertama kali dipermasalahkan oleh umat manusia adalah: nama. Dan kami sudah repot-repot memikirkan hal itu bahkan sebelum wujud blog film tersebut ada. Konsep akan seperti apa blog itu nantinya saja masih belum kami pikirkan. Yang penting satu: nama. Blog baru itu harus memiliki nama agar setidaknya saat berdiskusi ketika masa persiapan kami mudah untuk mengucapkannya. Tidak elok tampaknya jika sepanjang diskusi kami harus selalu menyebut ‘blog film yang belum punya nama’ terus-terusan. Ribet? Iya, memang. Sialan betul orang-orang itu. Tapi untungnya proses pemilihan nama itu tidak memakan waktu terlalu lama, hanya sekitar satu atau dua hari sampai kami benar-benar mantap untuk memberi nama blog film itu. Dari beberapa  Sebelum Nonton adalah nama yang akhirnya kami pilih.

Bersamaan dengan nama yang telah ditentukan, tema tentang konsep blog itu pun datang dengan sendirinya. Sederhana saja sebetulnya: Sebelum Nonton (SN) akan berisi ulasan film belaka.

SN percaya bahwa film adalah sebuah bahasa yang luas yang oleh masing-masing orang akan ditonton, dinikmati dan dipahami dengan perspektif yang berbeda tergantung dari masing-masing orang tersebut. Oleh karena itu SN hadir untuk memberikan alternatif ide rujukan dan rekomendasi untuk Anda sebelum Anda memutuskan untuk menonton film. Tentu saja alternatif itu dibuat berdasarkan perspektif dari saya atau masing-masing penulis yang ada di SN.

Dan diikarenakan SN memiliki beberapa orang penulis, maka ulasan yang ada di SN pasti akan memiliki gaya, cara dan penyampaian yang berbeda yang (sekali lagi) tergantung dari masing-masing penulis yang ada di SN.

SN sadar betul bahwa tidak semua tempat di NKRI memiliki akses yang baik atau waktu yang banyak untuk menonton langsung di bioskop setiap kali film baru muncul. Beberapa dari penulis SN pun memiliki kendala yang sama (atau saya doang, ini?). Oleh karenanya tidak semua film baru akan kami tulis. Sebagai gantinya, boleh jadi kami akan mencoba mengulas film-film yang kami tonton dari layanan televisi berbayar, situs penyedia layanan streaming dan atau dari siaran televisi. Atau dari mana pun. Kami akan menulis yang kami tonton atau menonton yang ingin kami tulis. Tentu saja dengan catatan, ketika kami bisa menulis. Ingat tulisan saya tentang writer’s block, kan?

Untuk mencegah kemungkinan buruk itu datang, kemungkinan malas menulis itu, boleh jadi kedepannya SN akan membuka pintu lebar-lebar jika ada teman-teman narablog lain yang ingin mengulas sebuah film namun dihadapkan pada masalah serupa: blog dengan kategori khusus. Kami dengan senang hati akan menerima tulisan dari teman-teman.

Dan doakan saja Sebelum Nonton memiliki usia yang panjang dengan konten yang semakin baik di setiap tulisannya. Saran dan kritik tentu saja akan selalu kami butuhkan.

Akhir kata, ini lah dia:

Sebelumnonton.com

Catatan:

  • Boleh juga, loh, untuk mengikuti sosial media Sebelum Nonton. Kami bisa ditemukan di twitter dan instagram melalui akun @sebelumnonton_ *followersnya masih dikit, nih, bantu promosiin, ya*
  • Selain untuk perkenalan blog Sebelum Nonton, tulisan ini juga dapat berfungsi sebagai cambuk bilamana suatu saat nanti kami sudah terlalu malas menulis, untuk mengingatkan ada suatu hal yang harus kami urus dan kami pertahankan keberadaannya.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Kurang Piknik

Frasa ‘kurang piknik’ kerap digunakan untuk menandai orang-orang yang dianggap memiliki sensitivitas

Sepatu

Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita

Penulis Murah(an)

Beberapa waktu yang lalu, di twitter, saya mengunggah tangkapan layar dari sebuah

Dear Senor

Buenos dias, Senor! Bagaimana akhir pekan anda kemarin? Anda pasti sudah lebih tenang
Go to Top