Tidur (Terlalu Lama) Saat Bulan Puasa

oleh

Banyak pameo yang beredar di tengah masyarakat, bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Perkataan ini juga mendorong banyak sekali dari kita yang memilih untuk tidur di bulan Ramadhan dengan dalih: “ingin beribadah”. Salah? Tidak juga. Untuk porsi yang pas, tidur memang memiliki manfaat yang luar biasa besar. Namun, bagaimana jika tidur itu dilakukan secara berlebihan? Dari selepas sahur sampai menjelang azan magrib, misalnya?

Kebiasaan yang paling umum adalah tidur selepas waktu sahur. Jeda waktu antara sahur sampai dengan aktivitas rutin sehari-hari di waktu pagi memang, tampaknya, jadi waktu yang paling asoy untuk tidur. Tapi tahukah Anda bahwa hal itu sebenarnya tidak baik. Malah, cenderung berbahaya bagi kesehatan kita.

Yang perlu Anda ketahui sebelumnya adalah: setiap makanan dan cemilan yang masuk ke dalam tubuh Anda memiliki kandungan kalori yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan aktivitas.

Dilansir dari Halosehat.com (9/5/2015), sebuah situs penyedia informasi kesehatan. Ketika asupan kalori masuk ke dalam tubuh Anda, dan tidak ada aktivitas lain yang anda lakukan, karena Anda tidur, maka kalori tersebut tidak akan terbakar, dan malah akan menjadi lemak yang menumpuk di dalam tubuh. Lemak yang menumpuk di dalam tubuh tanpa adanya proses pembakaran akan sangat membantu anda menambah berat badan secara drastis, dan pada akhirnya akan mengakibatkan kegemukan. Selain itu, penumpukan lemak ini membawa efek domino lain yang cukup mengerikan. Seperti misalnya diabetes dan sakit jantung.

Selain berdampak kepada kondisi fisik dan kesehatan Anda. Tidur terlalu lama saat berpuasa dapat juga memengaruhi aktivitas mental Anda.

Misalnya di akhir pekan. Selepas sahur Anda memilih untuk tidur, betul karena alasan ibadah, sampai siang, atau bahkan sore. Jika hal ini menjadi kebiasaan, dan juga dilakukan di setiap akhir pekan di luar Ramadan, Anda berpotensi untuk mengalami penurunan konsentrasi. Hal ini bisa terjadi karena sel-sel otak yang telah lama tidak di aktifkan, kemudian secara mendadak di paksa aktif. Tentu saja membuat diri anda menjadi bingung.

Alasan lain yang kerap digunakan ketika memutuskan untuk tidur di waktu puasa adalah agar badan tidak mudah lelah. Dengan dalih, ketika tidur. Badan tidak beraktivitas, beristirahat. Sehingga ketika bangun, kita akan merasa lebih fit untuk melakukan aktivitas lain. Dalam porsi yang cukup, alasan ini bisa diterima. Namun, untuk waktu yang berlebihan? Tidak. Justru sebaliknya. Seperti dilansir dari HuffingtonPost.com, Senin (16/2/2015). Gangguan berbahaya lainnya yang timbul akibat tidur terlalu lama adalah nyeri punggung. Selain harus menopang tubuh melebihi kadar istirahat yang normal, punggung juga dapat mengalami kerusakan karena saat tidur tubuh Anda tidak banyak bergerak.

Dan untuk saya pribadi, efek samping yang paling menyebalkan akibat tidur yang terlalu lama adalah: sakit kepala yang luar biasa hebat. Hal ini di sebabkan karena tidur yang banyak akan mempengaruhi kandungan neurotransmitter di otak. Ia akan berjalan tidak seperti biasanya. Hal inilah yang menyebabkan munculnya pusing. Dan Anda akan mendapatkan dampak yang lebih hebat jika Anda seorang pengonsumsi kafein juga alkohol. Efek lebih lanjut dari sakit kepala ini, Anda berpotensi mendapatkan serangan insomnia akut akibat akumulasi dari kebiasaan buruk ini.

Dan yang paling buruk, saat tidur banyak dari alat dan organ tubuh beraktivitas dalam keadaan lambat atau tidak bekerja. Kebiasaan tidur lama ini malah akan membawa Anda tidur dalam keabadian. Kematian.

Sumber gambar: bandung.bisnis.com

Jadi, pameo ‘bahwa tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah’ tidak melulu benar. Jika saya tidak salah ingat pameo itu muncul dari hadis: “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan”.

Dan jika mau belajar lebih lanjut, atau mencari informasi lebih banyak, seperti yang disebutkan pada salah satu tulisan rumaysho.com (23/8/2009), hadis tersebut sebetulnya lemah. Tapi, kita berbicara logika. Puasa adalah salah satu bentuk ibadah dengan pahala yang luar biasa. Jika dengan aktivitas sehari-hari kita yang gemar sekali mencela, menggunjing, tak mampu menahan emosi dan atau apa pun yang dapat mengurangi nilai ibadah kita. Tidur, dan tidak melakukan aktivitas pengurang pahala itu, bisa dikatakan sebagai ibadah. Atau setidaknya, tidak membuat kita melakukan aktivitas yang mengurangi pahala kita.

Namun, dengan penjelasan di atas. Tidur pun bisa berakibat yang tidak bagus untuk kita di waktu yang akan datang.

Pada akhirnya, kita sendirilah yang akan memilih untuk beraktivitas seperti biasa. Atau menghabiskan waktu puasa kita untuk “ibadah tidur” kita.

Sumber gambar: artofmtg.com

Catatan: tulisan ini masih relevan untuk Anda baca ketika nanti bulan Ramadan usai.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

8 Comments

  1. Ini saya banget ya perilakunya 🤣🤣 Kalau weekdays, agak terbantu dengan minum kopi 15 menit sesudah makan sahur. Masih bingung dengan penggantian waktu tidurnya bagaimana selama Ramadhan, makanya weekend jadi waktu membalas tidur. Karena kurang tidur pun mood dan tubuh malah cranky.

    Nice sharing, Mas! 🙃

  2. kalau yang kerja biasanya pas ada libur tidur 24 jam, bangun ngecek hp, tidur lagi, bangun ngecek hp, tidur lagi…. Ngecek hp lagi… Cepe deh..

  3. Saya sih membatasi diri dengan tidur cukup 5-6 jam sehari mas.. DNA hasilnya memang benar jarang sakit kepala.. beda pas jaman kuliah yang tidur tidak teratur dan bs tidur dalam sehari 10 jam hahaha

Tinggalkan Balasan ke a lunar raizin flum Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya

Kendari, Kali Kedua

Saya cukup banyak melewatkan detail-detail pada banyak sekali hal yang terjadi selama

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini
Go to Top