Di Bawah Normal

oleh

Saya akan dengan tegas menjawab: Indomie adalah salah satu hal terbaik yang pernah ditemukan oleh manusia. Dengan doa setulus hati, saya akan mendoakan penciptanya untuk mendapatkan tempat terbaik di kehidupan yang nanti. Bagaimana tidak, Indomie hadir dengan membawa manfaat yang teramat untuk umat. Ia menabrak batas-batas budaya, kesukuan dan juga bahkan agama. Ia sama sekali tak memedulikan status sosial penikmatnya, tak merasa perlu bertanya ‘siapa kamu, dari mana asalmu’ dan paling utama: ia akan selalu ada dan berlipat ganda. Dan separuh doa yang sama saya haturkan juga kepada manusia kurang kerjaan yang mengolah cabai atau cengek atau apa lah itu menjadi sebuah padanan yang menghasilkan rasa yang menawan: pedas. Campurkan keduanya, indomie dan pedas, maka sebagian surga dunia ada di genggaman kita.

Di tempat saya tinggal sekarang ini saya menemukan sumber kebahagiaan yang sederhana. Sebuah warung makan yang menyediakan kombinasi itu, indomie dan pedas, ditambah dengan racikan khas yang menggiurkan. Tak ayal saya sama sekali tak merasa rugi untuk menyempatkan diri ke sana setidaknya dua tiga kali dalam satu bulan. Malah, jika diizinkan untuk makan mie sepuas hati, saya tak keberatan juga untuk makan di sana setiap hari, sampai saya bosan.

Sekali dua saya juga mengajak teman untuk bersama-sama menikmati kebiasaan baru itu. Bahkan teman-teman dari istri saya juga pernah saya ajak. Sudah saya sebutkan tentang sebagian surga dunia? Karena alasan itulah saya merasa perlu untuk mengajak yang lainnya untuk makan di sana. Ke surga sebaiknya bersama-sama, kan? Namun dari situ muncul masalah baru. Kata mereka, surga tidak hanya satu. “Kamu harus nyoba ini”, “Di sana enak juga, loh”, “Ah, mending di situ”, “Kamu gak tahu tempatnya? Cupu”. Dan bisikan-bisikan halus lainnya bermunculan. Dari sekian nama dan nama tempat yang direkomendasikan ada satu nama yang paling banyak disebutkan. Di atas normal. Dan sialan, membuat saya penasaran.

Saya sibuk, seperti yang kita semua ketahui, oleh karenanya untuk pergi ke sana saya menunda hasrat yang cukup lama. Satuan minggu? Bulan? Tidak. Membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk saya menunda kesempatan makan di-yang mereka katakan-surga. Waktu yang cukup lama untuk memupuk rasa penasaran ke tingkatan di luar nalar. Yang, seharusnya, dapat membuat saya orgasme di kemudian waktu. Dan akhir pekan kemarin, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah kehidupan. Saya menjejak di tempat itu. Di atas normal.

Perlu kita ketahui bersama dan kita sepakati: ia memiliki banyak sekali kedai di berbagai kota-kota besar di tanah air. Yang saya kunjungi hanya salah satu kedai di ibukota provinsi. Yang akan saya tulis kemudian adalah pengalaman dan apa yang saya rasakan di salah satu kedai tersebut.

Gambar dari situs ‘mereka’ itu,

Sepanjang saya makan di tempat makan sejenis. Baru di tempat ini lah saya mendapatkan impresi yang baik. Maksud saya dari segi penampilan ruang. Untuk tempat makan penyedia mie instan, ia adalah salah satu yang terbaik. Dibalut dengan warna hitam sebagai warna utama ditambahkan dengan ornamen-ornamen klasik yang memesona. Hal seperti itu sudah cukup untuk membuat kita betah berlama-lama. Jangan lupakan juga kutipan-kutipan yang bisa kita ambil untuk kemudian kita tulis ulang di media sosial. Peduli setan dengan sumber yang kerap lupa untuk kita sebutkan.

Namun, hanya sebatas itu impresi baik yang saya dapatkan.

Saya melihat-lihat menu yang ditawarkan dengan membawa rasa penasaran yang sedemikian besar. Setelah beberapa kali membolak-balik halaman pada menu, saya memutuskan untuk memilih sajian yang bisa kalian tebak. Ya, indomie dan pedas, dengan tingkatan pedas tertinggi yang mereka tawarkan. Juga ditambah beberapa menu utama lain untuk istri dan anak saya, juga beberapa tambahan camilan. Harapan saya untuk merasakan ‘surga’ yang lain, seperti yang sering kali disebutkan oleh teman-teman saya dan banyak orang lainnya, sudah berada di tingkat tertinggi sebuah harap. Dan, sialnya, ternyata itu menjadi sebuah kesalahan yang besar. Ada sebuah nasihat bijak. Kecewa muncul dari harapan yang terlalu tinggi. Pesanan saya datang, dan saya kecewa luar biasa.

Perihal kecewa itu tentu saja tidak saya tujukan untuk Indomie. Ia sama sekali tidak pernah mengecewakan, bukan? Indomie yang saya makan di tempat itu tetap enak seperti biasanya. Namun yang menjadi masalah kemudian adalah, indomie yang saya makan ditempat itu rasanya sama seperti biasanya saya makan.  Terlalu sama dengan biasanya.

Maksud saya begini. Silakan Anda ke dapur sekarang. Ambil satu bungkus indomie, masak seperti biasanya. Jika ingin pedas, tambahkan beberapa potong cabai rawit. Di tempat itu ada beberapa alternatif menu kekinian, seperti tambahan topping keju, irisan daging atau lainnya. Tidak masalah, jika Anda mau, Anda dapat menambahkan topping­ tersebut pada semangkuk indomie yang telah Anda buat. Voila, Anda akan mendapatkan rasa yang sama dengan apa yang saya makan di tempat itu. Saya rasa mereka sama sekali tidak memiliki resep khusus seperti Mr. Krab pada Krabby Patty-nya. Hanya mencampur belaka suatu bentuk makan ke dalam indomie. Itu saja. Bersyukurlah, para kompetitor tidak mesti bersusah payah seperti Plankton.

Masalah? Sebenarnya jika saja mereka tidak mendapuk diri sebagai pelopor indomie kekinian hal seperti ini, buat saya, tidak akan menjadi masalah. Malah mendapuk diri seperti itu, menurut saya, boleh jadi malah menistakan nama besar indomie itu sendiri.  Apanya yang pelopor, apanya yang inovasi. Kegiatan mencampur-campur makanan ke dalam Indomie telah dilakukan semenjak Indomie itu diciptakan. Mamang-mamang burjo bahkan bereksperimen lebih canggih dengan mencampurkan telur, dan diaduk, sawi, rawit dan juga saus sambal, bahkan di beberapa tempat mereka mencampurkan juga bakwan, goreng tempe atau goreng tahu. Yang lebih gila bahkan sudi untuk mencampurkan cakue atau makanan manis lain ke dalam mangkuk Indomienya. Sejak dulu.

Menu lain? Saya memesan empat-lima menu. Jika ada yang berbeda, saya tidak akan sampai hati mengucapkan kalimat: ‘mereka sama sekali tidak memiliki resep khusus seperti Mr. Krab pada Krabby Patty-nya’. Hanya mencampur belaka satu jenis menu makanan dengan menu lainnya. Tanpa resep rahasia.

Saya tidak ingin bertaruh, namun merasa perlu untuk berandai-andai. Jika dalam beberapa waktu ke depan mereka tidak melakukan inovasi lain dalam rasa, bumbu, resep. Mereka mungkin akan tertinggal disusul oleh nama-nama lain yang memiliki fokus yang sama. Kemudian mati dan menghilang. Atau pengandaian yang lain, jika saja mamang-mamang burjo itu memiliki dana yang cukup, atau ada yang berani berinvestasi besar untuk mereka. Saya yakin, mamang-mamang burjo sanggup memberikan warna lain di belantika per-indomie-an yang pedas lagi kekinian. Jauh melebihi di atas normal.

Jika pun ada hal positif lainnya yang perlu saya sebutkan tentang mereka. Itu adalah koneksi wifinya yang kencang. Saya berhasil mengunduh permainan Cut The Rope dalam hitungan detik belaka. Selebihnya. Untuk makan, terlebih Indomie-nya. Saya sedih dan kecewa. Di sana, saya tidak menemukan ‘surga’. Setelah melihat total tagihannya, saya merasa sedang didorong ke dalam neraka.

Jika Anda memiliki rekomendasi tempat makan indomie yang pedas, boleh juga yang kekinian. Beritahu saya. Di mana letak surga itu?

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

7 Comments

  1. Kalau kuliner sejenis di Surabaya banyak yang happening.

    Sebut saja, mie akhirat atau mie setan.

    Kalau si Bandung, saya hanya pernah menjajal mie Rampok.

    Hawwuu~~
    Pedaassnya nampol!

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*