Surat Yang Terlambat Kukirim

oleh

Tarikan nafas dalam atas sebatang rokok dengan huruf berwarna merah dan hitam di muka bungkus nya, menjadi hal pertama yang menyentuh bibir ku. Sebotol whisky yang tak penuh sisa semalam di sisi kanan seperti sedang bersiap jika aku butuh tameng dari hembusan kejam angin Samudera Adriatic. Waktu di awal Juli ketika belum di mulai nya aktivitas rutin mengenai sepakbola begitu ku nikmati terutama di usia ku yang tak lagi muda. Aku tak perlu lagi sesibuk di masa lalu untuk menelpon atau menerima panggilan telepon dari banyak agen yang bahkan tak satu pun ku ingat nama nya yang dengan mulut manis nya menjajakan pemain atau mencoba merekrut pemain asuhan ku. Bulan ke tujuh selalu menjadi waktu dimana ular setan penghasut Hawa di Taman Eden hadir lagi dalam balutan setelan perlente demi keuntungan pribadi maupun keuntungan klub pembeli di kemudian hari.

Di bulan yang sama 20 tahun lalu, ketika aku pertama kali nya menginjakan kaki ku di Trigoria. Tempat yang berjarak sekitar 50 kilometer dari tempat bekerja ku di bulan Juli tahun sebelum nya. Namun sebenarnya bukan soal jarak yang membuat ku mengingat saat itu, tapi soal bagaimana kegaduhan yang tercipta setelah keputusan ku itu. Dari sebuah klub di ibukota yang pada akhirnya memberhentikan ku sebelum musim usai, aku lantas memutuskan untuk menerima pinangan dari klub yang juga dari kota yang sama. Aku masih ingat betul kali pertama aku memimpin latihan pra musim pertama di Trigoria. Para pemain sedang pemasanan memainkan bola dengan santai ketika aku sedang berbincang serius dengan asisten ku Ezio Sella. Di tengah perbincangan ku, aku sayup sayup mendengar beberapa pemain bersorak di selingi beberapa kali suara tepuk tangan. Aku menoleh ke satu sisi lapangan dan terlihat Antonio Chimenti sedang memungut bola dari dalam gawang lalu melemparkan bola tersebut ke bagian tengah sedikit di luar kotak penalti. Bola kemudian  di tendang melesat begitu kencang ke sudut kanan atas gawang dimana lagi lagi Chimenti terlihat bodoh karena hanya bisa terdiam melihat sepakan seperti itu.  “ lebih baik simpan tendangan mu itu untuk partai derby,anak muda… jangan hanya membuat ku tampak bodoh di sesi latihan.” Ujar Chimenti dengan nada bicara setengah berteriak. Sang penendang hanya melepas senyum kecil. Dengan rambut pendek yang terbelah di bagian tengah dan berwarna sedikit pirang, tambahan sebuah senyum kecil adalah visualisasi yang nyaris sempurna, pemuda berbakat nan rupawan khas Italia.

21 September 1997. Minggu sore yang masih agak terik di Olimpico. As Roma vs Lecce di pekan ketiga sekaligus partai kandang kedua di musim itu. Optimisme aku dan seluruh pemain ku sedang meninggi setelah di pekan pertama kami menang dan di pekan kedua kami mampu menahan tim yang hingga detik ini begitu ku benci, Juventus.  Pertandingan baru memasuki menit ke 3, ketika Cafu melepas umpan lambung ke area kotak penalti. Kau yang sebelumnya dalam posisi terkawal, secara cepat melepaskan diri dari penjagaan sekaligus dari perangkap offside. Bola kau kontrol sempurna dengan dada, sedetik kemudian kau berbalik dan sebelum bola jatuh ke tanah, kau melepaskan sebuah sepakan yang tak mampu terjangkau Fabrizio Lorieri. Kami unggul cepat dengan cara yang hebat. Sebuah gol berkelas yang hanya mampu tercipta dari pemain yang pandai memanfaatkan ruang dan mengkombinasikan nya dengan naluri mencetak gol yang tinggi. Gol mu itu juga adalah gol kandang perdana untuk  As Roma di musim itu. Apa yang kau lakukan dalam selebrasi setelah mencetak gol itu, sebenarnya tak ubah nya sebuah ekspresi dari betapa hari itu adalah hari di mana kau layak di tahbiskan sebagai pangeran baru ibu kota.

10 November 1997. Stadio Ennio Tardini. Kami datang dengan sedikit beban karena di pekan sebelum nya kami hanya mampu bermain imbang menghadapi Vicenza di Olimpico. Terlebih lagi, saat itu aku ingat betul, Parma adalah tim yang di gadang gadang akan mampu berprestasi dengan skuad yang di miliki di tambah polesan pelatih bertangan dingin dalam diri Carlo Ancelotti. Menit ke 8, Eusebio Di Francesco menerima bola di tengah lapangan, tanpa berpikir lama, ia melepaskan umpan lambung ke sepertiga wilayah Parma. Kau lagi lagi memanfaatkan ruang yang menganga di antara bek Parma untuk berlari melepaskan diri dari jebakan offside sekaligus mengejar umpan Di Francesco. Setelah bola kau kuasai dengan sempurna, kau membawa nya sedikit ke dalam kotak penalti. Sesaat sebelum kiper lawan menutup ruang tembak mu, kau melepaskan sepakan terukur yang langsung masuk ke gawang Parma. Kami lagi lagi unggul cepat dengan cara yang juga berkelas. Kecerdasan mu dalam membaca arah permainan dan memanfaatkan ruang semakin terlihat di partai itu. Ketenangan dan naluri mencetak gol mu pun tak perlu di ragukan, karena hari itu kau dengan tenang mengeksekusi peluang dengan sempurna meski menghadapi kiper paling berbakat seantero Italia yang hari ini sudah layak di labeli legenda. Ya, gol mu hari itu adalah gol pertama mu ke gawang Gianluigi Buffon.

Tahun pertama ku bersama mu di musim 1997-1998 di akhiri dengan tidak terlalu istimewa. Kami berada di peringkat 4 klasemen Serie A. Di atas Fiorentina, Milan dan tentu saja sang rival abadi, Lazio. Ada kebanggan yang menyeruak ketika aku tahu tim yang ku latih saat itu berada di peringkat yang lebih  baik dari tim yang memecat ku di musim sebelum nya. Jika ada hal yang membuatku gusar kala itu ialah, aku dan tim ku beserta diri mu selalu kalah di derby ibukota.

30 November 1998. Derby pertama di musim kedua ku. Lazio vs Roma. Kami sedang tidak dalam kondisi yang stabil sebagai sebuah tim. Di dua pekan sebelum nya kami mampu melumat Juventus dengan dua gol tanpa balas, namun sesudah itu kami hanya mampu bermain imbang melawan Bari. Bahkan nyaris kalah jika saja diri mu gagal mengeksekusi penalti dengan sempurna 7 menit jelang berakhir nya pertandingan. Seperti biasanya, derby hari itu berjalan begitu keras. Benturan demi benturan hingga tebasan menjurus kasar mewarnai jalan nya laga sejak menit pertama. Memasuki menit ke 24, Pierre Wome berlari cepat di sisi kiri setelah menerima umpan menyusur tanah dari tengah lapangan. Melihat Marco Delvecchio tanpa pengawalan di area kotak penalti, Wome dengan segera menyodorkan bola mendatar tanpa mampu di hadang Paolo Negro. Delevecchio lebih cepat dari Marchegiani dalam menjangkau bola yang lantas menjadikan kami unggul sementara 1-0 atas Lazio. Selain tensi tinggi dan permainan yang keras, derby ibukota selalu mampu menampilkan magis sepakbola yang kadang sulit di terima logika. Itu yang kemudian terjadi selepas gol Delvecchio. Lazio seperti terlecut untuk membalas gol itu dan membuat pertandingan tidak berjalan mudah bagi kami. Roberto Mancini mencetak dua gol di tambah satu gol dari Marcelo Salas lewat sepakan penalti yang membuat skor berbalik 3-1 untuk Lazio. Sven Goran Eriksson tersenyum dengan keunggulan itu. Senyum yang bisa di maknai keji dan jahat bagi ku karena saat itu tim ku tertinggal dua gol dengan hanya 10 pemain di atas lapangan setelah Fabio Petruzzi di usir wasit di menit ke 65. “audaces fortuna iuvat” adalah sebuah kutipan dari salah satu karya Virgil sang pujangga besar Roma yang kira kira bermakna, “nasib baik menolong mereka yang berani”. Kau hari itu sangat berani bagi ku, dengan kerah jersey mu yang sengaja kau naik kan dan ban kapten putih yang melingkar di lengan kiri mu, kau tidak gentar menghadapi kerasnya partai derby dan segala macam teror dari pemain lawan. Keberanian mu terpampang makin jelas ketika di menit ke 78, kau melakukan sebuah gerakan cerdik yang mampu mengecoh Paolo Negro lalu kemudian mengirimkan umpan datar ke area tengah di dalam kotak penalti untuk di selesaikan oleh Eusebio Di Francesco. 3-2 dan tekanan besar menyapa Lazio. Lalu tiba lah momen bersejarah itu. Di awali dari Delvecchio yang berhasil memenangkan duel dan menyodorkan bola kepada mu, kau dengan tenang menceploskan bola pelan namun tak terbendung. Tendangan mu malam itu tidak sekeras yang pernah kau tunjukan pada ku, Chimenti dan seluruh tim di Trigoria. Namun aku menyadari gol itu berarti 2 hal, yang pertama adalah gol mu menyelamatkan kami dari kekalahan dan yang kedua adalah, gol mu itu adalah tonggak awal dari sebuah idiom “vi ho purgato ancora” yang begitu di benci Laziale.

3 kejadian di atas adalah contoh kecil dari banyak nya hal hebat yang kau lakukan ketika kau di bawah asuhan ku dan ketika kau di latih oleh pelatih lain. Aku bisa saja menulisakn lebih banyak momen momen hebat diri mu, namun berapapun banyak nya hal yang ku ingat tentang apa yang pernah kau lalui semua akan sama saja, semua akan berisi puja puji soal kau dan kehebatan mu. Kemampuan mu yang sejak di usia dini tumbuh dan terasah di jalanan sempit Via Vertulonia di selatan basilika, entah mengapa bagi ku pribadi adalah representasi sebenar-benarnya bagaimana seorang pesepakbola bisa di katakan sempurna. Kau yang sejak di tim junior sudah berhasil memukau deretan pelatih dengan cara bermain mu sebagai gelandang serang , nyata nya tidak mempengaruhi sedikitpun kehebatan mu ketika di bawah asuhan ku, kau ku tempatkan di sisi kiri dengan pola tiga penyerang di depan. Lalu seiring berjalan nya waktu,  ketika pada akhirnya oleh Spaletti  kau di tempatkan sebagai penyerang tengah , kau malah memodifikasi peran tersebut sesuai keinginan mu, sesuai fantasi mu. Dan dengan yakin aku berani berpendapat, tak ada pemain lain di dunia ini yang bisa memainkan peran sebagai fantasista sehebat diri mu, mendekati pun tidak.

Menjadi berbeda di tengah keseragaman bukanlah hal yang mudah untuk terus di lakukan. Kau tahu, sejak kemunculan ku di sepakbola Italia hingga kemudian aku melatih mu dan bahkan hingga hari ini, aku tetaplah seorang pelatih yang masih saja berpegang teguh pada pola 4-3-3 menyerang ala diri ku. Pujian yang jumlahnya tak lebih banyak dari cibiran para pengamat dan media sama sekali tak membuat ku merubah apa yang menjadi kecintaan ku. Kau pun demikian, terus bermain dengan seragam yang sama selama 20 tahun lebih adalah kegilaan masif di era sepakbola modern dewasa ini. Industri dan kapitalisme di sepakbola sama sekali tak mempan merobohkan dinding yang kau dirikan atas nama cinta mu kepada klub dan kota Roma.

 

Lalu tiba lah hari itu. 28 Mei 2017. Aku hari itu berada di Artemio Franchi. 273 km dari Olimpico. Aku mendengar kabar bahwa  tiket di Olimpico terjual habis padahal hari itu As Roma hanya menghadapi Genoa.  Puluhan ribu orang berbondong bondong datang ke stadion yang entah kapan terakhir kali nya bisa terisi penuh. Semua karena diri mu. Semua karena ingin melihat mu bermain untuk terakhir nya, setelah beberapa hari sebelum nya kau mengumumkan bahwa tahun ini adalah tahun terakhir mu bermain sebagai pemain As Roma. Aku tahu, waktu tidak berputar ke kiri, waktu juga tak bisa di ingkari, maka aku pun tahu betul akan ada saat nya dimana dirimu pun harus berhenti. Rasanya baru kemarin momen ketika kau bercerita pada ku soal kau yang terlalu gembira di partai debut mu hingga membuat mu hanya menyentuh bola dua kali, atau cerita mu soal gol perdana mu untuk As Roma yang membuat mu di hadiahi sepeda gunung oleh paman mu, atau kelakar mu soal il vento di ponentino yang membuat Carlos Bianchi dengan bodoh nya mengultimatum Franco Sensi untuk memilih dirinya atau dirimu. Dan kita semua tahu, El Bozo lah yang di depak Sensi. Ah, waktu memang bisa menjadi begitu keparat untuk sebuah memori yang tak lantas pergi seiring berganti nya pagi.

Matahari mulai meninggi, rokok ke 10 ku hari ini pun sudah matikan sedari tadi. Hari itu, hari di mana kau membacakan surat perpisahan mu untuk semua yang hadir di Olimpico dan jutaan penggemar mu di seluruh dunia termasuk aku yang menyaksikan dari layar televisi di sebuah hotel di Firenze, adalah hari dimana sepakbola Italia mengalami tragedi. Tidak ada nama pemain Italia lain yang pantas berada di atas nama mu di dalam sejarah panjang sepakbola Italia. Aku tahu hari itu sungguh tidak mudah bagimu, aku juga tahu pada akhirnya kau pasti bisa menuruni tangga menuju kamar ganti dengan tegar meski dengan langkah yang berat. Dan satu lagi yang aku tahu adalah, aku harus berterima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan sebagai pemain sepakbola dan pribadi yang menyenangkan di luar lapangan.

Suatu hari nanti, para suporter As Roma akan bisa mengatakan, “ selama lebih dari 20 tahun saya melihat Totti bermain.” Aku yang juga seperti mereka akan menambahkan, “ saya bahkan menjadi pelatih nya dua kali…!!!”

Salam ku untuk Ilary Blasi, Christian, Chanel dan Isabel.

-Zdenek Zeman-

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang

Kotaku di Waktu itu

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda

Cerita Akhir Tahun

“Mau minum teh manis hangat, bageur?”. Senja yang sudah hilang sedari tadi
Go to Top