Proses 2.0

oleh

Jika kelak saya memiliki karir yang baik dalam dunia kepenulisan. Saya akan menandai tahun dua ribu enam belas sebagai awal mula saya belajar menulis. Lalu apa yang terjadi dengan tulisan-tulisan saya sebelum itu? Jika Anda pernah membacanya lalu ingin meludahi tulisan-tulisan lama saya. Mari, saya akan dengan senang menemani Anda. Apakah berarti saya tidak menghargai tulisan saya sendiri? Bukan. Justru sebaliknya, saya ketika itu benar-benar tidak pernah menghargai apa yang namanya belajar. Proses. Oleh karena itu saya jauh sekali dari pantas untuk disebut sebagai penulis. Namun, apabila Anda sekarang ini, pada tulisan-tulisan saya yang baru, masih ingin meludahinya. Sebentar dulu, biarkan saya menjelaskan sesuatu.

Saya pernah menjelaskan sebelumnya bahwa saya adalah penulis, katakanlah begitu, yang tumbuh dari kesombongan. Kesombongan yang bodoh. Tentang ini Anda dapat membacanya pada tulisan saya yang berjudul proses saya cukup detail menjelaskan bagaimana saya yang tidak pernah mau belajar, saya yang tidak pernah mau membaca, saya yang sama sekali tidak memedulikan pendapat orang lain, meskipun untuk kebaikan, hanya karena saya yang bebal. Merasa pintar padahal bodoh saja belum. Namun, sekali lagi, saya berterima kasih yang banyak untuk tahun dua ribu enam belas beserta segala peristiwa yang ada di dalamnya.

Singkat cerita, saya untuk pertama kalinya bergabung dengan komunitas yang menyukai minat sama dalam menulis. Pada waktu tertentu, di sana membahas tentang bagaimana menulis seharusnya. Kaidah kebahasaan, struktur kalimat, penggunaan kata dan berbagai hal lain yang dulu saya nafikan. Saya di awal mula sama sekali tidak memerhatikannya, hanya menganggap sebagai rutinitas yang dilakukan komunitas tersebut. Namun, semakin hari saya pikir rutinitas itu amat bermanfaat.

Saya mulai mencatat beberapa hal penting, membaca lebih detail sumber-sumber yang lain dari mesin pencarian, mempelajarinya sedikit demi sedikit, membandingkannya dengan beberapa buku yang saya baca, lalu mulai mengaplikasikannya pada konten yang saya tulis. Berhasil? Entahlah. Bukan saya yang menilai. Tapi jika keangkuhan tetap boleh dipertahankan, setidaknya setelah mengalami proses tersebut beberapa tulisan saya mendapat komentar yang baik. Saya mulai berani untuk menceritakan apa yang ada di kepala saya, lalu membagikannya.

Keangkuhan, bagaimanapun, adalah sebuah kesalahan. Meski keangkuhan itu bermula dari sebuah pujian, tetap saja salah. Saya merasa sombong dan cepat berpuas diri. Padahal, jika ditelusuri masih banyak hal-hal fatal yang sering saya lakukan ketika menulis.

Saya memerhatikan kebiasaan saya sendiri ketika menulis, tentu saja kalau bukan saya siapa lagi yang sudi memerhatikan kebiasaan saya sendiri. Di situ saya menemukan kebiasaan buruk: saya sulit menulis pendek. Setiap kali menulis saya selalu terbawa suasana. Menikmati? Tidak juga, hanya saja saya menjadi terlalu banyak bertele-tele. Setelah saya sadar, tulisan yang saya buat telah mencapai lebih dari seribu kata. Apakah itu salah? Bukan saya yang menilai. Anda yang membaca jelas lebih tahu apakah kebiasaan saya ini adalah sesuatu yang salah. Untuk beberapa orang tentu menyebalkan membaca ratusan bahkan mencapai ribuan kata pada layar kaca. Tapi untuk beberapa yang lain. Tampaknya tidak masalah. Jika saya ingin membela diri, toh, beberapa tulisan itu, lagi-lagi angkuh, ada yang mengatakannya bagus-bagus saja.

Tapi ada satu kebiasaan salah berikutnya yang tidak bisa saya pungkiri. Yang jelas-jelas harus saya ubah. Saya terlalu sering menumpuk beberapa kalimat panjang dalam satu paragraf. Jika saya menulisnya pada media cetak, hal ini tidak akan pernah menjadi masalah. Bahkan, pada buku Agama apa yang pantas bagi pohon-pohon? milik Eko Triono, ada satu bagian yang hanya memiliki satu paragfaf saja. Meskipun bagian itu memiliki lebih dari empat ribu kata. Tapi, saya menulis di media digital. Bagi pembaca, menatap ratusan kata pada satu paragraf yang bertumpuk adalah sesuatu yang melelahkan. Untuk apa saya menulis sedemikian bagus jika pembaca tulisan saya, jikapun ada yang membaca, merasa cepat lelah.

Belum lagi jenis huruf yang saya gunakan. Beberapa orang menilai bahwa saya memiliki selera yang payah dalam memilih huruf. Bentuk, bagaimanapun, adalah selera. Setiap masing-masing orang memiliki kesukaannya yang berbeda. Jika saya merasa puas dengan bentuk atau jenis huruf yang saya pilih. Ya, suka-suka saya dong. Maksudnya, itu jika saya menulis pada catatan pribadi. Namun, ketika saya menulisnya di ranah publik, pada media digital. Hal sekecil ini pun mesti saya perhatikan. Untuk kenikmatan membaca para pembaca blog ini. Ehm, jika ada.

Berarti, dan memang sudah seharusnya, saya masih akan terus melanjutkan proses belajar saya. Mencuri ilmu dari teman-teman yang lebih dulu berkecimpung di dunia tulis. Atau dari buku-buku yang banyak bertebaran.

Ketika pertama kali memutuskan untuk menjadi penulis digital. Saya mempersetankan banyak sekali hal. Yang saya tahu, saya ingin menulis. Yang lain? Saya tidak mau tahu. Sekarang? Tidak bisa tidak. Karena -saya baru sadar- ketika memutuskan penjadi penulis digital, yang notabene berada di ruang publik, maka ada banyak sekali yang harus kita pikirkan. Kepuasan pembaca (seharusnya) adalah yang utama.

Karena, sepakati sajalah jika tujuan menulis adalah untuk kepuasan diri sendiri. Bukankah masih ada buku diary yang bisa kita gunakan? Menyimpan segala bentuk isi tulisan dan hanya membaginya dengan Tuhan, dan juga setan-yang sengaja datang mengintip. Jika menulis hanya untuk diri sendiri, untuk apa membuang waktu menulis di sini, membagikannya kepada publik, dan girang bukan main jika ada komentar.

Maka kawan, inilah blog saya. Dengan tampilan apa adanya. Nikmatilah isi apa yang ada pada blog ini. Jika Anda menyukainya, berarti Anda sedang menyukai proses, marilah sama-sama berharap kedepannya Anda akan mendapatkan yang lebih baik. Jika Anda tidak menyukainya, maka tolonglah berikan saya saran, kritik dan semacam itulah. Seperti sebelumnya, pujian hanya akan membuat saya menjadi tinggi hati, merasa puas, malas kemudian kembali menjadi bodoh.

Sedangkan saran, kritik, kesemuanya itu, meskipun menyakitkan, adalah cara lain untuk saya belajar menjadi penulis yang baik. Seperti halnya pujian, tidak semua saran dan kritik akan saya terima mentah-mentah tanpa proses berpikir. Saya harus memilah mana yang mampu dan harus saya lakukan. Betul semua saran dan kritik itu untuk lagi memanjakan dan memuaskan para pembaca selaku pengguna blog ini. Namun sekali lagi, saya akan memerhatikan semua kritik dan masukan yang datang sebagai proses belajar untuk jadi lebih baik, tapi tidak semuanya saya harus lakukan. Karena bagaimanapun ada satu yang harus tetap saya jaga. Identitas.  Ciri yang saya punya (jika ada) sebagai seorang penulis.

Mari bergabung, menemani sebuah rangkaian proses panjang, bersama-sama saya. Untuk satu harapan. Menyuguhkan sesuatu yang lebih baik.

Ditulis pada Selasa, 4 April 2017 01.43 WIB. Sudah kenyang dan segera tidur.

Sumber gambar: pictures.4ever.eu

Catatan

Tulisan ini dibuat karena beberapa waktu terakhir saya mendapatkan beberapa masukan (lagi) tentang tampilan blog ini juga tentang cara saya menulis. Terima kasih. Saya senang sekali menerimanya. Saya menantikan betul masukan seperti itu. Ada (lagi) beberapa perubahan tampilan (dan mungkin isi) antara tulisan ini dengan sebelumnya. Yang bisa saya lakukan, telah saya lakukan. Yang lainnya, belum. Mungkin nanti. Dan saya tunggu lagi saran dan kritik lainnya, ya.

Tanpa saran dan kritik pun saya (akan) sangat memerhatikan isi dan tampilan blog ini, ditambah harapan ada yang sudi datang membaca, adalah bentuk perhatian saya yang lain. Maka sekarang ini hanya seputar itulah yang saya lakukan. Membaca, menulis, memperbaiki tata letak, membagikannya kepada kerabat, dan membiarkan mereka untuk membaca. Hanya itu. Namun, beberapa waktu ini juga saya mendapat saran dan kritikan terkait dengan fungsi dan sistem yang ada pada blog ini. Seperti halnya integrasi dengan mesin pencari, peringkat dari beberapa layanan, statistik dan semacam itulah. Tentu saya pun (sekaran) ingin blog ini mendapat perhatian dari robot digital. Tapi, untuk saat ini belum ada yang bisa lakukan. Saya masih belum paham dan terlalu sibuk malas untuk belajar hal lain. Mudah-mudahan dalam waktu dekat yang akan datang saya bisa melakukan langkah-langkah perbaikan.

Doakan saja.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

36 Comments

  1. Bagaimana pun, saya selalu kagum setelah selesai membaca tulisan Mas Dhika. Bukan untuk memancing keangkuhan, tapi sebagai bentuk apresiasi terhadap proses menulis dan hasilnya yang tak bisa dibilang biasa. Saya pun telah membaca cerita bagaimana awal mula Mas Dhika membuat blog. Tak ada cela, artikel dalam bentuk cerita pasti menarik perhatian pembaca. Tabik, saya pun jadi ingin berguru.

  2. Hmm… Tulisan mas dhika kadang terlalu berbelit2 untuk sebuah tulisan blog. Mungkin karena mas dika suka nulis cerpen kali ya. Jadi pembaca dibawa kesana kemari untuk sebuah inti yang sebenarnya sangat singkat

  3. Menunggu versi 3.0 nya. Mungkin lebih stabil, user generated content dan interaktif multimedia. Demikian. Bisa dimaknai sebagai dukungan untuk menjadi lebih baik dalam ngeblog 🙂

  4. Kita sama mas, tapi menjadi penulis bagi saya hanyalah cita-cita yang gak bakal kesampaian sih. Saya pemalas juga untuk belajar, gak disiplin. Tapi saya percaya tiap orang punya proses yang beda-beda sih. Ada yang menemukan gayanya dengan cepat, ada yang lama, atau ada juga yang tidak menyadari bahwa memang itu gayanya tapi masih merasa kurang dan mencoba mempelajari gaya-gaya lain. #iningomongapaseeehh hahhha

  5. Setiap orang punya proses yang berbeda-beda memang ya mas dalam menulis. Ada yang penyampaian tulisannya diselipin jokes, ada yang serius, ada yang panjang berbelit, ada yang singjedat, dsb dll dkk jkt48 hbd. #eh hehehe
    Tinggal bagaimana publik menikmatinya aja sih yaaa.

    Semangat Mas Dhikaaa👍

    Ehiyak aku sempet baca beberapa cerpennya. suka sama Cerita Tentang Wibi. Terharuuu

  6. 2016 mulai menulis udah keren. Tapi kadang saya perlu membaca ulang untuk tahu maksud dari tulisan Mas dhika. Bukan berbelit-belit tapi pemilihan katanya yang mirip puisi (eh apa ya namanya) kadang bikin saya ga ngerti. 🙂

  7. Baru membaca paragraf pertama itu rasanya kayak disuruh duduk hadap-hadapan dengerin mas dika jelasin banyak hal dan serius, hehe

    Itu berterbarang apa mas? bertebaran atau berterbangan? di paragraf berapaaaa gitu, di tengah2. Atau itu kosa kata baru ya??

    bagus kok templatenya, saya suka. saya juga pengen kayak gini sih templatenya, tapi ntar malah gak beridentitas, hahahaha
    biarkan template ini dimiliki mas dhika sajalaaaaah~~

  8. udah terpublish blom ya komentar gw?

    dikaaa kamo kerenn!
    ajarinnn gw yakk 😉
    makin twrasah makin tajam nulisnya makin tau character penulisannya.
    eh lo pake font apa sik gw suka haha

  9. Mas Dika harus main-main kata dan main isi informasi untuk menulis di lingkup digital dengan banyaknya post baru lainnya. Sudah siap 2.0 mas?

  10. Tulisan Mas Dika yg dulu blm baca, tp yg skrg suka2 aja sih. Dulu di awal ngeblog mah gak mikir apa2, nulis sak karepe dewe tanpa liat ejaan atau eyd. Lalu waktu berjalan ada yg komen krg rapi, tampilannya bikin sakit mata dll. Ikut blogger fiksi bantu bgt buat penulisan apalagi soal EYD. Nulis gahul gak papa asal enak dibaca, gak Alay, gitu intinya. Dan semua memang butuh proses panjang

  11. Saya nulis udah lama dan emang kerja sebagai penulis selama beberapa tahun terakhir, tapi jangan lihat blog karena karakter menulis beda bangat antara di blog dengan tulisan di tempat kerja. Haha. Aku mah salut sama kamu bisa menyelesaikan begitu banyak cerpen di blog, sementara, jujur ya, dari 2009 sudah menulis, tapi baru ada dua judul cerpen yang bisa saya selesaikan. Alasannya adalah saya enggak puas sama tulisan, waktu dibaca, “Kok begini,” kaya ada rasa tidak puas. Jadi, kalau ada orang yang awalnya bukan bekerja sebagai penulis sementara bisa menyelesaikan cerpen begitu banyak, saya angkat topi. Salut! Semangat menulis ya, Dika!

  12. Sama Mas Dhika, 2016 juga saya mulai beajar nulis (lagi), setelah sebelumnya vakum gak menulis setelah MP mati 😀
    Tuisan di blog itu emang biasanya ada prosesnya gtu, kalau aku liat bbrp tmn mulai nulis kegalauan, trus anjut nulis yg informatif, lalu dimonetize (yg skrng marak 😀 )

  13. Yang namanya hidup memang akan selalu diisi dengan belajar dan belajar. Begitu juga dengan menulis.
    Aku sih selalu suka sama cara Mas Dhika menulis. Senang terbawa rangkaian kata-kata yang panjang. Asal bacanya dari laptop. Karena belakangan mata udah ga sanggup baca panjang di hp.

  14. saya pernah kek mas, merasa tulisan saya sudah layak, eh taunya masih jauh dari layak. saya pun nekat nulis dengan bahan bacaan yang terbatas, apalagi buku, hampir nggak ada (saat itu).
    untuk paragraf yang panjang, gw pernah ngalamin masalah begini. awal-awal gw nulis, pernah ngirim tulisan ke salah satu portal online,BoxtoBox (kalo nggak salah namanya) dan gw dikasih tau kalo nulis digital gabisa paragrafnya panjang2, biar pembaca nggak cepet bosen bacanya, kata si editor. makanya sekarang-sekarang kalo nulis paling cuma 3-5 paragraf rata-rata.

  15. Pertama kali mampir ke blognya udah suka sama tulisannya. Salam kenal ya, Kak….
    Kezel ah baca “meludahi” tulisanmu itu, kak. Padahal aku salah satu penggemar tulisanmu, Kak Dhik. Apalagi yang sok-sok lomantis itu. Sukak. Tulisan bagus-bagus kok ya malah diludahi. Apa kabarnya tulisanku? Patut dimuntahin kali? Ah, cedih..

  16. Ini namanya muhasabah yaa, mas Andika.
    Saluut, mas.

    Hanya orang-orang yang mau berubah (menuju kebaikan) yang bisa deep thinking gini.

    Haturnuhun diingatkan, mas.
    Semacam reminder buat saya juga.

  17. Menurut sayansih setiap tulisan punya penikmatnya masing masing. Palingan kalau saya sih akan diingatkan sama temen teman jika sudah terlalu banyak keluar dari ranah yang saya sukai. Bakalan diingatkan untuk segera kembali ke jalan yang benar hehe

  18. Untuk paragraf yang bertumpuk, apa gak mau coba tampilan blogmu dibuat kayak Adi keriba-keribo, Om? Dengan mempersempit lebar body post gitu biar gak terlalu numpuk. Tapi agak gak enak ngeliat komposisi sama headernya nanti, sih, nenurutku. Hem.

    Terus belajar, terus memperbaiki, jangan angkuh biarpun angkuh adalah koentji wahahaha

    • Sudah sempat aku coba, tapi di templateku kali ini, jadi ga bagus, uy. Bisa diakalin dengan memunculkan widget, sih. Tapi, sedang malas menambah banyak widget di body post 🙁

  19. Tulisan lama aku belom baca, tapi sejauh ini baca blog kak Andhika nyaman-nyaman saja. Seringnya ketemu tulisan nyastra. Berasa pelajaran Bahasa Indonesia, eh.

  20. ❤❤❤ selalu berproses karena hidup perihal proses.
    Tapi untuk masalah penulisan dengan tata bahasa yang baik, aku masih kesulitan dalam penggunaan di- 😭😭😭😭😭😭😭

  21. Ah, bang Dhika, eh gimana manggilnya? 😂

    Jujur, kalo saya sendiri lagi banyak belajar dari kawan-kawan blog lainnya, juga beberapa kali membaca tulisan bang Dika ini, juga ‘proses’ belajar saya dalam tulis menulis.

    Dan, juga setiap kali baca tulisan di blog ini, kayaknya gak mudah bosen sih.

    Duh, apakah ini termasuk kritik atau pujian? Ahsyudahlah.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya

Kendari, Kali Kedua

Saya cukup banyak melewatkan detail-detail pada banyak sekali hal yang terjadi selama

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.
Go to Top