Kota Yang (Tak) Menyenangkan

oleh

Ia tak lebih dari seorang malaikat yang tersesat di dunia yang kejam. Dititipkan oleh Tuhan dengan segala kebaikan, itu semua bahkan terlihat sebelum kakinya mampu menopang tubuh untuk tegak berdiri. Lihatlah seonggok tubuh bercahaya itu, dengan matanya yang bulat memesona, lesung pada kedua belah pipinya yang merona. Dan, aduhai, senyum itu? Begitu menggemaskan. Tuhan pastilah sedang bersenang hati ketika menciptanya. Dan semesta tentu menyambut secara luar biasa ketika tangis anak kecil itu membuncah di dunia untuk pertama kalinya. Jikapun ada suatu kesalahan, hanyalah ketika orang tuanya memutuskan untuk melahirkan dan membiarkannya tumbuh di kota ini. Sungguh sebuah kesalahan yang kelak sulit sekali termaafkan.

Maksudku, ketika anak kecil itu tumbuh besar. Tentu saja ia berhak mendapatkan segala hal yang terbaik dan berbahagia karenanya. Bagaimanapun, aku, orang tua yang berdosa itu, harus menjamin segala hal untuknya hidup dengan menyenangkan. Jika terlalu dini untuk membicarakan tentang akhirat yang menyenangkan, setidaknya aku harus membuatnya senang ketika ia tumbuh dan bernafas. Dan kota ini, dengan segala yang ada di dalamnya, sulit untuk membantuku mewujudkan itu semua.

Terdengar bodoh ketika aku harus menyalahkan kota untuk kebahagiaan anakku kelak. Tapi begitulah adanya. Kota ini jauh dari bersahabat untuk tumbuh kembang seorang anak. Kota ini terlalu memedulikan dirinya sendiri, seolah memaksa penghuninya untuk terlibat dalam sebuah perlombaan tak mesti. Melacurkan diri terhadap waktu, mengacuhkan segala peluh pembuat basah demi beberapa lembar rupiah. Sejatinya membiarkan penghuninya untuk melacurkan diri terhadap waktu, bekerja dari gelap sampai kembali gelap sampai mereka terjebak dalam lingkaran yang menjemukan, bukanlah dosa terbesar kota ini. Bagaimanapun hal ini menjadi sebuah kelaziman yang mesti dihadapi para mamalia paling sempurna di dunia pada kehidupan dewasa ini. Terlebih kota ini adalah sebuah kota industri, salah satu yang terbesar di negeri ini. Hampir delapan puluh persen pendapatan kota didapat dari sektor industri. Menjadi sebuah pemakluman kelak kenapa kota ini sebegitu mementingkan dirinya sendiri.

wisata-cikarang
Kondisi Wisata Kabupaten Bekasi

Akan tetapi, alangkah lebih bijaksananya jika kota ini, dan segala mereka yang memiliki peranan untuk membuat sebuah keputusan, sedikit lebih memerhatikan penghuninya. Memberikan sebuah suguhan yang berimbang. Katakanlah sebuah suguhan tamasya yang menyenangkan sebagai pelampiasan dari aktivitas yang nyaris membuat muak. Dan demi Tuhan, anak-anak kami membutuhkan itu semua sebelum jadi membusuk setiap kali orang tuanya sibuk. Ya, betul. Harus aku akui, dan sudah aku katakan sebelumnya, aku -dan juga orang tua lainnya memiliki dosa yang sama besar ketika harus membiarkan anak-anak itu tumbuh besar di kota ini. Tapi ayolah, itu kami lakukan hanya karena pilihan kami yang sangat terbatas. Jikapun kami bisa memilih, tentu kami akan memilih kota dan kehidupan lain untuk anak-anak kami dapat membuang nafas dengan lebih berbahagia. Dan jika pada akhirnya jika hidup disini adalah sebuah realitas yang harus dijalani. Hei, para pemilik keputusan, marilah berkompromi untuk sama-sama memperbaikinya untuk kita dan anak-anak kita kelak.

Seharusnya kota ini memiliki beberapa alternatif tamasya yang menyenangkan. Hanya saja, kota ini dan para pemilik keputusan, lebih suka membiarkannya rusak tak terurus. Ataupun kalau ada kondisinya yang lebih baik, mereka seolah acuh, membiarkan para penghuninya berada dalam ketidaktahuan bahwa kota yang mereka tinggali memiliki potensi untuk menyenangkan diri. Taman Buaya misalnya, jika saja para pemilik keputusan itu sudi meluangkan waktu dan biaya untuk membuatnya berbenah, tentu akan menjadi pilihan yang mengasyikan untuk anak-anak kami bermain dan belajar. Yah, meskipun buaya bukanlah hewan yang menggemaskan, tapi hei, anak kecil mana yang tidak suka dengan binatang? Dengan sedikit polesan, tempat itu akan kembali pantas disebut taman. Sekarang? Tak lebih dari sebuah kandang yang menyebalkan.

Pada suatu pagi yang kesal, aku pernah membuka beberapa literasi pendukung untuk mengetahui arah kebijakan kota. Dan disitu aku melihat salah satu kebijakan tentang pengembangan potensi pariwisata. Isinya lebih kurang seperti ini : “meningkatkan keunggulan daya tarik dan promosi wisata” . Itu adalah satu-satunya kebijakan kota yang berhubungan dengan pariwisata. Satu diantara empat puluh enam kebijakan yang lain. Dan sayangnya, sepanjang yang aku ketahui, semenjak pertama kali aku menjejak di kota ini. Tak pernah sekalipun aku melihat upaya para pemilik keputusan untuk meningkatkan daya tarik wisata kota ini. Bahkan dalam bentuk himbauan, pengumuman atau sekedar ajakan sekalipun. Padahal jika itu dilakukan, aku dan para pelacur waktu lainnya pastilah sudi untuk membuang rupiah yang susah payah kami cari untuk menyegarkan dan menyenangkan diri di tempat tamasya itu, ketimbang harus jauh-jauh pergi ke kota lain. Dan lagi, tentu saja dengan kami banyak bertamasya di kota ini sedikit banyak akan mampu menambah pendapatan kota dari sektor pariwisata yang saat ini nyaris di angka nol.

Dan yang lebih mencengangkan, setidaknya untukku, kota ini memiliki tujuan mulia untuk membuat kota menjadi pusat kunjungan wisata, menjadikan daerah-daerah pesisir, situ-situ, peninggalan-peninggalan sejarah sebagai obyek wisata baru, membangun gedung pusat seni budaya tradisional dan mendorong pelestarian seni budaya tradisional. Itu dilakukan dengan cara melakukan pembangunan besar-besaran pada sektor industri (apa!!!???) agar lebih menarik minat para investor. Dan  harapannya, selagi para investor itu, berinvestasi, juga akan menggunakan uangnya untuk berwisata di kota ini. Aku tersenyum kecut membaca bagian ini. Aku rasa aku tak perlu menjelaskannya lebih detail. Menjadikan pusat kunjungan wisata dengan cara melakukan pembangunan industri agar investor bisa sekaligus berwisata di… mana? Ah, lucu sekali.

Lagipula, membuat peninggalan sejarah sebagai obyek wisata baru? Kita bisa merapihkan kekurangannya atau memperbaiki kerusakannya dan biarkanlah ia dikunjungi sebagai bagian dari pembelajaran sejarah. Jikapun dirasa perlu untuk membuat obyek wisata baru, para pemilik keputusan bisa memulainya dengan mulai membangun taman-taman kota. Untuk prosesnya, tiada berdosa jika harus mencontoh ibukota provinsi untuk membuat taman kota. Penghuni ibukota provinsi terbukti memiliki alternatif tamasya yang menyenangkan tanpa harus kemana-mana. Taman musik, taman film, taman olahraga dan seperti itulah. Kota ini telah memulainya dengan membuat satu taman kota bertajuk taman kupu-kupu. Tapi membuatnya di lahan sepanjang 3 meter di tengah titik kemacetan, bukanlah ide yang bagus. Buatlah yang lain, hei bapak-ibu pemangku keputusan, karena sepanjang yang kami ketahui masih cukup banyak lahan kering yang bisa digunakan. Mengambil jatah beberapa puluh meter persegi dari tujuh puluh lima ribu hektar lahan kering kota ini, rasanya bukan sebuah ide buruk. Dan bisa saja bukan para pemilik perusahaan yang berinvestasi di kota ini memberikan jaminan finansial untuk pembangunan taman kota. Jikapun tidak, paksa saja mereka dengan dalih tanggung jawab dan etika sosial sebuah korporasi.

pariwisata-cikarang
Beberapa Alternatif Wisata Kabupaten Bekasi

Karena dengan cara itulah, dengan tempat-tempat tamasya itu ,baik yang harus diperbaiki ataupun yang akan dibuat kelak, kota ini bisa membantu kami untuk memberikan hak kehidupan yang menyenangkan untuk anak-anak kami nantinya sebagai penebusan dosa karena telah membiarkan mereka lahir dan besar di kota ini. Dan diluar dari itu semua, tentang tetek bengek lain, kami percaya kota ini, dengan sumber daya yang ada, telah memberikan segalanya.

Dan sekali lagi wahai para pemilik keputusan. Kami, ehm maaf aku khawatir ini hanya permintaanku belaka, maka aku harus mengganti kalimatnya. Begini sajalah : wahai para pemilik keputusan, aku mohon, sudahi dulu pembangunan industri. Dari sektor industri, pendapatan kota ini masih cukup besar meskipun pembangunan dihentikan sementara waktu. Lagipula dengan semakin bertambahnya industri, semakin sesak pula kota ini dengan kehadiran para pendatang lain yang dengan segala keterpaksaannya harus melacurkan waktu disini. Dua juta tujuh ratus tujuh puluh ribu dua ratus sembilan belas jiwa (dan senantiasa bertambah empat koma tujuh puluh persen setiap tahunnya) bukanlah angka sedikit yang bisa Anda abaikan. Jangan biarkan kami membusuk di sini karena sibuk.

cikarang-infographic
Infografis Data : Kabupaten Bekasi Dalam Angka

***

Dan, kamu. Anakku. Sebuah permohonan ini adalah upaya ayah untuk membahagiakanmu kelak, tentu saja itu di luar pendidikan, kesehatan dan kehidupan sosial yang harus ayah beri dan ajarkan pada lain waktu. Sedikit berlebihan memang. Namun percayalah, mungkin hanya inilah yang bisa ayah lakukan sekarang ini. Dan berdoalah pada Tuhan untuk membuat kota ini menjadi lebih menyenangkan untukmu, untuk teman-temanmu, tumbuh besar. Agar bisa mengurangi rasa bersalah kami melahirkan kalian di kota ini.

Sumber :

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

42 Comments

  1. Nggak ada toeypo sih. Malah bena yang ngetiknya bertypo.

    Tulisan yang terlalu berdata.

    Karena bena tinggal di planet yang sama meski beda daerah. Bena mau bilang sesuatu ‘untuk memajukan kota dan seisinya dibutuhkan jangka waktu yang lama. Kota bekasi yang notabene tsrbagi menjadi utara, selatan, dan timur serta barat yang bisa dikatakan sudah naik dari beberapa persen adalah berat. Sedangkan sisanya masih diperlukan perhatian. Butuh jangka waktu yang lama. Mungkin ketika anak Mas Dika seumuran dengan aku sekarang.’

    Semoga tulisannya mas dika mewakili semua warga di sekitar. Aamiin.

    Udah gitu aja.
    Abis ini bena di amuk masa.

    • Enggak juga, belum tentu selama itu juga. Di tulisan ini, salah satu diantaranya mengusulkan pembuatan taman kota yang bisa dibuat secara cepat.

      Ibukota provinsi, yang penggunaan lahan keringnya jauh lebih sedikit. Bisa melakukannya bahkan di waktu kurang dari 5 tahun. Ya semoga saja.

      Btw, kebijakan kota dan kabupaten itu beda, loh.

  2. Dan…, kini Bintang dan Zizi juga akan ikut barisan pendoa. Semoga kota ini makin bersahabat untuk kami. Sebagai warga baru yang terdampar di negeri baru. Akankah pemimpin baru nanti membawa perubahan berarti untuk Bekasi? Semoga!

    Good Luck Mas.

  3. Infografisnya keren banget oom, eye catching! Boleh kapan-kapan menulis tutorialnya, hehe. Hampir sama dengan Sidoarjo, sebagai tetangga kota metropolitan Surabaya, wilayah-wilayah sawahnya mulai dibangun gudang-gudang sedang perkantorannya di Surabaya. Sudahlah berada di dataran rendah yang gerah, wisata alam merana, akhirnya lari ke mall-mall megah hanya untuk sekedar window shopping. Hmmm…….

  4. Jadi, pembangunan kawasan industri di Bekasi masih terus berjalan dengan keadaan Kota Bekasi yang sudah seperti itu ya Mas Dhika? Pertengahan bulan lalu ke Bekasi, lebih tepatnya lewat sih, merasa kok kanan kiri gedung megah semua, sebenarnya penasaran sudut-sudutnya, tapi gimana lagi aku harus pulang. Lalu inget dekat rumah Mas Dhika masih ada sawah yang ada walang sangit nya itu (walang sangit atau yang Mas Dhika sebut hewan apa itu lupa) berharap masih ada kesejukan di Kota ini.
    Semoga harapan dan doa doa Mas Dhika (Mas Dhika doang karena tqdi diganti “aku”) terkabul ya, Amin.

  5. Semoga ke depannya Bekasi jadi kabupaten yg tertata, terurus dgn baik.

    Dulu kalo balik ke jakarta, mampir ke bekasinya cuma di rumah sodara aja, sama ke swalayan apalah lupa namanya hahaha. Maklum taun 96 an gitu

  6. Perkembangan kota sekarang semakin luas. Jadi kalau memang untuk dikembangkan tetap hrus mengacu pada RTURK dan RTRK. So yang sudah semrawut tetap ditata lagi yang rapi. Terutama keberadaan taman yg harus diperbanyak.

  7. Saya pernah mengunjungi Bekasi saat perumahan sumaricon baru dibangun. Kesan waktu itu Bekasi lebih berorientasi pada geliat industri dan ekonomi konvensional. Industri dan ekonomi Kreatif kurang dikembangkan termasuk pariwisata memang. Semoga hari esok akan lebih baik. Bentar lagi pilkada ya. Pilih pemimpin terbaik 😊😊

  8. Saya merasakan keresahan yang sungguh pada tulisan Mas Andhika di atas. Keresahan sebagai orangtua yang takut dengan perkembangan anaknya dan keresahan sebagai pelacur waktu yang kurang piknik. Semoga yang berwenang membaca ‘surat’ ini dan menindaklanjutinya dengan bijak.

    Masalah ini sebenarnya mungkin dialami oleh banyak kota dan kabupaten, setidaknya juga di kabupaten saya bermukim. Sarana dan fasilitas wisata di kota kecil kami sangat minim dan jika pun ada, tak terurus. Para penguasa lebih sibuk bermain politik di ruangan mereka, daripada turun ke lapangan melihat kondisi tempat wisata yang terbengkalai. Mungkin karena mereka bisa dengan mudah berwisata ke luar kota, tanpa memikirkan jiwa warganya yang kerontang karena minim rekreasi.

  9. Semoga harapannya bisa terealisasi secepatnya, mengingat kebutuhan piknik saat ini semakin meningkat demi menjaga kewarasan ya Mas.

    Di daerah saya Madiun, juga mulai di tata tempat pariwisatanya dan mulai dibangun taman2 kota. Tapi banyak juga yang memanfaatkan sawah2 untuk dijadikan bangunan megah.

  10. Gerah memang. Melihat kota semakin lama semakin sesak. Setidaknya itu yang aku tangkap dari “orasi” ini. Semoga Samarinda yang tentram nggak kayak gitu juga. Lagipula kita semua memang butuh banget sama yang namanya hiburan. Jenuh dari pagi hingga sore bekerja, apakah tak dapat terbayar di akhir pekan yang sejuk?

  11. Dari dulu, setahuku Bekasi sudah dirancang sebagai kota industri yg lokasinya strategis. Dan mungkin bisa jadi, Bekasi terus membangun industri perusahaan supaya penduduknya enggak usah jauh2 kerja ke Jakarta. Cuman ya, usulan untuk membangun taman2 wisata yg ramah anak itu, aku setuju banget. Dimana pun kota itu, tetep harus ada sarana taman kota yg ramah anak.

  12. Ini bekasi yg mana ya mas.. Dekat jakarta utara jg ada daerah bekasi.
    Sejujurnya sy suka sama bekasi yg lbh asri dibandingkan kota jkt, tp kok jg minim fasilitas ya

    Sy jg sangat berharap semoga doa2 mas andhika dan qt terkabul =)

  13. Dulu rumah Bapak juga di Bekasi, mas…tapi karena banyak hal, akhirnya rumah tersebut di jual.

    Pembangunan yg luar biasa pesat…membuat saya pun, yang tinggal di Bandung menjadi terperangah.

    Semoga kehidupan sosial nya gak seperti kemajuan kotanya yaa…yg pesat seperti itu.

  14. Pira udah berkali-kali berkunjung ke planet sebelah itu heheh
    belum sakalipun temen-temen Pira yang asli warga Bekasi merekomendasikan salah satu tempat wisata yang ada disana 😉
    Ujung-ujungnya mampir ke mall lagi 🙂
    Padahal sesekali pengen tau juga tempat wisata ngehits yang ada disana

Tinggalkan Balasan ke Ajen Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Kapten Pendosa

Beberapa tahun lalu, Claudio Lotito, presiden klub Italia, Lazio mengecam Ultras Lazio
Go to Top