Lingkaran Penulis Digital

oleh

Apa yang terjadi pada linimasa media sosial milik kita amat sangat dipengaruhi oleh lingkaran sosial tempat kita bernaung. Saya, sebagai contoh, pernah memiliki siklus linimasa yang melulu tentang sepak bola ketika saya masih aktif di sebuah komunitas pecinta salah satu klub sepak bola. Membosankan? Boleh jadi. Hampir di setiap waktu, tujuh hari dalam seminggu, apa yang berputar di dalam media sosial hanya lah tentang sepak bola. Dari mulai berita, hasil pertandingan, lelucon, atau apa pun selama bersinggungan dengan klub sepak bola tersebut. Saya lelah, tentu saja, oleh karenanya saya merasa harus mengubah atau setidaknya menambah hal-hal baru di dalam lingkaran sosial saya. Tentu saja tetap harus sesuai minat saya ketika itu. Dengan mempertimbangkan banyak hal, saya mulai mengikuti banyak sekali akun yang berhubungan dengan dunia tulis, bidang yang saya suka selain sepak bola. Dan paling mudah, menurut saya, adalah mengikuti akun-akun para penulis, dalam hal ini saya memilih mengikuti akun para penulis digital, narablog. Sudah lebih dari satu tahun semenjak saya memulainya. Lalu, apa yang terjadi kemudian?

Sebelumnya saya merasa perlu menjabarkan alasan saya memilih untuk mengikuti akun narablog yang notabene lebih banyak berkutat di dunia digital alih-alih mesti mengikuti penulis dunia cetak yang lebih memiliki nama. Sederhana saja alasannya, dengan mengikuti akun narablog secara tidak langsung saya dapat mengisi linimasa media sosial yang saya miliki dengan banyak sekali hal. Tergantung kategori blog yang dimiliki oleh para narablog yang saya ikuti. Dan berhasil. Linimasa saya sungguh bervariasi, tidak melulu hanya berisi satu bahasan monoton seperti ketika saya hanya berkutat di lingkaran sosial penyuka sepak bola.

Saya menjadi banyak sekali asupan bacaan tentang kuliner, misalnya, ketika saya mengikuti narablog yang memiliki kategori tersebut. Atau tentang sastra, atau tentang politik, keuangan dan banyak sekali hal-hal lain yang, saya pikir, amat sangat bermanfaat untuk saya. Itu baru berbicara tentang konten blog yang mereka milik, belum lagi ditambah dengan variasi linimasa tentang keseharian mereka yang lain yang dengan senang hati mereka bagikan di media sosial. Selamat tinggal linimasa yang membosankan.

Blog, bagaimanapun, adalah sebuah alternatif baca terbaik. Ketika saya merasa muak dengan informasi yang disajikan oleh media komersil, blog hadir sebagai oase atas busuknya informasi digital dewasa ini. Dengan mengikuti akun narablog, yang didalamnya tentu saja terdapat banyak sekali tautan tulisan milik mereka, saya tidak perlu dibuat repot untuk mencari alternatif baca di peramban digital. Selain menambah variasi linimasa, dengan apa yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ini juga menghemat waktu puluhan menit setiap harinya. Pilihan yang tidak buruk, bukan? Bahkan secara tidak langsung hal ini juga menambah motivasi saya untuk menulis, menghadirkan alternatif baca, dan linimasa, untuk mereka yang dengan lapang dada sudi untuk mengikuti akun media sosial milik saya.

Namun laiknya sebuah mata pisau yang dibuat dengan dua sisi berbeda, sebuah pilihan pun memiliki sisi baik dan buruk juga. Jika di awal mula perubahan lingkaran sosial itu saya merasakan hal-hal baik, sepeti yang telah saya sebutkan di atas, kali ini saya sedang berada dalam fase menghadapi sisi buruknya. Lambat laun rasa muak itu kembali menyeruak, pola yang sama namun dengan cara yang berbeda. Linimasa media sosial saya kembali menyebalkan.

Tautan-tauan kreatif hasil tulis digital di dalam blog mulai berkurang. Tak ada lagi variasi bacaan yang bisa saya dapatkan. Kategori-kategori menarik, yang sengaja mereka khususkan untuk blognya, kini hilang entah. Semua digantikan oleh suatu konten pariwara, yang hadir secara berkala, untuk merusak linimasa.

Saya akui hal ini terjadi bersamaan dengan popularitas dunia tulis digital yang semakin lama semakin berkembang. Tak sedikit dari narablog mendulang rupiah yang banyak dari tawaran-tawaran pariwara produk. Salah kah? Tidak juga, sudah menjadi hak masing-masing orang untuk memilih dari mana rezeki mereka berasal. Jika dunia tulis, yang kerapkali menjadi sebuah hobi, dapat menghasilkan uang. Kenapa tidak? Bahkan saya sendiri pernah beberapa kali mendapat tawaran untuk menulis satu-dua konten pariwara. Sedikit banyak hal itu turut membantu keberlangsungan blog ini juga.

Lalu kenapa saya sekarang ini saya merasa muak dengan konten pariwara tersebut? Mari saya luruskan. Di sini saya tidak bermaksud mencari masalah, atau mencari musuh. Tapi wahai para penulis digital, mari sama-sama kita perhatikan. Bertumpuknya tawaran-tawaran tersebut secara tidak langsung mematikan kreativitas kita sebagai penulis digital. Tenggat waktu yang seringkali sempit, ditambah persyaratan-persyaratan administrasi yang bejibun akan membuat kita mempersetankan kualitas konten dari tulisan yang kita buat. Sepakat? Jika sepakat, Anda boleh melanjutkan membaca tulisan ini, yang tampaknya akan menjadi salah satu tulisan terpanjang yang pernah saya buat. Jika tidak sepakat, silakan arahkan tetikus Anda ke pojok kanan peramban yang Anda miliki. Tanda silang merah di sana memiliki fungsi untuk menutup blog ini seketika.

Kembali lagi ke pokok bahasan sebelumnya.

Anda tidak salah baca ketika menemukan kalimat ‘mempersentakan kualitas konten’. Saya serius tentang itu. Sekali lagi, tenggat waktu yang sempit dan persyaratan administrasi seperti: minimal kata yang diharuskan, kata-kata kunci yang dibutuhkan, poin-poin yang harus disampaikan, atau hal-hal lain akan menghilangkan gaya bahasa yang biasa kita buat. Memang tidak semua narablog miskin kreativitas, meski menerima banyak tawaran konten pariwara masih ada beberapa narablog yang dapat mempertahankan kualitas kontennya. Bahkan, seringkali ia dapat menyamarkan sebuah konten pariwara dalam sebuah tulisan naratif. Untuk mereka ini, yang dapat mendulang rupiah tanpa perlu menurunkan kualitas dan gaya tulis yang, boleh jadi, menjadi harga diri sebagai seorang penulis, saya akan dengan senang hati berdiri tegak lalu kemudian memberikan tepuk tangan penuh penghargaan.

Tapi sayang sekali yang menjadi realitas adalah sebaliknya. Kita akan dengan sangat mudah menemukan pariwara dari produk yang sama hadir di beberapa blog yang berbeda namun dengan konten yang (nyaris) sama. Berita buruknya, jika dalam suatu waktu ada sepuluh atau dua puluh narablog yang mendapatkan tawaran yang sama, maka sebanyak itu juga lah kita akan menemukan konten blog yang (nyaris) sama. Sudah cukup? Belum, berita yang lebih buruk lagi, jika sepuluh atau dua puluh narablog itu berada dalam satu lingkaran yang sama dengan Anda. Seharusnya Anda merasakan dan memahami keresahan yang saya jabarkan dalam tulisan ini.

Dua kali saya menuliskan ‘konten blog yang (nyaris) sama’ pada paragraf sebelumnya. Maksud saya begini, banyak sekali tawaran pariwara hadir dengan naskah yang sudah disediakan oleh si empunya produk. Menerima kemudahan seperti ini, sebagaimana manusia, kita tentu saja tidak mau susah, bukan? Maka naskah itu lah yang kemudian terpublikasi sebagai sebuah konten tulis pada blog. Alih-alih menyunting total naskah yang diberikan –atau menggunakannya sebagai panduan tulis. Untuk menghindari duplikasi yang paripurna, beberapa diantaranya merasa cukup untuk menambah atau mengurangi satu dua kalimat belaka. Ya, sekadar untuk pembeda antara satu dengan yang lainnya.

Sampai sini, sudah merasakan keresahan yang sama? Dapat memaklumi bagaimana saya menjadi muak atas monotonnya konten blog dewasa ini?

“Ah, itu mungkin kamu salah pilih akun, coba kamu ikuti akun yang lain!”

Sekadar meluruskan kembali, sesuai judulnya tulisan ini hanya menyingung tentang lingkaran penulis digital belaka, tentang dan untuk mereka yang mendedikasikan sedikit waktunya untuk menulis pada blog. Saya tentu saja memiliki lingkaran lain di linimasa media sosial saya. Namun, sekali lagi ini tentang lingkaran penulis digital belaka, yang sekarang ini boleh jadi menyumbang porsi terbanyak di halaman linimasa saya. Dan ya, saya memang pernah berpikiran yang sama: “salah memilih akun untuk saya ikuti” yang kemudian membuat saya menambah lagi akun-akun narablog untuk saya ikuti. Namun, ternyata dunia tulis digital di negeri ini tidak seluas yang saya kira. Narablog baru yang saya ikuti, boleh jadi, ada dalam lingkaran narablog yang sudah saya ikuti sebelumnya. A beririsan dengan B, B beririsan dengan C, C beririsan dengan A, yang pada akhirnya hanya membuat saya terjebak dalam lingkaran kecil yang majemuk.

Dan isi blog yang sama dalam sebuah konten pariwara bukan lah hal terburuk yang ingin saya sampaikan di tulisan ini. Pada halaman berikutnya saya akan membahas yang lebih menyebalkan: ketika linimasa dihujani tagar atau konten pariwara. Sekali lagi, pada linimasa. Saya pertegas: PADA LINIMASA.

Meskipun sama-sama berada di halaman linimasa, jika sebuah konten pariwara dibuat pada blog sebagai media, dengan mengabaikan tautan blog yang dibagikan, saya bisa menghindari atau setidaknya mengurangi penderitaan seorang pembaca digital. Namun, jika konten pariwara itu hadir dalam sebuah cuitan pada twitter, atau pada feed Instagram, atau pada beranda Facebook? Sialan. Tulisan ini akan menjadi sangat-sangat panjang.

Catatan 1: Sudah saya sebutkan sebelumnya Anda memiliki hak penuh untuk menutup blog saya ini jika merasa terganggu atau malah tersinggung dengan tulisan ini. Jika masih bersedia membaca, silakan klik tautan di bawah ini.

Halaman dua: linimasa yang menjadi tong sampah berbagai produk

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

16 Comments

  1. Cari circle yang bukan blogger penting loh. Ini yang sedang saya lakukan di sosmed. Dan kalo update status ga melulu soal nulis dan blog. Gitu.

    Btw kok tim bolanya gak disebut Mas. Malu ya jadi supporter tim itu?

  2. share aja mas
    klo bagi saya, ngeblog itu seni. gimana sih klo orang seni itu berkarya
    berapapun uang, lomba, ato page views gak akan menjadi pemikiran buat alasan nulis
    bisa nulis dengan hasil terbaik, meski gak banyak dibaca ato blog gak terlalu terkenal, its ok, rasanya puas
    lambat laun, klo orang tau kualitas kita, tulisan kita bakal banyak yg ngangenin,
    cmiiw imho
    dan ijin share tulisannya
    matur thankyu

    • Sepakat. Sedikit banyak kita sependapat. Tapi ketika kita memutuskan untuk menulis pada blog dan membagikannya, secara tidak langsung kita meminta orang lain untuk membaca, kan?

      Keresahan saya, jika “meminta” seharusnya membuat sesuatu yg menyenangkan, kan? Konten pariwara masif, nirkreativitas, menurut saya jauh dr menyenangkan, sih.

  3. Hehehe … saya salah satu blogger yang mas tulis tuh.
    Maka dari itu, salah satu caranya adalah dengan mencari teman lagi yang bukan blogger mas.
    Kalo temen di timeline blogger semua ya muak juga, hehe.
    Biasanya saya selingi dengan me-like fanpage-fanpage lucu/komedi atau yang berbau nasihat agama.
    Saya juga bikin blog lagi yang khusus curhat. Jadi dibedakan blog mana yang isinya curhat dan isinya banyak konten iklan.

  4. iyasih kalau friendlist fb,twitter,instagram blogger semua, tidak ada tempat pelarian dari pariwara haha..

    pokoknya ngeblog ga seindah dulu CPC seret larinya ke blogpost, sama tagar-tagar kampret itu, mau gimana lagi realita…

  5. Penutupnya bagus sekali. 🙂

    Aku suka tulisan ini. Aku akan mengabaikan banyak typo-nya. Isi yang dituliskan di sini sesungguhnya mewakili apa yang aku rasakan juga. Aku blogging karena aku mencintai dunia tulis menulis sejak kecil. Hingga pada akhirnya aku tau bahwa tulisanku bisa membawa aku ke kehidupan yang lebih baik.

    Aku bersyukur aku menulis, mengenal blog khususnya. Tapi, aku resah. Sebab, idealisme dan realitas yang ada seperti berbenturan. Aku ingin tetap menjaga tulisanku dengan kekhasan yang mungkin gak khas banget, tapi di sisi lain aku membutuhkan uang untuk hidupku.

    Ini beneran, aku beberapa kali vakum hanya untuk memutar otak perihal keseimbangan ini. Hingga pada akhirnya, karena aku merasa aku gak sanggup membuat banyak tulisan di blog karena masih ada hal-hal lain yang harus atau ingin aku kerjakan, aku selalu berusaha membuat artikel yang soft selling (dengan label sponsored).

    Untuk media sosial, mungkin banyak yang mengenal aku pelit follow. Suka disindir. Suka dianu-anuin di grup. Tapi ya gak apa-apa. Aku hanya ingin tetap menjaga linimasaku. Ikut campaign pun, aku jarang RT punya orang kalo gak wajib. Aku tau itu nyampah ehehe. Kalo wajib pun… setelah selesai aku undo retweet hehehe jahat? Gapapa. Feel free to unfollow or block. Gitu aja.

    Maaf panjang wkwkwk.

  6. aku baca sampai selesai, tertarik dengan kecemasaan yang disebutkan di depan dan lega dech akhirnya. Sebagai pemilik blog, alasanku menulis blog bukan karena suka menulis sich, semua untuk merekam apa yang pernah aku lalui, itu awalnya, eee…keterusan dalam zona nyamannya memiliki blog.

  7. Kalau untuk media sosial Twitter, no komenlah. Di circle gue bersih dari tagar komersial. Setiap ada bloger yang dalam seminggu lebih dari tiga hari live twit mulu, gue mute atau unfoll. TL gue bersih dari kayak begituan. Yang malesin tuh Instagram pas produk susu. Semuanya promosi begitu. Dan bener, mereka saling beririsan. Wqwq. Mumpung waktu itu bulan puasa, gue juga bisa sekalian puasa main IG deh.

    Kalau soal blog, gue mah selalu mementingkan kenyamanan pembaca. Tulisan liputan acara sebisa mungkin enak dibaca dan ada gaya gue. Placement pun gue edit dulu. Pokoknya gue selalu punya prinsip demi menjaga idealisme. Yang haram macam situs judi dan togel, gue tolak. Nggak mau yang menyangkut politik dan agama. Pancasila kemarin aja gue gak ambil, gue takut dan merasa belum mengamalkan Pancasila dengan baik. 🙂

  8. Hmmm… so much emotion. (eh bener gak nih englishnya. haha)

    Buzzer ya… akhir-akhir ini harus diakui udah di tahap menganggu sih. Mereka kehilangan jati dirinya. Tapi gimana ya, kesempatan untuk dapat receh dari hal yang kita suka itu sesuatu banget. Zaman dulu mana ada orang dikasih uang buat ngetweet doang. Problemnya di buzzer sekarang adalah konten mereka yang sama persis. Hanya karena di breef nya gitu ya mereka bikinnya gitu juga, tak ada kreatifitas. Saya pun sering mengambil beberapa job yang receh banget, yah lumayan buat beli pulsa kan uangnya. Tapi kebanyakan post-post itu tidak saya share untuk berkali-kali karena kan dibayarnya cuma buat ngepost, bukan buat ngeshare. hahah bikin kotor timeline.

    Hmm abis baca ini jadi pengen nulis juga ah.. tentang keresahan.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Kurang Piknik

Frasa ‘kurang piknik’ kerap digunakan untuk menandai orang-orang yang dianggap memiliki sensitivitas

Sepatu

Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita

Penulis Murah(an)

Beberapa waktu yang lalu, di twitter, saya mengunggah tangkapan layar dari sebuah

Dear Senor

Buenos dias, Senor! Bagaimana akhir pekan anda kemarin? Anda pasti sudah lebih tenang
Go to Top