Sabtu Bersama Bapak

22 mins read
6

Meskipun saya begitu menyukai film Jomblo yang diadaptasi dari novelnya Adhitya Mulya tidak lantas membuat saya merasa harus mengikuti semua karya yang ia buat. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, beberapa bukunya yang saya beli di kemudian hari seperti Catatan Mahasiswa Gila dan Mencoba Sukses malah membuat saya mengerenyitkan dahi ketika membacanya. “Ini apa !!??” pikir saya ketika itu.  Dan jika saja ia tidak menyisipkan kata ‘Bapak’ pada karyanya yang terakhir, saya pastikan saya tidak akan pernah lagi mengisi lemari buku saya dengan cetakan buku bertuliskan nama Adhitya Mulya.

Review-SabtuBersamaBapak-Novel

‘Sabtu bersama bapak’ adalah karya yang bagus. Saya akui. Jarang sekali saya menemukan bacaan yang isinya tentang keluarga yang dibawakan dengan cara yang sederhana namun tetap mengena. Disini saya membuat kesimpulan sepihak. Adhitya Mulya adalah penulis yang jenius. Berlebihan?? Boleh saja Anda berpikiran seperti itu, karena memang untuk urusan keluarga, terlebih hubungan antara anak dengan bapaknya, saya memang kerap kali berlebihan. Dari judulnya saya menebak kalau ‘Sabtu bersama bapak’ akan menceritakan seorang anak yang memanfaatkan waktunya di setiap akhir pekan untuk bermain bersama bapaknya, yang mungkin, sedang bekerja di luar kota. Ketika itu saya bersemangat sekali membayangkannya, meski dengan versi terbalik, gambaran kisah itu juga adalah tentang saya yang selalu merindukan bermain, bercengkerama atau sekedar ngobrol manja dengan bapak di setiap akhir pekan. Meskipun dalam kasus saya, sayalah yang bekerja di luar kota.

…video mulai diputar…

Bercerita tentang keluarga Garnida, dimana Gunawan sang kepala keluarga divonis hanya memiliki sisa usia paling lama satu tahun akibat kanker yang dideritanya. Untuk Gunawan, bukan tentang kematiannya lah yang membuatnya sedih tapi tentang ia yang tidak akan pernah bisa melihat Satya dan Cakra, anak-anaknya, tumbuh dewasa. Oleh karena itu, demi menemani dan memastikan tumbuh kembang kedua anaknya Gunawan telah menyiapkan banyak sekali jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang bahkan belum disampaikan melalui sebuah video. Maaf saya koreksi, melalu banyak sekali video.

Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian. Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian. Bapak sudah siapkan. Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung kemana harus mencari jawaban. Bapak ada disini, di samping kalian. Bapak sayang kalian.

-Gunawan Garnida ; Sabtu bersama bapak. Hal 4-5

Yang selanjutnya diceritakan adalah perjuangan Itje, istri dari Gunawan, yang harus melanjutkan hidup bersama kedua anaknya tanpa ditemani jasad sang suami. Namun tidak terlalu lama, ketika Satya si sulung berusia delapan dan Cakra berusia lima, Gunawan datang kembali dalam bentuk lain, melalui tv kecil dan rekaman-rekaman video yang sudah ia siapkan sebelum ia pergi. Sejak hari itu, di setiap harinya boleh saja keluarga Garnida memiliki banyak sekali aktivitas. Bekerja, bersekolah atau apa saja. Tapi tidak untuk hari sabtu. Sedang dalam kesibukan apapun, dalam kondisi selelah apapun mereka akan selalu menyempatkan diri duduk manis di depan TV. Untuk bermain, untuk bercerita, untuk bercanda, untuk mendengar semua nasihat bapak. Sabtu bersama bapak. Dengan itulah mereka tumbuh. Di dunia sana, Gunawan boleh jadi tetap tersenyum.

Tapi tenang saja, hanya sekali itu hari sabtu ditegaskan di dalam buku sebagai waktu bapak bercerita. Anda tidak perlu khawatir merasa bosan jika harus membaca halaman demi halaman untuk setiap hari sabtunya Satya dan Cakra. Oleh Adhitya Mulya, nasihat-nasihat bapak diejawantahkan dalam beberapa momen pada kehidupan Satya, Cakra atau Itje secara bergantian.

Untuk saya pribadi, bagian terbaik dari buku ini adalah saat kehidupan Satya bersama keluarganya diceritakan dan ya, tentu saja tentang nasihat-nasihat bapak untuk Satya sebagai anak sulung. Tentang bagaimana biasanya anak sulung diberi beban sebagai contoh untuk adik-adiknya, tentang bagaimana anak sulung harus menjadi payung untuk keluarga, tentang bagaimana anak sulunglah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya kelak. Saya bukan anak sulung, tapi di keluarga saya adalah anak laki-laki pertama. Sedikit banyak saya merasakan beban-beban itu.

Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua untuk semua anak.

-Gunawan Garnida ; Sabtu bersama bapak. Hal 106.

Yang lainnya adalah tentang perjuangan. Perjuangan Cakra mencari cinta sejatinya, perjuangan Itje melawan penyakit yang dideritanya, perjuangan Satya menjadi bapak yang hebat seperti Gunawan. Demi masalah kesopanan saya tidak akan menceritakan detail dari masing-masing cerita.

Meski begitu, selama dibuat oleh manusia sebuah karya tidak akan pernah bisa sempurna. Pun dengan ‘Sabtu bersama bapak’. Gaya bahasa yang dituturkan oleh Adhitya Mulya tidak ubahnya seperti novel komedi, atau karakter penulisan Adhit memang seperti ini?? Entahlah. Tapi menyebalkan memang ketika sedang dibawa hanyut dalam satu-dua adegan haru tiba-tiba harus “dirusak” dengan lelucon tidak penting, yang tidak adapun sebetulnya tidak akan mempengaruhi kualitas cerita, malah boleh jadi akan lebih meningkatkan pengkhayatan untuk pembacanya. Dari yang saya baca pada kata pengantar dari penulis, buku ini mulai ditulis pada tahun 2011. Tidak heran, jomblo yang melekat pada status Cakra begitu ditonjolkan dalam bentuk yang sungguh hina. Bukankah di tahun tersebut mengintimidasi jomblo adalah sebuah kesenangan. Akan tetapi, membahasnya pada hampir semua bab-bal awal cerita?? Ayolah.

Oh, iya. Jangan lupakan juga catatan-catatan kaki yang tidak berkaitan sama sekali dengan isi cerita. Beberapa kali saya dipaksa untuk mencari arti dari angka-angka yang ditulis kecil di atas huruf, mencarinya di halaman bawah dan menemukan catatan yang sama sekali tidak penting. Menggangu sekali. Dan lagi boleh jadi hanya di buku ini dalam beberapa kesempatan, pada diri Firman-Wati dan Cakra, Anda akan menemukan bagaimana keharmonisan antara atasan dan bawahan yang saya pikir menjurus kurang ajar. Maklumilah semua bentuk bercandaan dalam bentuk verbal, mengintimidasi status bos menggunakan e-mail perusahaan dan dikirimkan kepada seluruh grup kerja ?? Ayolah, karyawan mana yang sebodoh itu atau perusahaan mana yang memiliki peraturan sebebas itu ?? Ada etika yang harus dijaga dalam penulisan e-mail terlebih menggunakan email perusahaan. Untuk saya, ini sangat-sangat mengganggu.

Apakah buku ini layak untuk dikoleksi? Jika Anda termasuk kedalam golongan anak yang begitu mengagumi bapak, atau ayah atau apalah kalian menyebutnya. Tentu saja buku ini termasuk daftar wajib untuk menambah koleksi pada rak buku Anda. Tetapi sebaliknya, jika Anda termasuk kedalam golongan anak yang begitu mengagumi ibu. Lebih baik coba pinjam saja terlebih dahulu. Karena di buku ini, peran dan nasihat bapak begitu di-Tuhankan. Peran Itje sebagai ibu memang luar biasa, namun lebih kurang hanya seperti cameo, kepanjangan dari rencana-rencana yang sudah disiapkan oleh Bapak. Atau jika Anda termasuk kedalam penikmat buku. Buku ini termasuk layak untuk dibaca dan dinikmati, cukup banyak kutipan-kutipan bagus di sepanjang cerita.

Sebagai penutup, saya merasa harus untuk menyampaikan pesan. Untuk dua alasan, jangan pernah berupaya untuk menjadi seperti Gunawan Garnida. Yang pertama, melihat tumbuh kembang anak dan ada bersamanya tentu saja jauh lebih baik ketimbang harus meninggalkan banyak nasihat tapi “pergi”. Yah, meskipun tentu saja urusan itu bergantung banyak pada keputusan Tuhan. Yang kedua, hidup tidak selalu mulus seperti rencana-rencana Gunawan. Banyak hal-hal yang tidak terduga yang boleh jadi lebih membutuhkan satu tindakan ketimbang ribuan nasihat.

Book-Review-Banner-SabtuBersamaBapak

Lanjutkan membaca ulasan film Sabtu bersama Bapak

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

6 Comments

  1. Adhitya Mulya ini penulis yang transisinya berasa banget. Saya penggemarnya. Semua karyanya sudah saya baca. Jomblo sampai ke SBB, perubahan menulisnya step by step menuju jenjang yang berbeda, yang lebih dewasa. Tapi humornya yang slapstick tetap bertahan. Nah SBB ini karya paling sederhana dan dewasa banget dari Adhitya Mulya. Always related ke pembaca.

    Sayang banget filmya saya nggak sempat nonton versi filmnya. Kalaupun memang tidak sebagus filmnya, semoga itu cuma perbedaan selera dari visual ke audiovisual saja. Esensinya tetap sama.

    Dan yang pasti, cinta saya kepada Acha Septriasa adalah utuh adanya. Semoga dia bisa merasakannya.

  2. bang Andhika,
    saya gak bahas buku #sabtubersamabapak nya yaaa…

    Saya ingin membahas tulisan Bang Andhika.
    Kereen banget, bang nulis reviewnya.

    Bisa ga ada spoilernya gitu yaa…

    Saya nge fans niih…sama blognya.
    Haturnuhun Bang.

  3. Wihh, harusnya saya yang haturnuh teh. Mugi betah didieu (Duh ga enakeun saya kalau pake bahasa sunda).

    Emm, soalnya saya gak suka baca atau denger spoiler, jadi sebisa mungkin gak boleh ada spoiler di tulisan saya. Cuma gitu aja kok alasannya. 🙂

  4. Saya menyukai buku dan filmnya, banyak nasihat bermanfaat yang bisa diambil.
    Tapi memang enggak cukup membuat saya ingin mengulang menikmatinya.
    Btw, ini kunjungan pertama ke blog Andhika, sangat keren blognya ^_^

    • Terima kasih Teh Eva kunjungannya, semoga betah dan sering mampir. Iya sepakat banget, pas pertama kali baca pun ngerasa : “Wah ini buku bagus” tapi gak tertarik untuk baca ulang, lalu kemudian karena mau difilmin aja saya sempetin baca ulang. Dua tahun kemudian.

      Btw, semoga “sangat keren blognya” itu untuk isi ya, Mbak. Bukan tampilan saja :p

write your comment / request below

%d blogger menyukai ini: