Anak-anak Itu

oleh

Semenjak saya menjadi seorang ayah, dan kemudian karena satu dan lain hal menyebabkan saya dan anak harus berjauhan, membuat saya menjadi sangat begitu sensitif setiap kali mendengar, melihat atau bahkan terlibat dalam urusan yang melibatkan anak kecil. Seperti misalnya, saya akan bahagia luar biasa mendengar suara gelak tawa seorang anak kecil ketika di dalam bus saat perjalanan pulang ke rumah. Atau sebaliknya, menjadi sedih luar biasa ketika di perjalanan itu melihat seorang anak kecil yang menangis karena alasan apapun. Dan dalam bentuk apapun keterlibatan itu, satu yang pasti, akan membawa saya ke dalam kerinduan yang luar biasa hebat pada sang jagoan di rumah.

Karena alasan itulah saya memutuskan untuk kembali mengaktifkan akun instagram saya yang mati suri selama tiga tahun terakhir. Di sana, instagram itu, saya sering menemukan video anak-anak kecil yang menggemaskan. Saya yang terbatas melihat (dan mendokumentasikan) tumbuh kembang anak saya merasa patut berterima kasih banyak pada para selebritas muda yang gemar mengunggah kegiatan anak-anaknya di instagram. Melihat anak-anak kecil itu, sedikit banyak mampu mengobati kerinduan saya yang luar biasa besar pada ke si kecil. Saya, sebagai seorang ayah, bagaimanapun menjadi merasa dekat dengan mereka.

Sumber gambar : Wesharepics.com
Sumber gambar : Wesharepics.com

Akan tetapi di media sosial, bagaimanapun, tidak melulu tentang sukacita. Tentang anak kecil, di media sosial, ia bisa saja membawa berita tentang kesedihan, tentang penderitaan, atau bahkan juga tentang kematian. Dan hal-hal seperti inilah, emosi saya sebagai seorang ayah, juga seorang manusia, berkecamuk luar biasa. Bukan sekali dua hati saya teriris setiap kali melihat berita tentang anak kecil yang, katakanlah, kekurangan gizi, memiliki kelainan fisik, atau menjalani hidup jauh dari kata layak. Betul, semua adalah bagian dari rencana Tuhan, tapi untuk melihat mereka, anak-anak kecil itu, yang tidak bernasib baik, manusia mana yang sudi bersuka cita.

Tentang kematian apalagi, entah karena kematian wajar, atau untuk kematian tak wajar yang dicecar dan sengaja dibuat besar. Beberapa waktu yang lalu, teman dekat saya dikurung duka luar biasa, karena anak semata wayangnya pergi terlalu cepat, tak lama setelah ia menghirup udara dunia. Saya yang tak pernah alfa berkomunikasi dengannya baru bisa mengucap duka satu-dua minggu setelahnya. Alasannya? Entah saya harus memulai dari mana, bagaimana saya bisa mengucap duka sedang saya sendiri turut tersiksa membayangkannya. Ketika itu saya langsung pulang, memeluk erat si jagoan kecil, bersyukur ia masih disana, dan semoga, Tuhan, saya pergi lebih dulu daripadanya.

Atau Angeline atau Intan. Anak yang tidak beruntung yang diberitakan besar-besaran beberapa waktu silam. Alasan saya mematikan siaran televisi setiap kali melihatnya. Bukan apa-apa. Sudah sepatutnya anak-anak itu bahagia sepanjang hidup. Ketika hidupnya selesai dengan cepat, maka sudah seharusnya kita membiarkan ia tenang. Dengan kita membicarakannya, dengan berita-berita itu, justru akan membuat resah anak dalam matinya, atau boleh jadi juga, kedua orang tuanya. Jika seorang anak yang ‘pergi’ dengan kondisi yang tidak wajar, ada baiknya kita membiarkan hukum untuk menyelesaikannya. Ah, iya. Hukum negeri ini boleh jadi tidak adil, seperti misalnya pada cerita tentang Gaby, seorang anak kecil yang terpaksa pergi lebih cepat akibat kelalaian salah satu pihak yang seharusnya bertanggung jawab, terbengkalai begitu saja seolah tidak dipedulikan oleh hukum, sedangkan kasus-kasus lain, mendapat porsi lebih besar.

Tapi bagaimanapun, saya pikir, tentang kesedihan, tentang penderitaan anak-anak itu, tak perlu rasanya untuk terus-menerus diceritakan. Jikapun perlu untuk, katakanlah, mendoakan, berempati, atau (setidaknya) berdonasi. Tunjukanlah sisi lain dari cerita anak itu, dengan cerita yang lebih manusiawi. Maksud saya seperti ini, kejadian-kejadian buruk yang menimpa anak-anak itu, bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Dengan menceritakannya dan menyebarkannya berulang-ulang? Ayolah, biarkan mereka hidup dengan tenang.

“Anak ini buta. Mari kita mendoakannya”.

“Mari mendoakan untuk anak ini agar bisa kembali melihat dunia”

Mana yang lebih baik? Ah, lebih baik bertindak, sih.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*