Sido Muncul dan Kesempatan (Mudik) yang Ia tawarkan

oleh

Di setiap penghujung bulan Ramadan, negeri ini memiliki satu warisan budaya yang unik: mudik. Sebuah aktivitas pulang ke tempat asal, kampung halaman, yang dilakukan di penghujung Ramadan, Umumnya dilakukan oleh mereka penganut agama Islam demi merayakan hari kemenangan bersama sanak keluarga tercinta. Kenapa saya sebut ia sebagai warisan budaya? Karena sepanjang yang pernah saya baca, hanya di negeri ini ‘mudik’ dilakukan sedemikian khidmat dalam skala yang masif. Di negeri lain? Ada, namun tidak menjadi suatu ‘keharusan’. Ramadan dan Ied menjadi substansi yang lebih penting dipikirkan ketimbang perjalanan pulang itu sendiri.

Apakah kemudian ini menjadi suatu budaya yang salah?

Sumber gambar: Freepik.com

Selain untuk memperingati acara keagamaan, perayaan kemenangan muslim yang, konon, kembali suci. Esensi utama dari ‘mudik’ adalah berkumpul, beranjangsana bersama keluarga. Biasanya, di momen seperti ini segala elemen keluarga dari berbagai lapisan keturunan tumpah ruah dalam satu tempat. Bertemu muka setelah sekian lama alfa. Melepas rindu, mengikat kembali tali silaturahmi yang telah putus. Saling memafkan menjadi cerita di kemudian. Untuk hal mulia seperti ini, tidak ada yang salah, bukan? Malah, boleh jadi kita yang luar biasa (berpura-pura) sibuk teramat perlu dengan mudik ini. Setidaknya, ini menjadi alasan yang tak terelakkan untuk kita kembali pulang ke tanah tempat kita dilahirkan.

Akan tetapi, dalam sejarah mudik yang panjang. Pernah ada satu waktu di mana mudik bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Maksud saya begini, untuk pulang-pergi ke kampung halaman dalam beberapa waktu yang cukup panjang, ditambah pula dengan momen perayaan hari besar keagamaan, bertemu dengan banyak orang di rumah dengan segala kemungkinannya. Mudik menjadi sesuatu yang berpotensi menelan biaya besar. Demi mudik, beberapa banyak orang membutuhkan perbendaharaan dana yang cukup besar ketimbang biasanya. Dan, tak semua orang bisa mendapatkannya. Terutama bagi mereka di perantauan yang bekerja apa adanya.

Saya ingat, beberapa tahun lalu, di malam terakhir Ramadan ketika keluarga besar saya sedang berkumpul di rumah. Di tengah takbir kemenangan yang berkumandang, seorang pedagang bakso masih setia mendorong gerobaknya. Melewati malam dengan semangkuk bakso hangat bukanlah ide yang buruk. Maka kami memanggilnya. Saat itu, salah satu dari kami iseng bertanya. “Mas, kok masih jualan? Enggak pulang kampung, mas?” ia menjawab dengan sebuah gelengan pelan, tersenyum getir. “Enggak, Bu. Malu Bu pulang kampung gak bisa ngasih apa-apa sama orang rumah. Lagipula, untuk ongkos pun tidak ada.” Mendengar jawaban tersebut, banyak dari kami yang terdiam.

Yang menjadi menyebalkan adalah, nasib tidak beruntung seperti itu bukan hanya dialami oleh pedagang bakso itu belaka. Banyak dari mereka yang juga tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkumpul bersama keluarga hanya karena terkendala di masalah biaya. Terlebih, biaya perjalanan yang biasanya meningkat luar biasa pesat selama periode mudik tersebut.

Beruntung, masih banyak orang atau institusi yang sudi untuk menderma, melakukan kebaikan dan memberikan mereka itu kesempatan yang sama. Mudik ke kampung halaman di penghujung bulan Ramadan.

***

Diantaranya adalah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul, Tbk atau yang lebih dikenal dengan Sido Muncul. Sejak tahun 1991 silam, Sido Muncul memberikan kesempatan bagi mereka, yang sedikit kurang beruntung itu, untuk dapat merasakan mudik seperti orang kebanyakan tanpa perlu memikirkan biaya perjalanan. Progam ini dikenal dengan nama ‘Mudik gratis Sido Muncul’. Awalnya, program ini dikhususkan untuk para pedagang jamu belaka, sesuai dengan pasar dan produksi dari Sido Muncul ini sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu program ini juga diperuntukkan kepada para pedagang asongan, asisten rumah tangga dan mereka yang merantau dan bekerja ‘apa adanya’. Dalam artian, mereka yang kerap kesulitan mendapatkan biaya untuk sekadar ongkos perjalanan mudik.

Dokumen Pribadi

Seperti tahun ini, tahun 2017, untuk ke-28 kalinya, Seperti yang dijelaskan pada jumpa pers yang dihelat pada Jumat, 16 Juni 2017 di Sentra Jamu Indonesia, Sido Muncul mengadakan ‘mudik gratis’ untuk golongan para pedagang asongan, juga asisten rumah tangga di areal Jabodetabek. Kenapa Jabodetabek? Karena, diakui atau tidak, areal ini adalah ‘surga’ bagi para pendatang mencari peruntungan. Yang berarti, dengan cakupan areal Jabodetabek pun sudah cukup banyak orang yang mendapatkan kesempatan mudik gratis ini.

Terbukti, untuk tahun 2017, dengan tajuk Mudik Bareng Guyub Rukun, lebih kurang 15.000 orang diberangkatkan secara gratis ke tujuh kota tujuan. Yaitu diantaranya Cirebon, Kuningan, Tegal, Banjarnegara, Solo, Wonogiri dan Jogjakarta. Titik keberangkatan dipusatkan di TMII dengan total sekitar 160 armada bus. Sedangkan 100 armada bus lainnya disiapkan di kota-kota lain seperti Bandung, Tangerang, Cilegon, Serang, dan Bogor.

Angka 15.000 itu sendiri menjadi angka yang luar biasa besar mengingat ketika pertama kali program ini diluncurkan, Sido Muncul hanya memberangkatkan sekitar 330.000 orang belaka. Sebuah peningkatan yang luar biasa. Meskipun sebetulnya, menurut Irwan Hidayat (Direktur PT Sido Muncul), angka ini sedikit menurun ketimbang tahun sebelumnya. Meskipun angka ini menurun (dari 22.000 orang tahun sebelumnya) angka ini tetaplah angka yang luar biasa. Boleh jadi, ini menjadi angka partisipan terbesar dari program mudik gratis yang dibuat oleh perusahaan atau institusi.

Bahkan, untuk ke depannya. Sido Muncul tidak hanya ingin memberi kesempatan untuk mereka di areal Jabodetabek saja. Ia akan mencoba menambah lingkupnya ke areal yang lain. Selain itu tujuan mudik yang selama ini hanya berkisar di pulau Jawa. Mulai tahun 2018, jika tidak ada kendala, akan juga dibuat program mudik gratis dengan tujuan beberapa kota di Sumatra.

Sumber gambar: SidoMuncul.com

***

Semoga saja, dengan kesempatan yang diberikan. Untuk kemudian bertemu muka dengan keluarga besar setelah sekian lama alfa. Melepas rindu, mengikat kembali tali silaturahmi yang telah putus. Juga saling memafkan. Hal baik ini, juga ditambah restu dan doa-doa kebaikan yang dihaturkan kemudian semoga dapat menambah rezeki dan barokah di setiap langkah di tanah perantauan.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

3 Comments

  1. Semoga rencana Sido Muncul untuk menyelenggarakan mudik gratis hingga pulau sumatera di tahun 2018, bisa terealisasikan. Supaya semakin banyak yang terbantu melalui program yang setiap tahun diadakan ini.
    Karena mudik bukan hanya sekedar pulang ke kampung halaman, tetapi lebih kepada menyambung tali silaturahmi.

  2. Dari dulu, MUdik Gratis Sido Muncul ini udah banyak ya peminatnyaa.. Selain buat si pedagang jamunya, mudik gratis ini juga bisa ngajak anak/suaminya.
    Sido Muncul juga keren banget, mau berbagi kuota mudik gratis ini ke pedaagang asongan dan pembantu rumah tangga. Jadi gak cuma yang jualan jamu ajaaa..

  3. Nah acara kayak begini yang menyentuh lapisan masyarakat serta punya dampak sosial. Salut untuk Sido Muncul konsisten 28 tahun dalan penyelenggarannya

Tinggalkan Balasan ke Nurri Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Pariwara

Go to Top