Kupu-Kupu Malam

oleh

Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang dengan lampunya yang mulai padam. Ia, wanita itu, hanya menatap nanar ke sekelilingnya yang gelap. Sudah lewat tengah malam dan tak ada satupun batang hidung yang tampak sepanjang tamasya di sudut stasiun kota. Bahkan ketika hujan perlahan-lahan menderas, ia masih tetap setia pada posisinya, tidak bergerak walau selangkah. Sesekali dari mulutnya terucap sepatah dua patah kata halus yang merayu dan memanja. Namun kemudian kepalanya menunduk, menyembunyikan sesuatu yang mulai keluar dari matanya yang bulat. Tangisan itu, yang kini tersamar oleh butiran air hujan.

Di kepalanya, ia membayangkan diri berada pada satu kasur yang empuk. Kaki telanjangnya ia tutupi dengan selimut tipis, sedangkan satu bantal besar ia gunakan untuk bersandar. Lampu kamarnya ia matikan separuh menyisakan sepasang lampu kecil di kedua ujung ranjang, cukup terang untuk melarutkan waktunya bersama sisa-sisa halaman novel roman yang belum habis ia baca. Sedangkan di samping ranjang itu, secangkir coklat panas di atas meja ia biarkan mengepul menawarkan aroma kehangatan yang menenangkan. Barangkali, dalam pikirnya, seperti itulah malam yang sempurna.

“Boleh aku temani, Nona?” lamunan wanita itu dibuyarkan oleh suara berat seorang lelaki yang datang di tengah rintikan hujan dengan bagian kepalanya ditutupi tudung jaket berwarna hitam. Sembari menunggu jawaban sang wanita lelaki itu menghisap kreteknya dalam-dalam. Asap yang ia peroleh dibuangnya sembarang. Wanita itu memerhatikan lelaki itu dengan seksama. Matanya menyapu seluruh bagian tubuh si lelaki. Dari atas sampai bawah. “Tergantung” wanita itu mengambil sisa batangan kretek dari sela-sela jemari si lelaki. Dihisapnya perlahan kretek itu. Ada jeda beberapa detik sebelum asap itu ia keluarkan. Kemudian garis bibirnya terangkat, menunjukan senyum penuh keangkuhan. “Seberapa banyak uang yang ada di dompetmu” ia melanjutkan kemudian.

Lelaki itu mengangkat bahunya. “Tidak terlalu banyak, tapi aku rasa cukup untukmu berhenti bekerja dalam dua hari kedepan. Hei, itupun jika kau mampu”. Wanita itu tersenyum, sisa kreteknya yang telah basah karena hujan dibuang ke sembarang tempat. “Bunga” ia menjulurkan tangannya memperkenalkan diri. “Baiklah, malam ini aku milikmu. Sampai lusa. Maksudku, itupun jika kau benar-benar mampu”.

Sumber gambar : dailydot.com

Tak pernah ada secangkir coklat hangat, alih-alih buku roman yang menemani malam. Karena begitulah. Kenyataannya. Bunga, wanita itu, menemukan malamnya seperti biasa. Dengan segala sumpah serapah kesepian, kehangatan semu dari mulut busuk lelaki. Ah, iya. Juga dengan lembaran rupiah sebagai penanda transaksi. Oleh karenanya, ketika malam ini tubuhnya terbakar oleh hasrat yang terpaksa, ia sama sekali tidak peduli ketika kaus putihnya tiba-tiba terlepas, atau ketika rok mininya dipaksa dibuka dan dilempar ke sembarang arah, ia sama sekali tidak peduli. Sama tidak pedulinya ketika sekarang, di satu ranjang yang sempit di sebuah hotel tak berbintang, ia melentang tanpa sedikitpun benang menutupi bagian tubuhnya.

Ia juga diam, benar-benar diam, serupa patung yang diukir, ketika bibir lelaki itu menyapu di hampir setiap lekuk tubuhnya. Sesekali ia terhentak memang ketika air liur lelaki itu membasahi sesuatu yang menonjol di bagian dadanya. Ruangan kamar hotel berukuran sempit itu kini semakin panas. Lelaki itu pun kini sempurna telanjang dengan salah satu bagian yang tegang. “Apa yang kau pelototi?” lelaki itu menghardik demi melihat mata si wanita yang membagikan kebencian. “Untuk pelacur sepertimu, bukankah ini tamasya yang biasa?” Wanita itu menjawabnya dengan senyuman sinis. “Tidak” ia melambaikan tangannya “hanya saja mulut besarmu di luar tadi ternyata jauh lebih besar dari apa yang kau miliki. Sampai lusa? Jangan bercanda, aku bahkan ragu setengah jam kemudian kau masih sanggup untuk berdiri angkuh seperti itu”

Kalimat itu, bagaimanapun, untuk seorang lelaki adalah sebuah penghinaan yang paripurna. Ia tak terima, tentu saja, maka dengan nafsu yang membuncah ia segera menyerang wanita itu untuk dua alasan. Yang pertama demi pembuktian dan harga diri seorang lelaki yang saat itu kejantanannya dipertanyakan oleh seorang penjaja diri. Yang berikutnya pastilah demi lembaran rupiah yang telah ia bayarkan, di muka. Atau boleh jadi demi hasratnya juga yang telah memuncak yang, ia pikir, harus segera ia bagi. Tapi lihatlah wanita itu. Meski tubuh sang lelaki bergerak naik turun di atas tubuhnya, ia diam seperti mula, tak bergeming barang sedikitpun. Tubuh itu, seolah tak sudi berbagi nikmat. Selagi tubuhnya diperlakukan sedemikian rupa, tatapannya masihlah sempurna kosong.

“Ayolah, Tuan” wanita itu berujar di tengah senggama. “Hanya itu yang bisa kau lakukan?”

“Bedebah kau!!!” lelaki itu memompa tubuhnya sedemikian cepat. Dilumatnya habis bibir wanita itu, juga beberapa titik lain ditubuhnya demi menggugah hasrat si wanita yang masih juga diam. Tak terhitung berapa kali mereka bertukar posisi, juga tempat. Butiran keringat keduanya mulai bertumpuk, membasahi kasur putih yang mereka tumpangi sedari tadi. Sampai kemudian si wanita tersenyum, sedikit sekali. “Akhirnya kau tertawa juga. Mulai sadar bahwa omonganmu itu salah besar, pelacur sialan!?” mendengar ucapan si lelaki, wanita itu tertawa terbahak-bahak “ayolah, sudah cukup kau bercanda. Puas? Sebaliknya, aku malah menertawaimu karena membayar terlalu mahal untuk waktu yang kau buang malam ini. Tapi, Tuan. Ingat, meski begitu aku sama sekali tidak berpikiran memberikanmu potongan harga untuk kemampuanmu ini. Atau, begini sajalah. Aku bantu kau sedikit.”

Wanita itu bergerak, untuk pertama kalinya malam itu. Berlawanan dengan arah gerakan si lelaki. Begitu perlahan, teratur, namun pasti, seolah mewakili segala kompetensi dalam bercinta. Tak lama setelah itu, si lelaki meregang, berteriak ia dalam diam. Memuntahkan segala kenikmatan yang ia bayarkan. Dengan keringat di sekujur tubuhnya lelaki itu berucap nyaris tanpa suara “sialan”.

Si wanita bangkit dari telentangnya. Mengambil potongan-potongan pakaian yang berserakan untuk kemudian ia kenakan. Sedangkan lelaki itu, menghela nafas kepayahan, tubuhnya tersungkur begitu saja di atas kasur yang telah basah. Sang wanita mengambil kretek dari jaket milik si lelaki yang tergeletak untuk kemudian ia nyalakan. “Kau mau tahu kabar baik, Tuan?” ia menghembuskan asap kreteknya sedemikian khidmat. “Kemampuan bercintamu teramat payah. Tapi harus kuakui, dari sekian banyak lelaki yang membayarku, kau bukan yang tercepat” wanita itu tersenyum, manis sekali.

“Apakah itu sebuah pujian?” lelaki itu menjawab. “Baik hati sekali. Tapi nona, kau tentu akan berkata lain jika saja tadi kau memberikan hasratmu untuk berbagi cinta denganku. Bergerak lazimnya para pecinta. Tadi? Astaga, aku mengeluarkan banyak uang hanya untuk bercinta dengan patung lilin belaka.” Mendengar ucapan lelaki itu, sang wanita tersedak, masih dengan kretek di sela-sela jari tangannya.

“Hei, ayolah. Kau hanya membayar tubuhku, Tuan. Kau ingat? Memberikan hasratku untuk bercinta denganmu? Oh, ayolah, untuk itu kau harus membuatku jatuh cinta” wanita itu mengangkat bahunya.

“Wanita kotor sepertimu mengerti apa tentang cinta..” lelaki itu mendengus kesal. “Permisi, Tuan. Di sini kau sama kotornya dengan aku. Melakukan hal tadi, kau sama berdosanya dengan aku. Bedanya, aku berada di posisi yang lebih baik, aku menerima uang, bukan? Kau malah mengeluarkannya. Dan, astaga. Cinta? Setidaknya tak ada yang aku khianati dan aku bohongi untuk melakukan percintaan payah tadi” wanita itu menjawab dengan nada yang lebih tinggi.

“Dan sudah kukatakan, uangmu mungkin cukup untuk membayar tubuhku dua hari penuh. Sayangnya kemampuanmu tidak. Terima kasih” wanita itu melangkah pergi, meninggalkan si lelaki yang masih telentang di kamar hotel yang sedemikian sempit, masih tanpa sedikitpun pakaian menutupi tubuhnya. “Boleh aku meminta nomor teleponmu, Nona?” lelaki itu meminta sebelum si wanita keluar kamar. Wanita itu tersenyum “Salam untuk anak istrimu di rumah. Saat aku mengambil uang di dompetmu, Aku melihat foto seorang gadis kecil. Lucu sekali. Entah apa yang akan ia katakan jika tahu ayahnya di sini malam ini” pintu kamar hotel ditutup dengan keras.

Sumber gambar : hdwallpapersrocks.com

Pagi belum benar-benar datang saat sang wanita keluar dari hotel terkutuk itu. Sebelumnya ia masih sempat menyapa beberapa karyawan hotel yang ia kenal, menganggukan kepalanya lalu tersenyum. Di halaman teras hotel, di tengah sisa-sisa gerimis malam tadi, kepalanya menengadah ke langit yang gelap. Air matanya keluar begitu saja, seperti biasanya, setiap kali ia melewati haramnya percintaan malam tadi. Batinnya tak henti berteriak mengutuki dirinya sendiri. Begitu pula sumpah serapah yang ia haturkan pada nasib yang menyelimutnya. Ia tidak rela melakukannya, tentu saja, namun akan selalu terpaksa ia lakukan untuk seseorang yang menunggunya di ujung pagi nanti. “Tuhan” ucapnya pelan. “Jika aku masih Kau anggap sebagai Umat-Mu. Aku yakin pada akhirnya nanti, Kau akan tetap menyayangiku. Entah bagaimanapun caranya nanti aku mengharapkan maaf dan ampunan-Mu”.

Bersamaan dengan kalimat itu kakinya bergerak. Pulang. Dengan langkah yang gontai ia menuju tempat yang ia sebut rumah. Tak jauh dari situ.

Sesampainya di tempat kecil itu, yang ia sebut rumah, ia disambut oleh seorang gadis kecil yang sedemikian cantik. Gadis kecil itu berlari kecil membuka tangannya demi sebuah pelukan. “Ibu!!!” diciumnya tangan ibunda sebagai pengganti ucapan selamat datang. “Ibu kok kerjanya malam terus, sih, apa ibu gak capek?” dalam pelukan gadis itu bertanya manja.

Sang ibu, wanita malam itu, tak kuasa menahan tangisnya lalu menjawab “Sabar ya, Nak. Yang penting sekarang kan kau bisa terus makan dan sekolah. Doakan saja ibu cepat-cepat punya pekerjaan yang lain” sebuah jawaban penutup untuk satu-satunya orang yang kini ia cintai. Namun juga harus ia khianati.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

54 Comments

  1. Di akhir ceritanya jujur hati saya menjadi tersentuh. Dengan perjuangan seorang ibu yang membesarkan anak gadinya dengan uang yang tidak halal. Miris jika anaknya mengetahui pekerjaan ibunya yang sesungguhnya.

  2. Sebenarnya garis besar cerita ini sudah beberapa kali saya baca di tempat lain. Namun tetap saja, kali ini saya habiskan kata demi kata. Dan bisa saya gubah kisah si nona dalam kehidupan saya dalam bentuk lain. Kisah mengenai seorang hamba yang sadar melakukan dosa namun tetap mengharap kaish sayang dan maaf dari Rabb-nya, sebuah alasan dan pembelaan diri bahwa Sang Tuhan akan menerima alasan dilakukannya perbuatan dosa itu. Semoga masing-masing kita bisa secepatnya mengentaskan diri dari ‘zona si nona’ tersebut.

  3. Om Dhik…
    Bagus banget :’)
    Emosinya main banget. Aku bacanya dari diam biasa aja, ngakak-ngakak sama percakapan soal “kemampuan” laki-laki yang bayar perempuan itu, lalu mikir soal cinta, lalu diam lagi, sampai akhirnya mau nangis. Aaaak :’)
    Keren! Cermin kehidupan yang kental banget di situ juga mungkin jadi salah satu faktor kenapa ceritanya bisa begitu menyentuh. Kusuka!

  4. Suka banget sama pemilihan katanya, kak!
    Sebenarnya cocok dibaca ketika tengah malam, syahdu :’)

    “Jika aku masih Kau anggap sebagai Umat-Mu. Aku yakin pada akhirnya nanti, Kau akan tetap menyayangiku. Entah bagaimanapun caranya nanti aku mengharapkan maaf dan ampunan-Mu”… dengan pernyataannya itu, semoga nantinya ia tak lagi menjadi kupu-kupu di malam hari, terlebih lagi ketika ia mengingat bahwa ada permata yang telah ia khianati :’)

  5. Bang dika, tulisannya yang ini Bagus bang… Dilihat dari gaya pemilihan katanya, semakin lengkap saja, duh aku mah apa atuh ya, sudah lama yak menulis beginian lagi, sedang tiada waktu (baca: tak sempat) untuk menulis lagi, ketiadaan daya tulis sedang memuncak di akhir tagihan akan target produksi akhir tahun :’)

    Rasanya sudah cocok, bang dika untuk menelurkan satu novel nih, ya minimal antologi dulu lah hehe

  6. Huufff envy banget ama kamu..
    Bagus banget nulisnya.
    Kalo lihat, baca, or apalah yg berhubungan dg kupu2 malam, aku sangaaatttt bersyukur aku bukan mereka. Tidak, bukan karena memandang sebelah mata ke mereka, tp di luar ketidakhalalan pekerjaan mereka, bagaimana bisa mereka melakukan itu tanpa cinta.
    Ahh jadi ngomongin cinta 😑

    Salut ama kamu. Teruslah berkarya

  7. Ah Mas Dhika, aku selalu suka sama gaya bertutur Mas Dhika. Permainan kata yang cantik bikin penasaran ingin terus baca.
    Endingnya bikin tersentuh. Rasa sebel dan greget juga ada tertuju sama si Om Om itu.

  8. Saya suka dengan pemilihan kata, penggambaran yang detil dari tulisan Mas Dhika. Terus terang, saya baca tulisan ini, kata per kata, semuanya dirangkai dengan apiknya. Pengen deh, bisa nulis seperti tulisan Mas Dhika, mengalir, enak dibaca. 🙂

  9. Rasanya….
    Jadi takut berkomentar.

    Kisah ini cocoknya diiringi lagu “Kupu-kupu Malam”nya Noah.

    Dan aku pun akan terhanyut dalam kisah ini.
    Merinding.
    Dan memohon agar anak keturunanku jangan sampai ada yang terkena fitnah dunia seperti ini.

    Dan memohon untuk semua orang tua agar mendidik anak-anak mereka untuk tidak tunduk pada dunia.

    Aamiin.

  10. abis nonton salh satu film Gibli yang sedih banget lanjut bw dan baca tulisan mas dika, aduh gak kerasa ini udah abis berapa lembar tisu, padahal ini inti ceritanya udah banyak yang serupa ya mas, tapi rangkaian kata dan tulisannya ngena banget, keren..

  11. Hal ini kadang jadi obrolan dengan suami. Kalau kupu2 malam mah emang pekerjaannya tapi si lelakinya itu lho, kok bisa2nya melakukan dengan orang lain sementara istrinya menunggu di rumah. Asli bikin geregetan

    Dan miris banget kalau biaya hidup jadi alasan untuk terjun ke dunia malam seperti itu. 🙁

  12. Wah, saya pikir bercanda post ini bagi yang cukup umur, ternyata benar juga 😀

    Suatu bisnis yang sulit dihilangkan dari muka bumi ini.
    Hanya bermodalkan tubuh sudah bisa terlibat.
    Tak heran, banyak yang ikut bisnis ini sekedar cari uang jajan (katanya)

    Ada juga sih yang memang awalnya tidak mau, tapi dijual.

  13. Gue suka loh nama Bunga, tapi kenapa selalu identik dengan nama samaran kupu” malam? 🙁
    maaf salfok…
    Selalu sedih kalo baca tentang kupu” malam, human trafficking dan sejenisnya
    bahkan ada yang masih dibawah umur. Miris banget dan kebanyakan mengalami
    masalah perekenomian. Semoga kupu-kupu malam tidak bertambah maupun menjamur
    seperti jamur yang tumbuh subur saat musim hujan. 🙁

  14. Hiks, sedihnya. Cerpen ini boleh jadi realita kehidupan para mbak2 yg terpaksa mengais rezeki dari cara yg mungkin adalah pilihan terakhir mereka. Semoga selalu ada cara bagi mereka di luar sana untuk keluar dari dunia hitam ini. Tentunya juga bagi yg berperan sebagai om-om, ingatlah anak istri, mereka tentu tak rela imam di rumah mereka melakukan hal di luar batas seperti itu.

  15. Ada paragraf yang Hampir sama dengan salah satu cerita di Buku 1Q84 murakami yg 1. Pas tango lagi menjamah pacarnya yg istri orang itu. Hehe

    Dan ya, endingnya klimaks banget mas sedihnya, perjuangannya Demi tetap hidup.

    Well, nggak salah baca beginian tengah malem. Ehh

  16. Hmm, tak bisa beralih dari membaca sebelum tuntas. Bukan. Tentu saja bukan karena adegan demi adegannya. Tapi tentang penceritaannya, pemilihan kata dan detail. Terpadu dengan apik. Good Job mas DIka.

    Hmm, tapi ya itu. Hati2 blognya ditelan Nawala!

  17. Dika, ekspresi tulisannya ngena banget buat dibaca. Cuma.. ada cumanya, ko saya kurang begitu menikmati tiap ereksi kejadiannya ya. Ah, mungkin saya saat ini tengah kehilangan hasrat bercinta.. -duh *boong

    Pada kenyataannya sang kupu-kupu malam ini bertindak atas keperluan hidup, sebagian dr mereka kerap menikmati pekerjaanya.. 1 : 1000 yang melakoninya karena terpaksa. Tru me, saya udah pernah survey soalnya

  18. Kok ga di kirim aja ke media cetak mas adhika. .. Atau ini sudah pernah ditayangkan di media cetak yak. . kece cerpennya. . saya sampe berdoa beneran. .ketika si wanita pulang ke rumah dan disambut anaknya. .. supaya si wanita tersebut tobat. Mending jualan bakwan aja. . cos rezekinya halal. Hiks hiks. .

  19. Tissue mana tissue..

    Suka di bagian “Tuhan” ucapnya pelan. “Jika aku masih Kau anggap sebagai Umat-Mu. Aku yakin pada akhirnya nanti, Kau akan tetap menyayangiku. Entah bagaimanapun caranya nanti aku mengharapkan maaf dan ampunan-Mu”.

    Cadasss!

  20. Ahhhh beberapa hari yang lalu baca novel dengan judul “Aku Jalak Bukan Jablay”
    Dan setelah baca ini, walaupun dari sudut pandang yang berbeda plot ceritanya.
    Wanita yang mempunyai 2 kepribadian berbeda, di malam hari ia harus bersusah payah mencari pekerjaan dan di pagi hari ia harus menjadi ibu rumah tangga

  21. hasrattt seorang ibu apapun profesi nya, tujuannya untuk buah hati yg sangat dicintainya. kdg org terlalu under estimate org2 spt ini. tp ya itulah pilihan, kl mau terus terjun slm lautan pekerjaan kotor.

  22. Tulisan mas dika yang ini sempat ku liat beberapa kali di timeline twitter dan dari baca judulnya aja qusudah tau mengarah kemana itu tulisan.

    baca tulisan ini kayak baca novel muarajangkung. cuma lokasinya kurang di detailin.
    semuanya dapet, cuma ada beberapa konflik yang kurang menimbulkan rasa getar (seperti kalimat yang dia berucap sendiri setelah keluar hotel dan hujan.)

  23. Kupu-kupu malam, ahh seandainya semua wanita beruntung bisa menikmati malam damainy, tanpa harus mengkhianati hati nurani.
    Betewe mas dika aku smpet slah prediksi, aku kira endingnya si cwo dan si cwe sama2 insyaf dan menjalin hub halal. Mungkin next cerita kali ya

  24. Cerita tentang kupu-kupu malam dan kehidupan normalnya selalu menyentuh ya mas, tapi yaaa bagaimanapun kisah ini bukan untuk anak2. Btw, dari judul sudah bisa ditebak kalo tulisan mas dhika pasti tidak jauh dari lagu kupu2 malamnya titik puspa

  25. Demn, baca ini pas tanggal tua. Di mana stok sabun udah tinggal ampasnya doang =D

    Lehuga ini cerpennya. Fliping moodnya dapet. Dari sepi-horny-kemudian haru. By the way, nomer telepon si wanita itu, ada?

  26. Ending ceritanya memberikan kesan yg sangat mendalam. Dua. Hanya dua tokoh yg berperan penting dalam cerita diatas. Dan keduanya sama2 menggambarkan tentang pribadi yg berkepentingan dalam jalur yg haram.

    Singkat tapi berisi. Sya juga suka dengan gaya bahasanya yg gamblang.

  27. Fak!
    Kenapa harus begitu, sih!?
    Ah.. bangke sekali cerita ini. Terlalu emosional. Untung lagi di kantor jadi ga bisa terisak bacanya hehehe
    Bagus banget, Om. Ajarin aku dong bikin cerpen. Tapi bukan cerpen yang 18+ gini. Yang biasa aja, hehe.

Tinggalkan Balasan ke Nia Angga Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang

Kotaku di Waktu itu

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda

Cerita Akhir Tahun

“Mau minum teh manis hangat, bageur?”. Senja yang sudah hilang sedari tadi

Castro & Che

Sesosok pria bertelanjang dada berdiri tak jauh dari sebuah taman luas yang
Go to Top