Bagaimana Kita Jatuh Hati?

oleh

Waktu tak pernah berencana untuk diam, beristirahat sekedar membuang lelah. Waktu akan senantiasa berlari dengan irama yang sama, konstan tak pernah berubah seolah memaksa kita untuk tumbuh kembang beriringan dengan waktu yang terus berjalan. Tak diizinkan sekalipun kita untuk berputar arah atau jalan kebelakang, tak akan pernah bisa. Sekarang ini yang bisa kita lakukan hanya ikut menapak arah bersama waktu, melanjutkan cerita yang telah dimulai, menyelesaikan bait demi bait skenario hidup yang telah dicetak rapi dalam naskah bernama waktu. Sedang untuk waktu yang sudah tertinggal jauh hanya bisa kita tertawakan, atau tangisi?, terserah. Lalu di kemudian hari, kita akan mengejawantahkan beberapa hal pada waktu yang tertinggal itu. Untuk memaparkan pertanyaan yang tak sempat terjawab sebelumnya, atau setidaknya untuk menerjemahkanya ke dalam bentuk cerita.

Dan tentang pertanyaan-pertanyaan itu, ada satu yang kerapkali muncul setiap kali aku dipaksa mengingat waktu bagaimana cerita ini bisa bermula, tentang kita. Sudah sangat lama sejak hari itu, namun masih cukup hebat untuknya membuncahkan pikiran ini setiap kali aku mengingatnya. Pertanyaan yang aku pikir, akan sehebat apapun kita berdiskusi, berbincang sepanjang siang-sampai petang, tak akan pernah kita temui jawabnya. Meskipun pertanyaan itu sangat sederhana : bagaimana bisa kita saling jatuh hati?.

Kita adalah sebuah ikatan tanpa rencana. Setidaknya itulah yang seringkali kita dengungkan setiap kita bercerita mula. Bagaimana bisa? Bukankah kita hanya diam, acuh pada kursi panjang yang berjauhan pada istirahat jam makan siang di sekolah. Siapa gadis itu? Kupikir. Siapa lelaki itu? Kau pikir. Lalu kemudian bel berdentang beberapa kali, memulangkan kita ke tempat pengajaran yang berbeda. Jika kemudian semesta mendekatkan kita lewat takdir sempit ruang kelas, itu hanya bagian tambahan dari aktivitas diam selanjutnya. Kita tetap saling tidak bertegur sapa, bukan? Aku mengenalmu, mengetahui namamu, hanya sekedar rutinitas ketua kelas mendikte nama. Kau tidak mengenalku? Tidak mengetahui namaku? Kucoret kau dari daftar kelas.

Lalu pertanyaan sederhana itu. Bagaimana bisa kita saling jatuh hati?. Entahlah. Kita berdua terlalu tinggi hati untuk mengakui siapa yang mencinta pertama kali. Atau karena setelahnya kita terlalu lama hidup berjauhan? Sehingga kita tumbuh dalam ikatan yang egois, mempersetankan segala hal yang mengganggu dengan sedemikian sadis. Lagipula ketika saat itu kita berjauhan, dan ada waktu untuk kita bertemu, bukankah alasan yang logis jika kita menikmatinya dengan segala rindu. Pertanyaan itu? Omong kosong, bisa kita bicarakan besok lusa ketika kita sudah berdekatan. Itu, kan, yang kita bicarakan pada kursi panjang lainnya dengan tangan kita yang kali ini saling menggengam.

***

love-lock-wallpaper-1280x720
Sumber gambar : hdwallpaper.pk

Kali ini malam terang. Langit bersih tak tersaput awan. Bintang tumpah mengukir angkasa, membentuk ribuan formasi. Angin malam membelai rambut. Lembut. Menyenangkan. Bersama angin sayup terdengar suara katak bernyanyi dari seberang jauh, bersahutan sedemikian parau, penanda malam yang begitu tenang. Aku mendengus kesal dari suatu teras tanpa kursi bersama cangkir kopi yang masih penuh terisi, belum sempat aku habiskan. Nyanyian itu begitu mengganggu, padahal pada malam seperti inilah aku merasa pantas berdiam diri sendirian. Mengingat apa yang bisa kuingat, tentang perjalanan kita selama ini. Dan tentu saja, setiap kali waktu itu itu diingat pertanyaan itu kembali membuncah. Bagaimana bisa kita saling jatuh hati?. Sudah sangat lama sejak hari itu, namun aku tetap tidak memiliki ide bagaimana semua ini bermula. Aku meminum kopiku kemudian, habis dalam satu tarikan nafas.  Betapa hidup adalah sebuah banyolan, baru beberapa menit yang lalu aku mengutuk nyanyian para katak sedemikian parah, menghujaninya dengan segala caci maki. Lalu bagaimana bisa kemudian aku menikmati nyanyian para katak yang nyaris tanpa irama itu sampai kepalaku mengangguk atas-bawah bergerak sesuai dengan suara katak yang semakin jelas. Sederhana saja alasannya, untuk beberapa hal menyebalkan kita memang harus membiarkannya, memakluminya sebagai bagian dari rangkaian proses, lalu menikmatinya. Lantas, malam ini aku putuskan, pertanyaan itu tak mesti lagi terjawab. Meski menyebalkan, namun aku akan menghargainya sebagai salah satu dari rahasia waktu.

Lagipula kali ini, setelah kita berdekatan, peduli setan dengan siapa yang jatuh hati pertama kali. Karena bagaimanapun, harus kuakui, kau seringkali membuatku jatuh hati berulang kali. Lebih dari itu, dengan segala kebaikan yang kau miliki, dengan segala polah yang kau buat, dengan segala mimpi yang kau sabdakan, kau selalu membuatku jatuh cinta pada setiap waktu aku melihatmu, kau membuatku tergila-gila setiap kali aku mengingatmu. Dan tentu saja itu, jatuh cinta padamu berulang kali, jauh lebih menyenangkan ketimbang memikirkan siapa yang ketika itu jatuh hati pertama kali. Memilikimu yang sedemikian itu. Bersama juga malaikat kecil yang kau lahirkan. Astaga, nikmat Tuhan mana lagi yang harus aku dustakan.

Waktu yang senantiasa berlari dengan irama yang sama seolah memaksa kita untuk tumbuh kembang beriringan dengan waktu yang terus berjalan menyelesaikan bait demi bait skenario hidup yang telah tertulis bersamanya. Ia sedemikian bijak untuk mengejawantahkan beberapa hal pada waktu yang tertinggal, kemudian memaparkan jawaban untuk semua pertanyaan yang ada sebelumnya.

***

05 Oktober, 23:20.

“Buruk, ini sungguh buruk. Untuk apa kamu menulis panjang lebar, berbelit-belit mengabaikan inti cerita hanya demi pilihan kata”. Dua puluh tujuh menit yang lalu, aku memberinya selarik kertas berisi naskah yang baru selesai aku tulis. Sudah menjadi kebiasaan untukku membiarkannya menjadi pembaca pertama kali. Ia memang kurang pandai dalam memilah kata terlebih untuk merangkai kesatuan cerita, tapi atas dasar ketidaktahuannya itulah aku seringkali mendapatkan reaksi wajar apa adanya. Sekali dua aku mendapatkan pujian dari perempuan itu untuk naskah yang aku tulis. Pada waktu yang lain aku mendapat kritikan pedas, beberapa diantaranya sedemikian parah malah. Seperti malam ini.

Mulutku mulai membuka. Sebelum akhirnya kuurungkan niatku untuk menjawab. Membiarkannya berbicara lebih lanjut.

Jawaban yang aku tunda malah membuatnya mendengus kesal. Untuk sebuah naskah kasar? Reaksinya memang berlebihan, tapi itulah yang aku sukai dan aku harapkan, sebuah keterusterangan yang seringkali disembunyikan oleh pembaca. Entah karena alasan ‘tidak sampai hati untuk mencela’, atau boleh jadi ‘bingung mau berkomentar apa’, atau yang paling parah ‘malas, untuk apa membuang waktu untuk mengomentari karya busukmu’. Tapi darinya aku selalu mendapatkan reaksi yang menyenangkan, terlepas kalimat yang keluar dari mulutnya kadang kali menyakitkan untuk urusan ini.

“Maksudku, cerita ini menceritakan awal mula sebuah hubungan lelaki dan perempuan, kan? Tapi, mana inti cerita? Apa yang mereka maksudkan? Tentang pertanyaan itu? Apa jawabannya? Nanggung tahu, gak!?” ia melanjutkan kalimatnya. Juga beberapa tambahan kalimat lain yang menyesalkan tentang alur cerita  yang berantakan, tentang diksi yang diperkosa untuk sebuah rima dalam frasa, tentang konflik yang mengambang dan semacam itulah. Kali ini posisi duduk kami berjauhan, dipisahkan oleh satu meja kecil yang diatasnya terdapat beberapa kudapan kecil. “Kamu niat nulis, gak sih!? Ini kaya bukan tulisan kamu, tahu!” kalimat terakhirnya. Jika dalam kondisi yang normal, urusan seperti ini akan merusak suasan hatiku pada tahap yang menyedihkan. Bagaimanalah, sebagaimanapun kita bisa menerima kritik, akan ada saat-saat kita merasa terpuruk jatuh ketika mendapatkan hal yang tak sesuai dengan yang kita harapkan, bukan?

Tapi kali ini berbeda. Aku mengangguk,  tersenyum. “Kamu tahu kata apa yang paling sering aku pakai di tulisan itu?” aku menjawab pertanyaannya dengan satu pertanyaan lain. Ia mengerenyitkan dahi. Tidak mengerti. Dibacanya lagi naskah itu sampai beberapa menit kemudian. Pada satu bagian dia membacanya berulang kali, memastikan jawaban untuk pertanyaanku barusan. “Ehm. Waktu?” dengan suara yang hampir tidak terdengar ia menjawabnya ragu.

Aku bangkit dari tempatku duduk, memutari meja kecil itu untuk kemudian duduk beralaskan lutut di depannya persis. Aku ambil kertas itu, merobeknya menjadi beberapa bagian, lalu membuangnya ke tempat sampah di belakang kursi. “Eh” ia terperangah kaget.

“Waktu” aku memegang tangannya. “Tidak semua naskah yang aku tulis adalah naskah yang akan aku publikasikan. Tiga ratus delapan puluh empat kata yang aku tulis barusan adalah omong kosong. Aku hanya ingin kau membacanya dan mengarahkanmu pada satu kata itu. Waktu” Untuk beberapa detik kemudian ada jeda tanpa suara diantara kami berdua. Aku diam untuk memilah kalimat yang tepat setelahnya, sedangkan ia, nampaknya berhasil kubuat bungkam tanda tak mengerti.

“Untuk kata itulah aku menulis. Untuk kau membacanya, lalu kemudian menemukan kata itu sebagai sebuah modus. Waktu. Sayang, karena waktulah kita bisa sampai di hari ini. Menyelesaikan rencana-rencana yang pernah kita bicarakan. Juga tentang mimpi dan, Ah, bagian itu nanti saja kita bicarakan. Tapi, Sayang. Bukankah karena waktu juga usia kita bertambah. Seperti kau hari ini.  Yang bertambah tua akibat waktu”.

Aku melihat jarum jam yang satu putaran lagi akan menggenapi puncaknya. Selagi ia masih diam akibat bingung. Aku mengeluarkan sesuatu dari saku celanaku. Sebuah kalung perak dengan liontin kupu-kupu, persis seperti persembahan ulang tahunnya yang pertama semenjak kami memutuskan berpacaran ketika jaman putih-abu dulu sembilan tahun yang lalu, aku memang mengambilnya dari kotak perhiasan di lemari. “Selamat ulang tahun sayang. Semoga yang terbaik kelak di sisa usiamu. Juga untuk keluarga kecil kita. Dan paling penting kau harus mengajakku makan enak sebagai hadiah untuk usahaku menulis sepanjang tadi. Percayalah, itu melelahkan”.

Ia mencubit pipiku gemas. “Enak saja. Hadiah apa? Ngasih hadiah itu yang romantis donk. Tulisan? Kunooo …!!!”

Kami tertawa. Sampai kemudian kedua tangannya membentang untuk kemudian memelukku erat. Panas tubuh kami menghangatkan suasana malam atas malam yang mulai larut. Cukup lama kami dalam posisi itu. Berangsur kemudian ia melemaskan tangannya, melepaskan pelukan itu. Menggantinya dengan sebuah kecupan.

“Terima kasih”.

Aku tersenyum. “Selamat ulang tahun, Istriku”.

bagaimana-kita-jatuh-hati

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

48 Comments

  1. Bingung mau komentar apa.
    Aku harus baca 2 kali biar ngerti.
    Kalo sepengheliatan apa sepengeliatan ya? Ada kalimat yang enggak efektif, terkesan mau banyak2in kata gitu.

    Ya namanya kritik, kalo ngga suka wajar…

    Coba nulisnya sambil sedih deh karena mengingat perjalanan kisah cinta, pasti makin tarasa ke pembaca yg modelannya kayak bena, ini.

      • Atuhlah.
        Bena jatuh cinta bisa juga nulis yang sedih.
        Huft.

        “Kalimat” gitu juga di akhir kalimat… :))))

        Yaudah selamat ulang tahun buat istrinya mas dika 🙂
        Semoga yang terbaik selalu mengiringi. Aamiin allahuma aamiin.

  2. Masya Allaaaaahhh. Romantis bangeeeeeet. Btw, selamat ulangtahun untuk istrinya Mas Andhika. Semoga disayang Allah dan terus menemani Mas Andhika yang berdinamika baik di dunia dan di indahnya syurga, kelak.

    ada bagian cerita yang hampir mirip dengan prilaku suami ayi ke ayi juga, yakni menceritakan hal yang tak ayi mengerti hanya untuk mengetahui respon yang wajar. Padahal udah dibilangin berkali-kali, sungguh aku tak paham dengan penjelasan ceritanya. Tapi begitulah dia, tetap melakukan hal yang sama terus menerus hanya karena satu hal, mengizinkan ayi yang pertama kali tau akan pekerjaannya.

  3. Aaaah…so sweet… 🙂 Romantis sekali nih, Mas Andhika. Pasti hati istrinya melayang-layang tuuuh..!
    Salam buat istrinya ya… semoga sisa usianya semakin berkah dan tetap setia menjadi pendamping Mas Andhika yang sedang jatuh cinta..hihihi…

  4. Barakallah untuk isteri mas Andhika dan keluarga. Kalau buat postingan yang romantis memang mas Andhika salah satu jagoannya. Kado indah buat isteri tercinta rupanya. Dan sejak ” jaman putih-abu dulu sembilan tahun yang lalu” bukanlah waktu yang sebentar untuk menjalin sebuah hubungan.

  5. Ciye ciye, so sweet banget.. Btw selamat ulang tahun mbak nya, semoga selalu bahagia dengan keluarga kecilnya.

    Tulisan nya selalu bikin gereget, itulah kenapa saya bacanya pelan-pelan dan dilakukan di rumah, kalau di kantor, pasti nggak bisa nangkep isi ceritanya.

  6. Tulisannya romantis bgt bang, aku pikir ini tulisan tentang waktu atau pula tentang jatuh hati, eh ternyata tentang perayaan ulang tahun sang istri..

    Dilihat dari diksi dan gaya tulisannya sampai bait bagian istri membaca itu serasa seperti membaca halaman2 awal bukunya ahmad tohari bang, pertama-tama pembaca diajak untuk berkeliling lingkungan sekitar, sembari berjalan, sembari disisipi satu dua kata obrolan yg mengajak utk berfokus pada bahasan utama..

    Pemilihan diksinya, membuatku merasa “kayaknya aku kurang banyak baca buku” :l

    Selamat ulang tahun nyonya andhika mppp, semoga panjang umur X)

  7. Ah….
    Asyik banget..
    Nggak nyangka lah di akhir-akhirnya gitu
    Waktu
    Omong kosong
    Aih siapa peduli
    Bagiku tulisan indah sebenarnya sudah cukup nyaman dibaca
    Ternyata endingnya buat kaget
    Ehem…

  8. Aku malah pengen dapat tulisan romantis dari suamiku. Kayaknya harus disuruh blogwalking ke sini deh. Hehe

    Meskipun di mulut bilang kuno, pasti dihati berbunga-bunga tuh si mamah.

  9. Aku baca postingan ini abis nonton drakor hahaha, jadi masih kebawa2 cerita dramanya, trus senyum2 sendiri :))
    woh co cweet, selamat ulta dan salam buat istrinya 🙂

  10. Ih… Keren, hadiah ulang tahun berupa tulisan itu emang kuno.. tapi kayaknya lebih romantis.. selamat ulang tahun buat istrinya Kak Ucha, semoga langgeng sampai hari tua dan segala impiannya segera tercapai. Amiiin..

  11. Happy Milad buat istri nya yaa mas.

    Semoga langgeng sampai tua, akhir hayat memisahkan.

    Semoga panjang panjang umur, menjadi istri sholehah & ibu yg yg bisa dibanggakan.

  12. Ciyeeee.. Ucha Romantiss.. Hadiah ylang tahun yang OK cuma kayanya istrinya lebih senang dikasih permata atau berlian *eh

    Selamat ultah buat istrinya yah

  13. Hihihi… Ternyata bukan saya saja yang bingung ttg tulisan ini, istri mas dhika juga. Btw selamat hari lahir utk istri mas dhika, semoga Allah memberkahi umurnya

  14. Ketika membaca, aku berimaginasi. Lalu kubayangkan bahagia hatiku jika membaca dari suamiku. Tapi itu tak mungkin… dia,.suamiku, sekadar penikmat kalimat, bukan pencipta. Huh…

    Lalu… wanita yang berulang tahun itu mengatakan kado tulisan adalah kuno… saking biasanya.

    Aih… betapa romantis kalian berdua

  15. Seperti biasa, aku pelan pelan sekali baca tulisan ini. Seperti biasa juga, aku pelan pelan sekali mengerti jika istrinya Mas Dhika berulang tahun. Tapi, cepat sekali aku mengerti bahwa Mas Dhika dan keluarga itu.. so sweet banget :’)
    Selamat ulang tahun istrinya Mas Dhika. Barakallah :’)

  16. Selamat ulang tahun istrinya Mas Dhika, semoga senantiasa langgeng.

    Jatuh hati (mungkin) suatu hal yg tak terencana, pun akhirnya kita binging, bagaimana jatuh hati bermula #eyaaa

  17. Seorang laki-laki yang punya daya romatisme, idaman para wanita. Tapi dikedalaman hatinya ada hal yang seakan inginya “berada pada kemanjaan seorang wanita” terus-menerus. Ada beban, ada pula ketakutan. Ah, aku lihat semua itu Dika…

    Ehhh, ieu teh komen naon nya.. hahaha nya kitu we lah.. wilujeng milad kangge bojona.. sing sabar weh kitu nya..

  18. wow banyak menggunakan permainan kata.
    romantis tp entah ada yg kurang dmn ya sebelum puncak kalimat udah drop duluan ah apasikk

    keren koq dika, anyway happy bday buat mantan kekasih aka istri tercinta smg makin bahagia

  19. Ahahaha. Ending nya kok lucu. Tapi romantis. Lah bikin iri😂😂😂😂
    Karena waktu telah di tentukan oleh Tuhan. Takdir yang menyatukan kalian, dan si kecil sebagai pemanis hubungan.
    Romantis terus yaaaa. Nanti tambah dede lagiii, aku rikues, cewe😂😎

  20. Bacanya udh 2 kali dari awal sampai akhir.. biar ngerti..
    Dan ternyata luar biasa nih.. di akhirnya romantis juga yah..
    Nanti sya bisa gtu gk yah.. atau yg lebih lagi.. hehe..

  21. Wuiihhh cakeeeppp tulisannya,,, jadi seperti membaca sebuah buku beneran mas. Kalo saya pribadi yang menjadi konsen utamanya setelah mengalami proses jatuh hati yang kemudian dilanjutkan dengan ikatan suci adalah menjaga agar bagaimana hubungan tersebut agar tetep langgeng sampai batas usia yang telah di tentukan oleh yang kuasa, seiring dengan badai yang akan selalu hadir dalam kehidupan berumah tangga 🙂

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Dear Senor

Buenos dias, Senor! Bagaimana akhir pekan anda kemarin? Anda pasti sudah lebih tenang

Kategori Blog

Terkadang saya bingung ketika seorang atau beberapa teman menanyai saya tentang kategori

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya
Go to Top