Mempercantik

oleh

Dalam kaidah kebahasaan cantik berarti elok, molek, atau tentang sesuatu yang indah dalam bentuk dan buatannya. Dalam narasi konservatif cantik seringkali dibatasi dan dikotakan kepada paparan bentuk muka saja. Padahal cantik tidak sesederhana itu. Tentang cantik berarti ia akan berbicara tentang banyak hal. Cantik adalah apapun tentang keindahan rupa dalam bentuk apapun penyajiannya. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita mendefinisikan kecantikan dalam bentuk yang baku. Kita yang abai perihal kebakuan dari definisi cantik seolah mengharuskan kita membuat batasan-batasan diskriminatif atas cantik itu sendiri. Dan karenanya, cantik menjelma jadi rupa yang relatif. Yang terjadi kemudian adalah kita yang kerap kali berupaya mempercantik suatu rupa demi merusak relativitas tentang cantik untuk banyak sekali alasan.

Upaya mempercantik sejatinya adalah sesuatu yang amat merepotkan. Membutuhkan banyak tenaga lagi membuang waktu banyak sekali. Seperti saya yang sebelumnya merasa heran melihat banyak sekali wanita (mungkin juga untuk sebagian pria) yang sudi berdiam diri lama-lama di depan cermin. Memoles muka sedemikian rupa demi menjadi menyenangkan orang ketika dipandang, menyapu wajah sedemikian bersih demi terlihat indah diluar rumah. Untuk menjawab satu kegelisahan yang datang entah dari mana. Untuk menjawab satu pertanyaan yang sebetulnya jika terjawab pun hanya akan menumbuhkan pertanyaan sama lainnya : “Apakah sudah menjadi lebih cantik? Dibanding dia? atau dia? atau juga dia?”.

Fahd Padhepie dalam bukunya yang berjudul A Cat in My Eyes menuliskan bahwasanya dengan membuat batasan antara cantik dan tidak cantik, manusia telah melakukan perbuatan yang sangat keji. Karena perbandingan-perbandingan seperti itulah perihal cantik tidak pernah menjadi sederhana. Karena sekeras apapun kita berusaha akan selalu ada perbandingan lain yang membuat kita selalu menjadi merasa kecil, merasa kalah, merasa harus melakukan lagi semuanya dari awal. Untuk lebih mempercantik diri.

Kita telah melakukan kejahatan yang paling keji. Kita telah menciptakan batas-batas yang diskriminatif. Cantik tidak cantik.

-Fahd Pahdepie,  A Cat in My Eyes : Karena Bertanya Tak Membuatmu Berdosa.-

Itu baru berbicara tentang muka, dimana muka dengan cantik seringkali berkorelasi. Jika harus membicarakan cantik dalam bentuk yang lain. Ketidaksederhanaan itu akan datang berlipat ganda. Dimana konsep relativitas tentang kecantikan, tentang keindahaan akan menjadi semakin bias. Karena selain perbandingan cantik atau tidak, tentang rupa akan juga ditambahkan variabel lain yang lebih menyebalkan : selera. Tulisan ini saya ambil sebagai contoh untuk saya menjelaskan. Dengan segala upaya yang telah saya lakukan untuk mempercantik tulisan ini, menulis-membaca ulang-melakukan revisi-menulis ulang, saya merasa tulisan ini cukup menyenangkan untuk dibaca, cukup elok untuk membuat yang melihatnya sudi berdiam lama-lama. Sekali lagi, itu menurut saya. Lalu jika Anda merasa sebaliknya. Tulisan ini menjijikan, membuat Anda ingin muntah ketika membacanya, itu mungkin karena diluar sana Anda memiliki perbandingan tulisan yang lebih baik. Atau mungkin karena selera Anda yang payah. Astaga, maaf. Maksud saya mungkin karena selera Anda sedikit berbeda dengan saya.

Belum lagi tentang lain yang seringkali dipercantik. Seperti misalnya, penampilan, kendaraan, tempat tinggal, atau apapun lain yang tentangnya melibatkan rupa sebagai suatu ukuran. Dua sebab di atas, dengan beberapa contoh yang lain tulisan ini akan semakin membingungkan.

Namun pada akhirnya selama kita sendiri tidak bisa mendefinisikan arti cantik, maka proses mempercantik adalah sebuah upaya menuju keniscayaan yang omong kosong. Sedikit saja selera itu berubah, sedikit saja perbandingan yang lain muncul, menjadi (yang paling) cantik akan selalu melahirkan upaya berulang yang tanpa batas, melelahkan, menghamburkan banyak sekali uang juga waktu.

Tapi apapun, tujuan dari itu semua adalah demi memperoleh rasa puas. Maka kepuasan itu sendirilah yang akan mengaburkan relativitas cantik, yang akan mendekatkan definisi cantik kedalam bentuk yang lebih baku, yang akan membunuh segala perbandingan dan mengacuhkan segala selera yang membuat cantik menjadi lebih rumit, yang akan memaafkan atas segala kekejian manusia yang telah terpaksa membuat batasan-batasan diskriminatif tentang satu kata yang tak berdosa. Cantik.

Maka berpuas dirilah. Maka dengan sendirinya Kita akan (merasa) menjadi cantik.

Credit photo : Slice the cake Band Camp
Credit photo : Slice The Cake : Band Camp

Koda :

Belakangan ini saya sering merasa terganggu dengan pemikiran-pemikiran biadab dimana saya merasa tidak pernah berpuas diri. Tentang banyak hal, yang detailnya tidak bisa saya sebutkan. Kemudian berupaya melawan pemikiran itu dengan harapan, pikiran atau mimpi yang irasional. Sederhananya, belakangan ini saya merasa jauh sekali dari syukur.

Dan dua-tiga hari terakhir sebelum tulisan ini dibuat. Ketika saya begitu disibukan dengan hal yang berkaitan dengan perbaikan bentuk. Saya menemukan garis merah bahwasanya keingingan menjadi lebih dari yang lebih adalah sumber masalahnya. Maka barisan kata di atas tertulis begitu saja, yang saya harapkan agar bisa menjadi cermin untuk saya pribadi dikemudian hari. Yang saya harapkan tulisan ini bisa menjadi catatan bahwasanya hidup memerlukan batas puas untuk memupus segala pikiran-pikiran irasional, bahwasanya hidup membutuhkan batas puas untuk dijalani dengan rasa nyaman.

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

44 Comments

  1. Cantik itu selera. Kompleks jika harus menyamakan persepsi setiap orang.

    Sibuklah mempercantik diri dan hati, daripada sibuk menandai orang lain dengan label cantik dan tidak cantik.

  2. “Maka berpuas dirilah. Maka dengan sendirinya Kita akan (merasa) menjadi cantik.” Kalimat ini jempolan banget, Mas. Bakal aku ingat kalau lagi mereasa (kurang) cantik. Menurut aku ga cuma kaum wanita yang ingin merasa cantik, tapi ga sedikit kaum lelaku juga sama. Hanya pemilihan kata yang digunakan adalah ganteng atau gagah. Tapi intinya berusaha merias diri untuk menjadi seperti yang diinginkan.

  3. Makanya Allah tak pernah bawa kata-kata cantik, yang ada ‘indah’. Bagaimana definisi indah? Yang menyejukkan mata. Bagaimana yang menyejukkan mata? Kita punya selera masing-masing untuk menjawabnya 🙂

  4. Cantik itu relatif. Cantiknya seorang wanita itu dilihat bukan dari luarnya melainkan cantik dari dalamnya yaitu hatinya. Jadi percuma cantik diluar jika di dalamnya buruk

  5. Mempercantik diri memang akan menimbulkan kepuasan sendiri namun kepuasan terkadang hanya bersifat sementara ketika kita menginginkan pujian dari orang sekitar

  6. Kalau dari sisi kecantikan wanita, cantik itu relatif dalam arti apa yang kamu pandang apakah mampu membuat nyaman dan enak dilihat. Bukan mengenai polesan makeup. Namun kalau arti dari mempercantik diri itu bisa dilakukan oleh diri sendiri, jadilah diri sendiri karena kamu sendiri itu unik.

  7. Kecantikan wajah akan cepat hilang seiring bertambahnya usia. Kecantikan jiwalah yang kekal abadi..hingga akhir nanti. Mari mempercantik jiwa dengan lebih banyak mendekatkan diri pada yang Kuasa. Jangan menjadi keji dengan hanya mempercantik rupa..

  8. Kecantikan menurut saya selalu berhubungan dengan fisik wanita. Meang terlalu vulgar tapi itu sudah tertanam di otak sedari dulu. sekarang mulai bergeser bahwa cantik itu kompleks menjadi body and soul

  9. Ketika cantik dan tdk sudah dikotak2, pdhal cantik itu nggak terdefinisikan. Kepuasan batin, klo pun kata org sdh cantik tp kita nggak puas, tetap akan buat dan merubah diri agar cantik. Ini yg kdg bikin ngeri

  10. Berbuat keji pada diri sendiri demi label cantik? Oh no… aku lebih memilih menjadi baik daripada jadi cantik jika caranya gitu.
    Sedang ada proyek apa ciy? #kepo

  11. Beauty is pain , Butuh modal, Butuh usaha, kadang menyiksa juga 😂😂😂

    Tapi, aku lebih bahagia dibilang kurusan dibanding dibilang lebih cantik #curcol 😝😝😝

  12. Ya, pada akhirnya mempercantik menurut saya menjadi domain masing-masing subjek. Mempercantik artinya perbuatan yang sengaja dilakukan karena dia merasa belum dan masih bisa berbuat lebih untuk menjadi lebih. Jadi urusan mempercantik bukan urusan batasan orang, kata orang, tetapi tentang batasan diri untuk menjadi lebih baik dalam hal ini menjadi lebih cantik.

    Thank mas artikelnya bergizinya.

  13. Karena “kecantikan” sejatinya hak semua wanita, terlepas dari segi mana kita memandangnya… tp buatku sih cantik itu relatif dan jelek tentatif…. eh.. salah deng hihihi

  14. Karena cantik bukan sekedar wajah. Bahkan aku tidak mencela diri sendiri di depan kamera henpon. Mereka bilang “gue jadi cantik, maklum kamera hape nya bagus” padahal, ciptaan Tuhan ga ada yg jelek. Tapi semuanya bagus.
    “Cantik” itu sbnr ny sangat diskriminatif saat SMP dulu. Mereka bandingkan aku dengan perempuan yg berkulit putih, aku mah apa atuh, kulit cokelat anak kampung 😂 tapi setelah itu, semakin beranjak dewasa, aku makin berfikir kenapa mesti minder di bandingin kek gitu. Toh Tuhan tidak memandang tampang hambaNya

  15. seperti halnya konsep waktu Cantik itu sebenarnya relative, antara satu orang dengan orang yang lainnya itu berbeda pemahamannya, berbeda pandangannya, dan berbeda pula soal selera. Perdebatan soal cantik atau tidaknya seseorang, itu sama saja memperdebatkan gelas setengah kosong dan setengah isi, memperdebatkan sesuatu yang sebenarnya sama saja namun yang menjadi berbeda itu sudut pandang dan pemahaman…

    Menurut saya cantik itu tergantung bagaimana mata melihat seseorang, tak hanya wajahnya, namun juga sikapnya, hatinya, sifatnya, dan eloknya kecantikan wajah yang sempurna hanyalah topeng semata, toh semuanya akan jadi sia-sia ketika dihadapkan pada satu sosok yang bernama, waktu.

  16. Dan perihal cantik, di mata anak muda jaman sekarang tuh ada “level-level kecantikan” yang tak tertulis bang, kaya gini misalnya:

    1. Kurang sedap dipandang (alusnya: jelek)
    2. Sedang
    3. Cantik
    4. Awuwuwu banget (Cantik level lebih tinggi dari “cantik)
    5. Cantik Luar biasa
    6. Raisa
    7. Pevita
    8. Bidadari

    hahaha X)

  17. Yang saya harapkan tulisan ini bisa menjadi catatan bahwasanya hidup memerlukan batas puas untuk memupus segala pikiran-pikiran irasional, bahwasanya hidup membutuhkan batas puas untuk dijalani dengan rasa nyaman.

    Kalimat diatas, membuat berpikir. Hmmm akupun pernah beberapa hari merasa jauh dari bersyukur. Dan itu rasanya malah bikin kayak down. Kalau mas dhika jadi bikin tulisan ini.
    Jadi, aku terbantu nemuin ide, buat saat dimana aku merasa jauh dari syukur. Karena, beberapa kali aku mengalami. Beberapa kali cuma aku lupakan begitu saja dengan kegiatan.
    Terimakasih 🙂

  18. Wah, kalo di dunia desain nih mas, untuk menilai sesuatu seringkali harus dibandingkan dengan yang lain. Kemudian dipilih yang terbaik. Di mana lebih banyak penilaian subjektif dan berdasarkan ‘selera’. Selalu di mulai dengan pertanyaan ‘Lebih cantik yang mana?’ 😀

  19. Cantik sebenernya milik semua wanita, tanpa harus dikotakan dengan “merawat dan merias diri”. Ketika perempuan tsb percaya diri dan punya passion sama kehidupannya, dia cyantik ko 😀

  20. Cantik itu relatif yaa.

    Tergantung dari sisi apa sudut pandang nya .

    Menurut saya, apalah guna cantik rupawan jikalau tak cantik hati .
    Apalah guna cantik, jika tak mengerti apapun.

    Apalah artinya cantik, jika tua nanti kian memudar. Usang dimakan zaman.

    Kecantikan yg hakiki milik pribadi yg baik akhlaknya, Budi pekerti nya dan mampu menempatkan diri pada tempat dan situasi yg tepat.

    Percuma cantik tapi kosong, kosong jiwa ,kosong perasaan.

  21. wakakakkakaa.
    gue malah fokus sama komentarnya. ada yng ngitungin kata cantik di tulisan ini? NIAT BANGET sik asli. wakaka.

    “maka berpuas dirilah”

    alhamdulillah selalu bersyukur 🙂
    tetep bersyukur juga ya mz…

  22. cantik itu relatif, mungkin ya coba tanya ke semua laki2 kalo raisa cantik ga? kemungkinan yang jawab cantik 9 dari 10 orang. berarti yang 1 nya agak2 dong hehe
    *cuma pendapat peace 😀 (apa sih ga jelas gw)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*