Si Anjing yang Memaafkan

oleh

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang begitu memesona. Di suatu bukit yang ribut terlihat seekor anjing liar kecil yang melangkah gontai, dengan kepala tertunduk berjalan dengan ekor menyentuh tanah, tak ada semangat barang sedikitpun. Seolah segala beban dalam kehidupan anjing sedang ia pegang.  Pada waktu yang berkelebat Si Anjing kecil kini tertelungkup di sebuah batu besar, “huh,” menghembuskan nafasnya pelan, matanya nanar memandang ke jauh entah. Pada waktu yang bersamaan, diiringi matahari yang undur diri, Ibu Si Anjing kecil datang menenangkan seperti bagaimana biasa yang dilakukan oleh ibu dalam kategori dunia manapun, “Oi, kenapa mukamu begitu menyebalkan untuk dipandang?”

Si Anjing Kecil menjawab jengah. Dilihatnya Anjing betina itu dengan tatapan yang, masih saja, kosong. Sebentar saja. Sebelum ia kembali memalingkan mukanya. “Baiklah, jagoan. Jika memang kau ingin sendiri. Dan tampaknya kau memang membutuhkannya. Aku tidak akan mengganggumu. Tapi jangan mati karena terlalu lama diam dan lapar. Itu, aku bawakan tulang segar. Daging yang menempel pada beberapa bagiannya masih cukup untuk mengenyangkanmu barang satu malam,” dengan moncongnya Si Anjing Betina menunjuk potongan tulang yang ia bawa. Jaraknya hanya berbilang satu-dua depa dari tempatnya berdiri. Si Anjing Kecil mengangguk, acuh. Dan seperti itulah ia kemudian, bertelungkup penuh keengganan. Dalam kepalanya berkecamuk banyak hal yang terjadi hari ini, mendengus sebal. Beberapa ekor kunang-kunang datang bergerombol dengan upaya untuk mengganggu Si Anjing Kecil sebagaimana biasanya. Lalu kemudian kunang-kunang itu memberitahu Si Anjing Kecil bahwa di balik batu, beberapa depa dari tempatnya duduk, ada dua ekor kucing yang sedang bersembunyi. Memakan potongan hasil curian dari kampung di bawah bukit. Biasanya, seperti itu ampuh untuk membuat gaduh. Tapi lihatlah, Si Anjing kecil masih tetap tidak peduli. Khidmat dengan segala kesusahan yang ia alami.

***

“Aduh,” Si Anjing Kecil memegang kepalanya, “Ibu! Sakit tahu. Kenapa, sih, apa itu? Tulang? Kenapa dilempar ke kepalaku” ia protes, kekesalannya semakin membuncah, bahkan kalimat untuk ibunya itu diucapkan dengan nada sedemikian tinggi. Ibunya menyalak, tertawa. “Syukurlah, aku pikir kau pingsan, atau malah mati. Oi, sudah berjam-jam kau diam saja. Tak bergerak walau sedikit. Apa yang terjadi padamu, Nak? Ceritakanlah.” Dari jarak dua depa Si Anjing Betina memupukkan sebelah kakinya, meminta Si Anjing Kecil untuk datang mendekat, bercerita. Butuh beberapa detik lamanya sampai Si Anjing Kecil membuat keputusan, ia mengangguk, mendekat dan menyerah pada kesendirian. Ia butuh teman tempat ia menumpahkan semua cerita, dan ia tahu itu. Dan ibu, bagaimanapun, adalah pilihan terbaik untuk itu semua.

Di samping ibu, Si Anjing Kecil itu sudah duduk. Masih beberapa dengus nafas menunggu sampai ia akhirnya benar-benar berbicara. “Aku tak akan pernah bisa bermain lagi dengan Bobby, Bu. Tidak akan pernah.” Kalimat pertamanya muncul terbata berbarengan dengan air mata yang bergulir, bergerak perlahan di antara bulu-bulu halusnya. Si Anjing Betina mengerti akan situasi. Sebetulnya ia sudah bisa menebak. Ia tahu betul anaknya, yang selalu ceria, hanya akan berubah murung jika ada sesuatu yang terjadi pada ikatan persahabatannya dengan Bobby, anak kepala desa di bawah bukit sana. Bahkan, oleh Bobby, anjing kecil itu diberi nama Heli. Ia senang bukan main, ekornya yang belum terlalu panjang dikibaskan sembarang, berlari, meloncat sepanjang hari, mengganggu sekawanan katak yang sedang berkumpul di tepi selokan. “Oi, katak! Siapa namaku?” tanya Si Anjing Kecil waktu itu, sore hari ketika pertama bertemu dengan Bobby. Katak yang sama sekali tidak memiliki gagasan hanya mengangkat bahunya tidak peduli. “Aku Heli. ingat itu baik-baik!” Si Anjing Kecil melanjutkan tertawanya seraya berlari bergembira.

“Oh, ya? Kenapa? Bukankah kalian berteman baik? Atau jangan-jangan kau membuat ulah sampai Bobby sedemikian marah. Jika benar begitu, aku tidak terlalu heran, dalam beberapa hal. Kau memang nakal. Manusia itu pasti marah dengan polah yang kau buat” Si Anjing Betina mengambil kesimpulan sepihak. Ada unsur canda di dalamnya. Jika dalam kondisi normal seperti biasanya, kalimat sang ibu barusan pasti disanggah oleh anjing kecil itu dengan kalimat canda yang lain, tapi untuk urusan ini anjing kecil itu sedang malas bercanda. Ia hanya menjawab dengan sebuah gelengan. “Tidak, Bu.” Kalimatnya terputus. Pertahanannya yang ia jaga sedari tadi kini telah hancur. Air matanya sudah bukan lagi guliran kecil, ia jatuh berhamburan, mengejewantahkan segala sendu yang sedari tadi ia simpan sendirian. Beberapa depa dari tempat mereka, dua ekor kucing yang bersembunyi tadi menatap iba. Pikir mereka, dalam kesedihan bahkan seekor anjing yang selama ini mereka takuti pun, bisa berubah menjadi sedemikian pilu.

“Baiklah, Nak.” Si Anjing Betina berkata kemudian, “ceritakanlah.” Kakinya kini memeluk kepala Si Anjing Kecil, memberikan kehangatan untuk malam yang semakin dingin.

Sumber gambar: Wallpaperscraft.com / penyesuaian oleh andhikamppp.com

***

Cerita dimulai saat ia bergegas berlari ke arah kampung di bawah bukit setelah siang tadi ibunya memberikan jilatan manja pada sekujur tubuhnya, mandi. Ketika itu Ia masih tertawa memesona dengan semangat yang hanya dimiliki oleh seekor anjing liar. Di perjalanan ia bertemu seekor katak kecil di pinggir selokan, menyapanya sebagaimana biasa. “Oi, Heli!” Si Katak menyapa, “Tak maukah kau membagi kebahagiaan yang kau punya barang sedikit? Menyenangkan sekali melihat kau yang selalu riang sepanjang hari.” Yang ditanya hanya menggongong kecil, “nantilah, sesekali aku ajak kau bermain ke kampung bawah bukit. Asalkan kau tidak merengek kelelahan mengejarku berlari.” Si Anjing Kecil tersenyum dan pergi sambil mengibaskan ekornya berulang, simbol keangkuhan yang dibuat-buat.

Tawa itu masih ada, dan semakin riang ketika sahabat kecilnya, Bobby, sudah menunggu di kampung bawah bukit dengan tangan yang membentang. Menawarkan pelukan persahabatan. “Tangkap, Heli!” setelah salam pertemuan yang khas, Bobby melempar sebuah bola kasti yang ia ambil sembunyi-sembunyi dari peralatan olahraga milik ayahnya. Si Anjing kecil mengejar bola itu, lantas dengan mulutnya bola kasti itu dikembalikan kepada Bobby. Demikian berulang. Sesekali Bobby melempar jahil ke arah semak-semak atau ke arah kosong yang untuk mengejarnya Si Anjing Kecil itu harus bersusah payah melewati kubangan air. Pada bagian ini, Si Anjing Kecil menceritakannya dengan senyuman yang sedikit. Ia diam sejenak, mengenang ikatan emosional yang hanya dimengerti oleh dua sahabat, anjing dan manusia. “Tak terbayang seberapa lelah setiap aku bermain dengan Bobby, Bu. Berlari-lari saling mengejar, tertawa sedemikian bahak. Tapi itu kelelahan yang pantas, yang dibayar dengan rasa senang luar biasa.” Si Anjing Betina mengangguk, menjawabnya dengan senyum penuh penghargaan.

“Tapi siang tadi,” sekali lagi kalimat Si Anjing Kecil tertahan. Dengan susah payah Si Anjing Kecil melanjutkan ceritanya.

Setelah waktu bersenang-senang siang tadi, Kepala Desa datang dengan sebilah kayu kecil. Mengibaskannya ke segala arah demi upaya menjauhkan Bobby, anaknya, dari Si Anjing Kecil. “Pergi kau anjing sialan!” Si Kepala Desa berteriak lantang. Si Anjing Kecil yang belum mengerti situasi yang terjadi hanya dapat menatap kosong ketika tangan Bobby ditarik paksa oleh ayahnya. Menjauh beberapa depa. Si Anjing Kecil yang masih tidak mengerti berlari mengejar, mengaing, meminta penjelasan dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh anjing. Si Kepala Desa menghentikan langkah kakinya. Dan Si Anjing Kecil tersenyum. Berhasil, pikirnya dalam hati, ucapanku ternyata dimengerti. Ia salah, tentu saja. Si Kepala Desa malah mengacungkan batang kayu itu ke arah Si Anjing Kecil yang tak sempat menghindar, batang kayu itu hampir menyentuh moncongnya. “Sekali saja aku melihatmu lagi di sini, aku tak akan segan untuk memukulmu dengan kayu ini. Dan kau, Bobby. Sekali ayah melihatmu bermain dengan binatang kotor ini, ayah juga tak akan segan untuk memukulmu.”

Yang terjadi kemudian adalah keheningan. Si Anjing Kecil menatap kosong punggung ayah-anak yang menjauh pergi. Ia menangis, memutar badannya, bersiap kembali pulang. Keceriaan yang tadi ia bawa sudah hilang sempurna. Saat itu matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang begitu memesona.

***

“Dan kau sekarang marah kepada Si Kepala Desa?” Si Anjing Betina menyimpulkan cerita anaknya. Ia menjilati bulu-bulu halus di kepala Si Anjing Kecil, berusaha menenangkan. Si Anjing Kecil mengangguk, “mengapa ia begitu membenci anjing, Bu? Apakah menjadi seekor anjing adalah sebuah kesalahan? Sampai aku mendapatkan penghinaan sedemikian rupa. Jika menjadi anjing adalah kesalahan, kenapa Tuhan menciptakan anjing?”

Sebenarnya, bukan sekali-dua Si Anjing Betina memiliki pertanyaan yang sama dengan apa yang ditanyakan anaknya barusan. Kenapa Tuhan menciptakan anjing jika kemudian diperlakukan sedemikian hina oleh manusia, yang sering kali dianggap sebagai makhluk yang Tuhan yang paling sempurna. Bukan sekali-dua juga Si Anjing Betina mendapat perlakukan serupa. Malah, ketika kecil dulu, Si Anjing Betina dipukuli nyaris mati oleh manusia tanpa alasan yang hewani. Hanya karena ketahuan mengambil sisa-sisa makanan dari tong sampah di depan rumah manusia.

“Nak,” katanya kemudian.

“Tuhan memiliki alasan untuk segala yang Dia ciptakan. Semuanya memiliki ketergantungan, sebagai rantai yang tak pernah putus. Tugas dan tujuannya dijelaskan dalam rangkaian panjang kehidupan. Kelak pada waktunya kau akan mengerti tentang tugas-tugas itu. Lalu apakah menjadi anjing adalah sebuah kesalahan? Tentu saja tidak. Tuhan tidak akan pernah salah setiap kali ia mencipta.”

“Kau tahu apa yang membedakan antara manusia dengan kita? Selain bentukan fisik, tentu saja.” Giliran Si Anjing Betina yang bertanya. Ia berdiri, melangkah menuju sumber air yang mengalir di sepelemparan batu dari tempatnya duduk. Menjilat beberapa kali sumber air tersebut, minum, sembari membiarkan anaknya berpikir sejenak.

“Kau tahu?” ia mengulang pertanyaan sekembali dari minumnya.

“Tidak, Bu” Si Anjing Kecil menjawab dengan kepala yang menggeleng, masih menelungkup, meski kini getaran suaranya sudah mulai kembali stabil. Air matanya, meski belum benar-benar kering, sudah berhenti turun. Si Anjing Betina duduk, kini posisi mereka berhadapan. Dengan moncongnya, Si Anjing Betina mengangkat kepala Si Anjing Kecil. “Akal dan pikiran. Itulah anugerah terbaik yang diberikan oleh Tuhan untuk para manusia. Yang tidak kita dan makhluk lain miliki. Lalu apakah anugerah itu menjadi sesuatu yang spesial? Sesuatu yang membuat kita harus merasa iri? Boleh jadi, iya. Tetapi boleh jadi juga,tidak. Kita tak perlu merasa iri. Aku bahkan berterima kasih kepada Tuhan untuk tidak dianugerahi akal dan pikiran seperti manusia. Kau tahu alasannya? Akal dan pikiran adalah sebuah amanah yang luar biasa besar dari Tuhan. Aku pikir, aku tak akan sanggup menjaga amanah itu.”

Si Anjing kecil hanya memandangnya tanpa reaksi. Ada beberapa hal yang tidak ia mengerti dari apa yang disampaikan oleh ibunya.

Sumber gambar: pixelstalk.net / penyesuaian oleh andhikamppp.com

“Maksudku begini. Apa yang kau bilang tadi? Kau marah karena mendapatkan penghinaan dari manusia? Nak, maklumilah. Bagaimanapun kita adalah makhluk yang berbeda dengan mereka. Dalam beberapa kasus, bahkan kau pun sering melakukan hal serupa pada kucing-kucing itu, bukan? Karena kau sedang gundah seperti ini saja dua kucing di depan tadi bisa berkeliaran bebas tanpa khawatir diganggu. Tapi apa kau pernah melakukan itu pada temanmu sesama anjing? Nak, untuk dalam hal ini aku sangat bersyukur diciptakan sebagai seekor anjing. Setidaknya, kita tidak memperlakukan sesama kita dengan cara yang hina. Tapi, para manusia itu? Bukan hanya kau saja, Nak. Bahkan mereka tega melakukan penghinaan kepada sesamanya. Dan perlakuan itu muncul dari hal-hal yang di luar nalar. Memukul? Astaga, bahkan banyak dari mereka sesama manusia yang tega untuk saling membunuh untuk alasan yang benar-benar sepele, bukan sampai alasan yang menentukan hidup mati sekalipun. Akal dan pikiran yang diberikan oleh Tuhan sama sekali tidak mereka pergunakan. Atau, boleh jadi, akal dan pikiran itu mereka gunakan. Tapi yang lebih penting, di atas segalanya, mereka tidak pernah menggunakan hati dan perasaan mereka. Sesuatu yang lain yang sama pentingnya dengan akal dan pikiran. Sesuatu yang kita juga miliki dan, setidaknya sampai saat ini, masih kita gunakan dengan teramat baik.”

“Sama dengan Si Raja Hutan di tengah hutan, dong. Bukankah Si Raja Hutan juga suka membunuh rusa dan domba?” Si Anjing kecil bergidik, ada hal-hal yang ia bayangkan yang membuatnya takut.

“Tentu saja tidak sama. Bukankah sudah aku sampaikan sebelumnya bahwa Tuhan memiliki alasan untuk segala yang Dia ciptakan. Sebuah ketergantungan, sebagai rantai yang tak pernah putus. Si Raja Hutan dengan rusa atau domba adalah bagian dari rantai itu. Si Raja Hutan memerlukan itu untuknya menyambung hidup. Sebuah ketergantungan antara yang memakan dan yang dimakan. Rantai itu berlanjut, domba dan rusa memakan rumput. Begitu seterusnya. Beruntung, kita berada dalam rangkaian rantai yang berbeda, kita tidak perlu menjadi mangsa Si Raja Hutan, dan kita juga tidak perlu memangsa hewan lainnya. Tapi, manusia melakukannya dengan tujuan yang berbeda. Sama dengan kita, manusia berada dalam rangkaian rantai yang berbeda. Dan melukai atau membunuh, jelas tidak ada dalam siklus rantai yang para manusia miliki. Tapi, nak. Untuk banyak kasus, mereka tidak segan malah tidak merasa bersalah untuk melakukannya. Sekali lagi, akal dan pikiran sebagai amanah dari Tuhan tak pernah benar-benar bisa mereka jaga. Jika akal dan pikiran bisa mereka gunakan, mereka tidak akan pernah sampai hati untuk melakukannya. Lebih baik tidak mempunyai akal sama sekali, sama seperti kita dan hewan lainnya, ketimbang punya tapi kemudian kehilangan akal dan pikiran itu. Hei, apakah kau pernah mendengar anjing membunuh sesamanya?”

Si Anjing Kecil mengangguk takzim. Mulai memahami apa yang disampaikan oleh ibunya. Satu pertanyaan yang masih mengganjal, kemudian ia sampaikan. “Jadi, maksud ibu. Aku tidak boleh marah kepada Si Kepala Desa?”

Si Anjing Betina menggeleng, “kau memiliki hak sepenuhnya untuk marah. Bagaimanapun, anjing seperti kita pun memiliki hati, memiliki perasaan senang, sedih dan juga marah. Tapi, kau juga punya hak untuk memafkan. Dan untuk kasus ini, ketimbang marah lebih baik kau memaafkan Si Kepala Desa. Pikirkanlah apa yang aku sampaikan tadi baik-baik. Besok lusa, aku pastikan kau tidak akan marah lagi. Malah, boleh jadi kau akan merasa kasihan kepada para manusia. Dan sunguh akan merasa beruntung Tuhan menciptakanmu sebagai Anjing.”

“Dengan aku memaafkan Si Kepala Desa. Apakah aku akan bisa bermain lagi dengan Bobby. Bu?” Si Anjing Kecil menanyakan hal lain yang mengganjal, sesuatu yang menjadi sumber kesedihannya hari ini. Si Anjing Betina menyalak, tertawa. Hal lain yang ia banggakan dari keputusan Tuhan menciptakan ia dan anaknya sebagai anjing adalah perasaannya yang kuat akan persahabatan, kesetiaan. Bahkan, setelah disakiti sedemikian rupa sekalipun. Seekor anjing akan tetap memegang teguh ikatan yang telah mereka buat. Hal yang pada kehidupan manusia adalah sesuatu yang langka. Sekali saja ada kekecewaan dalam sebuah ikatan yang melibatkan manusia, jangan pernah berharap ikatan itu tetap utuh seperti sedia kala. Manusia, selalu abai terhadap betapa pentingnya persahabatan dan juga kesetiaan. Untuk urusan ini, anjing adalah tauladan yang baik dari semua makhluk yang diciptakan Tuhan.

“Aku tak bisa menjanjikan itu, Nak. Manusia seringkali bebal. Tapi kau tidak perlu khawatir, masih banyak persahabatan lain yang bisa kau dapatkan. Dari sesamamu atau mungkin dari manusia lain. Tenang saja, meskipun sedikit. Masih ada, kok, manusia yang mampu menggunakan akal, pikiran, dan hatinya dengan baik. Masih ada dari mereka yang mengerti bagaimana seharusnya perasaan dijaga, bagaimana seharusnya menghargai, menjaga sebuah rantai ketergantungan agar tetap utuh. Meski, tidak banyak, amat tidak banya. Tetapi, aku rasa masih ada. Mari bersemoga, Nak”

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

30 Comments

  1. Kasihan si anjing kecil persahabatannya dengan bobby harus berakhir

    Tapi memetik pelajaran memaafkan dengan sepenuh hati atas sikap orang lain itu gak gampang. Kadang aku perlu waktu lama untuk memaafkan

  2. Jadi inget cerita Hachiko si Anjing setia dari Jepang yang diabadikan patungnya. Indeed, Anjing itu kalau melihat faktanya memang Men’s best friend! Makanya sedih ya kalau ada pasar kayak Pasar Tomohon, tapi itu kita ngga bisa apa-apa juga, karena itu kearifan lokal setempat dan tradisi yang sudah lama.

  3. Anjing di Al-Qur’an memang dilabel haram, tapi bkn berarti kita berhak menganiayanya dan juga pd hewan yg tdk kita suka. Menghargai sebagai sesama makhluk Tuhan, itu kuncinya

  4. Saya kalau lihat anjing buru2 kabur karena ribet saat bersucinya. Kalau kita menganiaya hewan, mgkn mereka memang sedih dan galau ya

  5. Kenapa gak dilanjutin aja bang, jadi proyek bikin buku antologi kumpulan cerpen 😂

    Tulisan yg menarik karena menggunakan tokoh-tokoh utama seekor dan diselingi juga tokoh pendukung. Seperti biasa dalam tulisannya diselipi nilai moral kehidupan yg layak utk direnungkan :))

    Sebagaimana tuhan telah menciptakan suatu mahluk, pada dasarnya sudah terbagi tiap kehidupan mereka. Jadi tidak perlulah untuk iri atau mengeluh soal perbedaan kehidupan yg diperoleh.

    Tapi yg jadi lain itu, adalah tokoh utamanya itu anjing, sekiranya jika manusia itu sudah terlalu biasa, ini anjing euy. Bisa aja nih bang dika nulisnya… Jadi ingat sama buku O nya Eka Kurniawan, tokoh utamanya bukan manusia tp hewan

  6. dapat di ambil kesimpulan bahwa seberapa orang berperilaku kasar jahat kepada kita. walaupun, kita terlihat kesal dan juga ingin marah alangkah baiknya kita bersikap memaafkan perilaku orang jahat atau kasar tersebut

  7. Fabel yang menarik ini. Terjawab sudah bahwa anjing adalah binatang paling sabar. Dia namanya diganti jadi ‘anjir’, ‘anjay’, ‘anying’, ndak pernah marah. Anjing, lah…

  8. “Akal dan pikiran adalah sebuah amanah yang luar biasa besar dari Tuhan. Aku pikir, aku tak akan sanggup menjaga amanah itu.”

    Poinnya cantik sekali, suka sama inti cerita yang disampaikan. Mengambil sudut pandang lain. Ululu~~

    Tapi, eits, aku nemu banyak bahan buat ngoreksi tulisanmu yang ini, Om muehehe :3

  9. Seprti biasa aku suka tulisan2 mas andhika, tulisan yang dibuat sederhana dan apa adanya tp mempunyai makna yg dalam.
    Entah ide dr mana, sebuah nasehat bisa muncul dr cerita seekor anjing. Aku jadi ingat kucingku dirumah, kdang aku suka jhat sm merka, kucingku sayang kucingku malang

  10. Seperti biasa aku suka tulisan2 mas andhika, tulisan yang dibuat sederhana dan apa adanya tp mempunyai makna yg dalam. Entah ide dr mana, sebuah nasehat bisa muncul dr cerita seekor anjing. Aku jadi ingat kucingku dirumah, kdang aku suka jhat sm merka, kucingku sayang kucingku malang.

  11. di tulisan ini, saya bisa mengambil pelajaran bahwa memaafkan seseorang itu tidak segampang membalikkan kedua telapak tangan, mungkin lidah bisa berbohong “iya aku maafin kamu” tapi di dalam belum tentu bisa menerimanya dengan ikhlas

  12. Binatang anjing itu punya makna paling dalam saat di ucapkan.
    Setiap penyebutannya seringkali mengandung sesuatu. Tapi sudahlah… Namanya juga binatang kerap dimanfaatkan manusia, dan belajar darinya.

  13. Iya yaa.. tidak hanya Anjing, tetapi begitu juga dengan hewan lainnya yang harus diperlakukan sebagaimana mestinya :’)
    Kucing di rumah aja meskipun ngga tau pasti apa yang ada dipikirannya, tetapi terlihat senang dan baikbaik saja ketika ia diperlakukan dengan baik, dengan senyuman 🙂

  14. Lalu, manusia yang tidak bisa menghargai, suka menyakiti sesama, dan apalagi sampai membunuh. Itu bisa dikatakan lebih buruk dari anjing? :))

    Kok jadi serem, ya. Kalau akal dan pikiran gue gak dimanfaatkan sebaik-baiknya. 🙁

  15. Untuk hal kesetiaan, sepertinya manusia tidak akan bisa seperti anjing. Anjing terlalu keras kepala dalam hal kesetiaan, karena itulah mereka selalu memilih memaafkan lalu melupakan dan bersikap seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang buruk pada mereka.

    By the way, saya agak terganggu dengan kata “depa” yang digunakan berkali-kali, padahal ada beberapa kata dengan arti yang sama yang bisa digunakan. Tapi lepas dari itu, saya cukup suka tulisannya karena pesannya sampai.

Tinggalkan Balasan ke Robby Zulkifli Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Cinta Seorang Hina

Tak pernah ada yang dapat mengalahkan gempitanya pasar yang bertransaksi. Suara ibu

Ruang Hati

Bagaimana jika kita memulainya dengan satu cerita lucu. Waktu aku, dengan wajah

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Kotaku di Waktu itu

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda
Go to Top