Tahun Ketiga

oleh

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini ketika aku berada di tengah-tengahnya. Suara klakson saling bersahutan berelaborasi menjadi sebuah simfoni yang merdu, namun tetap saja menjemukan. Sinar matahari di luar sana sudah sedemikian terik. Kekhawatiran terlambat untuk segala aktivitas mulai terlihat melalui wajah-wajah cemas anak manusia di dalam bus kota. Ya, aku berada di antaranya. Dalam kondisi seperti ini apa yang bisa kulakukan selain diam, melamun menunggu bosan. Aku melihat arloji di tangan kiriku. Jam delapan lewat dua puluh dua menit, dalam lamunan itu pikiranku berkelebat ke waktu beberapa tahun yang silam.

Waktu yang sama, tiga tahun yang lalu.

Aku mengkhidmati suasana yang terjadi saat itu dengan mata terpejam. Menarik nafas dalam-dalam, mengabaikan banyak hal untuk fokus pada satu suara. Lalu mataku membuka, beriringan dengan kalimat yang mengalir begitu saja dengan tangan sambil berjabat: “Saya terima nikahnya anak kandung Bapak dengan mas kawin seperti yang disebutkan dibayar tunai.

Dalam sepersekian detik, suasana ruangan menjadi semakin hening. Waktu tak pernah berhenti bergerak. Namun, jika pun mungkin. Serupa itulah pasti ketika waktu berhenti. Dalam sepersekian detik itu, tak ada satu pun yang sudi bersuara. Bahkan untuk sekadar membuka mulutnya belaka. Nafas-nafas tertahan sejenak. Dan semesta seruang itu ikut berhenti bergerak, menunggu komando atas apa yang harus dilakukan berikutnya.

Seorang lelaki –sang komand0 di seberang meja menengok kiri-kanan, memastikan sesuatu. “Bagaimana, sah?” ia bertanya ke sekeliling entah. Aku tak tahu, aku tak menatap matanya. Yang aku tahu pertanyaan itu tak hanya dijawab dengan sekadar kata, ia diikuti dengan tangisan yang membuncah, ucapan syukur yang menggema, lebih dari itu, di ruang itu pula tampak beban yang begitu saja hilang. Beban yang tumbuh dari segala pengharapan, dari segala semoga yang belum terwujud, dari semua mimpi yang beberapa kali tertunda. Dari semua asa, yang sama sekali jauh dari rencana.

Kau merasakan itu juga, kan, Nyonya?

***

Kita selalu sepakat, bahwa kita adalah perwujudan dari sebuah hasrat yang tak terduga. Bagaimana mungkin, seperti yang biasa kita bahas, dua entitas yang sama sekali berbeda dapat dipersatukan dalam sebuah ikatan cinta. Ah, bahkan kata ‘cinta’ terlalu istimewa untuk kita yang sedari dulu terlalu acuh untuk satu sama lain.

Lalu entah bagaimana awalnya, ketika panah Si Cupid mengarah salah. Dari mata yang tak sengaja menatap, kita sama-sama tahu bahwasanya ada sesuatu yang berubah. Pipi kita memerah, membuat satu sama lainnya menjadi salah tingkah. Apakah seperti itu yang dinamakan jatuh cinta, Nyonya? Sampai kita tersipu malu ketika tangan kita, untuk kali pertama, saling menggenggam.

Banyak hal yang kita lalui setelah itu. Kita pernah mempersetankan ikatan ini, mengacuhkannya sedemikian parah. Sampai kita lupa untuk apa kita bersama menderap langkah. Kita pernah, berbicara banyak kata sampai berbusa. Inilah, itulah dengan segala mimpi dan harapan di masa muda. Hal-hal omong kosong yang selalu diucapkan olah para pecinta di awal kali bermula. Lalu, kita juga pernah mengistirahatkan kata-kata itu, menyimpan mimpi dan harapan yang belum sempat kita bicarakan lebih banyak.

Kau ingat semua itu, Nyonya? Sekali lagi, kita benar-benar sebuah sisi yang berbeda. Apa yang kita lakukan dan apa yang kita katakan serupa dua sisi mata pisau yang sama-sama tajam. Kita tak mungkin, bukan, bersama untuk saling menyakiti. Apa kita berhenti? Tidak. Kita menyendiri. Kita tahu kita harus berinstropeksi. Sedikit banyak, ikatan ini telah mulai melibatkan hati. Dan aku menyesal. Sampai pada akhirnya kita dapat lebih memaknai rindu. Ketika hubungan kita berbatas jarak dan waktu.

Aku pernah mendengar sebuah nasihat. Sesuatu akan terasa lebih berharga ketika kau kehilangan sesuatu itu. Dan berterima kasihlah aku kepada Tuhan, aku menyadarinya sebelum aku kehilangan sesuatu itu. Ketika berjauhan, dengan banyak sekali hal yang terjadi, aku sadar kau terlalu istimewa untuk aku tinggalkan. Kau bahkan terlalu berharga untuk aku sempat merasa kehilangan. Kau … kau adalah penyesalan terbaik yang pernah aku miliki. Dan aku berjanji, kau akan selalu menjadi tujuanku.

***

Pembawa acara meminta hadirin untuk diam. Menyisakan masing-masing orangtua mempelai, orangtua kita, yang masih terisak haru. Acara dilanjutkan kembali, kita saling bertukar cincin. Kau curang sekali, hanya diam menahan tangis. Kutebak, agar riasan yang sedari subuh menempel di wajahmu tidak rusak, kan? Saat kau diam, aku diminta bersumpah, demi nama Tuhan yang dengan baik hati sudi menyatukan kita dan mimpi-mimpi kita. Bersumpah untuk segenap hati, sepanjang aku hidup, menyayangimu dan menjagamu. Aku yang sejak saat itu boleh kau banggakan di depan teman-temanmu. “Ini suamiku” barangkali begitu.

Dan sumpah itu kututup dengan kecupan halal di kening. Sebelum kita berdua terduduk, bersujud meminta restu.

***

Suara kondektur bus memecahkan lamunanku. Sudah hampir sampai di halte tujuan. Aku bersiap, menyudahi lamunanku. Aku tersenyum. Dua puluh satu Juni yang ketiga hari ini. Banyak hal yang sudah terjadi, sebagian mimpi itu telah kami selesaikan. Sebagian lagi dari mimpi itu, yang berwujud seorang anak yang menggemaskan, akan selalu menjadi tanggung jawab kami sampai waktu entah. Sebagian mimpi lainnya masih akan kami gapai. Kali ini tentu saja tidak hanya berdua. ‘Kita’ telah bertambah menjadi tiga.

Masih beberapa ratus meter sebelum sampai di halte tujuan. Masih sempat. Aku mengeluarkan telfon genggam, membuka layanan aplikasi pesan singkat.

“Selamat ulang tahun pernikahan, Istriku. Malam ini makan malam di luar, mau?”

 

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

18 Comments

  1. Anjir, bahas pernikahan ternyata. Kok jadi pengin, ya. Wqwq. Btw, selamat ulang tahun yang ketiga buat pernikahannya, Mas. 😀

    O iya, acuh itu artinya peduli, kan? Gue agak bingung sama acuh yang lu maksud. 😐

  2. Kalo aku pasti jawab, yes i do, ayo makan ditempat favorite kita mengenang masa2 Indah.
    Selamat ulangtahun pernikahan mas andika dan istri, semoga aku bisa cepet nyusul *eh curhat.
    Semoga selalu menjadi keluarga yg sakinah mawadah warohmah.

  3. Happy wedding anniversary Mas Dhika dan istri.
    Semoga bahagia selamanya aja 😀
    Waktu berlalu cepat ya, enggak kerasa usia pernikahan udah bertambah 😀

  4. Om Dhik, kok aku baca ini jadi baper parah, ya? Kok aku sesenggukan gini, ya? Kok nyampe ke hati banget, ya? KOK PENGIN JUGA, YA? HWAAAAAAAA.

    Jarang-jarang aku nangis baca post blog orang. Ini bagus banget, Om Dhik. Istrimu baca ini, kan? Harus baca.

    Happy wedding anniversary! Semoga terus langgeng sampai akhir hayat, semoga dedeknya makin pintar dan membanggakan orangtuanya. Aamiin.

    Ilham mana Ilham? Mau… 🙁

  5. Mau mas diajak makan di luar hahaha..
    Selamat merayakan ulang tahun pernikahannya mas.. semoga tetap setia dan bahagia hingga akhir zaman

  6. Wahh selamat ulang tahun pernikahan mas, tulisannya bikin aku mesem2 nih.. samaan loh tahun ini anniversary pernikahan yang ke 3 tahun juga tapi bulan maret kemarin 😊

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Sepatu

Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita

Penulis Murah(an)

Beberapa waktu yang lalu, di twitter, saya mengunggah tangkapan layar dari sebuah

Dear Senor

Buenos dias, Senor! Bagaimana akhir pekan anda kemarin? Anda pasti sudah lebih tenang

Kategori Blog

Terkadang saya bingung ketika seorang atau beberapa teman menanyai saya tentang kategori
Go to Top