Goodbye, Mojok

oleh

Bangsat betul hari ini. Sudah terlambat datang kantor kesekian kalinya akibat jalanan yang tidak bersahabat ditambah pula dengan ulah Puthut EA melalui laman facebooknya yang menjelaskan bahwa Mojokdotco, salah satu situs gacoan anak kekinian, akan segera purnakarya. Saya bingung tapi tidak sendirian. Maka kemudian yang terjadi adalah, di twitter, para fans dan haters merespon maklumat Puthut itu tadi dengan cara yang memesona: #goodbyemojok menjadi trending topic di seantero nusantara. Isinya? Sebagian besar menyayangkan keputusan Sang Kepala Suku yang, bagaimanapun, membuat kita-kita ini kekurangan bacaan yang apalah-apalah. Sulit sekali menemukan media yang mampu mengawinkan batu akik dengan pledoi kaum tuna asmara, selain Mojok siapa lagi yang bisa? Sebagian besar lainnya bersimpuh dalam sujudnya dengan penuh rasa syukur akhirnya, setelah menunggu sekian lama, situs antek kuminis ini akan segera dibumi hanguskan tanpa perlu mereka, para haters itu, bersusah payah membuat demo sesuai tanggalan cantik. Kebingungan saya tadi, kini menjadi lamunan yang berkelebat.

Mengenal Mojok di pertengahan tahun dua ribu empat belas silam. Saya mengetahuinya setelah membaca salah satu artikel pada sebuah thread di salah satu forum ternama. Artikel tersebut adalah sebuah pesan, surat, yang disampaikan untuk salah satu artis ternama yang sebetulnya tidak ternama-ternama amat. Mengejewantahkan segala perasaan dan boleh jadi akibat yang muncul atas polah si artis kala itu. Ditulis dengan gaya bahasa jenaka dan juancuk tenan dan di waktu kemudian gaya seperti inilah yang membuat Mojok menjadi begitu dicintai sekaligus dibenci oleh khalayak. Ah, iya. Diakui atau tidak, saya pikir, tulisan yang saya sebutkan di atas tadi adalah sebuah jalan untuk Mojok mendatangkan penikmat yang kurang melek baca seperti saya. Ketika itu membaca Mojok adalah keniscayaan. Jika saja ada sekelompok orang yang membetuk Front Pembela Mojok, tentulah akan ada juga fatwa yang mengharamkan jika diketahui tidak membaca Mojok barang satu hari.

Berlebihan? Tidak juga. Kita seringkali merasa muak dengan pemberitaan banyak sekali media atas isu yang sedang berkembang di sekitar khalayak. Pemberitaan yang berpihak, atau akurasi judul berita dengan isi yang nyaris nol, atau hal-hal njilimet lain yang membuat kehadiran Mojok seperti oase di tengah menyebalkannya gurun tandus bernama media online. Ia tentu masih mengangkat isu-isu yang dekat dengan kehidupan rakyat, namun Mojok membawakannya dengan kemasan yang berbeda. Sesekali tulisannya dibuat dengan sedemikian canda, bukan sekali dua saya tertawa ketika membaca kumpulan aksara yang ada di Mojok, tapi lain kali ia menuliskannya sedemikian sadis dengan diksi-diksi yang apik namun sarkas. Penulisnya pastilah menyimpan dendam yang tak tersalurkan sedemikian banyak. Memaksa kita untuk mengucapkan asu berjamaah.

Saya termasuk salah seorang yang kemudian mengagumi para penulis Mojok. Terlebih mereka, jajaran penulis, yang berada di gelombang pertama. Arman Dhani, Bung Edho –propaganjen, Arlian Buana, Kokok Dirgantoro, sampai Si Kepala Suku, Puthut EA. Selain sebagai vitamin otak, membaca Mojok juga bisa digunakan sebagai latihan menulis untuk para penulis amatir seperti saya. Sedikit banyak Mojok memengaruhi gaya menulis saya. Memang betul level menulis saya masih jauh bak langit dan bumi jika dibandingkan nama-nama yang saya sebutkan di atas. Akan tetapi setidaknya, setelah sering membaca Mojok, ada sedikit perubahan pada tulisan saya. Terutama pada bagian ketika saya bernarasi. Dan kiranya saya patut mengucapkan terima kasih yang sedemikian banyak untuk Mojok.

Lebih lagi di penghujung tahun dua ribu empat belas Mojok membuat sebuah kompetisi blog terbaik bertajuk Mojok Award. Saya mendaftarkan blog ini sebagai salah satu peserta. Tidak menang memang. Tapi blog ini masuk nominasi 10 terbaik dari puluhan blog yang ikut. Untuk saya pribadi, itu pencapaian luar biasa. Dan sekali lagi, meningkatkan motivasi saya untuk menulis di kemudian hari. Atas terpilihnya saya di nominasi 10 besar saya diganjar dua buah buku, sebuah piagam, serta beberapa stiker Mojok. Buku itu salah satunya adalah karya Puthut EA, Mengantar Dari Luar, sebuah karya non-fiksi yang, lagi-lagi, menginspirasi saya. Oleh buku itu saya diajari bagaimana fiksi dan non-fiksi bisa disamarkan. Bagaimana kisah nyata bisa begitu asik untuk diceritakan. Piagam nominasinya masih tergantung rapi di salah satu sudut rumah. Sedangkan stiker, meskipun tak pernah saya tempel ke objek apapun, tetap setia bersama saya setiap harinya. Menjadi pembatas untuk setiap buku yang saya baca.

Banyak sekali kenakalan yang tidak sembarang pada setiap tulisan yang muncul di Mojok, yang sebentar lagi akan selalu dirindukan oleh orang-orang yang berakal. Ya, seperti slogan yang menghiasi Mojok selama ini: “Sedikit Nakal, Banyak akal”.

Pada akhirnya, keputusan itu telah dibuat. Mengutip apa yang ditulis kepala suku. Mojok didirikan dengan kegembiraan, dan akan diakhiri dengan cara yang sama (dengan kegembiraan juga). Maka keputusan itu boleh jadi teramat tepat, pergi ketika sedang begitu dicintai. Di tengah rasa cinta yang sedang dipuncak. Bukankah kepergian seperti ini menjadi kepergian paling hakiki? Sehingga, sampai waktu yang entah Mojok akan selalu diingat dan diterima dengan kenangan yang luar biasa indah. Terima kasih. Meski terlalu cepat, rasanya boleh saya ikut memeriahkan suara para pembaca yang sedang berdengung di dunia maya. Goodbye, Mojok.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

32 Comments

  1. Saya jarang baca mojok, tapi cukup suka dengan tulisan-tulisan yang ada di sana. Dan baru tau kalau mojok mau ditutup dari artikel ini. Sedih sih ini. Mojok sebagai media alternatif cukup menghibur. Tapi ga bisa apa-apa juga kalau sudah keputusannya begitu. Mungkin nantinya akan ada [bukan] mojok.co. hahaha.

    Btw 2014 saya juga pernah ikut lomba blognya mojok tapi hanya tertahan di 50 besar, mas. :))

  2. Saya nggak tertlalu ngikutin tulisan-tulisan di Mojok sih. Mungkin kalau baca-baca tautan yang dishare iya, pernah beberapa kali. Semoga saja ada wadah sejenis yang bisa menggantikan dan lebih seru. Siapa tau kita yang bikin, yuk lah mojok…

  3. Mas Andhika asalnya darimana yaa..?
    *ini termasuk komen yang gak nyambung yaa…?

    Soalnya aku kangen sama sapaan “Juancook”.
    Haahaa…

    Nostalgia jaman sekolah.
    Asal ada anak perempuan bilang gitu…selalu di cap “perempuan nakal.”

    Jadi,
    Tulisan mas Andhika ini masuk jajaran tema Mojok.
    “Sedikit Nakal, Banyak Akal.”

    • Saya sempet mikir, atas dasar apa sampai nanya asalnya darimana. Astaga, karena kata itu. Ahaha, enggak, saya dari sunda, Mbak.

      Cuma kata itu doank yang saya paham dengan khatam.

  4. Ditutup? Hm, apa mungkin ya nantinya nantinya membuka kanal baru yang lebih nyes buat hari-hari selanjutnya.
    seperti mengarep, menengah, atau apa gitu… hahahha.

  5. wah… Mojok padahal bagus tuh bacaannya. Tapi sayangnya sudah mau resign yaa. jadi sedih melihat berita ini. Tapi, selamat buat mas dhika jadi pemenang dari 10 peserta yang memenangkan lomba blog kompetisinya

  6. Aku juga ikut Mojok Award waktu itu, tapi gak masuk nominasi sama sekali wahahaha

    Sedih banget, semoga #GoodbyeMojok cuma gimmick doang. Masih gak bisa terima kalo Mojok ditutup. Sejak baca Mojok, aku jadi belajar banyak soal perspektif. Patah hati waaaakk :'(

    Kalaupun benar, semoga akan ada media lain yang mewadahi “sedikit nakal banyak akal”. 🙂

    • hahaha, berarti blog aku, yang waktu itu, lebih “nakal”.

      emm, kalau aku setuju sih sama keputusan di shutdown, mereka masih punya nama sekarang tapi kualitas udah mulai menurun, IMO, selagi masih di atas. Maka keputusan itu boleh jadi teramat tepat, pergi ketika sedang begitu dicintai. Di tengah rasa cinta yang sedang dipuncak.

  7. Wihh, keren. Masuk nominasi 10 besar blognya, broh!
    Sayang banget ya sama mojok ini. COba ditanya kenapa malah ninggalin pas lagi sayang-sayangnya?

  8. Jadi sedih ya. Kenapa media yg segar2 macam Mojok gini harus tergilas dari peredaran (di luar alasan yg pastinya sudah dipertimbangkan oleh founder). Tapi jgn kebanyakan sedih, coba saja tangkap peluangnya. Mungkin saja sbg bloger kita bisa membuat isi blog sekece Mojok.

  9. Aku baru baca Mojok dikit, kok udah mau tutup buku aja ya. Gaya menulis mreka emang bikin seger, satir gimana gitu. Smoga mreka penulisnya tetep berkarya

  10. Pernah mampir, tetapi bukan termasuk pembaca setianya. Memang sedih juga kalau tempat yang sering kita singgahi mendadak hilang dan pergi karena alasan apapun.. (?) Ikut prihatin 🙁

  11. Aku juga kaget pas Puthut EA bilang mojok.co mau tutup. Perasaan barusan ketemu Pimred-nya, Agus Mulyadi, gak ada bocoran apa2. Padahal Mojok keren secara konsep tulisan. Tapi aku percayalah kata Puthut, “ini berita bahagia”. Paling nggak, Gusmul yg terkenal dgn jomblo ngenesnya, bs dapet pacar dari Mojok. Hahaha…

  12. Write your comment…trima kasih atas kebersamaan mojok.co slama ini. Apakah ada saran buat kami untuk mencari tempat mojok yang lain ???

  13. kalau menurut saya sih, ini cuma semacam trik penarik masa, untuk kemudian mojok muncul lagi dengan gaya dan mungkin juaragan berbeda

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Mobil, Tiang & Benjol

Sudah satu minggu semenjak nusantara dihebohkan oleh berita kecelakaan lalu lintas yang

Kurang Piknik

Frasa ‘kurang piknik’ kerap digunakan untuk menandai orang-orang yang dianggap memiliki sensitivitas

Sepatu

Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita

Penulis Murah(an)

Beberapa waktu yang lalu, di twitter, saya mengunggah tangkapan layar dari sebuah
Go to Top