Disparitas dan Isi Kepala Suami Idaman

oleh

Hal yang paling mengusik hari-hari manusia adalah berpikir. Ketika hendak bepergian, kita berpikir tentang tujuan, rute, transportasi, dan biaya. Atau ketika ingin makan pun kita juga memikirkan soal jenis makanan, rasa, porsi, dan biaya. Bahkan hal sederhana seperti ngupil juga berangkat dari pertimbangan waktu, tempat, dan metode pencukilan upil itu sendiri. Berpikir itu sendiri merupakan aktivitas yang menyatukan ide-ide menjadi keputusan. Kita menyatukan ide “lampu merah” dan ide “berhenti” menjadi keputusan untuk menghentikan laju kendaraan saat lampu merah menyala. Nilai proposisi di sini hanya dua, benar atau salah. Keputusan berhenti saat lampu merah menyala adalah benar. Sedangkan menerabas lampu merah adalah salah. Nah, jadi tidak mungkin muncul pilihan ketiga, seperti berhenti sekaligus menerabas lampu merah.

Lazimnya, manusia menggunakan kesepakatan untuk menentukan benar atau salah. Akan tetapi,  populasi manusia terus meningkat hingga tiap individu sulit menyepakati sebuah keputusan.  Kemudian diberlakukanlah sebuah sistem yang kini kita kenal sebagai aturan. Aturan ini diperoleh dari segelintir pemikiran manusia saja, namun dampaknya berlaku untuk manusia yang jumlahnya berkali lipat lebih banyak dari para penyusun aturan.

Hal ini termasuk bagi anak-anak yang baru hadir ke Bumi. Begitu lahir, mereka sudah wajib masuk ke dalam sistem. Generasi baru itu sekonyong-konyong memiliki kewajiban untuk patuh terhadap peraturan. Sampai sini, kebenaran bagi individu tidak lagi diperoleh dari proses berpikir yang mendalam dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Kebenaran telah menjadi hal yang receh ketika ada pendisiplinan keputusan di sana. Jadi, sebenarnya ini mau ngomongin apa? Ngelu ndasku, Bos!

Hehe… Sorry, sorry. Perkenalkan, kami adalah duo perenung yang bernama Ilham Bachtiar dan Pertiwi Yuliana. Ilham adalah pembelajar seni yang menyukai sastra, dan Tiwi adalah pembelajar sastra yang menyukai seni. Maka kami membuat sebuah kolaborasi yang tidak ada hubungannya sama kedua hal itu. Sungguh akal budi yang tidak berguna sama sekali.

Nah, jadi sesuai dengan empat paragraf pembuka di atas, membuat kami sering berdiskusi yang pada dasarnya sedang mempertanyakan, “Apa benar demikian?” Lalu berlanjut pada pengandaian, “Bagaimana jika.” Hal ini yang kemudian diyakini bisa menghasilkan kebenaran-kebenaran altenatif. Maksudnya adalah kebenaran di luar klaim masyarakat pada umumnya.

Sayangnya, berdiskusi berdua saja kurang heboh. Kami perlu pihak ketiga. Kami perlu obat nyamuk. Maka dengan sedikit tergesa-gesa, tercetuslah sebuah ide untuk membuat program diskusi bernama Disparitas.

Apa itu Disparitas?

Secara etimologis, Disparitas berasal dari akronim ‘Diskusi Paradoksal dan Realitas’. Diskusi berarti pertemuan untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah. Lalu, Paradoksal menjadi sebuah kata yang menunjukan sikap seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum, tapi kenyataannya mengandung nilai kebenaran. Dan realitas ya kenyataan itu sendiri.

Maka,

Disparitas adalah ajang bertukar pikiran mengenai permasalahan umum yang dilihat melalui sudut pandang berbeda untuk menghasilkan bahan pertimbangan bagi kebenaran alternatif.

Meski demikian, Disparitas sendiri memiliki arti leksikal yang berarti perbedaan atau jarak. Tidak memiliki makna apa-apa kecuali menyimbolkan long distance relationship yang sedang kami tempuh. Ra urusan, woy! Hehe. Selain itu, jika kita membaca kata Disparitas dari kanan ke kiri, maka kita akan menemukan kata ‘satir’ di sana. Kesatiran barangkali akan mendekam dalam tulisan kami nantinya. Sedangkan kata ‘apsid’ juga bukan sembarang kata. Apsid merupakan singkatan dari  Asia Pasific Society for Immunodeficiencies.

Sudah begitu saja. Memang tidak ada hubungannya. Ya maaf..

Cara main Disparitas.

Pertama, kami mendiskusikan suatu masalah yang bisa muncul dari fenomena, teori, dan pengalaman pribadi. Ketika diskusi ini mengerucut pada suatu kebenaran alternatif, lekas saja kami menyimpannya sebagai tema.

Setelah itu kami memindai beberapa orang yang dirasa menarik dan cocok jika diajak diskusi. Tema yang sudah kami pegang tentu menjadi bekal untuk menentukan apakah orang yang akan kami ajak berdiskusi memiliki kompetensi baik pengalaman empiris maupun teoritis atau tidak.

Ketika kami sudah sepakat dengan satu nama, maka kami akan menghubungi orang tersebut. Jika ia setuju, maka langkah selanjutnya adalah menentukan hari untuk berdiskusi secara online. Jika tidak setuju, tentu kami mengulang kembali langkah sebelumnya. Seperti wudhu, batal harus dibayar.

Diskusi dilakukan via WhatsApp. Setelah itu selesai, kami menulis hasil diskusinya dalam sebuah report yang akan kami tayangkan di blog masing-masing. Selain itu, kami juga membuat tulisan sederhana sebagai guest blog untuk para Disparian jika direstui.

Oiya, pihak ketiga yang menyetujui ajakan kami ini mendapat julukan Disparian. Kalau mesin penyaji air yang memiliki fitur panas maupun dingin itu namanya dispenser. Kalau pengecualian dari aturan itu disebut dispensasi. Sedangkan rasa nyeri pada saat bersenggama itu dispareunia. Tentu keempat istilah ini tidak hubungannya sama sekali dengan judul film animasi, Dispikebel Mie.

Andhika Manggala Putra Pratama Partakusumah.

Kenapa harus beliau yang kami pilih untuk ngobrol kali ini? Hmm.. Ada dua hal yang awalnya membuat kami sangat tertarik dengan Om Dhika.

Pertama, pembawaannya yang dengan cepat berubah menjadi sangat kebapakan saat mendapat telepon dari anaknya di tengah kumpul bareng teman-teman bloger lainnya. Dengan kata-kata yang sangat lembut, Om Dhika menyambut telepon dari sang buah hati. Tak lupa dengan senyum yang tersungging, tentu saja. Walaupun sang anak tak dapat melihat senyum bapaknya tersebut, Om Dhika tidak peduli. Adegan yang sungguh manis.

Kedua, komentarnya di salah satu blogpost di akhir tahun lalu yang berbunyi, “Setiap kali membahas penyetaraan, pengakuan, hormat menghormati, bagaimanapun akan selalu menghadirkan bahasan lanjut yang tidak akan pernah selesai. Panjang dan bobot diskusi yang hadir tergantung dari objektivitas pelaku diskusi. Tapi untuk saya pribadi, tulisan ini, sudah sangat mewakili apa yang saya pikirkan. Kita berada dalam lajur yang sama.”

Berangkat dari kedua hal di atas, kami sepakat untuk memilih Om Dhika sebagai orang pertama yang akan kami ajak berbincang santai ala Socrates ini.

Pada tanggal 15 Desember 2016 lalu, kami menghubungi Om Dhika dan menanyakan perihal kesediaannya untuk ikut bincang santai kami. Alhamdulillah, beliau dengan senang hati menerima ajakan kami. Setelah menimbang waktu yang tepat, tanggal 19 Desember 2016 menjadi pilihan.

And here we are…

DISPARITAS #1

Lalu, apa yang akan kami bahas di sini? Pertanyaan bagus!

Kembali pada alasan kenapa kami tertarik untuk ngobrol ngetan-ngulon dengan Om Dhika, ialah karena kami akan membahas perihal feminisme dari sudut pandang laki-laki yang sudah berkeluarga. Dengan kondisi masyarakat di negara kita yang dominan menganut paham patriarki, ungkapan Om Dhika yang menyatakan setuju untuk menyudahi kesewenangan laki-laki terhadap perempuan merupakan sesuatu yang patut diberikan apresiasi lebih.

Dengan kodratnya dilahirkan sebagai laki-laki yang bisa dibilang banyak diuntungkan oleh paham patriarki, Om Dhika dengan tegas menepis hal tersebut dan mengungkapkan prihatin atas banyaknya kasus yang didasari oleh ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Sebab, katanya, beliau tak dapat melihat keuntungan sama sekali dari aspek apa pun di sana.

Bahkan, yang mengejutkan adalah ketika Om Dhika menyatakan bahwa laki-laki itu sebenarnya lemah. Yap, lemah dalam hal mental. Dari kondisi fisik, seperti yang sama-sama kita ketahui, konstruksi tubuh laki-laki memang diciptakan lebih kuat dibanding perempuan. Namun, jika sudah berbicara perihal mental yang dimilikinya… hm.

“Dengan mental yang kuat, cowok gak mungkin nganggep cewek itu lemah,” ungkap Om Dhika.

Triangle of violence.

Kami melihat dari apa yang diungkapkan oleh Om Dhika tersebut ada kaitannya dengan triangle of violence. Ini merupakan sebuah segitiga kekerasan yang seringkali sangat dekat dengan kita semua. Secara sadar maupun tidak sadar mungkin kita pernah melihatnya secara nyata, atau bahkan… terlibat di dalamnya. Jadi, bagaimana penampakan triangle of violence dalam kehidupan masyarakat kita?

Timbulnya hirarki, ternyata, bukan hanya ada di kalangan laki-laki dan perempuan. Namun juga di dalam lingkaran laki-laki itu sendiri. Ada yang dianggap lebih memiliki kuasa dan ada yang dianggap harus mematuhi aturan-aturan yang dibuat oleh si penguasa dengan tindakan yang semena-mena. Sudah seperti hasrat pipis, hegemoni bisa terjadi di mana saja dan kapan saja. Tinggal bagaimana jeli atau tidaknya kita untuk menangkap itu semua.

Untuk contoh di dunia nyata, mudahnya, bisa sangat sering terjadi di kehidupan kantor. Tak jarang kita menemui bos-bos arogan yang seenaknya memaki-maki anak buahnya. Baiklah, anggap kedua lakon tersebut—bos dan anak buah—diperankan oleh laki-laki. Jika peran laki-laki sebagai anak buah ini tidak memiliki mental yang kuat, maka triangle of violence bisa mulai terjadi karenanya. Dia akan pulang ke rumah membawa kekesalan yang melimpah karena tidak terima atas apa yang dilakukan oleh atasannya. Ketidakberdayaannya untuk membalas perlakuan atasannya dilimpahkannya kepada siapa saja yang ada di rumah. Seringkali, perempuanlah yang terkena imbasnya.

Maka, ungkapan Om Dhika sebelumnya bisa dibilang sangat tepat jika merujuk pada ilustrasi di atas. Hanya laki-laki dengan mental yang lemah yang akan memperlakukan perempuan dengan begitu rendah.

Om Dhika pun mengatakan bahwa lemahnya mental laki-laki bisa juga terjadi saat membahas perihal emansipasi. Pada saat yang demikian, seringkali laki-laki menuntut hal yang sama persis. Padahal, ungkapnya, emansipasi menyangkut perihal bagaimana menghargai perempuan secara adil. Dan, adil tidak melulu harus sama persis.

Menghargai perempuan secara adil.

Sesuai dengan porsinya. Kebutuhan dari tiap manusia jelas berbeda-beda. Termasuk di dalamnya adalah laki-laki dan perempuan. Pemenuhan kebutuhan akan keadilan itu sendiri tidak dapat disamaratakan antara yang satu dengan yang lainnya. Contoh sederhananya, kita tidak mungkin memberikan uang jajan yang sama kepada anak usia tujuh tahun dengan anak usia dua belas tahun. Sebab, semakin besar anak tersebut, semakin besar pula kebutuhannya. Yap, adil tidak melulu sama.

Dari rangkaian percakapan yang kami lakukan, Om Dhika tampak sebagai lelaki dengan peranan kepala keluarga yang patut untuk dicontoh. Tentang bagaimana menghargai perempuan. Tentang bagaimana melindungi perempuan yang ada di sekitarnya dari laki-laki lainnya. Tentang bagaimana memprioritaskan keluarga di tengah keinginannya melakukan hobi. Tentang bagaimana menjalani tugas rumah tangga bersama tanpa pembagian tugas. Yang selengkapnya akan kami bahas pada 11 Februari 2017 nanti di www.hamtiar.com dan www.pertiwiliana.com, ya.

Terima kasih kepada Om Dhika yang sudah menyisihkan waktunya untuk ngobrol dengan kami. Semoga akan ada laki-laki baru lainnya yang tercerahkan dengan apa yang sudah disampaikan oleh Om Dhika di sini. Semoga segenap keluarga Om Dhika juga selalu diberi kesehatan dan kebaikan. Aamiin.

***

Oiya, ada pengumuman penting. Barangsiapa yang berminat menjadi suami idaman bisa langsung saja hubungi Om Dhika. Konon, beliau akan mendirikan sebuah institusi pendidikan persuamian yang bernama Dhika Husband School dengan semboyan “Be Husband like a Blueband”. Bagi seribu pendaftar pertama akan mendapatkan fresh money dan gratis berlangganan wallpaper Inter. Sedangkan, bagi para istri yang ingin mentransfer suaminya ke DHS tapi suaminya emoh-emohan, maka DHS akan memberikan fasilitas homeschooling plus ruqiah berbasis kemitraan. Ayo buruan daftar!

Pengumuman dua: Belakangan ini banyak beredar informasi palsu tentang sekolah persuamian. Awas hoax!

****
Tambahan editor untuk catatan : kuprettt !!! :-))

Kolaborasi duo perenung: pembelajar seni yang menyukai sastra dan pembelajar sastra yang menyukai seni.

4 Comments

  1. Suami idaman, beda-beda ya. Nanti saya mau jadi suami idaman kaya apa ya? Bakal jadi blueband atau rosebrand? Loh. Jadi suami yang sayang ama istri dan anaknya, deh. Tentu. Ya, ya, jadi suami yang terus belajar biar bisa ngajarin keluarganya rasa sabar dan rasa syukur. 😆

  2. Hm, nganggep lemah kayaknya nggak, sih. Kalau di kereta banyak juga tuh yang cowok-cowok duduk aja dan gak sok ngasih tempat duduk ke cewek-cewek, kecuali yang sakit, hamil, dan lansia. Itu gak nganggep lemah, kan? :p

    Oh, jadi kalau gondok sama kerjaan emang kebanyakan dibawa ke rumah gitu dan yang kena imbas istrinya ya, Mas? Karena belum berkeluarga, gue tiap kesel sama kerjaan cuma bisa ngomel ke Ms. Word, sih. Wqwq. Tapi alhamdulillah Bokap gak pernah ngedumel soal kerjaan gitu ke Nyokap. 🙂

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Mobil, Tiang & Benjol

Sudah satu minggu semenjak nusantara dihebohkan oleh berita kecelakaan lalu lintas yang

Kurang Piknik

Frasa ‘kurang piknik’ kerap digunakan untuk menandai orang-orang yang dianggap memiliki sensitivitas

Sepatu

Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita

Penulis Murah(an)

Beberapa waktu yang lalu, di twitter, saya mengunggah tangkapan layar dari sebuah
Go to Top