Dua Puluh Satu Juni

oleh

Butiran embun menetes terburu-buru menggenapi tanah yang dari semalam sudah basah. Hanya sebentar sebelum kemilau asa dari ufuk timur datang untuk menghilangkan sisa-sisa hujan semalam, sedikit demi sedikit menghangatkan sejuta keinginan. Aku menatap bumi melalui kaca yang terbingkai dari dalam kotak besi yang bergerak perlahan, menegangkan.  Aku tidak bisa tidak tersenyum setiap kali mengingat kata bijak itu. Pagi adalah sebuah berkah yang indah, tak masalah ia datang dalam cerah atau mendung karena bagaimanapun pagi adalah awal untuk memulai sesuatu yang disebut kehidupan. Pun dengan pagi ini, ketika aku akan memulai sebuah cerita panjang kehidupan.

Pukul enam tiga puluh tepat. Di bawah pohon beringin besar yang terbaris rapi –yang seolah dipaksa untuk tumbuh berdekatan burung-burung gereja berkicau riuh. Satu dua malah hinggap dekat trotoar pejalan kaki. Berloncat-loncatan saling menggoda pasangan. Aku memerhatikannya, terpesona melihat burung-burung yang sedang mabuk cinta. “Sudah siap??” kaca diketuk dari luar, orang yang entah siapa tak kukenal bertanya dengan ramah.  Aku menarik nafas dalam sekali, lalu tersenyum, ada jeda beberapa saat sebelum aku sempat untuk menjawab, kemudian kututup dengan anggukan kecil. Duhai, pagi ini sungguh akan menjadi luar biasa dan semoga saja semesta sudi untuk bekerja sama.

***

2013

Beratus hari sebelumnya dan ratusan kilometer dari pagi itu. Ada awal kehidupan yang lain yang datang ketika pagi. Seorang malaikat kecil milik sahabat dekat yang baru saja datang menyapa dunia. Ribuan larik cahaya matahari pagi lembut menerobos pintu dan jendela tanpa permisi, jatuh menimpa segala yang ada diruangan kecil itu, termasuk juga malaikat kecil yang baru terlelap dipangkuan ibunya. Lihatlah, menggemaskan sekali melihat anak kecil itu tertidur diselimuti cahaya matahari yang bersahabat. Sesekali matanya bergerak tapi belum mampu untuk dibuka, lalu menangis sebentar, terdiam tak lama lalu menangis lagi. Malam tadi aku mendapatkan pesan dari sang ayah -sahabat dekatku anak lelakinya baru saja lahir dengan berat dan tinggi yang baik, persalinan lancar dibantu oleh kecakapan perawat didekat rumah. Lewat panggilan telfon, aku menghaturkan banyak sekali salam kebahagiaan dan ditambah sebuah janji untuk segera datang berkunjung menengok jagoan kecil itu.

Ruangan itu sepi seketika. Jagoan kecil itu sudah benar-benar nyenyak terlelap. Sahabat dekatku lantas bercerita tentang detik-detik kelahiran, bagaimana perasaan tegang itu datang begitu saja, rasa takut yang berlebihan, harapan untuk mimpi di masa depan, semuanya bercampur aduk. Berbilang jam ia dilanda kebingungan, tak punya ide harus melakukan apa. “Ketika tangisan pertamanya terdengar, sungguh aku menangis bahagia. Lega” suara sahabatku bergetar, matanya berkaca-kaca. Sungguh itu adalah pengalaman hebat.

Nada dering dari gawai layar sentuhku berbunyi, tidak terlalu kencang -sudah aku atur sebelumnya agar tidak mengganggu. Untuk urusan nada dering, dari semua daftar kontak yang aku miliki aku pisahkan kedalam beberapa kelompok. Keluarga, teman sekolah, teman kerja, komunitas, nomor tak dikenal dan dia. Masing-masing kelompok memiliki nada dering yang berbeda. Dan nada ini ?? Sepagi ini ?? Aku sudah tahu siapa yang menelfon tanpa perlu melihat nama kontak yang muncul di layar gawai. “Iya, Bu. Alhamdulillah sehat. Ibu gimana??” salam pembuka itu. Semenjak aku pergi meninggalkan rumah, merantau di kota orang, kami selalu membiasakan diri untuk bertukar kabar setiap kali menelfon, memastikan semuanya baik-baik saja. Bahkan kebiasaan itu tetap kami lakukan meskipun dalam satu hari ada beberapa kali panggilan telfon.

Satu menit pertama biasa dihabiskan untuk salam dan beberapa kalimat pembuka, barulah setelahnya akan muncul variasi kalimat yang berbeda. “Kamu dimana?? Kok ramai??” kalimat beda pagi ini.  “Aku sedang menengok ponakan, Bu.  Maaf belum memberi kabar” aku keluar meninggalkan ruangan khawatir menggangu jagoan kecil yang sedang tertidur. “Astaga, kenapa pula sampai lupa memberitahu?? Sehat semuanya?? Bagaimana kondisinya?? Lahir jam berapa ??” Ibu berseru semangat sekali. Aku menjelaskan detil kelahiran menurut versi yang aku tahu, tidak banyak. Maka aku alihkan pembicaraan ini kepada si pemilik acara, menyuruh dia yang menjelaskan. Ibu memang sudah kenal baik dengan sahabatku itu, bukan sekali-dua ia suka menginap di rumah. Istrinya pun sempat dikenalkan kepada Ibu sebelum mereka menikah beberapa bulan yang lalu. “Terimakasih, Ibu” sahabatku mengakhiri pembicaraan, setelah ditanya macam-macam tentang kesiapan, detil kelahiran, nama dan lain sebagainya. Beberapa kali ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aku tersenyum melihatnya. Dan sekarang, panggilan telfon itu aku ambil alih.

“Halo, Ibu ??” yang dipanggil tidak menjawab. Panggilan telfon itu senyap beberapa belas detik. Aku melihat layar gawai. Masih tersambung. “Halo, Ibu??” aku memanggil ulang, memastikan Ibu masih ada di ujung telfon. “Iya, Nak. Ibu dengar kok” suara Ibu terdengar begitu parau. “Ibu kenapa ?? Kok suaranya jadi serak gitu??” beberapa detik lagi habis untuk saling diam, Ibu lagi-lagi tidak menjawab. “Ibu tidak kenapa-napa, Nak. Kamu kapan pulang??” Bohong!! Suara Ibu semakin serak, jelas ada apa-apa. Ibu seperti sedang menahan tangis, memaksanya tertahan di tenggorokan. Aku menarik nafas dalam-dalam.

“Ibu menangis??”  aku memberanikan diri untuk bertanya.

Benar saja, tangis itu membuncah. Beberapa menit setelah itu baik ibu ataupun aku sama sekali tidak berkata apa-apa, panggilan telfon dihabiskan untuk mendengar tangisan Ibu. Bukan tanpa alasan. Kawan, mungkin cerita ini berguna untuk kalian. Jika suatu ketika kalian berkesempatan melihat ibu atau wanitamu menangis, jangan sekali-kali mencoba untuk menyelanya. Dengarkanlah setiap kata yang mungkin diucapkan, karena sesungguhnya kalimat didalam tangis yang tulus adalah seujur-jujurnya kalimat. Ia datang membawa pertanyaan, permintaan, harapan, apa saja. Seperti sekarang ini, ketika ibu menangis diujung telfon, aku memilih untuk diam, menunggu kalimat apa yang akan keluar pertama kali. Kalimat yang diucapkan langsung oleh hati yang sedang menangis.

“Kamu kapan menikah?? Kalian kapan memberi Ibu cucu??” kalimat pertama yang begitu menohok.  Dalam kondisi seperti ini aku bahkan ikut tertunduk mendengar pertanyaan dalam sedu sedan itu. Aku menggeleng, tak punya ide harus menjawab apa. Urusan ini memang selalu sulit untuk aku jawab, dan untuk kesekian kalinya panggilan telfon ini ditemani oleh diam, dan kali ini akulah yang terdiam.

Di luar tempat persalinan itu aku melamun, memandang nanar sekitar.  Angin berhembus pelan sekali, bermain-main manja mengenai poni rambut yang sudah lama tidak aku potong.  Telfon itu masih tersambung, baik aku ataupun ibu sangat mengerti situasi. Kami berbicara lewat diam atas pertanyaan yang sulit sekali untuk diungkap jawabnya, terlebih untuk situasi seperti ini. Sudah berapa kali kalian mendapatkan pertanyaan kapan nikah??  dari teman, kakak, adik, ayah, ibu atau entahlah siapa. Saat acara besar keluarga, reuni akbar sekolah, atau sekedar ketika bertemu sapa tak sengaja. Pertanyaan terkutuk itu pastilah sempat datang. Seolah pernikahan adalah agenda harian yang bisa dikerjakan dan diselesaikan kapan saja. Seolah pernikahan adalah suatu rutinitas yang bebas saja dilakukan bahkan tanpa persiapan sekalipun. Sudah berapa kali kalian mendapatkan pertanyaan terkutuk itu??  Dan, sudah berapa kali kalian mendengar tangis di pertanyaan itu?? Jawaban pertanyaan itu mudah saja sebetulnya, kita bisa menjawab apa saja, tetapi ketika pertanyaan itu hadir dengan tangis?? Urusannya menjadi berlipat ganda.

“Bu, bukankah pernikahan adalah sesuatu yang suci?? Untuk apa pula kita harus berkompetisi untuk mendapatkan sesuatu yang suci?? Berlomba-lomba, siapa lebih dulu dari siapa?? Tidak, Bu. Tidak seperti itu. Ia adalah pemberian yang baik dari Tuhan di waktu yang tepat. Seperti janji Tuhan lainnya. Belum sekarang ini, Bu. Lain kali mungkin, ketika oleh Tuhan aku sudah benar-benar dianggap siap” aku menjawab membela diri,  memecah kesunyian yang satu menit terakhir tadi sama sekali tidak ada suara.

“Tapi, Nak. Kalian sudah terlalu lama berhubungan” ibu bijak menyanggah.

Aku tersenyum. Kehilangan kata-kata. Aku mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain. Bagaimana kabar ayah, perkembangan warung makan terakhir -beberapa waktu yang lalu sempat disambangi pencuri, bagaimana kondisi jalanan rusak di perumahan, atau apa saja selagi bisa menghentikan pertanyaan lanjutan dari ibu. Beberapa kali aku tertawa saat ibu memberi tahu ayah yang setiap sebelum tidur keranjingan membuka youtube untuk menonton konser Rolling Stones. Jika sudah seperti itu, jam tidur ibu pasti rusak sempurna. Bagaimanalah, ayah selalu spontan bernyanyi kencang setiap kali mendengar lagu dari band legendaris itu. Panggilan telfon itu ditutup setelah satu-dua kalimat kemudian. Ibu menitipkan peluk dan cium untuk jagoan kecil sahabatku serta satu kalimat yang sudah diucapkan tadi “Jangan ditunda lagi, kalian sudah berhubungan terlalu lama”.

Yang ibu katakan itu benar. Aku sudah terlalu lama menjalin hubungan dengan dia. Jika aku tidak salah ingat, sudah enam tahun semenjak kami pertama kali mengikat janji diketemukan oleh takdir pendidikan, dan sudah tiga tahun berlalu semenjak keluarga kami bertemu untuk pertama kalinya serta satu tahun lainnya semenjak kami membicarakan mimpi berikutnya. Bagaimanapun, jelas hubungan ini sudah tidak bisa dikatakan sebentar, sudah terlalu lama.

Matahari sudah semakin gagah berdiri. Cahayanya sudah tidak lagi bersahabat. Cuaca kota ini memang mudah sekali berubah menjadi panas. Aku berpamitan, memberikan bingkisan kecil sebagai ucapan selamat atas kelahiran yang berbahagia. Doa yang baik kuberikan terpisah. Beberapa menit kemudian, sepeda motorku sudah melaju jauh dari tempat persalinan itu, delapan puluh kilometer perjam konstan. Pulang ke kamar kost menunggu sampai sore nanti, dia datang ke kota ini. Menyudahi cinta yang selama ini berjauhan. Dan berikutnya, tentu saja banyak sekali mimpi yang harus kami bicarakan.

***

Vespa-Photo

“Promosi tempat itu tinggal tersisa satu bulan lagi. Sayang kalau tidak kita gunakan. Bagaimana menurut kamu??” dia mulai membicarakan tentang satu-dua hal satu minggu kemudian. Pembahasan serius pertama semenjak satu minggu terakhir. Tepat satu minggu yang lalu dia datang ke kota ini, menetap, menyudahi cinta yang selama ini berjauhan. Dan selama satu minggu terakhir ini kami menghabiskan waktu untuk hal lain. Menyiapkan kamar kost terbaik, mengisi kamar itu dengan barang kebutuhan sehari-hari, merapihkannya agar membuat nyaman dan seperti itulah.

Kami memang sudah lama sekali berhubungan, enam tahun jika tidak salah ingat. Namun, separuh lebih dari waktu itu kami habiskan berjauhan. Kota yang berbeda, bahkan sekali waktu sampai pulau yang berbeda. Dan ketika kami berjauhan tidak setiap waktu aku bisa berkunjung ke kotanya, pulang. Maka setelah hari itu -satu tahun yang lalu ketika kami memberanikan diri berbicara tentang kehidupan dan mimpi di masa depan, setiap aku pulang kami selalu menyempatkan diri untuk menyiapkan diri, mencicil semua kebutuhan nanti. Tempat yang dia bicarakan adalah tempat untuk mengambil foto pra-nikah yang kami dapatkan gratis, hadiah dari membeli perhiasan beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya, kami pernah datang ketempat itu. Berletak di bagian utara ibukota, tempat itu indah menawarkan udara dingin khas pegunungan, ditambah padang ilalang yang membentang, bangunan klasik yang memesona, ditambah satu-dua kendaraan antik sebagai pelengkap. Yang paling luar biasa tentu saja adalah peternakan kuda yang kudanya bisa digunakan gratis,  termasuk di dalam paket yang ditawarkan.

Berbicara tentang kebutuhan dan persiapan untuk itu. Sebetulnya kami sudah sangat siap. Berpindah dari satu pameran ke pameran lainnya untuk memperoleh perbandingan harga dan lokasi, berkunjung ke gedung-gedung, memilih makanan utama, band pengiring, berkonsultasi dengan penyedia jasa, tata rias dan seperti itulah. Keputusan dibuat, kami memilih yang terbaik diantara beberapa pilihan. Membayar uang muka. “Kapan acaranya??” beberapa dari mereka bertanya, pertanyaan yang biasa mereka haturkan. Kami menggeleng, kompak. “Belum tahu” menjawab dengan sopan sambil tersenyum. Yang bertanya mengerenyutkan dahinya. “Astaga, bagaimana pula kalian menyiapkan ini semua tanpa punya tanggal acara??”. Lagi, kami menggeleng kompak lalu tersenyum.

***

2012

Temani aku sebentar, ke suatu pagi yang lain di tahun sebelumnya. Pagi dimana matahari malu-malu menampakan diri, menyembunyikan semua kehangatan yang biasa ia tawarkan. Hujan turun deras sekali tadi malam, menumpahkan berjuta-juta galon air ke bumi diikuti cahaya kilat memedihkan mata. Aku terjaga sepanjang malam. Bukan karena hujan itu, bukan karena kilat itu. Aku bahkan masih terjaga ketika pagi ini hujan sempurna berhenti, menyisakan tempias air di luar jendela. Demi rencana pagi inilah aku absen tidur tadi malam. Demi puluhan kalimat baik yang aku susun, demi kematangan diri dalam berbicara, demi semua persiapan untuk keputusan mahapenting. Untuk aku yang pagi ini akan pergi ke suatu tempat, meminta restu untuk dia. Restu dari orang tuanya. Diluar masih mendung, tetapi bukankah sudah disampaikan sebelumnya bahwa pagi adalah sebuah berkah yang indah, tak masalah ia datang dalam cerah atau mendung, karena bagaimanapun pagi adalah awal untuk memulai sesuatu yang disebut kehidupan. Meski hari ini kehidupan itu datang menegangkan.

Percuma, benar-benar percuma. Mempersiapkan diri itu sungguh omong kosong, puluhan kalimat itu menghilang sempurna, terhenti di ujung lidah. Aku memang tidak pandai berbasa-basi. Tapi setidaknya aku tidak pernah kesulitan untuk berbicara, mengungkapkan pendapat, berwacana, atau seperti itulah. Tapi dalam situasi ini aku sempurna diam seperti patung, tak punya ide harus berbicara apa. “Jadi, sepagi ini kau sudah datang. Nah, kabar apa yang akan kau sampaikan, Nak?” lelaki separuh baya didepanku bertanya halus namun tegas. Dia yang duduk disamping lelaki itu menunduk, menunggu keberanianku untuk menjawab. Mukanya penuh pengharapan, matanya berkaca-kaca. Karena takut atau senang, entahlah. “Anu, aku. Ehm, aku ingin mempersunting anak sulung Bapak” aku menjawab tanpa kalimat pembuka, terbata-bata.

Lelaki itu menatapku lamat-lamat, bersahabat, namun aku merasa begitu terintimidasi. Takut, tegang bercampur aduk dalam keberserahan. Hei, bukankah aku telah mengatakannya, tak perlu itu semua puluhan kalimat baik untuk berbasa-basi. Aku mengatakannya. Lalu sekarang?? Apa jawabannya?? Keringat dingin mengucur perlahan, tidak terlalu banyak namun jelas menyiratkan sebuah ketegangan. Lihatlah, lelaki itu diam, tersenyum, sesekali melihat anak gadis sulungnya yang duduk tepat di sebelahnya, diam lagi, lalu tersenyum lagi. Hanya seperti itu dalam beberapa menit kemudian. Membiarkan aku tertunduk, menunggu semakin tegang.

“Tidak masalah. Anakku memang telah memilihmu” jawaban itu muncul. Sebuah restu?? Astaga, secepat ini?? Semudah ini?? Lalu, untuk apa semua ketegangan itu?? Persiapan kalimat omong kosong itu?? Aku tersenyum, bahagia luar biasa. Dan gadis itu?? Lihatlah, dia menangis, mendapatkan kelegaan luar biasa, bahagia. Berdiri, menghampiri ibunya dan memeluknya erat.

“Tapi, Nak. Sebelum itu ada sesuatu yang harus aku tanyakan dan jawablah sesederhana mungkin” intonasinya berubah, tegas dengan jelas sekali ada penekanan di kalimat pendek itu. Dengan suara seperti itu jelas sekali situasi akan berubah menjadi rumit, ini jelas akan menjadi pertanyaan yang tidak biasa. Gadis itu melepas pelukan, duduk di tempat yang berbeda, terpisah beberapa kursi dari sebelumnya. Aku menenggak air teh manis yang tadi disiapkan, sudah dingin, sedari tadi kudiamkan karena terlalu tegang. Dan kali ini aku memerlukannya untuk meredakan ketegangan yang baru.

“Apa yang kau miliki untuk kehidupan kalian di masa depan. Maksudku, tentu saja bukan harta benda yang kau miliki. Omong kosong, besok lusa harta itu akan habis. Aku tidak terlalu mementingkan itu. Katakanlah, apa yang kamu miliki untuk kehidupan masa depan kalian, kehidupan setelah kematian. Aku sederhanakan, Nak. Ini tentang tanggung jawab, kebijaksanaan, sifat adil, ikhlas dan tentang sesuatu yang kau yakini. Aku hanya ingin tahu, Nak. Apa yang bisa kau janjikan untuk anakku dan boleh jadi untuk cucuku di kehidupan yang nanti. Sudah siapkah kau bertanggung jawab untuk kehidupan seperti itu??” pertanyaan itu diakhiri, tegas sekali dalam satu-dua tarikan nafas.

Aku paham betul dalam sebuah hubungan yang didasari oleh saling suka, saling cinta. Memerlukan banyak sekali pengorbanan. Waktu, harta, keharusan saling menghargai, saling menerima satu sama lain dan seperti itulah, dan sebatas itulah. Ia tak pernah berbicara banyak tentang tanggung jawab, tentang keikhlasan, tentang kebijaksanan terlebih tentang kehidupan yang nanti.  Lalu, aku?? Apa yang aku miliki?? Siapkah aku?? Pertanyaan itu jelas bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan ya atau tidak. Itu adalah pertanyaan yang harus dijawab dengan bukti, dengan tanggung jawab. Dan aku, detik itu hanya bisa tertunduk.  Sesak menahan tangis atas pertanyaan yang tak terjawab. Pertanyaan yang mengubah sudut pandang, keingingan, keharusan. Pertanyaan yang memberikanku pengajaran bahwasanya hidup setelah pernikahan bukanlah melulu tentang bersenang-senang.

Mimpi kehidupan itu harus tertunda sementara waktu.

-Lanjut ke halaman ke-2 : 2013 berikutnya-

Lelaki yang menulis ketika anak dan istrinya sudah tidur | Pembaca buku yang lambat | Pemimpi yang arogan | Karyawan swasta yang ingin pensiun | Mau liburan tapi gak punya cuti | Percaya bumi itu, bulat atau datar? | Terimakasih telah berkunjung, semoga menyenangkan. Jika berkenan, silakan baca tulisan kami yang lainnya. Untuk bisnis dan kerja sama silakan hubungi saya melalui halaman kontak

47 Comments

  1. Itu minta ijin nya enak banget, ya. Alhamdulillah lancar. Tapi pertanyaannya nyess banget. Apa yang disiapkan utk masa depan, bukan perihal harta tapi setelah kematian nanti😭😭 anak cewe ya di lepas, bapaknya kudu menitipkan anak nya ke lelaki yang benar2 pas dan siap lahir batin.

  2. Menjadi suami itu berat sekali ya tanggung jawabnya, bukan cuma saat di dunia tapi di akhirat nanti. Selamat ulang tahun pernikahan. Semoga langgeng terus sampai kakek nenek, dan terus bersama sampai akhirat.

  3. Duhh ceritanya menyentuh banget Cha…
    Meski panjang banget sampai harus klik halaman dua 😂😂

    Jadi ingat pas pacar aku ketemu Papa pertama kali hahaha 😂

  4. Huhuhu aku nangis….

    Nanti kalo ada lelaki yg ngelamarku gmn? Bs gak dia tanggungjwb sma kehidupan kita nanti? Bagaimana bapakku?

    Akuh baperrrr

  5. Ah yaampun aku mau komen apa yah kak dika heheh.
    Aku suka ini ” Tentang kebijaksanaan, sifat adil, ikhlas dan tentang sesuatu yang aku yakini, tentang mimpi-mimpi, cerita kehidupan di masa depan. Dan yang paling penting tanggung jawab.”
    Yah semoga saja kelak……ah amin ehehehe.
    Ehm oke selamat ulang tahun pernikahan kedua kak dika. Barakallah :’)

  6. Ya ampun terharu 🙁
    Membaca tulisan ini kayak ada seorang teman atau kakak laki-laki yang bercerita secara langsung.
    Semoga pernikahannya langgeng, membawa keberkahan, bahagia dunia akhirat.
    Bahagiain selalu istrinya kak :’)

  7. bentar bacanya mesti diulang lagi, lagi, dan lagi..
    Tulisannya bagus banget kak, mengalir. Ya ampun semoga aku bisa selancar ini dalam meminta restu sama bapaknya :’)

  8. Beruntungnya masih ada yang mengingatkan kita soal pernikahan, Ibu. Dari setiap jengkal kalimatnya pasti menuturkan ridho akan tanggung jawab kepada anaknya.. dan pernikahan itu adalah bentuk dr pengorbanan tanggung jawab seorang anak sebagai baktinya..

  9. Selamat ulang tahun pernikahan ya mas dhika, semoga kian langgeng.
    Semoga, para lajang segera menemukan jodohnya, dan menikah 😆😆😆

  10. Suka dengan kisahnya, Mas.

    Pernikahan…ahh gimana yaa….sulit untuk mengungkapkannya. Tapi saya berkeyakinan pernikahan hanyalah masalah waktu, kelak semua akan indah pada waktunya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Yang lainnya dari Cerpen

Si Anjing yang Memaafkan

Matahari sudah bersiap untuk pulang, cahayanya tak lagi hangat, digantikan senja yang

Kotaku di Waktu itu

Dan kemudian aku pun tertawa sedemikian riang bersama mereka, teman-temanku, dengan kemampuan sepeda

Cerita Akhir Tahun

“Mau minum teh manis hangat, bageur?”. Senja yang sudah hilang sedari tadi

Kupu-Kupu Malam

Ia berdiri di dalam hujan yang berjatuhan perlahan, bersandar pada sebatang tiang
Go to Top