Siapapun Bisa Menjadi Apapun

oleh

Sebagai makhluk yang diciptakan dengan akal dan pikiran manusia memiliki kebebasan yang luar biasa besar untuk bermimpi, menjadi apa saja. Buruk ?? Tentu saja tidak, dengan memiliki mimpi terkadang manusia bisa menembus batasan-batasan diri yang –entah dari mana asalnya membuat si manusia berkemauan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Dengan memiliki mimpi dan upaya untuk meraihnya manusia bisa menjadi seperti apa yang mereka maui, menjadi apa saja. Hanya saja, tidak semua manusia memiliki pemikiran dan kemauan sepositif itu. Beberapa dari mereka akan menjadi manusia sebaliknya. Naif, pesimis, pasrah akan keadaan dan malas untuk bermimpi apalagi sampai harus berjuang. Dari pemikiran negatif seperti itu akan muncul konflik baru yang lebih rumit dalam kehidupan manusia. Menghalalkan segala cara misalnya, atau penindasan? atau apapunlah.

Membingungkan?? Ubah kata ‘manusia’ di atas dengan ‘hewan’, maka anda akan menemukan sebuah gambaran kasar tentang Zootopia. Sebuah film yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan : cita-cita, semangat juang dan prasangka.

zootopia-review

Saya tidak akan terlalu banyak bercerita, tapi untuk mengatakan siapa saja tokoh utamanya tidak masalah, bukan?? Begini, Zootopia berkisah tentang hewan yang sudah berevolusi menjadi makhluk yang memiliki akal, pikiran juga perasaan. Dimana para hewan telah berhasil merusak dikotomi kompleks yang terjadi karena takdir hewani : pemangsa dan dimangsa. Di Zootopia tak ada lagi rantai makanan antar hewan. Sederhananya, jika Anda pernah membayangkan bagaimana bila Tuhan tidak menciptakan manusia, maka seperti Zootopia itulah gambaran Bumi kira-kira, hewan sebagai khalifah. Sebagai pusat cerita, diceritakan tentang seekor –atau seorang? kelinci bernama Judy Hopps (suara oleh Ginnifer Goodwin) yang memiliki mimpi besar yang jauh di luar kebiasan kelinci kebanyakan, menjadi seekor –atau seorang? polisi. Maka tentu saja, Hopps yang terlahir sebagai seekor –atau seorang? kelinci mendapat banyak sekali kesulitan, cibiran, nada pesimis dan hal negatif lainnya ketika sedang berupaya meraih mimpinya itu hanya karena dia… Kelinci,  yang kita tahu –meskipun cekatan juga pintar adalah seorang hewan yang lemah. Tentang mimpi-mimpi itu?? Hopps dianggap sedang membicarakan kemustahilan.

Dengan segala upaya yang dilakukan oleh Hopps, mimpinya menjadi polisi berhasil ia gapai –Saya  yakin ini bukan bocoran cerita, anda bisa melihatnya pada trailer atau bahkan dalam posternya sekalipun. Dan menjadi polisi ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh Hopps, setidaknya begitulah di awal cerita, nada-nada negatif itu masih ada, boleh jadi lebih parah. Ia mendapat perlakuan inilah, itulah, yang membuat kehidupan awal Hopps sebagai polisi jauh dari menyenangkan.

Everyone comes to Zootopia, thinking they could be anything they want. But you can’t. You can only be what you are

– Nick Wilde, Fox, Zootopia

Cerita menjadi semakin menarik ketika Hopps oleh takdir dipertemukan dengan Nick Wilde (Jason Bateman) seekor –demi keefektifan kalimat, kita sepakati saja menyebut tokoh dengan kata ini rubah yang sangat cerdik namun licik. Dari sinilah konflik, drama, petualangan dan apapulan itu dimulai. Dengan alur cerita yang apik, saya pastikan Anda akan menikmati semua scene yang ada di Zootopia, sesekali akan dibuat gemas ketika menemukan hewan yang berbalut pakaian dengan gaya dan penampilan yang lucu. Dan jika Anda jeli, Anda akan menemukan banyak sekali pesan-pesan kehidupan yang coba disampaikan Byron Howard dan Rich Moore selaku sutradara sekaligus penulis skenario dari film ini, dan sampai akhirnya diujung cerita, saya rasa anda akan melakukan hal yang sama dengan apa yang saya lakukan, yaitu berkata “Sialan, keren betul film ini!!” jangan lupa gunakan ekpresi wajah terkesan dengan mulut yang menganga untuk menambah efek dramatis.

Begitulah, Zootopia adalah alegori dari kehidupan manusia dewasa ini. Bagaimana sesungguhnya manusia terlalu disibukan dengan pengkotak-kotakan : siapa lebih kuat dari siapa, siapa lebih baik dari siapa, siapa lebih pantas dari siapa, dan semacam itulah. Bukankah dari masalah itu kemudian timbul masalah baru yang lebih besar?? Katakanlah perbedaan ras yang kerap kali menyakiti banyak pihak, pendidikan yang tidak merata untuk beberapa tempat dan kalangan, nepotisme dalam dunia kerja pun dunia politik, tata krama dalam kehidupan sosial, penyakit yang membuat kita senang setiap kali orang susah atau susah setiapkali orang merasa senang dan lain sebagainya. Semua masalah itu disindir secara halus nyaris tak tersirat, ditempatkan dengan manis dalam beberapa scene yang menggelitik. Sehingga fungsi Zootopia sebagai film animasi keluarga tidak ternodai dengan balutan pesan moral. Tidak seperti di negeri ini, yang dalam beberapa kasus pesan moral dalam sebuah film nampak begitu dipaksakan. Paling menarik (menurut saya masih pantas untuk diceritakan) adalah bagaimana situasi dalam kepolisian diceritakan. Hopps sebagai seekor kelinci -juga betina yang lemah dipandang begitu rendah, lihat saja bagaimana Kapten Bogo (Idris Elba) yang begitu idealis lebih memilih hewan yang kuat, buas dan liar untuk mengerjakan tugas kepolisian. Seperti bercerita bahwasanya di dunia ini, dalam banyak kasus, yang kuat lebih pantas untuk diandalkan. Padahal??

What is your problem? Does seeing me fail somehow make you feel better about your sad, miserable life?

– Judy Hopps, Bunny, Zootopia

Belum lagi kepiawaian para pengisi suara dalam mendalami peran. Hubungan karakter yang terbangun dalam setiap percakapan para hewan yang menggemaskan membuat film ini jauh dari membosankan. Suara Bellwether (Bellwether) asisten walikota Zootopia sangat seksi penuh dengan kepasrahan seolah menjalani hidup dalam intimidasi, Nick Wilde yang ketus, Hopps yang selalu bersemangat, Mayor Lionheart (J.K Simmons) walikota bijaksana yang selalu terdengar ragu. Ah, Saya rasa anda tetap bisa menikmatinya jika saja Zootopia dibuat dalam bentuk cerita yang disiarkan di radio. Meskipun tetap saja tampilan visual adalah salah satu aspek penting yang membuat film ini begitu mengagumkan. Zootopia memperlihatkan semestanya dengan indah. Kota metropolitan yang begitu rapih dan tertata, dibagi dalam beberapa bagian sesuai dengan kebutuhan penghuninya : Hutan tropis yang rindang, tundra yang dingin, dan gurun yang panas semuanya dibalut dengan grafis yang memesona. Anda bahkan dapat memerhatikan dengan baik detil bulu-bulu dari para tokoh. Dan twist di akhir cerita akan sedikit mengejutkan bahkan untuk penonton dewasa sekalipun.

Well, Disney lagi-lagi berhasil dengan baik membuat film yang bukan hanya sekedar tontonan. Lebih dari itu, banyak sekali aspek mendidik yang diberikan. Lagi-lagi saya sebutkan, sama sekali tidak mengurangi peran utamanya sebagai media hiburan. Zootopia, salah satu dari sedikit film yang satu keluarga utuh bisa datang bersama-sama ke bioskop tanpa rasa takut akan pengaruh buruk yang belakan ini sering muncul di film sebagai sisipan. Akhir kata, setelah menonton film ini tidak ada salahnya saya mengajak Anda untuk sedikit merenung :  bahwasanya semua cita-cita dalam hidup tidak akan pernah terwujud jika kita hanya diam, berbuatlah sesuatu, raih mimpi itu.

Life isn’t some cartoon musical where you sing a little song and your insipid dreams magically come true

– Chief Bogo, Buffalo, Zootopia

zootopia-review-banner

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

5 Comments

  1. Wah asik bgt mas filmnya ini. Apalagi karakter fox yang diperanin oleh Nick yang seolah-olah membuyarkan impian cute bunnies hehe…

    Btw, container blog ini lebar bgt gak sih mas? Agak susah pas baca di laptop buat tulisan yang lebar bgt. 😀

    Mungkin widthnya bisa diset dibawah 800an pixel 😀

    • Hai om Jung, Ah Nick Wilde emang keren. Karakter favorit saya di film itu.

      Iya nih, efek menghilangkan widget di single post. Kepenuhan widget di postingan jadi buat apa juga, ini sekarang di set 1024px sempet dicoba untuk diturunin, malah jadi aneh uy tampilannya.

      Mohon maaf kalau jadi kurang nyaman 🙂

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Review

13 Reasons Why

Kecuali Anda tinggal di dalam gua, atau terlalu khidmat dengan pilkada dan

Sabtu Bersama Bapak

Ketika kita mencari satu-dua artikel, tulisan, atau kisah dan cerita dalam bentuk
Go to Top