Cerita Akhir Tahun

oleh

“Mau minum teh manis hangat, bageur?”. Senja yang sudah hilang sedari tadi tidak serta membuat langit menjadi gelap. Lihatlah, dari jendela kamar rumah sakit terlihat langit masih terang memesona akibat hiruk pikuk manusia, dengan kembang api yang mereka nyalakan bergantian, menyambut malam pergantian tahun. Ia, wanita yang kutawari segelas teh hangat itu, mengangguk manja, “jangan terlalu panas ya, Ayah”. Aku tersenyum, tanganku terampil menuangkan air kedalam gelas sebelum memasukan satu buah teh celup beraroma khas, juga dengan satu-dua sendok gula. Lalu kemudian aku sodorkan, gelas itu, kepada pemiliknya. Ia yang sedang terbaring segera meminumnya perlahan. “Ayah” ia mengucap kata pelan. “Maaf” dengan rona kesedihan kata itu diucapkan sedemikian pelan.

Aku mengerenyitkan dahi. Maaf? untuk apa? Tanpa kata, wajahku menghaturkan ekspresi tak mengerti. “Baru minggu kemarin anak kita sakit, kamu hampir enggak tidur, Yah, setiap malam, untuk menemaninya. Sekarang?” kalimatnya tertahan, matanya memerah menahan air mata yang akan segera keluar dari tempatnya. “Liburan kita sempurna berantakan” katanya kemudian. Aku tersenyum. Kurapatkan kursi ke tempat ia berbaring, menurunkan pembatas ranjang rumah sakit yang menjaganya, kini posisi kami begitu rapat. Aku mengusap rambutnya perlahan “Hei, untuk apa minta maaf. Liburan? Ayolah, besok-lusa kita masih bisa liburan, kan? Sekarang yang penting kamu sehat, Bunda. Biar anaknya gak khawatir, astaga kamu tahu, Bun? Tadi, pas lihat kamu, dia langsung nangis kenceng banget. Kayanya dia masih dendam sama suasana rumah sakit”. Aku mencoba mengajaknya bercanda, membuatnya merasa tenang saat ini adalah pilihan terbaik yang bisa aku lakukan. “Ayah, sini” ia menepuk bagian kosong ranjangnya, itupun setelah ia bersusah payah untuk bergeser agar tersisa ruang kosong untukku ikut rebah.

“Cepet sembuh, Bunda” aku memeluknya hangat.

Di luar sana, riak kembang api masih gemuruh memenuhi langit malam yang cerah. Satu persatu para pemiliknya membakar kembang api itu. Bagaimanapun, kemeriahan di luar sana sedikit mengaburkan suasana haru di sudut kamar rumah sakit ini. “Akhirnya kita tahun baruan lagi ya, Bunda. Kapan terakhir kita tahun baruan? Eh, sebentar, emang pernah ya?” dalam peluk aku membuka topik pembicaraan. Ia menjawabnya dengan satu cubitan kecil di hidung “belum pernah, Yah. Bukan sama aku kali, sama mantan kamu, ya? Dan astaga, sekarang ini kamu sebut tahun baruan? di rumah sakit? apa serunya?”. Dalam rebah aku mengangkat bahu untuk berkomentar “setidaknya, ada satu yang bisa kita ceritain ke anak kita nanti. Nak, orang tuamu ini pernah tahun baruan di rumah sakit, loh” cubitan tadi aku balas di kedua belah pipinya sekaligus, seraya tertawa. Kamar rumah sakit ini bukan kamar utama, ada beberapa ranjang lain yang disediakan. Namun, selain ranjang kami, tak ada yang menempatinya. Kami cukup bebas untuk berkelakar, bahkan di tengah malam seperti ini sekalipun.

“Tahun ini sebentar lagi berakhir. Ehm, buat kamu apa yang paling menyenangkan di tahun ini, Bun?” aku bertanya. Pelukan tadi sudah kulepaskan, kali ini kami bercerita banyak hal disaksikan oleh tangan kami yang saling menggengam. Yang ditanya menepuk bibirnya dengan telunjuk berulang kali seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. “Apa ya? Ah iya. Rumah. Tentu saja. Akhirnya keinginan untuk punya rumah sendiri tercapai di tahun ini ya, Yah. Buat aku, itu bagian paling menyenangkan. Di luar pertumbuhan anak kita yang semakin menggemaskan, sih” ia menjawabnya dengan senyum penuh semangat, rona sedih yang ia tunjukkan beberapa waktu lalu sempurna hilang. Aku berhasil. Setidaknya obrolan malam ini bisa mengembalikan semangatnya yang beberapa hari terakhir hilang karena sakit yang sedang dideritanya. Aku mengangguk, sepakat.

“Aku juga, Bun. Itu bagian paling berkesan. Tambahkan dengan saat aku menunggui proses renovasi rumah itu. Astaga, saking lamanya aku berkutat dengan tukang, aku sampai hafal harga-harga material bangunan. Besok lusa mungkin kita harus pertimbangkan untuk memulai jasa pertukangan” aku terkekeh dan dibalas dengan cubitan lain di hidung. Ini rahasia, tapi wanita ini memang suka sekali mencubit hidungku. “Habis sebal, hidung kamu lebih mancung dari aku” katanya waktu itu. Setelahnya kami bercerita banyak sekali hal yang bisa kami ingat sepanjang tahun belakangan. Yang berarti kami juga akan membahas hal yang menyedihkan: membuat sebuah keputusan untuk menitipkan si jagoan di rumah neneknya. Terlihat dari mimik mukanya yang berubah sendu. Untungnya itu tak berlangsung lama. Bahasan lain muncul. Tentang proses perpindahan yang amat lucu (karena pemiliknya yang menyebalkan kami sengaja meninggalkan barang-barang yang tak terpakai di rumah kontrakan sebelumnya), tentang kami yang ‘ditipu’ oleh tukang taman (membayar satu pertiga gaji bulanan untuk taman kecil ukuran 3 meter persegi yang rusak tiga minggu kemudian), atau tentang rumah makan yang di beberapa sudutnya ditunggui oleh sekelompok kecoak sialan. Merusak nafsu makan bahkan sebelum pesanan datang.

“Q. Qatar!”

Aku berseru jelas. Beberapa menit terakhir kami memainkan permainan ‘pancalima dasar’ dengan nama-nama negara di dunia sebagai tajuk yang kami pilih. Ehm, maksudnya aku yang memilih. Sebagai pelengkap obrolan, permainan ini bisa menjadi alternatif. Sambil bermain kami masih bisa berdiskusi. Meskipun sebenarnya aku curang dalam memilih tajuk, dia buruk sekali dalam pelajaran geografi? Nama negara? Aku menang di hampir semua kesempatan pilihan.

“Terus, kamu kapan nulis buku? Kalau aku tidak salah ingat ‘menulis buku’ menjadi daftar yang selalu ada di resolusimu setiap tahunnya, Ayah” ia mulai bosan dengan permainan ‘pancalima dasar’, selalu kalah, kemudian ia melempar pertanyaan yang cukup menohok. Yang diucapkannya betul. Dengan kemampuan menulis yang terbatas, aku memiliki mimpi untuk menulis sebuah buku. Adalah sebuah kebanggaan tak terperi ketika nama kita abadi dalam sebuah cetak buku, dan mungkin dibaca oleh generasi-generasi setelah kita nanti mati. Seperti yang dikatakan oleh penulis besar itu. Dan pertanyaannya tadi? Astaga. Aku hanya bisa menjawabnya dengan menggaruk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal. Ada hening kemudian setelah itu. Beberapa menit yang sepi.

“Tahun depan” aku menjawab. “Kupastikan bahwa ‘menulis buku’ tak akan lagi masuk daftar resolusiku”.

“Eh” ia terperangah, setengah tak percaya dengan jawabanku barusan. “Maksudmu, kamu menyerah? Melupakan mimpi-mimpi itu?” ia melanjutkan.

“Tidak” aku menggeleng perlahan. “Hanya saja aku ingin lebih fokus belajar untuk bagaimana menulis yang baik terlebih dahulu. Ah iya, juga membaca banyak buku juga tulisan-tulisan dari teman penulis lain. Eh, ini boleh aku minta, Bunda?” aku bangit dari rebahku, setelah mendapat persetujuan dari pemiliknya aku meminum teh hangat -yang mulai dingin yang kini tersisa setengahnya. “Aku mulai mengubah gaya penulisanku di awal-awal tahun ini. Sedikit banyak aku mulai sisipkan cerita atau setidaknya ada gaya bercerita. Kau menyadarinya, Bunda? Setiap naskah yang aku minta untuk kau baca. Apakah ada perubahan dibanding sebelumnya?” yang ditanya menjawabnya dengan sebuah anggukan kecil, meski ia masih berbaring di tempatnya. “Boleh jadi kedepannya aku akan lebih sering membagikan tulisan yang telah aku buat. Aku sungguh memerlukan kritik dari teman-teman yang lebih dulu menulis. Memang tahun ini mulai ada satu-dua komentar untuk setiap tulisan yang aku buat, meski harus akui sebagian dari mereka melakukannya dengan terpaksa. Maksudku, mereka melakukannya demi sebuah rutinitas. Ketika kelak besok lusa aku memiliki pembaca tetap, dan mereka sungguh-sungguh berkomentar untuk setiap tulisanku -atau kritik lebih baik. Mari kemudian kita membicarakan lagi tentang menulis buku itu, Bunda”.

“Maksudmu, sekarang ini kau kehilangan kepercayaan diri dalam menulis, Yah?” ia bertanya lagi. “Bisa ya, bisa tidak” aku menjawab dengan jawaban diplomatis. “Aku merasa jika tulisanku masih teramat jauh dari kata bagus. Membaca tulisan teman-teman pada grup percakapan itu, Bunda. Terkadang aku merasa minder sendiri. Ya, aku kehilangan percaya diri. Aku perlu banyak belajar dari mereka. Tapi aku juga cukup percaya, besok lusa, aku bisa membuat tulisan yang sama atau boleh jadi lebih baik dari mereka”. Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan. Dalam proses itu ada semoga yang kuhaturkan.

Sumber gambar : pixabay.com

Di luar kamar itu, kembang api masih indah menari-nari. Tirai jendela kamar rumah sakit ini sedari tadi memang kubiarkan terbuka. Membiarkan cahaya dari luar sana berpendar masuk sesukanya ke ruang sempit kamar rumah sakit. Bias cahaya bertubrukan pada dinding kaca rumah sakit yang masih basah akibat hujan siang tadi. Menampilkan kombinasi warna yang memesona. Aku melihat jarum jam, masih ada berpuluh menit lagi sampai pergantian tahun. Dari dalam kamar, kami menatap langit itu dengan khidmat, bersama cerita-cerita kami yang belum habis dan tangan yang kembali menggenggam.

“Obatnya sudah kamu minum, Bun?” aku memastikan.

Ia mengangguk cepat. “Termasuk vitamin-vitamin itu. Astaga, sungguh aku ingin cepat sembuh, Yah. Lama-lama aku bosan dengan rutinitas ini. Makanan tanpa rasa, selang infus yang membuat gerakanku terbatas. Dan paling menyebalkan. Obat-obat itu. Hei, kamu kan tahu kalau aku benci sekali minum obat”.

“Maka cepatlah sembuh” aku menyuapinya sepotong coklat.

Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Menguap. Namun masih sanggup untuk melontarkan pertanyaan. “Jika ‘menulis buku’ sudah kamu hapus dari daftar resolusimu tahun depan. Lalu resolusi apa yang ingin kamu lakukan di tahun depan, Yah?”.

“Entahlah” aku mengangkat bahu. “Tampaknya aku seorang perencana yang buruk. Banyak sekali resolusi-resolusi awal tahun yang pada akhirnya selalu aku abaikan. Sebenarnya banyak sekali yang ingin, atau tepatnya, harus aku lakukan” aku kemudian menyebutkan banyak hal yang terlintas di kepalaku. Dari mulai urusan tulis menulis, urusan pekerjaan. Dalam pengucapannya aku tampak begitu ragu, beberapa diantaranya malah aku sebut beberapa kali. “Tapi apakah semua itu akan aku lakukan di tahun besok? menjadikannya sebagai resolusi? Mari kita kembali bersemoga. Seperti aku yang menyemogakan kamu segera berhenti bekerja, Bunda” kalimat terakhir itu aku ucapkan begitu sungguh-sungguh, dengan penekanan yang amat sangat serius. Kalimat yang selalu aku panjatkan di setiap akhir lima waktuku. Jika sekarang ini ada resolusi yang benar-benar ingin aku tuliskan, kalimat terakhir itu boleh jadi akan berada di urutan pertama. Tahun depan? Entahlah.

“Sekarang, apa keinginanmu di tahun besok, Bunda?” giliranku yang bertanya.

Hening. Tak ada jawaban. Aku membelokan tatapanku demi melihat wanita yang kini sudah tertidur pulas di sampingku. Aku tersenyum. Perlahan aku melepaskan genggaman tanganku untuk kemudian menyelimutinya. Dari remang-remang cahaya kembang api aku memerhatikan wajahnya lamat-lamat. Wajah pucatnya beberapa hari terakhir mulai berangsur membaik. “Cepat sembuh, bageur” aku mencium keningnya, berbisik mengucapkan selamat malam.

Di atas meja telepon genggamku bergetar hebat, cukup lama. Kulihat beberapa rangkaian pesan masuk sekaligus. Dari layar notifikasi aku sempat melihat potongan pesan itu. Ucapan selamat atas tahun yang telah berganti. Aku menepuk dahiku untuk kemudian melihat wajah wanita itu sekali lagi.

“Bahkan, saat kita sudah teramat dekat seperti malam ini sekalipun, kita tidak pernah tahun baruan bareng, Bunda”.

Sumber gambar : freepik.com diubah seperlunya.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

16 Comments

  1. Duuh… Masih saja kelakar romantisme muncul.. Obat ya Dik? Cepet sembuh ya buat Si Neng Ibunya anakmu..

    Antara syahdu dan ngeselin baca kisah kamu ini Dik, coba kalau dulu saya dibegitukan… Ah syudahlah.. ;(

  2. 🙁
    gue baca paragraf pertama udah sedih.
    gue nangis pas di paragraf kedua.

    tapi udahannya sebel :/
    iri. sialan.

    dijaga trombositnya mas dika. jangan makan makanan rumah sakit mulu. emang enak apa. hmm.
    banyakin makan sayur yang berwarna hijau. percayalah doyan makan begini bena juga tau gizi2 yang terkandung. jadi bena kalo makan nggak asal makan 🙂 tapi tetep masuk rs gegara sesak napas. itu belom ada obatnya.

  3. Aku selalu suka baca tulisan Mas Andhika. Kata-katanya mengalir manis, membuat aku tersenyum dan tersentuh. Ayo Mas, aku tunggu bukunya. Pasti aku beli, aku baca dengan perasaan lapar akan kata-kata.
    Cepat sembuh buat istrinya Mas Dhika. Semoga 2017 Mas Andhika sekeluarga selalu diberi kesehatan selalu, dilancarkan meraih mimpi-mimpinya. Aamiin

  4. Cepet sembuh buat istrinya Mas Dika. Btw, aku pengen jg nerbitin buku, tp pengen mulu gak ngerjain. Thn ini kayanya gak buat resolusi itu deh

  5. Ini cerpen, nyata, atau????
    Kalo nyata, moga si “Bunda” cepat sembuh ya 🙂
    Dari tulisan ini jadi ngaca sendiri, ngerasain hal yang sama tentang tulisan, mungkin saya juga mengalami krisis kepercayaan diri, sering minder sendiri apalagi kalau sudah baca tulisan teman-teman yang kayaknya lebih bagus. Tapi apapun itu semoga bisa berkarya lebih baik lagi. Saya mungkin juga akan menghapus resolusi “nulis buku”, perbaiki tulisan aja dulu, mudah-mudahan nanti bukunya bisa nyusul setelah tulisan mulai membaik 🙂

    • Ditulis di rumah sakit. Istri dan anak sedang sedang sakit. Itu nyata. Juga percakapan-percakapan selain tentang tahun baru dan kembang api.

      Selebihnya, itu fiksi 🙂

  6. Kalau soal menulis tulisan bercampur cerita romantis sepasang suami istri kayak gini mah, kayaknya saya masih belum bisa bang. Masih belum dapat feelnya bagaimana cara menulisnya haha ya sebagaimana mestinya seorang lajang purnarupa tanpa asmara ini bahkan masih belum bisa menata kelancaran menulis cerita biasa yang terbiasa sekalipun haha

    Entah kenapa dari balik gaya penulisannya, alur ceritanya, entah kenapa saya seperti membaca bagian awal buku Ronggeng Dukuh Paruknya Ahmad Tohari, tulisannya lebih terstruktur, dan melingkupi konteks ruang yang tak terlalu luas, dan juga dalam posisi ini penulis seperti menceritakan apa yang sedang dia lakukan, dia rasakan, dia lihat. Dan bagian MENCERITAKAN inilah yang masih belum saya kuasai sepenuhnya. Terkadang dalam menulis sebuah cerita, tulisanku jauh dari kata cerita, yang mana tulisanku hanya sebatas menuliskannya saja tanpa menceritakan bagaimana setting, alur ceritanya…

Tinggalkan Balasan ke Dian Ravi Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya

Kendari, Kali Kedua

Saya cukup banyak melewatkan detail-detail pada banyak sekali hal yang terjadi selama

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.
Go to Top