Tentang Berpindah

oleh

Menunggu jelas bukan suatu kebiasaan, yang jika dalam waktu normal, sudi untuk saya lakukan. Terlebih jika dalam prosesi menunggu itu saya harus memerhatikan suatu objek yang membosankan. Astaga, bukankah itu membosankan sekali? Tapi dalam beberapa waktu terakhir, empat minggu kalau tidak salah, saya terpaksa harus melakukannya, beberapa kali bahkan dilakukan sedari pagi diam di satu tempat hanya bergerak beberapa langkah sampai senja melewati kepala demi suatu upaya untuk mempercantik suatu bendaΒ  yang nantinya akan menjadi peneduh ketika semesta sedang tidak bersahabat. Ketika Anda membaca tulisan ini, boleh jadi saya sudah berada di suasana baru, di tempat itu, tempat yang selama empat minggu ini selalu saya tunggui demi memerhatikan, memastikan prosesnya berjalan dengan baik-baik saja. Karena bukankah mereka, kita, para manusia seringkali lebih menunjukan potensi dan kemampuan ketika sedang diperhatikan?

Ah, sudahlah. Sebelum omongΒ  kosong ini terlalu panjang. Saya ingin sedikit bercerita tentang apa yang sedang saya lakukan, yang seringkali melibatkan banyak sekali perasaan, tentang… berpindah.

Dalam kaidah kebahasaan, pindah memiliki arti beralih, bertukar tempat dari satu ke yang lainnya,Β  dalam bentuk apapun itu. Seperti yang dicontohkan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan, Anda dapat menganalogikan pindah ke dalam hal apapun yang Anda sukai. Berpindah sekolah misalnya ketika secara berkala Anda melewati nilai minimum standar kelulusan. Berpindah kota, ketika dalam suatu waktu Anda harus bekerja demi kehidupan yang lebih baik. Berpindah hati, ketika merasa cinta adalah sesuatu yang harus dicoba berulang kali sebelum menemukan satu pasti. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, bukankah berpindah sekolah, kota, juga hati, harus melibatkan banyak sekali perasaan? Tentang meninggalkan atau ditinggalkan. Tentang tangis dan juga tawa. Juga tentu saja tentang setumpuk kenangan yang, jika dituliskan, akan menjelma menjadi banyak sekali buku yang teramat tebal.

Saya yang sekarang ini telah beberapa kali melewati masa ketika harus berpindah sekolah, meninggalkan teman dan tempat lama untuk dipertemukan dengan teman dan tempat baru. Pada masa itu juga, tanpa mengurangi rasa hormat untuk Anda yang masih setia hidup sendirian, saya seringkali berpindah hati. Ah, entahlah untuk apa itu tujuannya. Tentang cinta, rasanya saat itu saya terlalu muda untuk memahaminya. Sampai beberapa lama setelahnya, ketika hati itu sudah tertambat, saya mengalami proses berpindah yang lainnya untuk banyak sekali alasan. Meski utamanya adalah tentang penghidupan, dan sekali lagi melibatkan terlalu banyak perasaan.

Credit photo : artlimited.net
Credit photo : Artlimited.net

Berpindah kota, mungkin dirasa biasa untuk Anda yang sering berkelana. Menjejak untuk berfoto lalu pergi begitu saja, sesekali hasil foto itu dibagikan sebagai pertanda. Lalu ketika harus berpindah ke kota lain, tidak terlalu menjadi masalah, bukan? Bandingkan jika di kota itu Anda diam cukup lama, bahkan boleh jadi sudah bertambah pula daftar sekolah, dan juga hati, dan juga yang lainnya yang dengan mereka Anda merasa sudah terikat? Terlebih ketika Anda sudah menemukan sebuah tempat tinggal yang di dalamnya Anda merasa sangat nyaman. Untuk kasus ini, saya sudah pernah mengalaminya beberapa kali.

Meninggalkan kota kelahiran menuju ke suatu kota di pulau seberang nun jauh menjadi pengalaman pertama saya dalam hal berpindah kota dengan melibatkan banyak sekali perasaan. Dua puluh tahun tanpa pernah menetap lama sebelumnya, lalu harus berpindah jauh meninggalkan orang tua, teman, kekasih hati, belum lagi kebiasaan dan banyak hal lainnya yang jika dipikir sayang sekali untuk ditinggalkan begitu saja. Ah, demi masa depan yang lebih baik. Pikir saya saat itu. Beruntungnya, sebelum hati dan pikiran saya terikat di seberang pulau sana, saya sudah mengalami perpindahan berikutnya hanya dalam hitungan bulan saja. Perpindahan kedua ini berlangsung biasa saja, tidak banyak perasaan yang terlibat. Boleh dibilang, untuk urusan yang ini saya malah merasa senang.

Di tempat yang baru berikutnya saya cukup lama menetap. Membentuk banyak sekali lingkaran sosial kehidupan. Beberapa diantaranya memberikan rasa nyaman yang teramat sangat, pengalaman-pengalaman luar biasa yang oleh karenanya seringkali menumbuhkan semangat baru. Di tempat itu, untuk berbagai aspek, saya merasa tumbuh sebagai seorang manusia. Ketika kejadian tak terduga membuat saya harus kembali berpindah, meninggalkan segala yang baru saya dapatkan itu, saya marah dan kecewa luar biasa.

Untuk banyak sekali alasan, berpindah memang kerapkali menyebalkan. Tapi dari itu semua, kita bisa mengerecutkan pada satu pokok bahasan saja. Kenyamanan. Rasa nyaman, seperti yang kita ketahui, tidak mudah untuk didapatkan. Untuk mendapatkan kenyamanan kita memerlukan bantuan semesta. Kita tidak bisa menciptakannya, boleh jadi rasa nyaman sendirilah yang mencari tuan. Kita marah. Ehm, maksudnya saya marah setiap kali berpindah karena saya dipaksa harus mencari kenyamanan lain yang sudah susah payah saya dapatkan. Yang tentu saja memakan waktu yang tidak sebentar, yang tentu saja membutuhkan katalis yang banyak sekali. Saya merasa sebal karena di tempat baru, saya belum tentu mendapatkan lagi yang saya dapatkan di tempat sebelumnya. Pada akhirnya perpindahan yang ketiga kalinya ini merubah saya jadi orang yang berbeda. Saya yang sebelumnya aktif pada kegiatan sosial, setidaknya membuka jaringan pertemanan nyata sebanyak-banyaknya, menjadi cenderung menutup diri. Dua puluh empat jam terasa monoton karena hanya dihabiskan di antara dua tempat saja: kamar kontrakan dan ruangan kerja.

Sampai akhirnya, dia datang. Ikut berpindah dari tanah kelahiran, untuk menghilangkan jarak pada cinta, mendekati janji masa depan, lalu menyelesaikannya esok lusa. Untuk segala kenyamanan yang dirampas sebelumnya, semesta menggantinya dengan satu jawaban pasti : gadis yang menagih janji.

Setelah gadis itu datang, proses berpindah dalam kehidupan saya tetap ada dan terus datang bergantian. Yang membedakannya adalah, kali ini saya tidak sendirian. Kami melewati proses itu bersama-sama juga sangat terencana. Cerita berpindah sejak itu pun lebih bervariasi. Tidak melulu tentang sekolah, bukan pula tentang hati, apalagi kota. Berpindah status dari lajang pada tahun pertama ia berpindah kota. Sesuatu yang sudah kami rencanakan bertahun sebelumnya. Menjadi mudah ketika ia berpindah kota. Satu hal yang saya pelajari kemudian, berpindah boleh jadi membawa hal menyenangkan jika kita merencakanan dan menikmatinya. Yang paling luar biasa, dan mengaduk segala perasaan ketika kami berpindah posisi dari anak menjadi orang tua pada tahun kedua. Meski sebetulnya proses ini bukan sepenuhnya berpindah, hanya bertambah. Karena toh kami tetap anak dari orang tua kami. Akan tetapi, tentang kehidupan, proses berpindah dari anak menjadi orang tua tentu saja memaksa kami untuk memindahkan pola pikir dan kebiasaan hidup ke tahap selanjutnya yang, semoga, lebih bertanggung jawab.

Dan sekarang ini adalah tahun ketiga sejak hari itu, ketika ia berpindah kota untuk pertama kalinya, ketika ia meninggalkan segala kenyamanan di tempat asalnya untuk lelaki yang, saat itu, belum jelas juntrungannya. Dan sekarang ini adalah tahun ketiga, yang dimana dalam daftar rencana yang telah dibuat saaat itu, kami harus melakukan proses berpindah yang lainnya. Berpindah tempat tinggal ke tempat tinggal dengan nama salah satu dari kami yang tertulis pada surat-surat administrasi legal yang diwajibkan oleh negara. Dan omong kosong pada paragraf pertama tulisan ini adalah bukti dari segala campur tangan Tuhan, yang dengan baiknya memuluskan segala rencana kami.

Tentang berpindah kali ini, hanya sedikit sekali perasaan yang terlibat. Keputusan saya yang sebelumnya memutuskan untuk menutup diri, demi menghindari kenyamanan baru yang harus ditinggalkan kelak, adalah keputusan yang tepat. Ketika saya sekarang harus berpindah, saya tidak harus meninggalkan siapa-siapa sekarang. Pelajaran lain yang saya dapatkan berikutnya. Kita tidak akan pernah merasa kehilangan, ketika meninggalkan atau ditinggalkan, jika kita mengabaikan perasaan.

Ketika Anda membaca tulisan ini, boleh jadi saya sudah berada di suasana baru, di tempat itu, tempat yang selama empat minggu ini selalu saya tunggui demi memerhatikan, memastikan prosesnya berjalan dengan baik-baik saja. Tempat di dunia yang hampir selalu ada pada setiap semoga. Tempat yang mudah-mudahan senantiasa menyenangkan dan membahagiakan. Tempat yang boleh jadi, akan menjadi topik tambahan pada setiap tulisan nantinya. Tempat yang selama tiga tahun terakhir ini kami rencanakan, tempat yang selama ini kami bicarakan dan semoga menjadi yang terakhir untuk kami mengalami proses perpindahan tempat dalam waktu yang sangat lama.

Dan sekarang, mari kita menghadapi proses berpindah yang lainnya.

TentangBerpindah

Catatan kaki :

Meski terasa menyenangkan. Proses berpindah ini berimbas juga pada hal lain. Salah satunya adalah sisi ekonomi. Betul, dengan ini saya memiliki investasi jangka panjang yang baik. Hanya saja dalam prosesnya entah berapa banyak anggaran yang harus saya pangkas, entah seberapa kuat ikat pinggang saya kencangkan, entah berapa banyak daftar keinginan yang saya hapuskan, hanya demi memenuhi biaya bulanan, yang sejatinya adalah problematika kehidupan di era modern ini.

Saya tidak mungkin bukan, meminta Anda menyisihkan sebagian tabungan Anda untuk memenuhi kehidupan saya sehari-hari. Tetapi, jika Anda tetap ingin berbaik hati membantu saya. Kunjungi saja blog ini sesering mungkin. karena boleh jadi setiap kunjungan Anda akan membawa rezeki yang lain untuk saya nantinya. Amin.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

36 Comments

  1. gue bacanya terlalu selow banget sampe lupa mau ngetik apa πŸ™
    selamat menikmati rumah baru dan kehidupan yang baru. Semoga rezekinya semakin bertambah tanpa kurang satupun, jiwa dan raganya juga disehatkan selalu oleh Allah SWT. Aamiin Allahuma Aamiin.

    mau tanya sekalian,,
    kata “nun” dan “nan” itu sama saja yaa?

  2. Selamat menikmati tempat baru, mas Andhika. Semoga selalu dilancarkan rejekinya untuk memenuhi semua mimpi-mimpinya. Semoga selalu diberi kesehatan juga untuk seluruh keluarganya. Aamiin

  3. butuh perjuangan banget itu untuk melakukan suatu perpindahan. Karena banyak kenangan dan kehidupan yang sudah berlalu di tempat lama. sulit untuk melupakannya.

    semoga ditempat yang baru ini membuat anda mendapatkan pengalaman yang lebih baik bagi keluarga anda.

  4. Dulu waktu sekolah beberapa kali pindah tempat tinggal. Kdg sedih karena hrs adaptasi lagi dan lagi. Tp selalu ada pelajaran di dalamnya

    Selamat berpindah, Bang!

  5. Saya juga baru mengalaminya Mas, mengencangkan ikat pinggang demi bisa bayar tukang. Tapi belum pindahan, masih nunggu hari πŸ™‚

    Semoga rumah baru membawa berkah dan rejekinya makin lancar. Amin

    • Wuihhh, kapan pindahan? Iyaa, tukang gak bisa diprediksi ya ternyata harganya. Beberapa kali renovasi, selalu jauh melenceng dari budget. Ehm, bukan tukangnya sih, kepengen kitanya aja yang berubah-ubah

  6. Sesungguhnya perpindahan adalah hakekatnya seorang manusia. Dalam kehidupannya, manusia akan banyak mengalami perpindahan. Perpindahan masa, perpindahan logika, perpindahan suasana, sampai perpindahan cinta.

    Perpindahan pertama ketika proses kelahiran dulu ya, berpindah dari rahim emak menuju rahim dunia yang penuh suka duka. Lalu perpindahan usia, dari balita menuju ke remaja, lalu menuju dewasa, lalu kemudian menjadi orang tua.

    Dari setiap perpindahan, pasti ada sebuah pelajaran yang mampu kita petik, dan semuanya kembali pada mereka tentang bagaimana menerimanya akan sebuah arti perpindahan..

    Selamat berpindah, dan selamat menikmati suasana yang berubah

  7. Hati2 jika merasa terlalu nyaman dalam suatu tempat atau kondisi. Jika ingin diri berkembang, kita memang harus melakukan “perpindahan” dari zona nyaman ke area baru yang seringkali tidak ramah pada para “pendatang”.

  8. Senang bisa membaca tulisan ini, tepat sehari sebelum saya juga akan berpindah. Berpindah ke tempat yang selama empat pekan terakhir selalu saya kunjungi. Tapi saya tak mengalami proses menunggu. Karena kesempatan tak mengizinkan demikian.

    Semoga kepindahan saya sama seperti mas Dika dan keluarga. Adalah kepindahan dengan tanpa banyak kehilangan.

    Eh adakah kita berpindah ke daerah yang sama. Ah sepertinya bukan.

    Selamat berpindah mas. Semoga segalanya menjadi lebih baik

  9. Yang saya tangkap dari tulisanmu ini Ndik, ialah pindahnya sesuatu yang besar dan suka cita. Tersirat kesedihan yang tak mengiba namun dalem banget.

    Tapi, apapun itu semoga akan kamu jumpai hal-hal yang nantinya diluar dugaan. Percaya.

  10. Sedari kecil saya sudah terbiasa nomaden. Tetapi tidak terbiasa dengan adaptasinya. Selalu saja butuh waktu. Ya, mungkin karena tipikal orang2 tempat saya pindah selalu berbeda2.
    Semoga segera menemukan kenyamanan di tempat baru ya, Mas. Open house WB kapan? Hehe

  11. Ada enak engganya sih ya pindah2 itu, enaknya bisa eksplor beragam kota yang disinggahi.
    Ga enaknya selalu adaptasi dari Awal di setiap kota baru.

    Selamat memulai hidup yang baru mas Andhika 😁

  12. Catatan kakinya πŸ™‚
    Mak jleb, bener di zaman sekarang ini harus mengencangkan ikat pinggang dan menghapus yang tidak perlu. Tapi rasanya belum bisa berpindah heheh

  13. Barakallah atas rumah barunya, mas Andhika.
    Semoga makin membawa berkah, rejeki dan kebahagiaan.

    Nanti bakal banyak lahir tulisan-tulisan kaya manfaat dari hunian baru.
    Ditunggu karyanya.

  14. Ini nih yang minta dibantai? Udah rapi, kok. Enak juga bacanya. Tapi di atas ada yang salah-salah sedikit. Di paragraf awal ada tanda baca yang dobel “?.” lalu perlu diperhatikan lagi mengenai penggunaan partikel “pun” dan perbedaan “di” sebagai kata depan dengan “di-” sebagai imbuhan. Itu aja.
    Btw, kita belum ketemu dan Masnya sudah pindah… πŸ™
    Semoga bahagia di tempat barunya ya, Mas. πŸ˜€

    *baru bisa komen, habis jalan-jalan jauh terus sakit dan kehabisan kuota, maafkeun :(*

    • Pindahnya kan gak jauh, masih dikisaran itu itu juga :-).

      Kita masih sempat untuk bertemu suatu ketika nanti. Terima kasih, baik saya akan belajar lebih banyak lagi tentang penggunaan pun dan di yang memang sering kali membingungkan. Tolong caci maki lebih banyak lagi ya πŸ™‚

  15. Pertama-tama, aku mengucapkan selamat berpindah ke tempat yang insha allah lebih baik dari yang sebelumnya.
    Kedua, aku sangat terkesima dengan tulisan Ka Dhika yang kok enak banget dibacanya? Hahaha….
    Ketiga, itu paragraf terakhirnya boleh juga, ya…
    Cara membantu oranglain itu sebenarnya sederhana banget πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Pembimbing Utama

Saya yang sedang mencoba mempelajari kembali Bahasa Indonesia sempat menjadi menyebalkan ketika,

Mobil, Tiang & Benjol

Sudah satu minggu semenjak nusantara dihebohkan oleh berita kecelakaan lalu lintas yang

Kurang Piknik

Frasa β€˜kurang piknik’ kerap digunakan untuk menandai orang-orang yang dianggap memiliki sensitivitas

Sepatu

Salah seorang pesohor di media sosial membuat sebuah kliping, potongan gambar berita

Penulis Murah(an)

Beberapa waktu yang lalu, di twitter, saya mengunggah tangkapan layar dari sebuah
Go to Top