… With Sugar Daddy

oleh

Siang hari, 8 Maret 2017. Langkah ku tepat di belakang asisten rumah tangga yang tadi membukakan pintu lalu kemudian mempersilahkanku masuk. Aku terus mengekor langkah sang asisten rumah tangga tersebut hingga ke sebuah ruang yang di dominasi rak buku berwarna coklat tua dengan deretan buku yang tergolong banyak. Sesaat setelah menyiapkan dua buah kursi yang dipisahkan dengan sebuah meja yang berbentuk artistik, sang asisten rumah tangga itu meninggalkanku menunggu dengannyaman orang yang memang ingin ku temui hari ini. Seseorang yang memiliki hunian mewah nan asri di Forte dei Marmi ini, jelas bukan sosok yang biasa biasa saja. Sudah sejak lama sebenarnya aku menginginkan untuk bertemu dengan pemilik rumah ini dan melakukan wawancara dengan beliau, namun baru hari ini lah aku berkesempatan menemuinya secara pribadi dan sudah mendapat izin langsung darinya untuk melakukan wawancara secara ekslusif.

Derap langkah sepatu terdengar mendekat ke ruang dimana aku menunggu dengan tegang. Dari posisi dudukku saat ini, aku mulai bisa melihat dengan jelas sosok yang begitu ku nanti untuk ku wawancarai. Tidak banyak yang berubah dari sosok yang dulu begitu berkuasa di sebuah klub sepakbola di kota Milan. Rambut yang telah memutih sepenuhnya, kaca mata bening dengan frame tipis berwarna hitam, serta setelan jas berwarna abu-abu di padukan mantel panjang warna biru tua hasil jahitan A.Caraceni Milano yang berkelas. Sosok yang satu ini selalu memancarkan kharisma yang berbeda dengan banyak tokoh tenar lainnya yang pernah ku wawancarai. Bahkan, untuk urusan d bidang sepakbola, pria ini memiliki kharisma melebihi Silvio Berlusconni sekalipun.

“Maaf jika menunggu lama, ada satu rapat yang ternyata membutuhkan waktu lebih lama untuk di selesaikan,” kalimat pertama yang keluar dari Massimo Moratti setelah menjabat tanganku sebelum mendaratkan tubuhnya di atas kursi tepat di sebelah kananku. Aku kemudian membungkuk sedikit ke sebelah kiri, membuka tas ku lalu mengeluarkan Sony ICD-UX533 andalanku. Massimo Moratti tampak sedang membuka mantel panjang serta jasnya dan menaruhnya di punggung bangku. “Baiklah, aku sudah siap, kita bisa mulai sekarang,” ucap Moratti seraya menggulung lengan kemeja biru muda yang ia kenakan. Itu sekaligus penanda untuk menekan tombol play dari voice recorder milikku.

8 Maret 2017. 11.50 PM

Nyaris pukul 12 tengah malam. Mataku sama sekali belum menunjukan tanda akan segera padam. Aku sedang bersemangat ketika di tempat lain orang mungkin mulai mengalami berbagai macam mimpi. Lampu meja kerja kuhidupkan, charger pengisi daya untuk voice recorderku pun sudah terpasang. Lalu setelah aku menyeruput sedikit kopi yang tadi sengaja kusiapkan, voice recorder yang tadi sudah ku atur pun mulai ku putar ulang.

Massimo Moratti, bagaimana kabar dan kehidupan anda saat ini?

Sangat baik. Aku kini lebih mampu untuk beristirahat lebih banyak. Meluangkan lebih banyak waktu di rumah juga sesuatu yang rupanya menyengangkan mengingat beberapa tahun lalu aku tak bisa sesantai sekarang.

Tidak lagi mengurusi Inter berarti membuat anda merasa lebih santai?

Secara jujur iya. Banyak hal yang dulu harus saya kerjakan atau sekedar saya periksa yang kini sama sekali tak ada dalam daftar aktivitas harian saya.

 Bagaimana anda sekarang memandang dunia sepakbola khususnya Liga Serie A?

Dari musim ke musim, Liga Italia sebenarnya mengalami peningkatan mutu secara level permainan. Kemunculan nama-nama pemain baru yang mendapat lampu sorot karena kemampuan yang baik dari segi permainannya pun lebih banyak ketimbang yang mendapat perhatian media karena kontroversinya. Hal tersebut juga bisa menjadi parameter dari sebuah liga yang kompetitif dan menarik untuk di saksikan

 Pendapat anda tentang Inter sekarang?

Musim masih berjalan dan agaknya tidak adil jika menarik kesimpulan ketika peringkat di klasemen masih bisa berubah hingga akhir musim. Terlebih jika kita melihat Inter mngalami transisi di tengah berjalannya liga dengan pergantian pelatih yang sepertinya cukup berhasil dan membuat Inter berada pada jalur yang benar.

Menurut anda, Stefano Pioli sosok yang tepat untuk menangani Inter dalam jangka waktu panjang?

Saya tidak begitu mengenal dekat sosok Pioli. Yang saya tahu, Inter adalah klub terbesar yang pernah ia tangani di sepanjang karier kepelatihannya. Hal itu bisa berarti dua hal, ia akan gagal karena tekanan dan beban yang tentu sangat berbeda dari yang ia pernah terima sebelumnya, atau ia akan berhasil karena termotivasi untuk membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih yang hebat. Sekali lagi, hasil akhir di Liga Serie A nanti adalah saat yang tepat untuk manajemen Inter mengevaluasi hasil kerja Pioli dan menentukan apakah ia memang layak untuk terus menangani Inter atau tidak.

Tidakkah ada kerinduan seorang ayah untuk misalnya memoles lagi anak perempuannya? (saya sedikit tersenyum setelah mengajukan pertanyaan ini)

(Moratti juga tersenyum sebelum menjawab) Anda sepertinya membaca juga wawancara saya dengan La Gazetta Dello Sport pada 2013 lalu. Saya mengenal Inter pertama kali di hidup saya ketika ayah saya menjabat sebagai presiden klub dan kala itu Helenio Herrera sebagai pelatih. Kita semua tahu bagaimana hasil kombinasi ayah saya dan Herrera untuk Inter. 4 tahun, 3 scudetto dan 2 Piala Eropa. Gila. Luar biasa. Tak heran jika orang saat ini melabeli tim di era itu dengan label La Grande Inter. Saya saat itu berusia belasan tahun. Usia dimana biasanya seorang laki-laki mulai memasuki masa dimana terbentuknya pola pikir yang akhirnya menentukan sikap dan sifat dalam menjalani hidup. Hingga akhirnya pada Februari 1995 saya membeli Inter dari Ernesto Pellegrini, buat saya pribadi itu adalah sebuah tindakan yang saya ambil berdasarkan apa yang saya alami ketika saya berusia belasan tahun sudah mulai mencintai Inter. Cinta yang saya analogikan seperti cinta seorang ayah kepada anak perempuannya. Kerinduan akan selalu ada dan tak mungkin hilang, namun seorang ayah yang baik tentu tak ingin menghambat perkembangan anak perempuannya agar lebih baik lagi di masa depan.

20 nama silih berganti mengisi posisi pelatih Inter di 18 tahun kepemimpinan anda, bagaimana hal itu bisa terjadi?

Seorang ayah yang baik, biasanya juga tidak ingin jika anak perempuannya memiliki hubungan atau bersanding dengan pria-pria yang kurang baik. Itulah yang sesungguhnya terjadi. Ada semacam ketidakrelaan dari diri saya pribadi ketika melihat pelatih-pelatih yang ternyata belakangan di ketahui berlevel medioker menangani klub sehebat Inter.

Lebih dari 1 milliar dollar anda keluarkan sejak 1995 hingga 2013, sebanyak itu kah yang seorang ayah harus hamburkan untuk anak perempuannya?

Suatu keharusan atau tidak, saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Tapi begini, kepada seorang anak perempuannya, sang ayah biasanya tak bisa untuk berkata tidak. Sulit juga bagi seorang ayah menolak permintaan dari anak perempuannya, meski itu harus membuat sang ayah mengosongkan semua isi dompetnya.

Pernah terbersit penyesalan karena mengeluarkan uang sebanyak itu untuk Inter terutama dalam hal pembelian pemain?

Sama sekali tidak ada penyesalan. Yang sering terjadi pada saat itu adalah saya berpikir lalu bertanya kepada diri saya sendiri, “pantas kah pemain itu saya datangkan dengan harga tinggi?” atau “apakah transaksi yang baru saya lakukan tadi akan berguna untuk Inter?”

Lalu, anda sendiri bisakah menjawab pertanyaan yang justru seperti anda bilang tadi di tanyakan juga oleh diri anda sendiri?

Beberapa pemain saat itu layak saya beli dengan harga tinggi. Beberapa juga sebenarnya seharusnya tidak semahal itu. (Moratti tertawa).

Bisa anda sebutkan siapa pemain yang memang saat itu layak anda beli dengan harga tinggi?

Tentu saja Luiz Ronaldo. Saya termasuk beruntung pernah terlibat langsung dalam pembeliannya dan menyaksikannya bermain dengan seragam Inter. Bagi saya pribadi, ia adalah pemain no 9 terhebat yang pernah ada. 27 juta dollar yang saya keluarkan sebanding dengan kepuasan yang saya dapatkan ketika melihatnya bermain dengan balutan seragam biru-hitam.

Lalu untuk gelontoran uang banyak yang ternyata mengecewakan, bisa anda sebutkan?

Ada beberapa nama dan semoga saja anda tidak terkejut mendengarnya. Anda ingat Amantino Mancini? Ia benar benar tidak mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya yang ia tunjukkan di Roma ketika bergabung dengan Inter. Lalu Francesco Coco. Datang ke Inter dengan nominal uang yang cukup besar plus melepas Clarence Seedorf ke Ac Milan seharusnya bisa menjadi gambaran betapa saya berharap ia bisa berguna untuk Inter. Namun yang terjadi kemudian sangat bertolak belakang. Seedorf sukses manjadi juara Champions League, sementara Coco sibuk bolak balik ke meja operasi dan ketika pulih pun permainannya tak pernah memuaskan. Yang terakhir jelas, Ricardo Quaresma. Saya tidak bisa berkata banyak. Jika seorang Jose Mourinho yang senegara dengannya saja tak habis pikir mengapa kualitas Quaresma begitu mengecewakan, apalagi saya. (Moratti kembali tertawa.)

Dari puluhan pemain yang pernah anda datangkan, siapa yang menurut anda pribadi adalah pembelian terbaik anda?

Saya sudah sering mendapat pertanyaan ini, dan jawaban saya tak pernah akan berubah, Javier Zanetti. Rasanya saya tak perlu menjelaskan mengapa ia saya anggap sebagai pembelian terbaik saya. Cukup menarik jika melihat bagaimana proses kedatangannya ke Inter kala itu. Saya sebenarnya belum selesai dalam urusan pengambilalihan Inter saat itu, lalu seorang kawan memberikan rekaman video yang berisi tim Argentina U20 dan kawan saya tersebut memberi pesan agar saya mengamati betul permainan Ariel Ortega yang menurutnya berbakat. Namun yang terjadi kemudian ketika menonton rekaman video itu, saya justru tertarik pada seorang bek yaitu Javier Zanetti. Dan dari apa yang saya saksikan sejak pertama kali hingga akhirnya Zanetti memutuskan pensiun, saya merasa terberkati betul pernah merekrutnya dengan kualitas yang di tunjukkannya baik di dalam maupun di luar lapangan dari dirinya.

Terakhir, 9 Maret 1908 hingga 9 Maret 2017. 109 tahun usia klub yang begitu anda cintai dan pernah anda pimpin, ada yang ingin anda sampaikan?

Seperti yang sudah saya ceritakan secara singkat tadi, sejak kecil saya tidak pernah lepas dari yang namanya Inter. Saya tumbuh dewasa dengan Inter sebagai impian dan kemudian menduduki posisi presiden klub untuk mewujudkan impian masa kecil saya. Beberapa orang menjuluki Inter dengan Il Biscione atau ular besar. Seekor Ular Besar tidak akan pernah kehilangan racunnya. Dan saya serta jutaan orang lainnya yang tersebar di seluruh dunia adalah racun dari ular besar bernama Inter. Loyalitas saya dan jutaan Interisti lainnya bisa menjadi gambaran betapa besar dan hebatnya sebuah klub bernama Inter. Saya secara sadar dan tanpa paksaan ketika memutuskan untuk menjadi penggemar Inter, dan saya yakin jutaan orang lainnya pun demikian. Lalu ketika pilihan untuk mencintai Inter telah di ambil, secara otomatis kita semua seperti keracunan segala hal tentang Inter. Saya sudah melihat dengan mata kepala saya sendiri beberapa orang yang sangat keracunan Inter. Entah dengan mengoleksi banyak jersey Inter dari tahun ke tahun, mengetahui dengan benar detail sejarah panjang Inter bahkan saya pun tak hanya satu atau dua kali bertemu dengan mereka yang sengaja jauh-jauh datang ke Italia untuk menonton Inter berlaga. Tak peduli performa Inter sedang baik, biasa saja atau malah sedang terpuruk akan selalu ada orang yang memutar lagu Ce Solo Inter di gadget pribadinya, akan selalu ada teriakan kompak Chi Noi Siamo dari curva, dan pasti akan selalu ada orang yang melangkah dengan bahagia memasuki Meazza.

IL BISCIONE NON PERDERA MAI IL SUO VELENO… Ular Besar tidak akan pernah kehilangan racunnya.

Tanda panah tetikus ku mulai ku arahkan ke logo disket di sebelah kiri atas. Hanya dengan satu klik saja tugas ku hari ini selesai. Sebuah tugas yang sangat berharga dan penting untuk ku pribadi. Kesempatan bertemu dan berbincang empat mata dengan Massimo Moratti adalah pengalaman berharga yang kelak akan ku banggakan kepada anak cucu ku nanti. Aku melirik ke jam yang melingkar di tangan kiri ku, sudah pukul 01.55 pagi. Lampu meja kerja ku matikan seraya berangsur menuju tempat tidur yang hanya berjarak dua langkah mundur dari tempat ku duduk tadi. Sebelum selimut ku tarik dan mata terpejam, aku ingin menutup sekaligus memulai bergantinya tanggal hari ini dengan ucapan, Selamat Ulang Tahun Ular Besar. Forza Inter.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Kapten Pendosa

Beberapa tahun lalu, Claudio Lotito, presiden klub Italia, Lazio mengecam Ultras Lazio
Go to Top