Kapten Pendosa

oleh

Beberapa tahun lalu, Claudio Lotito, presiden klub Italia, Lazio mengecam Ultras Lazio dan melarang fans garis keras tersebut hadir di setiap pertandingan kandang mereka. Beberapa tahun lalu pula, fans klub Serie A lainnya, Genoa, menghukum para pemainnya dengan memaksa para pemain menanggalkan jersey klub kesayangan mereka. Fans menganggap jika para pemain tidak pantas mengenakan jersey kebanggaan kota Genoa tersebut yang tengah terpuruk di klasemen. Bersitegang dengan fans memang menjadi hal yang lumrah di Italia. Tetapi, ketegangan yang disebabkan Mauro Icardi, striker Inter Milan, dengan para Interisti tentu dua, atau tiga tingkat diatas 2 permasalahan yang saya jabarkan di atas.

Sebagai penerus tombak keberhasilan pemain Argentina yang pernah membela Nerazzurri (julukan Inter), Icardi dituntut untuk mengikuti teladan pendahulunya macam Diego Milito, Walter Samuel, Esteban Cambiasso, dan tentu saja Javier Zanetti, yang sudah dianggap dewa oleh para tifosi. Harapan besar interisti pada Icardi seakan berjalan manis ketika ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menjadi tumpuan lini depan tim kota mode tersebut. gelontoran gol penting lahir dari kaki dan kepalanya, yang sekaligus membuat suami Wanda bukan gue Nara itu mencuri perhatian fans (ketika itu).

Totalitas di lapangan yang ditunjukkan para pendahulunya diresapi betul oleh pemain kelahiran Rosario, 23 tahun lalu tersebut. hingga pada akhirnya, beberapa tindakan minus di dalam dan luar lapangan menghancurkan karir Icardi secara perlahan. Entah sadar atau tidak, -entah disengaja atau bukan, masalah yang ditimbulkan Icardi bukanlah dengan lawan, melainkan dengan teman karip, rekan satu tim, dan yang terakhir, fans nya sendiri . ia seolah menjadi oase tersendiri di balik perseteruan-perseteruan yang terjadi di dunia sepak bola.

Di luar sana, memang sudah banyak terjadi tikung menikung yang melibatkan hati seseorang termasuk saya yang pernah ditikung. Ahelah, malah curhat. Bahkan, Julio Cesar (mantan kiper Inter Milan) menikahi Susana Werner, yang tidak lain merupakan mantan kekasih Ronaldo De Lima. Baiknya, Cesar menikahi Werner setelah sang istri sudah lama putus dengan sang fenomenal (julukan Ronaldo). Atau, persaingan yang tidak sengit-sengit amat, yang ditengarai terjadi antara Cristiano Ronaldo-Iker Casillas kala berlomba mencuri hati presenter cantik, Sara Carbonero, yang sepertinya memang telah lama menaruh hati pada Saint Iker. Ini pula yang membuat CR7 tahu diri dan memilih mundur dari persaingan sehat ini.

Mauro Icardi, menunjukkan dirinya berada jauh di atas mereka semua. Mengidolai Maxi Lopez sejak kecil, pernah satu perguruan di bawah naungan La Masia, dan berjuang bersama di Italia dengan Sampdoria, persahabatan itu seolah tak berarti apapun di mata Icardi, ketika ia meniduri istri karibnya tersebut, Wanda bukan gue Nara.

Icardi, yang ketika itu menjadi pujaan baru publik Luigi Ferraris (kandang Sampdoria), mau tidak mau memaksa Maxi Lopez hengkang ke Catania. Lopez tidak sudi bermain satu tim dengan orang yang sudah menusuknya dari belakang. Kemurkaan Lopez pun tampak nyata, ketika Catania (klubnya saat itu) bertemu Inter Milan dalam lanjutan liga Italia, ia menolak berjabat tangan dengan Icardi, dan seketika membuat kita mengingat kembali kisah yang sama antara John Terry-Wayne Bridge. Ini pula yang membuka tabir buruk Icardi di media, dan membuka kran rentetan perilaku buruk kapten Internazionale tersebut.

Bermain di klub sebesar Inter, sorotan media pun semakin besar memberitakan tentangnya, juga ekpekstasi fans yang tidak kalah tinggi, harus ia hadapi untuk memupuk mentalnya. Meskipun ia rutin mencetak gol, hal ini tidak membuat posisi Inter membaik di klasemen, dan membuat Il Biscione terjun bebas di klasemen, sekaligus menjauhkan diri dari kompetisi Eropa yang memang menjadi habitat klub. Menjadi tumpuan utama serangan, membuat klub mencari solusi lain ketika Icardi tidak bisa berbuat apa apa. Walter Mazzari, pelatih Inter ketika itu mendatangkan Pablo Osvaldo, yang juga orang Argentina (meski memilih membela Italia) untuk menopang si kapten muda. Tapi, siapa sangka, kedua pemain justru bersitegang di lapangan, dan membuat Osvaldo kehilangan tempat di tim utama.

mauro-icardi-inter-fans-banner-san-siro_ne2k495cpa6911rvcg7ybmvbh

Meski bermula dengan baik, hubungan keduanya hancur seketika akibat keegoisan Icardi pada Derby D’Italia di Juventus Stadium. Pertandingan yang kala itu berakhir imbang, bisa saja dimenangkan Inter jika Icardi lebih arif memanfaatkan peluang. Ia memilih memaksakan peluang itu sendiri, ketimbang mengumpan ke Pablo Osvaldo yang sudah berdiri bebas. Dan benar saja, bukan gol yang didapat, melainkan cacian dari sang rekan yang tiada habis menghujatnya sesaat kejadian, bahkan hingga usai pertandingan.  Seketika itu pula, saya pun menghujat Icardi tiada henti, hingga kini, dan nanti.

Tidak cukup dengan sahabat, rekan satu tim, Icardi kembali memilih lawan yang salah. Ini bahkan lebih fatal, ketika ia bersitegang dengan interisti saat Inter bertandang ke Sassoulo. Seusai pertandingan, Icardi (bersama Guarin) menghampiri Curva Nord (fans garis keras Inter) yang hadir ketika itu. Sayang, perbuatan mulia tersebut hadir di waktu yang salah. Bagaimana tidak, pertandingan yang berkesudahan 3-1 untuk kemenangan tuan rumah itu sudah cukup membuat hati Curva Nord yang datang hancur dan menilai pemain tidak becus menjalankan tugasnya. Hingga pada akhirnya, Icardi menjadi antitesa tersendiri ketika ia menghampiri fans dan memberikan jerseynya, seakan memenangkan pertandingan.

Fans yang tidak terima dengan sikap Icardi, membuang jersey itu sembari mengumpat si pemain. Tak terima dengan perlakuan fans, Icardi pun membalas umpatan tersebut hingga pada akhirnya terjadi perdebatan sengit antar mereka. Jauh sebelum pertandingan tersebut, Interisti (khususnya Curva Nord) memang sudah gerah dengan permainan Mauro Icardi yang dianggap seringkali membuang peluang, ditambah dengan sikapnya di luar lapangan, serta terlalu vocalnya Wanda Nara mengurusi karir Icardi di Inter.

Bukannya mengevaluasi diri, Mauro Icardi justru menambah pilu hati Interisti. Lewat bukunya berjudul “Sempre Avanti”, ia kembali membuka babak baru pertempuran dengan Curva Nord. Dalam buku biografinya itu, Icardi mengungkapkan bahwa ia akan membunuh semua Curva Nord dengan bantuan 100 mafia Argentina. Curva Nord yang memang dikenal keras, langsung menghujat sang kapten tanpa ampun, dan menuntut ban kapten dicopot dari lengannya.

Ancaman Icardi pun berbalas ancaman lain dari para Interisti, “tanpa melibatkan mafia, kami akan membunuhmu, Icardi.” Dan pada pertandingan minggu lalu, fans membentangkan banner besar yang ditujukan pada sang kapten. Fans yang dari awal pertandingan lebih banyak menghujat Icardi ketimbang mendukung Inter, akhirnya mencapai puncak “kesenangan”. Icardi yang berpeluang membuka gol tuan rumah ketika mendapatkan hadiah penalti, justru gagal mengeksekusi peluang emas tersebut. tendangannya melenceng jauh dari gawang. Kegagalan inilah yang membuat fans senang, dan bersorak akan kegagalan penalti itu. Segala cemooh, hina dina pada Icardi akhirnya membuat manajemen Inter Milan mengambil sikap tegas. Sebagai bentuk satu kesatuan, klub pun mendengar kegelisahan fans dan memberi sanksi pada sang pemain. Meski begitu, Interisti tampaknya harus gigit jari karena klub tidak mencopot ban kapten dari tangan Mauro Icardi.

Icardi, dengan talenta yang luar biasa besar, dengan usia yang masih muda, nyatanya tak mampu memanfaatkan itu semua. Ia kalah dengan ego nya sendiri, ia pun salah memilih musuh pada karirnya yang masih seumur jagung ini. Karena di mana pun, tidak ada seorang profesional yang tega meniduri istri koleganya, tidak ada pemain sebodoh ini yang lantang menantang fansnya sendiri. Dan, tidak ada orang sebodoh dia, yang menulis buku (padahal belum meraih gelar juara apapun) hanya untuk membunuh fansnya sendiri.

mauroicardi-the-sinner-captain

Lelaki tulen yang lebih sering dianggap wanita karena namanya. Seorang pecandu bola yang sedang bekerja keras agar bisa segera meminang kamu.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Esai

Go to Top