Pengantar Pergi

oleh

Aku baru pulang kerja waktu itu, dan telepon berdering kencang, mengalunkan nada yang aku hafal sebagai tanda berita bahagia. Nada yang sengaja aku khususkan untuk dirinya, lelaki yang kini sedang menikmati rimba pengalaman kerja pertama, di salah satu kota yang terkenal dengan kembangnya yang merona. Dibuka dengan nada manja, kau balas dengan nada datar seperti biasa. Nada datar yang aku hafal sebagai tanda berita bahagia penuh dilema. Dan, ternyata benar, aku buka dengan ucapan sayang, kau tutup dengan perpisahan. Begitu sajakah? Ah sialan!

Terasa begitu tak berdaya, melihat jarak yang begitu lebar terbentang di antara kita. Tiada penjelasan, tiada pelukan perpisahan, yang ada hanyalah tangisan sendirian. Seingatku dulu, kau begitu yakin akan kelanjutan cerita kita, berjanji untuk setiap hari berkomunikasi, menjaga sayang dan perhatian, menjaga cinta meski kita berlain kota. Namun ternyata, manusia bisa berubah juga. Kau yang berjanji, kau pula yang mengingkari. Dan, bodohnya aku tetap saja menanti setiap hari.

Dengan tangisan penuh tanya, aku terlelap begitu saja. Bertanya-tanya apa sebabnya, kau campakkan aku begitu saja. Sudahkah kau lupa, tentang apa yang aku beri, tentang apa yang korbankan selama ini? Ah apa gunanya memikirkan semua, aku melakukannya karena aku rela, aku mengorbankan semua karena aku cinta, sayang padamu setulus jiwa, tapi apa balasanmu? Entah kenapa, tulisanku bisa sedrama ini. Tak seperti biasanya, segalanya runtuh begitu saja. Namanya juga wanita, kalau bukan lewat tangisan, lalu harus bagaimana? Menuliskan semua hasilnya pun akan sama saja, seperti drama telenovela.

Kamu, serupa langit yang menyimpan seribu senja. Aku, masih saja terjajah rindu, padamu yang masih bergeming. Kamu, serupa awal yang tak ada akhirnya. Dan, aku masih saja menuliskannya. ~ Tyataya

Selalu ada tanya di balik setiap kata, segalanya selalu ada rasa setiap kali berjumpa, dan selalu ada patah ketika berpisah. Dan, entah kenapa dia memilih berpisah. Hatiku patah. Apa yang kau lihat, belum tentu apa yang terjadi sesungguhnya. Apa yang kau dengar, belum tentu sebuah kebenaran. Apa yang aku tulis, terkadang bukanlah sesuatu yang aku rasa. Selalu ada sirat dalam sebuah surat, selalu ada makna dari sebuah kata, dan kini aku bertanya, kenapa?

Sumber gambar : Wikipedia Commons
Sumber gambar : Wikipedia Commons

Satu minggu kemudian, berita dari neraka akhirnya datang juga, tatkala kuterima amplop biru yang dikirim atas namamu sebagai pengirimnya. Surat yang berisi lembar yang ingin aku baca, surat berisi berita yang merontokkan hatiku sedemikian rupa. Ingin rasanya aku berteriak, tidak! Surat berisi neraka, berupa berita yang tak ingin aku baca, tiada lagi yang tersisa, selain hatiku yang berserak-serak tatkala membaca dua nama yang bersanding di sampulnya. Sampul undangan pernikahan, antara dia dan seorang wanita, anak bosnya.

Apa yang kau lihat, belum tentu apa yang terjadi sesungguhnya.

Entah keberanian darimana, yang membuatku datang ke pesta pernikahanmu. Seorang diri pula, bagaikan kerikil yang menantang gelombang pasang. Mengharapkan penebusan, mengharapkan pelepasan, sekaligus mengharapkan penjelasan atas semua canda semesta yang ternyata memang benar adanya. Ternyata semesta serius dengan candanya. Semua yang terlihat nampak begitu nyata dan baik-baik saja, sebenarnya porak poranda. Itulah aku, tatkala melihatmu bersanding dengan dirinya, di kursi pelaminan yang megah kau nampak gagah, berbalutkan batik merah, nampak serasi dengan dirinya yang berbusanakan kebaya merah, nampak kompak membuatku semakin berdarah-darah.

Aku tersenyum padamu, mencoba tegar dan bersikap biasa, tapi sayangnya aku tak bisa. Tak bisa merelakanmu, menikah dengannya. Perihal kata selamat yang aku ucap, seolah basa-basi biasa yang penuh bisa, menyelamatkanku sekaligus membunuhku. Aku tahu, semesta memang sedang bercanda, tapi siapa kira, jika ternyata bercandanya memberiku luka. Kini aku tahu, melepaskan bukanlah sebuah kerelaan, tapi sebuah pilihan. Seperti pilihan kapal yang melepas sauh hanya untuk berteduh, lalu pergi begitu saja ketika badai mulai mereda. Bisa saja aku berdiam diri, meratapi segalanya yang terjadi, tapi apa gunanya? Bukankah kapal diciptakan bukan hanya untuk berdiam diri di dermaga?

Aku memilih untuk pergi, berjalan maju tanpa pernah berbalik, tanpa pernah lagi kembali. Seperti kata seorang penulis yang aku lupa namanya, bukankah hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa jahatnya ia pada dirimu? Namanya juga pengalaman, pengalaman adalah guru yang kejam, dia terlebih dahulu memberimu ujian, lalu sebuah pelajaran.

Ketika gemuruh ombak batin tak menentu dan kita merasa kehilangan harapan dan daya. Berpikirlah bahwa “Apakah keterpurukan adalah akhir perjalanan hidup?”.~ Anne Avantie

Seorang introvert, yang lebih menyukai kucing daripada omongan orang yang diambil pusing. Kutu buku, pelari yang tak lagi berlari.

7 Comments

  1. Hmmm sedih euy. Sudah mengharapkan seseorang, bahkan menunggu sekian lama, pada akhirnya dia dianiaya oleh Tragedi.

    Ini pake perspektif cewek ya? Atau ehemm tokoh utamanya seorang gay??

    MAS FANDHY IS THE BEST!

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.

13 Reasons Why

Kecuali Anda tinggal di dalam gua, atau terlalu khidmat dengan pilkada dan

Merayakan Kehilangan

Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat
Go to Top