Anak Kecil Itu

oleh

Suatu hari, pagi datang dengan sebagaimana mestinya. Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan, memberikan nuansa sejuk pada pagi, kini telah digantikan cahaya fajar yang hangat. Satu dua orang berjalan cepat dengan telapak kaki dibiarkan telanjang menginjak bumi yang belum panas. Satu dua lainnya berlari lambat demi keringat dan banyak harapan gumpalan lemak di dalam perut segera enyah. Sepagi itu pula, saat para ayam pejantan sudah kembali masuk kandang setelah lelah berkokok panjang membangunkan manusia dari lelapnya tidur malam tadi, di rumah berluas beberapa bata saja ada seorang anak kecil dengan bau asam keringat yang menyenangkan sedang tertawa, terbahak sebegitu riang. Barisan gigi yang tumbuh belum sempurna diperlihatkannya dengan sengaja. Menggemaskan sekali. Ia berlari kesana-kemari sebelum terjatuh karena tak siap. Menangis sekejap sebelum kembali berlari. Lalu menari. Sembari mengulang tawa dengan begitu memesona.

Memerlukan waktu satu hari penuh untuk anak kecil itu sadar sedang berada dimana ia sekarang. Sepanjang hari kemarin ia sempurna diam. Bersembunyi di pangkuan Eyang semenjak pertama rumah itu dijejak. Menatap kosong keluar halaman. Mana pohon besar di depan rumah? Barangkali itu yang ia pikir. Boleh jadi juga karena undak-undakan tangga, yang menjadi tempat favoritnya untuk bersembunyi, kini tak ada. Ia berjalan menyisir seisi ruang memastikan ada sisa-sisa tempat yang ia ingat. Percuma, sama sekali berbeda.

Uluran tangan Ayah yang hendak gendong ia tepis. Memilih bersembunyi di belakang punggung Eyang yang baru berniat rebah. Mata Bunda terbelakak, kaget tak terperi melihat Ayah diacuhkan sedemikian rupa. Bunda mengulurkan tangan kemudian, menawarkan anak kecil itu untuk gendong. Tapi lihatlah, anak kecil itu memilih acuh, menampik tangan bunda yang sedikit memaksa. Lalu menangislah ia, mengadu pada Eyang serupa adu sehabis dipukuli sedemikian sadis. Bunda menyusul tangis setelah sebentar itu. Ayah hendak menangis, namun air matanya malu untuk keluar. Tertahan menjadi tangis yang menyakitkan.

Beberapa pekan terakhir yang banyak. Orang tua dan anak itu memang tidak bertatap muka. Sengaja memang untuk urusan yang jauh dari sederhana. Demi menunggui rumah yang hari ini dijejak itu anak. Alasan yang sah-sah saja sebenarnya. Lagipula dalam waktu tersebut hanya Ayah yang benar-benar tidak menawarkan manja untuk Si Anak, sedang Bunda tetap ada secara berkala. Akan tetapi, bagaimanalah anak seusianya bisa mengerti untuk alasan-alasan itu, yang ia tahu hanya tentang rindu akibat tidak terima alfa bertatap muka untuk waktu lama. Itu saja. Dan sekarang, anak itu mengungkap rindu dengan cara yang pilu. Lihatlah, di balik punggung Eyang kini ia menatap sendu.

Sebetulnya, untuk anak kecil itu, adalah sebuah kelaziman tidak bertemu Ayah dan Bunda di hari kerja. Mereka bekerja di kota jauh. Sedang Si Anak dengan terpaksa tinggal di tempat Eyang sementara waktu. Entah bagaimana caranya, ia paham akan keadaan. Demi menenangkan Ayah dan Bunda ia tak pernah merengek parah. Asal di akhir pekan Ayah dan Bunda ada, atau ia akan berubah sempurna. Dari anak kecil yang lucu, tertawa dengan gigi kosongnya setiap waktu, yang menggemaskan setiap mereka yang melihat, menjadi anak kecil yang pemarah. Meski diakui tetap saja menggemaskan. Sekali saja di akhir pekan Ayah dan Bunda tak ada, rumah Eyang akan berubah fungsi menjadi tempat pelampiasan marah. Ada saja yang dilempar pecah dan dibuat berantak sedemikian rupa.

Maka seperti itulah adanya untuk beberapa pekan terakhir yang banyak. Bunda memang ada di sana. Membayar hutang waktu untuknya. Tapi dimana ayah? Barangkali itu yang ia ucapkan ketika Bunda datang sendirian. Dengan bahasa yang belum di mengerti manusia dewasa. “Eh, yah, Eh” katanya sambil berkeliling menyisir hampir separuh rumah Eyang terutama pada bagian dimana dengan Ayah ia biasa bermain. Percuma, Ayah tidak ada disana. Ia kemudian marah, sedemikian parah, dengan tangis yang menawan, memekikan telinga Eyang dan Bunda. Sulit sekali dibuat diam. Yang terjadi kemudian adalah Si Anak tertidur lelap akibat kepayahan. Jengah kepada Ayah yang tak kunjung datang.

Di waktu sebelumnya ia cukup pandai ketika rindu. Perangkat genggam milik Eyang ia cari, diberikannya kepada Eyang, menyuruhnya untuk melakukan sesuatu dan berhenti ketika perangkat itu menyambungkan suara pada perangkat genggam milik Ayah. “Eh, yah, hehehe, yah, eh, hehehe” selalu seperti itu. Ayah tidak cukup pandai untuk mengerti artinya, yang Ayah tahu itu adalah ungkapan rindu. Bagaimanapun, bahagia sekali tampaknya ia bisa tersambung dengan sedikit waktu Ayah. Dari seberang sana terdengar suara Eyang menyuruhnya mendekat, tidak usah bersembunyi ketika berbalas rindu dengan Ayah. Tidak ada yang perlu disembunyikan bukan? Kata Eyang. Si Anak menolak, enggan waktunya diganggu meski sedikit. Ini Ayahku. Katanya mungkin.

Namun pada beberapa pekan terakhir yang banyak. Ayah teramat pelit membagi waktu. Di ujung suara, ia diam saja. “Berani sekali Ayah menelfon aku. Ayah kemana saat aku rindu? Apa Ayah sebegitu sibuknya? Lihat perangkat genggam Ayah, berapa kali Ayah mengabaikan aku?” penerjemahan Ayah yang lain untuk bahasa yang belum dimengerti. Terlalu berlebihan? Boleh jadi, tapi lihatlah si Anak yang kini sedemikian bisu. Barangkali tidak mau diganggu, Yah. Kata Eyang ketika panggilan suara itu ada hanya untuk menghabiskan pulsa. Sama sekali tanpa suara. Padahal, sebelum panggilan itu banyak sekali ia berbicara. Kata Eyang lagi.

Dan kemarin, ketika Si Anak datang, aksi bisunya diperlihatkan sedemikian nyata. Ditolaknya gendong Ayah juga Bunda. Jika aku berdosa untuk membentak, bukankah bersembunyi dan menolak adalah jadi pilihan bijak? Pikir anak itu. Sempurnalah sudah ia menghindar. Sepanjang hari. Tak berguna semua bola yang Ayah tendang. Biasanya Si Anak akan menyambut suka setiap kali bola menggelinding menyentuh dinding. Untuk apa juga itu senar gitar dipetik. Di waktu yang lalu padahal Si Anak akan langsung bereaksi merebut paksa seolah berkata “Ayah, biar aku yang memainkannya, Ayah menyanyi saja” bahkan biasanya ia lakukan itu sebelum C pindah ke G. Meski diabaikan, Ayah rela melakukannya. Untuk harapan membuat senang, menarik perhatian, seharian dan bergantian. Melakukan semua yang biasa ia suka. Sesekali ia bereaksi, mengeluarkan senyum menggemaskan. Meski sepanjang hari itu. Ayah gagal untuk gendong.

Banyak anak berpikir bagaimana biasanya mengacuhkan orang tua. Mengganti waktu mereka untuk bersenang dengan para sebaya. Tak masalah, pikir banyak sekali anak. Karena toh orang tua pastilah paham. Begitu juga dengan Ayah yang pernah memikirkan itu. Ayah yang kerap abai, terhadap kesempatan berkumpul dengan orang tua, kini menyesal. Setelah menjadi orang tua Ayah sadar sedemikian berharganya waktu untuk, sayang sekali, harus dibuang sia-sia. Entah itu meninggalkan, atau ditinggalkan.

Dan sebentar kemudian ketika senja sudah hilang entah, digantikan oleh malam bersahaja. Si Anak dipaksa semesta untuk lelah, berbaring di kamar berluas kurang dari satu bata dengan lampu yang dimatikan dan pintu yang dibiarkan terbuka sebagian. Maksudnya, agar susu untuknya siap dikirimkan kapan saja tanpa perlu takut untuk menggangu Si Anak yang nanti lelap. Bunda ada di sana menemaninya. Memastikan tak ada satupun nyamuk menyentuh anak itu. Ayah? Melanjutkan kebiasaan di malam-malam setiap akhir pekan, menonton bola sampai jengah.  Suara televisi Ayah kecilkan sampai nyaris tidak bernada. Dari luar nyanyian katak lebih terdengar berirama ketimbang berisiknya komentator bola. Sekali lagi, agar tidak mengganggu Si Anak yang sedemikian lelap.

Ayah salah. Di malam seperti itu bukan suara yang mengganggu lelapnya anak. Bukan pula nyamuk, semut atau kecoak jika ada. Lihatlah, pintu kamar itu kini terbuka sempurna dengan derap langkah perlahan di belakangnya. Anak itu bangun. Menghampiri Ayah yang, demi melihat Si Anak bangun, diam tak bisa berkata. Yang terjadi berikutnya adalah Si Anak rebah memeluk Ayah. Mengejewantahkan rindu yang tertahan semenjak pagi.  Tangan kecil itu terangkat dengan telunjuk yang bergerak sedang jari lain bersembunyi dalam genggaman kecilnya. Ayah tahu untuk apa tangan itu bergerak. Berbisik ditelinganya Ayah bernyanyi “Daddy finger, Daddy finger where are you? Here I am, here I am how do you do?”. Demi rindu yang kembali pada tuan. Malam itu Ayah rela mengeluarkan air mata sepenuhnya.

Remote televisi Ayah ambil. Dimatikannya TV itu sebelum bola ditendang. Si Anak malam itu menagih manja, yang tak bisa Ayah berikan untuk beberapa pekan terakhir yang banyak.

Embun yang beberapa waktu sebelumnya berjatuhan kini telah digantikan cahaya fajar yang hangat. Satu dua orang berjalan cepat dengan telapak kaki dibiarkan telanjang menginjak bumi yang belum panas. Satu dua lainnya berlari lambat demi keringat dan banyak harapan gumpalan lemak di dalam perut segera enyah. Di rumah berluas beberapa bata saja ada seorang anak kecil yang baru berdamai dengan rindu. Dengan bau asam keringat yang menyenangkan ia tertawa, terbahak sebegitu riang. Membangunkan Ayah dan Bunda dengan paksa. Barisan gigi yang tumbuh belum sempurna diperlihatkannya dengan sengaja. Lucu sekali. Ia kemudian berlari kesana-kemari sebelum terjatuh karena tak siap. Menangis sekejap sebelum kembali berlari menghampiri Ayahnya. Tangan Ayah ditarik. Terburu-buru sekali. Di tengah rumah ia kembali tertawa. Mengeluarkan banyak sekali gerakan yang menggemaskan. Eyang yang terbangun kemudian berkata dari ujung pintu.

“Ayah, Dede itu pengen nunjukin ke Ayah kalau Dede punya banyak gaya baru”.

Anak-Kecil-Itu

Epilog : 

Suara gemericik air terdengar begitu syahdu ketika sedang dituangkan ke dalam gelas. Kopi hangat yang kedua malam ini, aromanya mengurung ruangan ini dengan nuansa kehangatan. Kopi memang pasangan terbaik untuk menemani kudapan yang sedari tadi belum habis kumakan. Di depan layar monitor komputer aku menghembuskan nafas panjang.

“Kenapa, Yah?” wanita itu bertanya. Sembari disimpannya secangkir kopi panas disamping monitor komputer.

“Semoga anak kita bisa ngerti dan bisa maafin kita ya, Bunda”. Aku mengatakan sembarang hal, getir akibat membaca ulang naskah yang baru selesai aku tulis. Ia mengangkat alisnya tanda tak mengerti. “Kenapa? Kok tiba-tiba bilang gitu?”. Aku menyuruhnya duduk, memintanya membaca naskah itu. Ia membacanya perlahan, bersuara namun tak terdengar. Pada beberapa bagian ia menatapku khidmat. Lalu tersenyum sembari menggelengkan kepala.

“Lagipula, Yah. Untuk apa nulis seperti ini. Baper kan jadinya”. Ia selesai membacanya, terdengar nafasnya yang berhembus panjang.

“Ini latihan, Bunda. Seumpanya nanti anak kita marah, dan mudah-mudahan enggak, Ayah sudah siap untuk jadi pelampiasan kecewa anak kita” aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Wanita itu mengusap rambutku perlahan teramat lembut, beberapa kali ia lakukan pada satu bagian saja. Menenangkan sedikit ketakutan.

“Anak kita jagoan. Pasti ia mengerti, dan bisa memaafkan Ayah sama Bunda”

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

57 Comments

  1. Terharu, mas…
    Semoga ayah dan bunda bisa terus mendidik anaknya menjadi anak yang hebat.
    Semoga si anak pun akan bisa mengerti pengorbanan yang dilakukan ayah dan bunda-nya semua semata-mata demi masa depan dia.
    Semoga rasa rindu itu akan terus berkurang, karena ayah dan bunda sering bersama anak

  2. Duh kisahnya sama denganku, mas. Aku inget banget dulu, waktu Ayah menjengukku sebentar di rumah Eyang, lalu pamitan yang kulakukan menarik erat tangan Ayah. Tapi, Eyang tak membolehkan karena memang Ayah sibuk dengan pekerjaannya. Aku menangis sejadi-jadinya dan seketika itu aku melihat mata Ayah pun berkaca-kaca 😢

  3. Sangat mudah untuk menjadi seorang bapak. Untuk menjadi seorang ayah : ada tantangan tersendiri. Seorang anak yang merindukan sosok seorang ayah akan bermanja ria dengan sang ayah. Itu bagian yang menarik 😊

    • “Sangat mudah untuk menjadi seorang bapak. Untuk menjadi seorang ayah : … ”

      Eh, Saya kurang mengerti, Mas. Bukankah Bapak dan Ayah itu cuma sekedar sapaan. Kata ganti lain dari orang tua lelaki?

  4. Bacanya begitu hati-hati dan pada akhirnya jadi berkaca pada diri sendiri :’)
    Terimakasih banyak atas kisahnya, kak. Semoga beliau disana juga memaafkan segala macam hal yang saya lakukan, yang mungkin telah membuat dia terluka :’)

  5. Jadi ikutan baper nih. Setidaknya anak kecil yg itu beruntung punya ayah yang bs menorehkan tulisan untuk dikenang saat dia beranjak dewasa. Agar dia tau kasih sayang ayah bundanya tak selamanya bs terucap.

  6. yang saya lihat sekarang seringnya kebanyakan malah orang tua yang selalu minta anak untuk mengerti keadaan orang tua, padahal seharusnya orang tua lah yang harus lebih banyak mengerti perasaan anak-anak ya mas, bagaimanapun juga anak-anak kan masih polos ya 🙂

  7. Baper banget bacanya, Mas Andhika. Hubungan antara ayah dan anak memang selalu istimewa di mataku. Ayah saya adalah orang yang keras dan cuek di dunia kerja dan masyarakat. Namun kepada anak-anaknya hingga kami dewasa seperti sekarang ini, beliau menunjukkan rasa sayang dengan cara yang menyenangkan. Bahkan sepupu saya suka sekali dengan ayah sejak ia bayi. Setiap ayah memang punya caranya masing2 dalam menyayangi anaknya.

  8. seorang anak pasti merindukan sesosok sang ayah. dan selalu ingin di perhatikan oleh sang ayah. dan pasti sering ngambek si anaknya. tapi nanti ketika dewasa nanti sang anak pasti akan mengerti betapa beratnya menjadi figure seorang seorang ayah mencari uang susah payah untuk si anak.

  9. Saya jadi teringat pada Bapak, yang ada di luar kota. Pernah suatu waktu, ketika saya masih kanak-kanak, beliau mendapat tugas sekolah ke luar negeri. Meski hanya beberapa bulan, tapi saya sangat merindukannya. Begitu Bapak pulang, saya menyambutnya dengan tangisan. Masih terbayang saya menangis sambil memeluknya dengan erat. Menjaga, supaya beliau tidak pergi lagi. 🙂

    Sebagai seorang tentara, Bapak memang tegas. Tapi saya akan selalu ingat, beliau sangat sering mengusah kepala saya atau sekedar menepuk pundak saya. Saya tau, beliau sangat menyayangi saya. Duuuh….saya jadi kangen sama Bapak, nih!

  10. Aku tidak dekat dengan Ayahku, beliau terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi saat itu, ayah termasuk orang susah, yang harus kerja keras. Dulu beliau pernah ninggalin kami untuk waktu lama, pas kembali aku bahkan takut memeluk ayahku sendiri yang aku sangka orang lain. Setelah beliau tidak ada, aku mulai kehilangan sosok ayah, dan menyesal kenapa aku dulu sempat membencinya. Eh, jadi curhat, semoga menjadi Ayah yang selalu dibanggakan sama dedeknya yah, Mas Dika.

  11. kok jadi ikut sedih baca tulisan ini ya bang?
    perihal anak kecil yang ditinggal kerja orang tuanya di luar kota, ditinggalkannya bersama eyang, lalu menganggap orang tuanya adalah eyangnya, bukan orang tua yang sebenarnya..

    Tapi benar juga ini tulisan, karena kasus seperti ini banyak terjadi di kota kota besar, dimana banyak anak yg jauh lebih dekat suster/asisten rumah tangga/pengasuhnya dibandingkan dengan orang tuanya yg tiada waktu untuk anaknya, dan hanya terfokuskan pada karir semata :))

    Tulisannya bagus bang, semacam tulisan tentang cerminan sebuah keluarga :))

  12. Terkadang ayah harus bisa berperan ganda ya mas. Sebagai tulang punggung dan sebagai ‘abang’ yang memberi contoh serta bermain dengan anaknya.

    Semangaaaat buat ayah seluruh dunia

  13. Aku baca ini jadi baper sejadi-jadinya. Bahkan, belum membayangkan menjadi ayah saja sudah semenjana ini. Pertanyaan dasar yang cukup dijawab dengan alasan klise, apakah aku juga akan menjadi ayah seperti itu? Jauh dari anak dan menyerahkannya pada keluarga lama? Ah, klise, hanya waktu yang akan menjawabnya.

  14. Anak, selalu punya selaksa cara yang kadang tak dimengerti orang dewasa. Bahkan terkadang kita, para orang tua.

    Dan anak sekecil itu. Ah… Mas Andhika meramunya dengan apik. Sejatinya ini tidak tentang dia bukan? Bahkan ketika kita ada di hadapan mereka sekalipun, masih ada sekat.

    Nak! Pada saatnya kamu akan mengerti bahwa selalu ada rindu, ada syahdu, di dada ayah dan ibu.

  15. Jadi ayah sedemikian seru. Saya pernah merasakan rasanya cuma ketemu ayah seminggu sekali, efeknya ya gini, jadi nggak deket sama ayah. But i know, we loving each other =)

  16. Mas Dhika curhat, ya? Hihihi…
    Kadang tak semelow itu. Anak mengenal penanda waktu. Meski tak diungkap, mereka paham bahwa saat tertentu setelah diajak melakukan ini itu, maka saat itulah (ayah) jagoannya datang. Dan tangannya akan selalu siap mengembang sempurna. Bukan karena lama menunggu, tetapi karena tahu itulah saatnya bertemu. Aku pernah kerja waktu Si Sulung masih 6-18 bulan. aktivitas mandi sore usai nenek salat membuat ia tahu, sebentar lagi ibunya datang dan bisa bermain bersama lagi. Yang penting saat bersama anak, abaikan semua keinginan pegang gadget sampai anak terlelap. Maka ia akan membaca kasih sayang kita di waktu yang singkat.
    Salam untuk mereka, sang sumber cerita ya.

    • Untuk bagian tentang ekspresi si anak. Ini murni karangan sih, Mbak. Seperti yang dituliskan pada epilog cerita. Antisipasi. Alhamdulillah, Si Anak bereaksi sebaliknya. Tidak mau lepas dari ayahnya.

  17. Semoga anaknya ka dhika tidak seperti aku, yang ditinggal kerja orang tua, lalu kesepian, hampa, dan pencari perhatian parah.
    Masa-masa balita emang waktunya bareng-bareng orangtua, tapi ya namanya cari nafkah ya.
    Intinya jangan berhenti kasih perhatian meskipun sibuk.
    Kalau dulu aku pernah, ditinggal diklat 3 bulan. Pas pulang, aku enggak kenal orang tua aku😂 maklum, dulu kan ga sehits sekarang teknologinya haha

  18. cerita ini mirip dengan keluarga saya juga mas, saya dan anak tinggal berjauhan dari suami karena pekerjaan. kadang jadi baper sendiri klo direnungkan. kasian sekali anakku, tidak mendapatkan kasih sayang ortunya secara penuh. semoga ketika besar ia bisa paham ya

  19. saya kurang bisa memahami inti cerita ini mas dhika.
    berarti maksudnya awalnya si anak tidak punya hubungan harmonis dengan orang tuanya , kemudian di akhir akhirnya ayahnya menyesal, dan si anak bisa akrab lagi dengan ayahnya?

  20. Anak-anakku termasuk yang dekat dengan ayahya, sebab biasanya kalau wiken emaknya minat me time. Jadi, mereka kutinggal sama ayahnya :))
    Saat ini juga lagi jauh2an sama Ayah beda kota, tapi diusahakan supaya nggak lupa kutunjukin foto ayahnya sama telepon hehe.
    Btw hubungan antara ayah dan anak itu unik ya Mas, soalnya kalau sama ayahnya anak2ku jd anteng dan bisa main sambil cekikikan, tapi kalau ada emaknya pd ngowek2 hehehe

    TFS 😀

  21. membaca untaian kata hasil tarian tangan mas Dhika di pagi yang hujan ini rasanya kok ya mengharu-biru. teringat masa kecil bersama alm. ayah. masa-masa ngambek yang sebenarnya adalah karena rindu yang tertahan.

    anak jagoan itu, pasti kelak paham kenapa ayah bundanya kerap alfa di hari-harinya, semoga 🙂

  22. Sedang terjadi juga di saya, suami dan anak kami, Mas Andhika. Tuntutan pekerjaan dan waktu kebersamaan yang kurang membuat rindu mabuk kepayang. Kita bisa mengekspresikan rindu dengan sekedar melihat fotonya atau mendengar suaranya lewat perangkat genggam. Tapi apa dia bisa? Dipeluk, dibelai, disayang hingga ditemani bermain adalah haknya atas Ayah dan bunda. Dan waktu, semoga saja kian hari tidak sekejam itu membuat jarak pertemuan antara kita dan anak menjadi tidak menentu.

    Percayalah, mereka yang sekecil itu sudah dipaksa untuk mengerti. Mengerti kesibukan kita yang tak lain adalah untuknya juga. Untuk masa depan yang entah bagaimana. Untuk membahagiakan hari-harinya agar tak jatuh terlalu dalam.

    Dan kita, orangtua. Yang dituntut untuk mampu menghadapi keduanya. Memeluk dalam malam gelap, meski rindu bermain di siang hari terus memberontak hadir. Bersabarlah. Kuatlah.

  23. Orang tua memang guru dan panutan anak sejak awal ya. Mesti paham dan sabar :))

    Semoga bisa menjadi Ayah Bunda yang senantiasa membimbung anaknya mas 🙂

    Semoga aku pun bisa menjadi orang tua yang baik kelak 🙂

  24. ayah memang tak melihatkan kasih sayang yang berlebihan kepada anaknya, karena ayah ingin suatu saat anaknya menjadi anak yang mandiri dan ayah berjuang mencari nafkah hanya untuk membuat anaknya suatu saat nanti menjadi anak yang berguna utk semua orang. Maka daripada itu sayangilah ayah sebelum semuanya terlambat 🙁

  25. Sebagai orang tua kita punya keterbatasan, namun ga usah khawatir, kelak anak pun kan mengerti kenapa kita marah.. doa-doa tulus kita jadi langkah mereka menjadi seorang yang faham apa dan bagaimana hidup.

  26. Baper alert!! Hahaha..
    Kalau bayangin nanti jadi seorang ayah kok aku bingung ya, mas. Aku kikuk kalau sama anak kecil.

  27. Hmmm. Sedih juga ya, ketika jadi Ayah tapi gak bisa mendampingi anak. Huhu. Semoga si jagoan mengerti.

    Keren, Bang Dika!

Tinggalkan Balasan ke Rindang Batalkan balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Cinta Seorang Hina

Tak pernah ada yang dapat mengalahkan gempitanya pasar yang bertransaksi. Suara ibu

Ruang Hati

Bagaimana jika kita memulainya dengan satu cerita lucu. Waktu aku, dengan wajah

Anak Ayah

“Anak ayah banget, ya, Dek?” pengemudi transportasi daring itu berujar setelah cukup

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang
Go to Top