Meneladani Toyota

oleh

Sekarang ini di tempat saya bekerja saya tergabung dalam tim Project Improvement pada divisi Operation Strategy. Salah satu job description saya adalah menganalisis kinerja tim operasional, lalu memberikan usulan tindakan perbaikan yang efektif dan berkelanjutan. Jujur, latar belakang pendidikan saya sangat bertolak belakang dengan apa yang baru saya kerjakan selama satu tahun terakhir ini. Oleh karena itu, untuk mengejar ketertinggalan saya dan juga untuk mendalami ilmu, setiap kali ada kesempatan pelatihan yang berkaitan dengan improvement dan juga development saya selalu berusaha menyempatkan hadir. Terlebih lagi jika semua biaya pelatihan ditanggung oleh perusahaan.

Menariknya, dari beberapa pelatihan yang saya ikuti ada satu kesamaan mutlak yang selalu dibicarakan oleh si pemateri. Adalah Toyota Production System (TPS) suatu sistem produksi yang dipelopori oleh Toyota yang dianggap sebagai contoh terbaik dalam dunia industri modern untuk meningkatkan produktivitas, efektivitas dan efisiensi di dunia kerja. Dikatakan oleh mereka bagaimana luar biasanya TPS dalam membawa Toyota -yang sangat dianggap remeh di awal berdirinya  menjadi penguasa otomotif dunia. Cerita-cerita itu membawa saya kedalam suatu pengandaian : bagaimana rasanya jika saya bekerja di Toyota?? Etos kerja dan segala hal kebaikan TPS yang diceritakan berhasil membuat saya menjadi begitu penasaran.

Dan Tuhan akan selalu bersama dengan orang-orang yang penasaran. Kurang dari satu tahun semenjak saya mengikuti pelatihan itu saya mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan TPS. Meski tentu saja bukan dengan menjadi bagian dari karyawan Toyota. Di awal bulan Mei kemarin, saya mendapatkan tawaran dari salah satu komunitas blogger yang saya ikuti untuk berkunjung ke plant Toyota di Karawang dalam tajuk Toyota Plan Tour #PlantTourTMMIN. Tawaran yang baik, dan tentu saja sulit untuk saya tolak. Ini adalah kesempatan untuk menghabiskan cuti di kantor, kesempatan bersilaturahmi dengan para blogger, dan tentu saja kesempatan untuk menuntaskan rasa penasaran saya terhadap Toyota Production System.

Toyota Plant Tour sendiri adalah suatu agenda tetap yang diadakan oleh Toyota Motor Manufacturing Indonesia dalam rangka mengejawantahkan program Toyota Berbagi #TMMINspirasi yang bertujuan untuk mengenalkan Toyota ke masyarakat luas dan juga sebagai upaya yang dilakukan Toyota untuk turut serta dalam membangun Indonesia. Tapi, saya menulis bukan untuk menjelaskan itu. Tentang Toyota Berbagi anda bisa melihatnya pada tautan berikut ini : Toyota Bersama Membangun Indonesia.

Rabu 25 Mei 2016 sekitar pukul 09.30 WIB kami sampai di Plant 1 Toyota Karawang setelah menempuh perjalanan lebih kurang dua jam dari ibukota. Kami yang datang rombongan disambut dengan cukup baik oleh perwakilan Toyota Karawang. Impresi pertama yang saya dapatkan ketika menjejakan plant dengan area lebih kurang 1,000,000 m2 ini adalah : WOW !!! Hampir 50% dari total area adalah wilayah hijau yang bersih tanpa sampah yang berserakan, tempat peribadatan yang besar, gedung serbaguna, cafetaria, lapangan futsal kelas internasional, dan lainnya. Baru kemudian saya tahu bahwa fasilitas tersebut adalah upaya yang manajemen Toyota berikan untuk memberikan kenyamanan dan kepuasan semua karyawannya. Ada dua agenda utama yang akan kami ikuti selama disana. Yang pertama adalah pengenalan company profile. Dari situ saya mengetahui bahwa plant 1 ini khusus untuk membuat mobil model Innova dan Fortuner saja. Dan ini rahasia, Fortuner adalah mobil impian saya. Sayang sekali, acara ini tidak memberikan Fortuner sebagai doorprize. Pengenalan company profile memakan waktu lebih kurang 30 menit, biasanya hal seperti ini cenderung membosankan, tetapi visualisasi yang ditampilkan cukup baik sehingga kebosanan itu bisa diminimalisir.

Agenda setelah itu, yang menjadi agenda utama kami adalah kunjungan proses produksi, yang sudah saya tunggu-tunggu. Tapi, sebentar. Sebelum itu kami terlebih dahulu diberikan safety induction untuk memasuki area pabrik. Ada beberapa poin menarik yang wajib kami ikuti selama kunjungan proses produksi nanti. Diantaranya adalah :

  • safety-induction
    Credit photo : Galau.id (diambil saat safety induction)

    Kita harus berpegangan kepada penyangga setiap kali menaiki / menuruni tangga.

  • Kita wajib berjalan pada jalur yang disediakan untuk pejalan kaki. Pada jalur yang ditandai dengan warna hijau.
  • Kita wajib untuk berhenti sejenak, memperhatikan sekeliling lalu memberi tanda konfirmasi setiap kali akan menyebrang meskipun hanya untuk jarak 1-2 meter saja. Itupun hanya boleh menyebrang di tempat yang diizinkan.
  • Kita dilarang menggunakan telfon genggam saat berjalan apalagi saat beraktivitas.
  • Kita dilarang untuk memasukkan tangan kedalam saku celana/jaket/baju saat berjalan. Fungsinya adalah, jika kemudian kita terjatuh kita masih sempat untuk menopang.

Yang paling ditunggu pun tiba. Kunjungan proses produksi. Untuk diketahui, dari bahan baku sampai dengan produk jadi ada beberapa proses produksi yang dilakukan di plant 1 Toyota Karawang. Diantaranya Stamping (proses pemotongan dan pembentukan body mobil), Welding (proses penggabungan body mobil sehingga menjadi satu kerangka utuh), painting dan assembly (proses pemasangan mesin dan aksesoris kelengkapan kendaraan baik interior maupun eksterior). Namun, sayang sekali karena mempertimbangkan keterbatasan waktu kami hanya mendapat kesempatan untuk melihat proses assembly saja, proses produksi terakhir.

Disinilah saya benar-benar bisa membuktikan efektivitas dan efisiensi dari TPS. Dalam sistem ini, setiap lini produksi menjadi supermarket bagi lini produksi berikutnya. Setiap lini hanya akan mengganti item yang diperlukan atau dipilih oleh lini berikutnya sehingga sistemnya sangat ramping (secara umum disebut sistem Lean Production). Ia juga menciptakan sistem Kanban (kartu penanda) untuk pengisian stok komponen atau hasil rakitan yang belum jadi (sub-rakitan). Disini anda tak akan menemukan oli yang berceceran, stock spare-part yang menumpuk, atau bahkan manusia yang tidak produktif yang diam saat orang lain bekerja. Setiap 96 detik pada rangkaian lini produksi terakhir akan keluar satu buah Innova atau Fortuner. Anda bisa bayangkan betapa efektifnya waktu yang digunakan, sedikit saja terlambat benar-benar akan mempengaruhi kinerja secara keseluruhan. Untuk industri secara umum, jika dilakukan dengan baik Lean Thinking yang menjadi inti dari TPS akan sangat membantu dalam proses improvement dan development.

Di area ini kami tidak boleh sedikitpun mengambil gambar. Gambar hanya boleh diambil oleh pihak Toyota dengan menggunakan perangkat yang telah disepakati. Namun, sampai tulisan ini dibuat kami belum mendapat gambar pendukung sebagai penjelas proses produksi. Oleh karena itu, untuk memudahkan anda dalam memvisualisasi proses di atas, silakan disimak video proses produksi yang saya ambil dari channel youtube Toyota Motor Manufacturing Indonesia.

Untuk melihat proses produksi mobil secara lengkap dalam bentuk animasi, silakan klik tautan berikut : Toyota Production Process

Setelah kegiatan kunjungan proses produksi, kami diberikan kesempatan untuk melakukan tanya jawab. Ada cukup banyak pertanyaan yang terlontar dari peserta. Dari jawaban pertanyaan-pertanyaan itu kami mengetahui bahwa rata-rata produksi yang dihasilkan oleh Toyota Motor Manufacturing Indonesia adalah lebih kurang 300.000 unit mobil dalam setiap tahunnya. Om Wicaksono pemilik akun twitter @ndorokakung sempat bertanya tentang upaya yang dilakukan oleh Toyota terhadap serikat pekerja. Dan jawaban yang kami dapatkan sungguh luar biasa. Juga bagaimana Toyota menghadapi MEA, berkontribusi terhadap masyarakat, dan lain-lain. Secara singkat, saya sempat berdiskusi santai dengan Om Wicaksono perihal acara ini dan juga pandangan beliau terhadap media sosial dan peranannya di dalam kehidupan masyarakat. Di akhir acara, sebelum kembali ke ibukota, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama. Kami pulang menggunakan bus yang telah disediakan ditemani oleh pengalaman, ilmu dan interaksi sosial yang luar biasa.

Di perjalanan pulang, refleks otak saya yang terlambat panas tiba-tiba memikirkan beberapa hal terkait Toyota dan segala yang terjadi di hari itu. Berkembangnya industri otomotif berbanding lurus dengan tingkat kemacetan yang semakin hari semakin jahanam, yang kemudian membuat saya penasaran. Apakah yang sudah atau seharusnya dilakukan oleh para pelaku industri otomotif? Lalu yang lainnya, yang menyedihkan. Ketika saya membayangkan ulang tentang sikap, keharusan patuh terhadap hukun dan peraturan, kebiasaan, sistem kerja, pandangan kerja ataupun hasil kerja para pelaku di Toyota, saya langsung membayangkan sistem, hukum dan kebiasaan mayoritas yang ada di negeri ini. Sangat bertolak belakang sekali. Bukan hal baru jika suatu industri mengadopsi sistem manajemen dan sistem produksi yang dilakukan oleh Toyota. Yang menjadi menarik adalah, jika negeri ini mampu mengadopsi sistem dan tata kelola yang biasa mereka lakukan. Tentunya kita bisa berharap tinggal di negeri yang lebih baik. Akan menjadi ironi jika pelaku hukum, peraturan dan kebiasaan yang saklek selama bekerja di Toyota lalu kemudian kembali menjadi manusia mayoritas yang daripada menjaga, mereka lebih suka untuk melanggar dan merusak. Semoga saja, Toyota memiliki rencana jangka panjang untuk me-nasionalisasi-kan hal baik untuk diterapkan di hukum negeri ini.

Sayang sekali tak sempat saya sampaikan pertanyaan di atas. Nantilah mungkin dalam purnama berikutnya. Bukan untuk anda, bukan untuk siapa. Tapi untuk saya. Karena saya ingin tahu. Itu saja.

ToyotaPlantTour
Foto bersama peserta di depan Plant 1 TMMIN Karawang

Intermezzo :

Lazimnya seorang karyawan dalam suatu perusahaan yang cuti mendadak tanpa kabar yang jelas. Saya pun mendapat perlakuan menyebalkan ketika masuk kantor keesokan harinya : Pekerjaan yang menumpuk dan tambahan pekerjaan sebagai hukuman teknis, juga “didiamkan” oleh atasan sebagai hukuman psikis. Semua berubah ketika saya mengatakan kepada mereka bahwa cuti saya untuk Toyota dan segala kebenaran tentang lean process dan TPSnya. Sore itu di hari pertama kerja, saya didapuk menjadi pencerita sampai jam menunjukan pukul lima lebih jauh.

 

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Pariwara

Go to Top