Sabtu Bersama Bapak

oleh

Ketika kita mencari satu-dua artikel, tulisan, atau kisah dan cerita dalam bentuk lain tentang seorang ibu kita akan menemukan banyak sekali rujukan. Entah itu tentang pengorbanan ibu yang luar biasa besar ketika mengandung, menyusui, sampai merawat anaknya sedari kecil, atau tentang belai lembutnya yang menghangatkan, atau tentang cinta kasihnya yang tanpa batas, yang oleh apapun yang kita lakukan takkan pernah bisa terbalas. Tentu saja demikian, ibu diciptakan oleh Tuhan sebagai malaikat yang menemani tumbuh kembang kita selama di dunia, yang bahkan lewat kaki seorang ibu, Tuhan meridhakan surga-Nya untuk semua umat manusia.

Bagaimana dengan ayah, papa, abi, babeh, bapak?? Bagaimanapun bapak adalah manusia yang memiliki peranan penting dalam tumbuh kembang manusia. Selain mengandung dan menyusui, saya pikir dalam bentuk yang lain bapak memiliki peran yang sama besarnya dengan ibu. Tak terbalaskan. Tentang cerita, tentu saja akan selalu ada ada cerita untuk bapak. Meskipun ya, tidak akan pernah bisa sebanyak cerita tentang ibu. Oleh karenanya, dengan sedikitnya pilihan cerita, setiap kali ada cerita tentang bapak, ia akan selalu meninggalkan kesan yang dalam untuk saya. Dan ‘Sabtu bersama bapak’ adalah salah satu diantaranya.

Entah apa pasal, boleh jadi alasan saya menyukai ‘Sabtu bersama bapak’ adalah karena saya begitu mengagumi sosok bapak, yang sampai ketika kecil saya ditanya tentang cita-cita saya akan selalu menjawab ingin menjadi seperti bapak, maka menjadi wajarlah jika saya lebih sensitif setiap kali berurusan dengan apapun yang berhubungan dengan bapak. Dan saya semakin menyadari itu semua setelah saya menjadi seorang kepala keluarga. Membayangkan beban dan tanggung jawab yang begitu besar, untuk si kecil misalnya, menjadi seorang bapak tidak akan pernah menjadi mudah. ‘Sabtu bersama bapak’ memainkan perannya sebagai sebuah cerita dengan cara yang luar biasa. Ia mengaduk segala perasaan, mengejewantahkan jawaban-jawaban dari banyak sekali pertanyaan, dan paling penting ia memaksa penikmatnya untuk mengingat sosok bapak, sosok yang akan selalu dirindukan. 

Lalu bagaimana ceritanya??

‘Sabtu bersama bapak’ dibuat dalam dua bentuk yang berbeda. Setelah pertama kali dibuat pada bentuk cetak dalam bentuk sebuah novel, kemudian diadaptasi menjadi sebuah film beberapa tahun setelahnya. Saya mengikuti kedua bentuk itu. Untuk Anda yang bertanya “Apa bedanya ‘Sabtu bersama bapak’ versi buku dengan versi filmnya??” saya akan menjawabnya dalam dua ulasan. Selain bermaksud untuk menghindari beberan yang tidak penting, juga karena ada satu-dua detail yang berbeda antara masing-masing versi cerita dari ‘Sabtu bersama bapak’. Dengan meng-klik salah satu dari dua gambar di bawah ini, Anda dapat memilih mana yang ingin lebih dulu Anda baca. Apakah versi novelnya, atau versi filmnya. Sesuka Anda lah.

    Sabtu-Bersama-Bapak-Novel

Sabtu-Bersama-Bapak-Movie

Line Separasi2

Atau jika Anda sama sekali tidak berminat untuk membacanya, Anda boleh langsung lompat ke kolom komentar, beri saya caci maki, ide atau masukan tentang apa yang harus saya tulis pada kesempatan berikutnya, lalu silakan menutup laman ini pada peramban favorit Anda.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

6 Comments

  1. Adhitya Mulya ini penulis yang transisinya berasa banget. Saya penggemarnya. Semua karyanya sudah saya baca. Jomblo sampai ke SBB, perubahan menulisnya step by step menuju jenjang yang berbeda, yang lebih dewasa. Tapi humornya yang slapstick tetap bertahan. Nah SBB ini karya paling sederhana dan dewasa banget dari Adhitya Mulya. Always related ke pembaca.

    Sayang banget filmya saya nggak sempat nonton versi filmnya. Kalaupun memang tidak sebagus filmnya, semoga itu cuma perbedaan selera dari visual ke audiovisual saja. Esensinya tetap sama.

    Dan yang pasti, cinta saya kepada Acha Septriasa adalah utuh adanya. Semoga dia bisa merasakannya.

  2. bang Andhika,
    saya gak bahas buku #sabtubersamabapak nya yaaa…

    Saya ingin membahas tulisan Bang Andhika.
    Kereen banget, bang nulis reviewnya.

    Bisa ga ada spoilernya gitu yaa…

    Saya nge fans niih…sama blognya.
    Haturnuhun Bang.

  3. Wihh, harusnya saya yang haturnuh teh. Mugi betah didieu (Duh ga enakeun saya kalau pake bahasa sunda).

    Emm, soalnya saya gak suka baca atau denger spoiler, jadi sebisa mungkin gak boleh ada spoiler di tulisan saya. Cuma gitu aja kok alasannya. 🙂

  4. Saya menyukai buku dan filmnya, banyak nasihat bermanfaat yang bisa diambil.
    Tapi memang enggak cukup membuat saya ingin mengulang menikmatinya.
    Btw, ini kunjungan pertama ke blog Andhika, sangat keren blognya ^_^

    • Terima kasih Teh Eva kunjungannya, semoga betah dan sering mampir. Iya sepakat banget, pas pertama kali baca pun ngerasa : “Wah ini buku bagus” tapi gak tertarik untuk baca ulang, lalu kemudian karena mau difilmin aja saya sempetin baca ulang. Dua tahun kemudian.

      Btw, semoga “sangat keren blognya” itu untuk isi ya, Mbak. Bukan tampilan saja :p

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Blog

Tahun Ketiga

Jahanamnya kemacetan ibukota adalah kelaziman. Ia terjadi setiap hari, seperti sekarang ini

Si Jagoan

“Yah, jek aja,” suara lembut penuh semangat dari ujung telfon di sana.

13 Reasons Why

Kecuali Anda tinggal di dalam gua, atau terlalu khidmat dengan pilkada dan

Merayakan Kehilangan

Sebelum Anda membaca tulisan ini ada baiknya, agar tulisan ini lebih dapat
Go to Top