Menjadi Seorang Pelatih

oleh

Sebagai pecinta sepakbola bukan sekali dua kita mengutuk tim yang kita dukung ketika menuai hasil negatif. Dalam sekali waktu, para pemain seringkali dikambing-hitamkan atas kegagalan sebuah kesebelasan meraih poin penuh. Salah? Tidak juga. Wajar saja jika menyalahkan pemain menjadi sebuah kelaziman karena bagaimanapun mereka itulah yang menjadi penentu arah permainan. Baik-buruknya sebuah hasil dalam pertandingan sepakbola sangat bergantung oleh kaki-kaki yang bermain di atas lapangan. Namun, semua skenario yang terjadi di lapangan sangat bergantung terhadap olah pikir orang lain yang boleh jadi dalam satu pertandingan sama sekali tidak pernah menendang bola, hanya berjalan memutar pada kotak yang sempit. Ya, dalam banyak kasus, pelatihlah yang paling bertanggung jawab terhadap kelangsungan sebuah pertandingan sepakbola. Apa yang dilakukan pemain, sedikit banyak hanya kepanjangan dari  pelatih. Mengejewantahkan taktik dan strategi dari olah pikir para pelatih.

Sebagai bukti betapa penting dan berpengaruhnya olah pikir seorang pelatih, silakan anda ingat-ingat beberapa tahun silam ketika Internazionale Milan meraih sukses luar biasa saat memenangi tiga gelar bergengsi dalam satu waktu. Treble Winners. Kala itu Inter dilatih oleh seorang jenius dalam diri Jose Mourinho. Setahun setelahnya, apa yang terjadi? Inter luluh lantah. Rafael Benitez (dan diteruskan oleh Leonardo) gagal meneruskan kesuksesan Mou, padahal komposisi pemain Inter saat itu tidak terlalu banyak berubah. Atau yang lebih baru dan lebih menyenangkan untuk ditertawakan adalah ketika kita yang sekarang ini merasa sulit setiap kali dipinta untuk mencari dimana harga diri Manchester United (MU) sepeninggal Sir Alex Ferguson. Sempat menjadi klub yang digdaya ketika ditukangi sang legenda, sekarang ini MU tak ubah seperti klub semenjana yang menargetkan diri untuk bisa bertahan di liga. Berlebihan? Tak masalah, MU memang sedari dulu ada untuk dicaci maki.

Yang paling menyebalkan (atau menyenangkan?) dari seorang pecinta sepakbola setiap kali berurusan dengan pelatih adalah kemampuan mengkritisi yang meningkat berpuluh-puluh derajat. Asalkan tentang mencaci maki pelatih ketika timnya sedang terpuruk, seorang bodoh sekalipun akan tampak lebih hebat dari para peraih nobel. Segala sumpah serapah dihaturkan, dengan beribu majas penghias kata, sesekali muncul juga kata mutiara dari sedikit pihak yang membela, tapi para pembela itu terlalu sedikit untuk kemudian dilupakan begitu saja. Lalu kemudian untuk tim yang sedang terpuruk, para penghina itulah yang ada di barisan terdepan di semua dinasti kehidupan sepakbola. Ada untuk menghina. Padahal kawan, ketahuilah. Menjadi seorang pelatih tidaklah mudah, bahkan boleh jadi menjadi pelatih jauh lebih sulit ketimbang menjadi pemain sepakbola.

Untuk membuktikannya, kita bisa mencoba satu-dua permainan simulasi tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang pelatih. FantasyPremierLeague2016

Di semesta sepakbola, sejauh ini ada dua permainan simulasi kepelatihan yang masih bertahan dan tetap digemari oleh khalayak bola. Yang pertama adalah Football Manager (FM) buah karya Sport Interactive yang menghadirkan semua detail perihal dunia kepelatihan. Dari mulai transfer pemain, training, team-talk, berinteraksi dengan pemain, pelatih lain atau pemilik klub, sampai dengan mengatur strategi sedemikian rupa demi meraih poin sempurna untuk setiap pertandingannya. Yang berikutnya adalah Fantasy Premier League (FPL) produksi dari federasi sepakbola Inggris bekerja sama dengan EA Sports. Jika FM dibuat dengan segala kesempurnaanya, FPL justru sebaliknya. Para pelatih yang bermain FPL hanya diminta untuk membuat sebuah tim yang berisikan lima belas pemain dengan posisi yang berbeda. Sesederhana itu. Yang membuatnya menjadi menarik adalah, baik-buruknya perolehan hasil kesebelasan pada FPL sangat bergantung banyak terhadap hasil dari pertandingan sepakbola sesungguhnya.

Dari gambar yang saya sisipkan, anda tentu tahu lah mana yang akan lebih dulu saya bahas. Untuk anda yang sama sekali awam terhadap permainan ini anda bisa membaca tulisan saya sebelumnya pada tautan berikut : Fantasy League Manager.

Berbeda dengan FM yang untuk memainkannya Anda membutuhkan spesifikasi perangkat yang cukup tinggi, belum lagi dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli aplikasi permainan yang bisa Anda beli dalam bentuk digital ataupun fisik. Untuk FPL yang Anda butuhkan hanya akun surat elektronik untuk mendaftar pada laman resmi English Premier League. Perangkat? Anda bisa menggunakan computer kantor saat rehat jam kerja, atau menggunakan aplikasi yang tersedia pada perangkat genggam dengan harga yang sangat terjangkau.

Setelah melakukan registrasi dan melakukan beberapa tahapan administratif, Anda akan diminta untuk membuat satu kesebelasan yang, seperti sudah saya sebutkan, berisi lima belas orang yang dapat Anda pilih dari dua puluh klub peserta. Masing-masingnya dua penjaga gawang, lima pemain bertahan, lima pemain tengah dan tiga penyerang. Dengan budget yang disediakan tentu Anda harus bijak dalam memilih pemain. Sederhananya, pilihlah sebelas pemain utama yang Anda yakini mampu memberikan kontribusi penting untuk tim Anda, dan sisa budget-nya? silakan gunakan seadanya. Selanjutnya Anda cukup duduk manis, menunggu hasil aktual pertandingan liga inggris setiap minggunya, sesekali gunakan jatah transfer agar tim yang Anda miliki lebih berpeluang untuk mendapat poin lebih banyak. Mengenai penentuan poin yang akan Anda dapatkan, Anda dapat melihat lagi tulisan saya tadi atau dapat langsung melihatnya pada laman resmi FPL pada tautan berikut : FAQ Fantasy Premier League.

Fantasy Premier League Official Fantasy Football Game of the Premier League

Sejatinya FPL adalah sebuah pengajaran bagaimana seharusnya sepakbola itu dinikmati. Demi melihat pemain dari tim yang Anda kelola bermain, tentulah Anda akan menyempatkan diri untuk melihat pertandingan yang melibatkan pemain pilihan Anda. Tak peduli meskipun itu bukan tim yang Anda dukung. Ya, setidaknya itulah yang saya lakukan dalam dua-tiga tahun terakhir. Saya yang sebetulnya adalah pendukung klub sepakbola asal italia malah menjadi lebih menikmati permainan cepat ala liga inggris.

Yang paling menarik, di atas segalanya, FPL adalah sebuah pengkhianatan terbaik dari sepakbola. Maksud saya begini, di FPL anda akan menemukan banyak sekali fans Liverpool yang lebih memilih menggunakan Ibrahimovic yang notabenenya adalah pemain MU, rival abadinya, ketimbang Christian Benteke. Entahlah karena apa, boleh jadi fans Liverpool sadar diri terhadap komposisi pemain di timnya sehingga lebih memilih menggunakan pemain rival. Lebih menariknya, jika ketika itu MU bertanding melawan Liverpool, fans Liverpool tentu rela-rela saja Ibra mencetak gol sebanyak-banyaknya asalkan Liverpool tidak kalah. Atau di kasus lain, Fans MU yang meminjam jasa Countinho pada tim FPLnya akan mempersilakan anak muda berambut ikal ini mencetak gol ke gawang David De Gea, atau setidaknya membuat assist sajalah. Atau banyak lagi kasus-kasus lain yang seru untuk Anda simak tentang pengkhianatan yang terjadi semenjak FPL mendunia.

Lalu pada akhirnya, setelah beberapa pekan, Anda akan merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang pelatih. Bagaimana formasi bukan cuma urusan angka, empat-empat-dua, tiga-lima-dua, atau semacam itulah. Bagaimana nama besar tidak selalu menjamin kemenangan. Bagaimana keberuntungan seringkali menjadi faktor penting yang menentukan hasil pertandingan. Dan kemudian, kita akan mengerti banyak bagaimana senangnya menjadi pemenang atau malangnya ketika dinasbihkan sebagai pecundang.

Oh, tentu saja. Suatu ketika sedang beruntung, komposisi pemain yang ada di tim Anda mendulang banyak poin sehingga posisi Anda di klasemen yang melibatkan beberapa teman Anda tiba tiba merangkak naik jauh sekali, Anda yang terbiasa bermulut besar boleh jadi akan semakin menjadi. Melanjutkan tradisi caci-maki dengan suka cita. Namun, tentang bola itu bundar memang benar adanya. Di waktu yang lain, boleh jadi Anda lah yang akan dihujani segala sumpah serapah, dikutuk sebagai yang kalah, dihina sampai jatuh di lubang yang paling dalam. Berlebihan? begitulah memang yang kerapkali terjadi di semesta sepakbola. Sekali lagi, ketika Anda coba memainkannya, lalu kalah. Anda akan paham bahwa menjadi pelatih memanglah tidak mudah.

Jadi, marilah menikmati sepakbola dengan cara yang elegan. Dengan urat yang cukup Anda tanam di dalam kulit. Tak perlu dikeluarkan. Biarkanlah sepakbola tumbuh dengan bagaimana semestinya. Sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Dear Senor

Buenos dias, Senor! Bagaimana akhir pekan anda kemarin? Anda pasti sudah lebih tenang

Kategori Blog

Terkadang saya bingung ketika seorang atau beberapa teman menanyai saya tentang kategori

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Sebelum Nonton

Saya pernah menuliskan sebelumnya tentang beberapa hal yang acap kali membuat saya
Go to Top